Marcha duduk di kursi empuk jet pribadinya, menatap layar ponsel yang sejak tadi tak juga berbunyi. Jarinya beberapa kali membuka chat Deven, lalu menutupnya lagi, tidak ada pesan baru.
Ia menghela napas panjang, tadi ia ingin sekali mendengar kabar terbaru tentang Anneth dari Deven tapi sekarang? Ia sudah duduk manis di pesawat yang siap mengantarnya kembali ke Indonesia, mendadak, tanpa aba-aba, tanpa pamit panjang.
Semua karena satu hal: Deven sakit. Iya, Marcha tahu kondisinya sudah membaik. Deven sendiri bilang, "Aku cuma kurang istirahat." Tapi masalahnya... Marcha tidak akan pernah benar-benar tenang sebelum melihatnya dengan mata kepala sendiri. Menyentuh dahinya. Memastikan dia benar-benar sehat. Dan mungkin, sedikit memarahinya karena tidak bisa jaga diri. Kepulangannya kali ini bahkan terlalu spontan untuk ukuran dirinya. Ia tidak memberi tahu keluarga. Ia juga melepaskan sebuah kesepakatan bisnis besar—yang sebenarnya masih bisa dinegosiasikan kalau ia mau sedikit lebih keras tapi ia tidak mau, uang bisa dicari lagi sedangkan Deven tidak bisa diganti.
Beberapa malam terakhir Marcha bahkan sulit tidur. Otaknya sibuk membayangkan Deven batuk sendirian, makan sembarangan, atau—lebih parah—keras kepala menolak istirahat. Mungkin ia memang berlebihan. Orang lain demam sedikit minum obat dan selesai. Marcha? Melintasi separuh dunia.
Ya, separuh dunia tapi kalau itu demi Deven... rasanya masuk akal lagipula, ia rindu. rindu yang seminggu di Paris justru semakin menjadi-jadi seharusnya rindu itu terobati, nyatanya malah makin dalam. Marcha sampai mengutak-atik jadwalnya agar bisa tinggal di Indonesia dua sampai tiga bulan ke depan dan meskipun Deven adalah alasan utama, bukan satu-satunya. Universitas Desain dan Seni miliknya akhirnya resmi mendapatkan izin. Ia harus hadir di acara peletakan batu pertama—secara harfiah. Dialah yang akan menaruh bata dan semen pertama. Ironis, ya? Perempuan yang biasa tanda tangan kontrak miliaran sekarang harus pegang semen dan mungkin belepotan selain itu, ia juga sedang merancang pembangunan apartemen dan perumahan mahasiswa di sekitar kampus. Harga terjangkau. Nyaman. Aman. Ia ingin mahasiswanya fokus berkarya, bukan pusing cari kos.
Bisnisnya terus berjalan. Proyeknya tersebar di Eropa dan Amerika. Karyawannya ratusan. Tidak mungkin ia melepas semuanya begitu saja dan di tengah semua itu... ia juga memikirkan masa depannya dengan Deven kalau suatu hari mereka menikah, tidak mungkin Deven yang harus pindah ke Eropa mengikuti hidupnya. Marcha tahu itu dan anehnya, ia tidak keberatan.
Ia yang akan pindah ke Indonesia, ia sudah mulai menyiapkan semuanya—rapi, terencana, terstruktur seperti biasa tapi tetap saja, ia akan bolak-balik Eropa, Amerika, dan Indonesia. Bisnis tidak bisa ditinggal, tanggung jawab tidak bisa dibuang.
Kalau naik pesawat komersial, ia harus menghabiskan hampir 24 jam dengan transit yang melelahkan. Jet pribadinya memangkas waktu menjadi sekitar 17 jam lebih sedikit.
Tujuh jam selisih, tujuh jam lebih cepat untuk memeluk Deven.
Marcha menatap jendela pesawat. Awan-awan putih terbentang luas seperti kapas yang tak berujung.
"Cuma demam sedikit," gumamnya pelan, lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri "Dan aku terbang setengah dunia."
Ia menggeleng pelan, mungkin ia memang berlebihan, mungkin ia terlalu cinta tapi kalau mencintai Deven berarti menjadi sedikit konyol... Marcha tidak keberatan sama sekali.
Begitu mendarat di Indonesia, Marcha tidak pulang ke rumahnya, ia langsung naik taxi menuju apartemen Deven dan baru kali ini ia ke sana dan dengan penuh percaya diri—yang ternyata bodoh—ia lupa satu hal penting.
