Marcha menghela napas panjang, lalu membuka matanya perlahan. Kosong.
Deven gak ada, jadi... Deven benar-benar pulang waktu Marcha sudah tidur. Marcha menggeser tubuhnya, bersandar di sandaran tempat tidur. Kepalanya terasa ringan. Badannya rileks. Terlalu rileks. Ia baru sadar satu hal yang cukup mencengangkan. Ia tidur nyenyak.Tanpa mimpi. Tanpa obat tidur.
Marcha mengusap wajahnya pelan, masih setengah gak percaya. Ini pertama kalinya terjadi setelah bertahun-tahun. Biasanya ia terbangun dengan kepala berat, mata perih, dan pikiran yang masih lembur. Sekarang? Kosong. Tenang. Damai.
Marcha terdiam.
Semalam... ia cuma ngobrol. Ketawa. Cerita hal-hal receh dengan Deven.
Sudah lama sekali rasanya ia gak merasakan momen sesantai itu. Seolah hidupnya—yang biasanya lari maraton—akhirnya duduk sebentar, minum air, dan bilang, "Oke, istirahat lima menit."
Hidupnya rehat sejenak. Seperti... Lawyers Club. Marcha mengernyit. Loh? Kok jadi Karni Ilyas sih? Otak pagi-pagi emang suka sok reflektif.
Ponselnya bergetar.
Kevin. Oh iya. Hari ini ada meeting penting. Investor. Le~March. Masa depan bisnis kulinernya.
Dan... desain bajunya belum kelar. Marcha mendesah. Ini salah siapa? Tidur. bukan, bukan salah tidur tapi... seharusnya ia tidak tidur.
"Hallo, Vin," sapa Marcha, menahan kuap yang bandel.
"Cha, lo di mana? Acara mulai dua jam lagi," suara Kevin terdengar tegang. "Biasanya lo datang tiga jam sebelum acara."
"Iya... gue ketiduran, Kev terus lupa pasang alarm."
"Ketiduran?" ulang Kevin, nadanya naik satu oktaf.
"Iya. Ketiduran. Kayak manusia normal," jawab Marcha datar.
"Hah?!"
"Ya udah, gue OTW. Lo suruh Monique siapin semuanya."
"Semua udah siap, Cha tapi biasanya elo kan selalu nemu satu hal buat dikomplain," kata Kevin.
Marcha berpikir sejenak "Tenang. Hari ini gue niat jadi manusia bijak yang menerima takdir."
"Hah lagi."
"Gue siap-siap dulu. See you," tutup Marcha cepat, lalu langsung loncat dari kasur.
Di mobil. Marcha duduk di jok belakang, rambut masih setengah lembap, mata fokus ke layar ponsel. Satu nama muncul. Damn Doctor💧
Damn Doctor💧:
gimana tidurnya kemarin?
Marcha:
gue tidur kayak bayi. sampe telat ke kantor 😑
Damn Doctor💧:
oh ya? 🤣 seneng gue denger lo tidur nyenyak. kemarin malem seru juga ya... ntar gue mampir lagi ke rumah lo buat nina bobo'in elo 😁
Marcha melotot. HAH?, Ini orang kenapa bahasanya makin ke arah pengantar PAUD?
Marcha:
kemarin seru, Dev. tapi lo gak perlu ke rumah gue tiap hari. gue hari ini kerja 😠
Damn Doctor💧:
kerja itu pagi sampe sore, Cha. malem waktunya tidur 🙂 gue dateng jam 8 ya. sekarang gue urus kerjaan dulu 😊😊😊
Marcha menatap layar lama. Orang ini... ngerencanain hidup dia sekarang?
Marcha:
Shanna gak marah lo ke rumah gue cuma buat nemenin gue tidur? yang bener dong, Dev. gue gak mau dikira selingkuh 😒
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
Damn Doctor💧:
tenang aja. gue udah bilang Shannon. dia pengertian banget soal elo. dia juga gak mau elo terus minum obat tidur 😊
Marcha terdiam. Serius ini? Shanna... ngizinin? Marcha menghela napas pelan, dadanya terasa hangat dan ribet di saat yang sama. Ia bingung harus bagaimana menolak Deven—atau mendorongnya menjauh—karena satu hal yang terlalu jujur untuk disangkal. Ia tidur nyenyak dalam pelukan Deven dan rasanya... aman, diperhatikan, disayang
Perasaan yang lama ia kubur—dengan kerja, logika, dan obat tidur—pelan-pelan bangkit lagi, mengisi ruang kosong di hatinya dengan kehangatan.Marcha menatap keluar jendela mobil. Ia bukan orang bodoh. Ia tahu kehangatan itu namanya apa. Iya. Itu cinta.
Tak lama kemudian, Marcha tiba di kantor papinya.
