Pernikahan Kevin dan Shanna berjalan lancar.
Mulai dari pemberkatan secara agama sampai resepsi, semuanya berlangsung hampir tanpa masalah.
Hampir.
Karena satu-satunya hal yang sedikit mengganggu suasana justru datang dari seseorang yang bahkan tidak diundang sebagai tamu biasa.
Mami Anneth.
Ia datang bukan untuk memberikan restu.
Ia datang untuk memberikan peringatan.
Menurutnya, pernikahan Kevin dan Shanna tidak akan bahagia karena mereka sedang menikmati kebahagiaan di atas penderitaan Anneth yang masih berada di penjara.
Well...
Kevin dan Shanna sama sekali tidak merasa bersalah.
Mereka tidak pernah melakukan apa pun untuk membuat Anneth masuk penjara. Bahkan Kevin justru salah satu orang yang berusaha agar proses hukum Anneth tidak berakhir dengan hukuman yang lebih berat.
Jadi ketika mami Anneth pergi setelah menyampaikan semua ucapannya, Shanna hanya bisa menghela napas panjang.
"Tante Debby cuma iri sama kebahagiaan kita," kata Shanna sambil menatap Kevin.
Kevin mengangguk santai.
"Aku tahu."
Shanna kemudian melirik mamanya yang sejak tadi terlihat tidak enak hati.
"Mama kenapa?"
Mama Shanna menghela napas.
"Mama minta maaf ya sama kalian berdua tentang Tante Debby."
Shanna langsung menggeleng.
"Mama nggak perlu minta maaf. Shanna cuma mau Mama tahu seperti apa Tante Debby. Kalau sekarang Mama sudah tahu, ya sudah."
Mama Shanna tersenyum tipis.
"Ya... untung aja sifat Anneth nggak ngikut maminya."
Shanna langsung mengangguk.
"Bener. Sifat dan sikap Anneth jauh lebih baik."
Kevin yang sedang minum hampir tersedak.
Shanna menoleh.
"Bener, kan, Vin?"
Kevin menatap istrinya beberapa detik.
Kemudian tersenyum.
"Hmm."
"Hm apaan?"
"Aku memilih untuk tidak menjawab."
Shanna mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena aku masih mau hidup sampai besok."
Mama Shanna langsung tertawa.
Shanna memukul lengannya pelan.
"Dasar."
Kevin hanya terkekeh.
Ia tahu Shanna tetap menyayangi sepupunya.
Dan mungkin justru karena itulah Shanna selalu berusaha melihat sisi baik Anneth, bahkan ketika orang lain sudah menyerah.
"Eh, Vin, Shan."
Suara seseorang dari belakang membuat mereka menoleh.
Betrand berdiri di sana bersama Alifa. Keduanya bergandengan tangan.
"Selamat ya," kata Betrand.
"Thanks, Nyo. Fa," jawab Kevin dan Shanna hampir bersamaan.
Mereka berjabat tangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