Deven tinggal di lantai berapa?! Marcha berdiri di lobby sambil menatap sekitar dengan wajah sok tenang. Satpam sempat meliriknya dua kali, mungkin karena ia terlihat seperti orang kaya tersesat.
"Harusnya tadi tanya..." gumamnya pelan dan lebih parahnya lagi—ia lupa mengaktifkan ponselnya.
Begitu ponsel menyala, notifikasi langsung membanjiri layar. Email pekerjaan, pesan asisten, undangan rapat dan... 17 missed calls dari Deven, puluhan chat, isinya campur aduk antara khawatir dan panik.
Cha, kamu kemana?
Kok gak angkat telepon?
Kamu marah ya?
Marcha mengernyit. Marah? Marah kenapa? Ia langsung menekan tombol panggil, baru satu dering, langsung diangkat.
"Halo?" sapa Marcha santai.
"Cha! Kamu kemana aja sih? Dari kemarin aku telepon gak diangkat, kamu marah?" suara Deven terdengar benar-benar cemas.
Marcha tersenyum kecil.
"Aku gak marah, aku gak angkat karena aku lagi di pesawat. Kan gak boleh nyalain HP waktu di pesawat, sayang."
"Di pesawat?" Deven terdiam sebentar. "Kamu kemana? Balik Paris?"
Marcha menahan tawa.
"Aku lagi di lobby apartemen kamu."
"Hah??" suara Deven naik satu oktaf. "Kamu di Indo? Ini prank kan, Cha?"
"Aku beneran di lobby apartemenmu, turun aja kalau gak percaya soalnya aku lupa kamu tinggal di lantai berapa makanya aku telepon."
"Hah... bentar! Aku turun, kamu jangan kemana-mana!"
"Siap, Dok," jawab Marcha sambil nyengir.
Tak sampai lima menit, pintu lift terbuka. Deven keluar dengan kaos putih polos, celana pendek, dan sandal jepit, rambutnya sedikit berantakan seperti baru bangun tidur, sederhana... sangat sederhana dan entah kenapa... itu justru membuat pipi Marcha memanas, mata Deven melebar saat benar-benar melihat Marcha berdiri di sana dengan koper di sampingnya tanpa banyak kata, ia berjalan cepat dan langsung memeluknya erat.
Marcha balas memeluk, tubuhnya otomatis rileks, aroma sabun mint bercampur wangi khas Deven menyambutnya rasanya seperti pulang.
"Katanya kamu gak jadi balik..." bisik Deven di rambutnya.
"Aku kangen kamu," jawab Marcha pelan.
Deven mengusap rambut panjang Marcha dengan lembut, lalu melepaskan pelukan dan memegang pipinya.
"Always wonderful," gumamnya.
Marcha tertawa kecil.
"Ayo ke atas, kamu pasti capek banget dari New York."
Marcha mengangguk manja dan menyandarkan kepala di dada Deven sementara tangannya melingkari pinggangnya. Deven mencium keningnya sambil menarik koper, mereka naik ke lantai paling atas.
Apartemen Deven ternyata luas, terlalu luas untuk satu orang, di tengah ruang tamu berdiri piano hitam mengilap.
"Tentu saja ada piano..." gumam Marcha, tersenyum.
Sofa abu-abu ada di belakang piano, sementara dapur biru tua-putih dan meja makan tertata rapi di depannya.
"Kamu nanti pulang ke rumah papi kamu kan?" tanya Deven.
Marcha menoleh. "Kalau aku bilang aku mau tinggal di sini, emang boleh?"
"Boleh sih... tapi keluarga kamu pasti kangen juga, Cha."
"Ya tapi aku juga kangen kamu."
Deven tersenyum lembut. "Hari ini kamu pulang dulu kalau mau nginap besok, aku gak apa."
Marcha menyipitkan mata. "Yakin gak mau aku tidur di sini hari ini?"
Deven nyengir lalu menggeleng. "Your family first."
"Ya udah... tapi sekarang aku boleh tidur di sini dulu? Aku capek banget, sayang."
"Boleh. Kamu tidur di kamarku aja."
Marcha langsung menatapnya. "Boleh di kamarmu?"
"Boleh."
"Beneran?"
Deven mengusap rambutnya yang menutupi mata. "Bener, kamar tamu jarang dipakai, bau pengap, kamarku juga mungkin bau sih... tapi gak berdebu."
Marcha mendekat dan mengendus pelan lehernya.
"Emang bau kamar kamu bau apa? Rokok?"
"Aku gak suka rokok! Aku cuma takut bau keringatku aja."
Marcha mengendus lagi. "Bau keringatmu mint, Dev?"
Deven tertawa. "Itu bau sabun mandiku, Cha-Cha sayang."
"Perasaan dulu kamu main basket keringetan parah juga tetap bau mint..."
"Ya udah kalau menurut kamu keringatku mint, kita patenin aja," kata Deven sambil menggiringnya ke kamar.
Begitu pintu kamar dibuka, Marcha langsung tertawa, dindingnya berwarna biru muda. Spreinya bergambar laut dan di tengah-tengahnya, wajah besar Patrick Star tersenyum lebar.
"Patrick..." kata Marcha sambil menunjuk.
"Oh itu..." Deven menggaruk kepala yang tidak gatal. "Diskon waktu itu."
Marcha melepas jaketnya.
"Sini, aku yang taruh," kata Deven, menggantungkan jaketnya rapi.
"Aku boleh pinjam kemejamu buat tidur?"
Deven membuka lemari dan mengambil satu kemeja sutra lembut. "Silakan."
"Makasih. Kamar mandi?"
"Di situ."
Tak lama, Marcha keluar dengan kemeja Deven yang sedikit kebesaran di tubuhnya. Rambutnya terurai.
Deven yang tadi santai melihat tablet langsung terdiam. Matanya melebar.
"Kamu..." katanya pelan.
Marcha naik ke tempat tidur dan menarik selimut sampai dada. "Apa?"
"Cantik banget bahkan pakai kemejaku."
Marcha tersenyum manis.
"Aku boleh minta peluk gak buat tidur?"
Deven meletakkan tabletnya. "Itu gak perlu ditanya."
Ia berbaring, menarik Marcha ke dalam pelukannya, dan mencium keningnya.
"I love you."
"Love you too," balas Marcha pelan.
Beberapa menit kemudian, napas Marcha berubah teratur, ia sudah tertidur.
Pelukan Deven memang obat tidur paling manjur, lebih ampuh dari pil-pil yang biasa ia minum saat insomnia.
Marcha bahkan tidak bermimpi, entah karena cinta...atau karena dada Deven memang lebih nyaman daripada bantal mahalnya.
Beberapa jam kemudian, Marcha terbangun perlahan, lampu kamar sudah redup, pendingin ruangan berdengung pelan dan di sebelahnya... Deven tertidur pulas.
Ia sudah berganti baju—sekarang memakai kaos abu-abu tipis dan celana tidur. Rambutnya sedikit acak-acakan, napasnya teratur. Marcha menggeser tubuhnya pelan, mendekat. Ia menopang kepala dengan tangan, menatap wajah pacarnya dengan penuh rasa kagum.
"Ganteng banget sih..." gumamnya pelan.
Baru saja ia hendak menyentuh pipi Deven—Mata Deven terbuka.
"Bangun kamu, Cha?" suaranya masih berat karena mengantuk.
Marcha tersenyum malu-malu. "Iya... aku tidur lama ya?"
Deven melirik jam weker di samping tempat tidur. "Lumayan. Aku tadi sempat balik kerja, kamu masih tidur. Ini udah jam dua malam."
"Jam dua?!" mata Marcha langsung melebar.
"Iya. Jadi... kamu tidur sini aja deh. Besok aku anterin kamu ke rumah."
"Beneran?" Marcha langsung duduk sedikit, wajahnya berbinar seperti anak kecil dikasih es krim gratis.
"Iya, ini terlalu malam. Gak enak ganggu keluarga kamu apalagi papi kamu lagi sakit."
Senyum Marcha melebar. Hatinya hangat.
"Makasih ya, sayang..." katanya lembut, lalu mencium pipi Deven.
Deven pura-pura mengusap pipinya. "Bayaran pelukan satu gratis satu, ya?"
Marcha terkikik.
"Ya udah, ayo tidur lagi. Besok aku anter pagi, soalnya aku ada shift pagi," kata Deven sambil menarik selimut.
Marcha malah cemberut. "Aku gak ngantuk, Dev."
Deven menyipitkan mata. "Terus?"
"Laperrrr..." jawab Marcha manja sambil memegang perutnya.
Deven menghela napas panjang, dramatis.
"Kamu ini baru bangun tidur bukannya minum air putih, malah minta makan jam dua pagi."
"Aku lintas benua, Dev. Perutku beda timezone."
Deven hampir tertawa tapi menahan diri. Ia menggelengkan kepala, lalu bangun dari tempat tidur.
"Ayo."
Marcha langsung tersenyum puas. Deven menggandeng tangannya keluar kamar menuju dapur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanficBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
