"STRIKKEEEE!" teriak Shanna sambil mengepalkan tangan ke udara. Wajahnya sumringah banget sampai hampir loncat sendiri. "Lihat tuh! Aku jago!"
Kevin yang berdiri beberapa langkah di belakang cuma geleng-geleng kepala sambil ketawa kecil. "Okay, kamu menang." Ia berjalan mendekat ke arah Shanna. "Sekarang maunya apa, hm?"
Shanna menyipitkan mata, pura-pura mikir keras. "Hmm... apa ya?"
"Bilannggg aja pengin jalan-jalan ke Paris kayak Deven sama Marcha," kata Kevin santai sambil mengambil bola bowling.
Shanna langsung ngakak. "Ya gak harus Paris juga kali, Pin. Indonesia juga boleh. Yang penting liburan." Ia nyengir sambil memeluk lengan Kevin manja. "Aku tuh cuma pengin pergi berdua aja."
Kevin meliriknya sekilas lalu tersenyum kecil. "Kerjaanku sih masih bisa aku atur. Kerjaan kamu gimana, Nona Penyanyi Sibuk?"
"Hmmm..." Shanna pura-pura berpikir sambil menggoyang-goyangkan badan kecilnya. "Bisa diatur juga, tinggal cocokin sama jadwal kamu aja, Pak Pengacara."
Kevin tertawa pelan lalu mencubit ujung hidung Shanna gemas. "Tumben nurut."
"Aku dari dulu nurut kali," bela Shanna cepat.
"Iya, nurut... kalau lagi menang bowling doang."
"Kevin!" Shanna langsung mukul lengan Kevin pelan sambil ketawa.
Kevin duduk di kursi dekat arena bowling lalu menatap Shanna yang masih semangat banget. "Masih mau main?"
"Mau dong kalau kamu mau."
"Okay. Tapi sekarang gantian aku yang nanya." Kevin menaruh bola bowling di sampingnya. "Kamu maunya apa sih sebenarnya?"
Shanna mengernyit bingung. "Maksudnya?"
"Dari hubungan kita."
Shanna langsung diam sebentar.
Kevin menatapnya lembut. "Aku gak mau apa-apa selain kamu baikan sama mama dan keluarga kamu."
Senyum Shanna perlahan memudar. Ia menghela napas panjang lalu duduk di samping Kevin.
"Aku udah bilang kan..." gumam Shanna pelan. "Mereka gak setuju kita bareng."
"Yang gak setuju itu mami-nya Anneth," sahut Kevin tenang. "Bukan mama kamu."
Shanna menatap lantai arena bowling beberapa detik sebelum akhirnya bersandar lemas ke bahu Kevin.
"Aku cuma capek," katanya lirih. "Aku capek selalu dibanding-bandingin, diatur, disuruh ini itu..."
Kevin diam mendengarkan.
"Aku baru sekarang ngerasa bisa jadi diri sendiri," lanjut Shanna pelan. "Dan itu pas sama kamu."
Kevin tersenyum kecil mendengar itu. Tangannya menggenggam tangan Shanna pelan "Aku cuma gak mau nanti ke depannya kita ribut gara-gara keluarga," katanya hati-hati. "Aku serius sama kamu, Non."
Shanna menoleh cepat. "Serius gimana?"
Kevin ikut menoleh. "Ya serius. Masa kamu gak kepikiran kita nikah?"
Mata Shanna langsung melebar "HAH?"
Kevin malah ketawa lihat ekspresinya. "Kenapa kaget begitu? Emang aku keliatan kayak cowok PHP?"
"Bukan gitu..." Shanna menepuk dada sendiri dramatis. "Tapi kita baru jadian, Kevin! Aku belum siap ditodong pertanyaan berat kayak gini. Ini lebih serem daripada disuruh live nyanyi tanpa latihan."
Kevin ngakak kecil. "Aku gak ngajak nikah besok pagi juga kali."
"Syukur."
"Tapi aku emang mikirin masa depan sama kamu."
Kalimat itu bikin Shanna langsung diam... Jujur, selama pacaran sama Kevin, semuanya terasa... ringan. Kevin gak pernah bikin dia merasa harus jadi sempurna, gak pernah bikin dia capek nebak-nebak perasaan bahkan di tengah kerjaannya yang gila sibuk, Kevin selalu naruh Shanna di daftar prioritas paling atas dan itu sesuatu yang belum pernah Shanna rasain sebelumnya.
"Non..." panggil Kevin lembut.
"Hm?"
"Aku gak maksa kamu harus langsung baikan sama mama kamu sekarang." Kevin mengusap pelan punggung tangan Shanna. "Aku cuma pengin hubungan kita gak sembunyi-sembunyi terus."
Shanna menatap Kevin beberapa detik lalu tersenyum tipis "Aku ngerti maksud kamu," katanya pelan. "Tapi sekarang... aku masih belum mau ketemu mama dulu."
Kevin mengangguk kecil. "Ya udah. Aku tunggu sampai kamu siap."
Shanna langsung nyengir lagi, mood-nya berubah secepat lampu diskotik. "Nah gitu dong. Sekarang kita main lagi!"
Kevin melongo. "Loh? Serius? Habis ngomong emosional langsung balik bowling?"
"Ya emang kenapa? Sedih boleh, strike jalan terus."
Kevin ngakak sambil berdiri. "Dasar manusia ajaib."
Shanna berdiri sambil menarik tangan Kevin. "Ayo! Dua ronde lagi!"
"Kamu kuat banget sih?"
"Kuat dong. Aku kan calon atlet bowling."
"Kamu tadi calon penyanyi sibuk."
"Multitalenta aku."
Kevin geleng-geleng kepala sambil ketawa lalu mengikuti Shanna kembali ke arena dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Shanna merasa... bahagia sesederhana ini ternyata cukup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
