Real desire (Deven)

80 6 0
                                        

Deven menghela napas panjang sambil menatap Marcha yang masih duduk bersandar di tempat tidur sambil memegang mangkuk supnya. Ia benar-benar tidak sengaja membicarakan soal itu. Impian yang selama ini selalu ia simpan sendiri. Impian yang bahkan keluarganya sendiri selalu anggap terlalu berbahaya tapi entah kenapa, kalau di depan Marcha... rasanya Deven ingin jujur tentang semuanya, tentang ketakutannya, tentang mimpinya, tentang dirinya yang sebenarnya.
Deven menunduk sebentar sebelum akhirnya berkata pelan "Aku pengin ikut program WHO."
Marcha yang tadi sedang mengambil nasi langsung berhenti. Ia menatap Deven dengan alis terangkat.
"Terus kamu mau aku nikah sama kamu kalau kamu punya rencana kayak gitu?" tanyanya datar.
Deven langsung salah tingkah.
"Eh... itu rencana lama," katanya cepat. "Bahkan sebelum aku pacaran sama Shannon. Aku memang lumayan dekat sama beberapa orang WHO, terus kemarin mereka sempat nawarin proyek lagi tapi aku gak ambil karena..."
"Karena aku?" potong Marcha.
Deven menatap Marcha sebentar lalu mengangguk kecil "Kamu satu-satunya alasanku buat batal pergi."
Marcha diam beberapa detik lalu dengan tenang ia berkata "Kalau itu memang impian kamu, ya lakukan."
Deven bengong "Hah?"
"Lakukan aja," ulang Marcha santai. "Hidup cuma sekali, Dev. Jangan jadikan aku alasan buat ninggalin hal yang sebenarnya pengin banget kamu lakukan."
Kali ini Deven benar-benar melongo, mukanya sampai kosong beberapa detik. Marcha malah jadi geli sendiri melihat ekspresinya.
"Kenapa muka kamu kayak habis lihat tagihan listrik satu komplek?" tanya Marcha sambil menahan tawa.
"Aku pikir kamu bakal marah," jawab Deven jujur. "Atau bilang aku egois, semua keluargaku ngomong gitu soalnya."
"Ya mereka takut kehilangan kamu," kata Marcha pelan. "Dan jujur... aku juga pasti takut."
Deven menatap Marcha, nada suara wanita itu lembut, tapi tulus.
"Tapi aku lebih gak mau lagi kalau nanti kamu hidup sambil nyesel," lanjut Marcha. "Karena gak semua orang punya keberanian buat ngejar panggilan hidupnya."
Deven terdiam, dadanya tiba-tiba terasa hangat, kadang ia masih heran bagaimana bisa ada wanita seperti Marcha di hidupnya. Wanita yang kelihatannya dingin, tegas, susah ditebak...tapi justru paling mengerti dirinya. Deven tersenyum kecil lalu menggenggam punggung tangan Marcha perlahan.
"Well... itu impianku dulu," katanya sambil menatap Marcha. "Impian aku sekarang beda."
Marcha menyipitkan mata "Hm? Apa?"
"Punya keluarga sama kamu."
Marcha langsung salah tingkah dan berdeham kecil "Gombal."
"Bukan gombal, ini fakta medis," jawab Deven serius palsu. "Diagnosis terbaru dokter Deven: hidup tanpa Marcha menyebabkan stres berkepanjangan."
Marcha langsung tertawa kecil "Apaan sih..."
"Tapi serius," lanjut Deven. "Aku memang pernah pengin banget ikut program kemanusiaan keliling dunia tapi sekarang prioritas aku udah berubah."
"Kamu yakin?" tanya Marcha menatapnya hati-hati. "Aku gak mau kamu nikah sama aku tapi diam-diam masih nyimpen penyesalan."
Deven menggeleng pelan "Enggak," katanya mantap. "Aku gak nyesel."
Ia tersenyum tipis. "Aku cuma pengin kamu ngerti kalau rencana keluar dari rumah sakit itu bukan semata-mata karena kita nikah. Aku memang udah mikirin itu dari lama."
"Tapi jadi dokter freelance juga tetap berisiko," kata Marcha.
"Ya, tapi setidaknya lebih dekat sama tujuan hidupku."
Marcha mengernyit bingung "Maksudnya?"
Deven bersandar santai sambil menatap langit-langit kamar "Aku pengin nolong sebanyak mungkin orang," katanya pelan. "Tanpa peduli mereka siapa, dari negara mana, agamanya apa, kaya atau miskin." Ia menoleh ke arah Marcha lalu nyengir kecil "Call me greedy... tapi itu emang keinginan terbesarku."
Marcha menatap Deven cukup lama lalu perlahan ia tersenyum.
"So... ternyata ini bukan tentang aku dan pernikahan kita?" tanyanya.
"I'm sorry," kata Deven sambil tertawa kecil. "Nope."
Marcha menggeleng geli "Kirain gara-gara aku."
"Kalau gara-gara kamu, aku mah udah resign terus buka warung bubur depan apartemen kamu."
Marcha langsung ngakak "Warung bubur?"
"Iya. Nama warungnya Bubur Hati Marcha."
"Jelek banget namanya."
"Yaudah diganti. Bubur Cinta Internasional."
"Itu lebih jelek."
Mereka berdua tertawa bersamaan lalu Deven kembali mendekat ke arah Marcha sambil menatapnya lembut.
"Tapi serius," katanya pelan. "Makasih ya."
"Buat apa?"
"Karena kamu selalu dukung aku."
Marcha tersenyum kecil "I'll always support whatever you do, Dev."
Deven menatap wajah Marcha beberapa detik sebelum akhirnya bergerak mendekat. Marcha langsung reflek menutup mulutnya pakai kedua tangan.
"Aku lagi sakit," katanya waspada.
"So?"
"Nanti kamu ketularan."
"Who cares?"
Deven langsung menarik pelan tangan Marcha dari wajahnya.
"Dev—"
Belum sempat Marcha protes, Deven sudah lebih dulu mengecup bibirnya singkat.
Marcha langsung melotot "NAH KHAN! Ketularan gimana?!"
Deven malah nyengir puas "Gapapa. Sekalian aja."
"Kamu tuh ya..." gumam Marcha sambil menahan malu.
Deven tertawa kecil lalu memeluk Marcha erat "Kalau sakitnya bareng kamu," bisiknya, "aku rela."

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang