"Okay, ya. Baik," kata Marcha pelan "Tolong ya, Rey. Iya... makasih."
Ia menutup panggilan dari asistennya di Amerika. Ruang kerja kembali sunyi. Marcha membuka laci meja kerjanya—sekadar ingin mengambil sesuatu—namun tangannya justru terhenti. Ia melihatnya. Sebuah bingkai foto kecil berwarna biru, berbentuk wajah Doraemon. Bingkai yang ia beli bertahun-tahun lalu, saat liburan ke Jepang. Foto dirinya... bersama Deven. Marcha menatap foto itu lama. Terlalu lama. Selama ini ia menyimpannya di dalam laci, tersembunyi, seolah Deven hanyalah bagian dari masa lalu yang sudah selesai. Ternyata tidak pernah benar-benar selesai.
Setelah tahu semua ini adalah ulah papinya, ingatan itu menyerbu tanpa ampun. Marcha mengangkat foto itu, jemarinya menyentuh wajah Deven di balik kaca.Tawa Deven—Bukan hanya bentuk senyumnya yang menghantui, tapi juga suara tawanya. Nyaring, hangat, selalu terasa hidup di dalam dadanya.
Marcha memejamkan mata, mengusap wajahnya pelan. Perasaannya sesak. Sekarang Deven adalah seseorang yang tak bisa ia sentuh lagi.
Bukan karena jarak tapi karena status. Deven sudah bersama Shanna, bukan karena Marcha merasa kalah. Kalau lawannya siapa pun selain Shanna, mungkin ia akan maju tanpa ragu tapi ini Shanna. Perempuan yang dulu mendukung hubungannya dengan Deven dengan tulus.
Bagaimana mungkin Marcha melangkah ke depan, melewati orang seperti itu?
Ia menghela napas panjang. Ia tak boleh memikirkan cinta. Terlebih tentang Deven. Tepat saat itu, ponselnya bergetar. Di layar, sebuah nama muncul.
Deven.
Marcha tertegun sejenak. Aneh rasanya melihat nama itu muncul begitu saja. Oh, iya... Deven sudah bisa menghubunginya sekarang.
"Halo," sapa Marcha akhirnya.
"Lo di mana?" suara Deven terdengar di seberang.
"Kantor."
"Tunggu di sana. Gue ke sana."
"Eh—buat apa? Dev? Dev—"
Nada sambung memotong ucapannya. Marcha menatap layar ponselnya. Deven ini... maksudnya apa? Kenapa nadanya seperti itu? Ia menggeleng pelan, berusaha menyingkirkan rasa berdebar yang tiba-tiba muncul. Sudahlah.Ia tidak boleh— tidak bisa—membiarkan pikirannya kembali mendekat pada Deven.
Tak lama kemudian, telepon di meja kerja Marcha berdering. Ia menekan tombol interkom.
"Ya?"
"Bu Marcha, Pak Deven sudah di depan," suara Penny terdengar rapi seperti biasa.
"Suruh masuk, Pen," jawab Marcha singkat.
"Baik, Bu."
Beberapa menit kemudian, pintu kantornya terbuka.
"Silakan."
Marcha berdiri dari kursinya saat Deven melangkah masuk. Mereka saling mendekat, jarak yang terasa canggung—terlalu dekat untuk sekadar teman, terlalu jauh untuk apa pun yang lain.
"Lo mau minum apa, Dev?" tanya Marcha formal. "Kopi? Teh? Atau air putih?"
"Gak usah," jawab Deven. "Gue gak lama."
Marcha mengangkat alis. "Wah, berarti ini serius."
Ia memberi isyarat ke asistennya. "Pen, lo boleh keluar dulu."
Penny mengangguk dan menutup pintu. Begitu ruangan kembali sepi, Marcha menyilangkan tangan.
"Ada apa? Masalah papi gue?"
"Gue ke sini bukan buat ngomongin kesehatan papi lo."
"Oke." Marcha mengangguk tipis. "Tapi ini kantor. Gue gak bahas urusan pribadi di jam kerja."
"Oh?" Deven tersenyum sinis. "Jadi gue harus bikin janji dinner dulu?"
"Ya," jawab Marcha cepat.
"Oke. Sore ini gue jemput."
"Nanti siang gue pulang ke rumah."
"Gue jemput di rumah lo."
Marcha menghela napas. "Dev... lo mau apa, sih? Kita ini udah gak ada apa-apa, kan? Buat apa lo nemuin gue lagi?"
"Gue cuma mau nanya soal yang ada di TV."
"Masalah apa?"
"Dua perusahaan yang lo beli sahamnya, terus lo bikin bangkrut." Deven menatapnya tajam. "Itu perusahaan temen bokap lo, kan?"
"Iya." Marcha mengangkat bahu. "Terus?"
"Kenapa lo harus sekejam itu cuma karena urusan kita?" suara Deven meninggi. "Gue gak pernah minta lo balas dendam."
Marcha tersenyum kecil. "Tenang, Dev. Ini bisnis. Gue hitung untung ruginya. Jadi jangan GR—gue gak ngelakuin ini demi elo."
"Untung dari mana ngehancurin hidup orang lain?" Deven menahan emosi.
"Lo gak ngerti perhitungan bisnis," jawab Marcha datar. "Dan... sejak kapan bisnis gue jadi urusan hidup lo?"
"Cha, bokap lo lagi terbaring di rumah sakit. Kalau dia tau lo ngelakuin ini—"
"Bokap gue harus tau," potong Marcha tajam, "kalau anaknya juga punya batas."
"Cha, dia bokap lo sendiri."
"Iya," Marcha menatap lurus. "Terus?"
Deven terdiam. "Lo kenapa jadi kayak gini? Marcha yang dulu masih punya empati. Punya hati."
"Empati? Hati?" Marcha terkekeh. "Itu jenis aplikasi baru atau cuma fitur lama yang udah expired?"
"Lo bukan Marcha yang gue kenal," kata Deven pelan. "Marcha yang gue kenal gak nyakitin orang lain demi ego pribadi."
"Well, Dev," Marcha menyandarkan tubuhnya ke meja. "Manusia berubah dan lo gak berharap gue masih jadi Marcha yang nangis tiap malem gara-gara elo, kan?"
"Gue berharap lo masih jadi Marcha yang bisa ngerasa sakit," balas Deven. "Bukan yang dingin kayak gini."
Marcha terdiam. Apa Deven tahu bagaimana dunianya runtuh saat ia merasa dibuang? Tanpa email. Tanpa chat. Tanpa satu pun penjelasan. Ia membekukan hatinya agar bisa bertahan.
"If you're looking for a girl who's still crying over a stupid love," kata Marcha pelan tapi tegas "I'm not that girl anymore. I'm a woman. A grown woman."
"A grown woman doesn't do childish things."
"Gue lakuin bisnis gue," balas Marcha tajam. "Dan kalau menurut lo bisnis gue kekanak-kanakan—keluar dari hidup gue sekarang."
"With pleasure." Deven berdiri dan berjalan ke pintu.
Marcha mengusap wajahnya. Mungkin memang ini yang terbaik namun Deven berhenti. Berbalik.
"Cha," katanya lebih lembut. "Gue tau lo kecewa sama bokap lo. Tapi ngebales dia dengan cara lo... salah, puluhan karyawan di perusahaan itu gak salah apa-apa. Ini bukan bisnis. Ini pelampiasan."
Marcha melipat tangan di depan dada "Lo bilang mau keluar dari hidup gue. Keluar, Dev. Sekarang. Sebelum gue usir dari kantor gue."
Sorot kecewa jelas di mata Deven. Ia menggeleng pelan, lalu pergi. Begitu pintu tertutup, Marcha menghela napas panjang. Perkataan Deven mengena. Kevin juga sudah mengingatkannya soal karyawan-karyawan itu. Marcha menatap kosong beberapa detik... lalu tersenyum kecil.
Ia meraih ponselnya.
"Rey," katanya saat sambungan terhubung "untuk karyawan dari dua perusahaan itu—gue mau mereka semua diseleksi dan ditarik ke bisnis baru gue."
Marcha menjelaskan rencananya. Menggunakan talenta yang sudah paham dunia IT dan digital. Untuk aplikasi fashion yang akan ia bangun—bukan sekadar gaya, tapi alat belajar bagi universitas desain yang ingin ia dirikan di Jakarta. Ia tidak berniat menetap di Indonesia tapi membangun sekolah ini bukan sekadar bisnis. Ini investasi untuk sumber daya manusia.
Marcha menutup panggilan, menatap layar laptopnya. Desain baju terakhir untuk season ini terpampang sempurna.
"Good," gumamnya. "Siap dijual."
Ia menutup laptop, mengirim pesan singkat ke Deca, lalu bersiap pulang. Ia butuh tidur.
Masih ada rumah sakit sore nanti dan satu kenyataan besar yang menunggunya—tentang papinya,dan tentang dirinya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