Hari ini agenda besar. Presentasi untuk para calon investor. Restoran Le~March bukan cuma mau hidup—tapi mau beranak-pinak. Targetnya: buka cabang di berbagai kota di Indonesia. Marcha lagi fokus mengecek rundown acara ketika matanya menangkap satu sosok yang... aneh.
Ingvar.
Adiknya itu berdiri rapi, kemeja disetrika licin, ekspresi serius—terlalu serius untuk ukuran orang yang biasanya alergi sama kata bisnis. Marcha mendekat.
"Lo dateng?" tanyanya heran. "Salah gedung, Var?"
Ingvar melirik santai "Iya. Temen gue ada yang tertarik join bisnis kuliner kak Marcha."
Marcha mengedip "Temen lo? Lo punya temen yang tau bedanya rosemary sama daun jeruk?"
"Jangan meremehkan circle gue," jawab Ingvar tenang. "Dia sibuk kerja, gak bisa dateng. Jadi gue wakilin."
"Oh," Marcha mengangguk pelan. "Surat kuasa? Dokumen? Tanda tangan? Atau cuma modal niat baik?"
"Lengkap," jawab Ingvar santai. "Semua udah di kak Kevin."
Marcha mengangguk lagi "Okay... lo bela-belain dateng demi bisnis gue. Gue kenal orangnya?"
"Partner bisnis gue," jawab Ingvar.
Marcha mau nanya lebih jauh—
"Cha! Pidato!" teriak Monique dari ujung ruangan.
Marcha menoleh "Iya, iya! Sebentar!"
Ia kembali menatap Ingvar "Nanti kita ngobrol lagi."
Ingvar cuma tersenyum kecil. Misterius. Nyebelin.
Marcha naik ke podium. Pidatonya mengalir. Vision. Passion. Brand story. Future expansion. Semua orang bertepuk tangan, selesai acara, Marcha turun dan mulai menyapa para partner.
Matanya mencari Ingvar. Kosong.
"Cha," suara Kevin muncul di sampingnya. "Lo kenapa mukanya kayak abis ditinggal pas nikah?"
"Gue nyari adik gue. Lo liat Ingvar?"
"Udah balik ke rumah sakit," jawab Kevin. "Katanya mau mandi dulu, abis itu balik lagi jagain papi lo. Biar mami lo bisa pulang dan tidur."
Marcha menghela napas "Harusnya giliran gue jaga papi sekarang. Kita beresin acara ini cepet ya, Vin."
Kevin mengangguk... lalu ekspresinya berubah "Ngomong-ngomong, gue perlu bahas satu hal."
"Apa?" Marcha waspada.
"Pemegang saham baru Le~March."
Marcha berhenti "Kenapa nadanya kayak mau ngaku dosa?"
"Karena gue udah proses kontraknya," kata Kevin cepat. "Dan ini... partner bisnis Ingvar."
Marcha menyipit "Siapa?"
Kevin nyengir"Deven."
Mata Marcha melebar "Deven?!"
"Iya," Kevin menahan tawa. "Gue tunggu reaksi ini dari tadi."
"Kok Ingvar gak bilang?" Marcha langsung naik darah. "Gue bukan orang asing buat Deven! Kenapa harus diam-diam?"
"Mungkin dia takut lo nolak," Kevin mengangkat bahu. "Dan jujur aja... gue paham."
"Gue belum tentu nolak!" bantah Marcha. "Dia temen gue!"
Temen. Iya. Temen yang ribet.
Marcha terdiam.
Partner bisnis Ingvar? Deven?Jangan bilang...D.M.S? Marcha menutup mata sebentar. Ya Tuhan, ini keluarga gue kompak banget bikin hidup gue rumit. Kalau Deven jadi pemegang saham, mau gak mau mereka bakal ketemu. Rapat bulanan. Rapat tahunan. Bahkan—bonus liburan bareng kalau target tercapai. Ini bukan kebetulan. Ini jebakan halus. Ingvar... keterlaluan.
Acara akhirnya selesai.
"Hallo, Cha."
Marcha menoleh. Dylan.
"Dy! Lama gak ketemu," Marcha menjabat tangannya.
"Iya. Lo gak pernah balik Indo, jadi gue yang nyamperin," kata Dylan.
"Gue sibuk," jawab Marcha ringan.
"Tapi sekarang pulang."
"Iya. Bokap gue sakit," kata Marcha pelan. "Gue mesti balik. Tapi nanti ke Paris lagi."
Dylan terkejut "Bokap lo sakit apa?"
"Meningitis... dan kanker sumsum tulang belakang."
"Wah," Dylan refleks. "Lo gak bawa ke Amerika? Gue kenal dokter kanker yang bagus."
Marcha menggeleng pelan "Perjalanan jauh terlalu berat. Meningitis-nya baru membaik, besok mulai kemo. Masih rentan."
"Bener juga," Dylan mengangguk. "Kalau lo butuh apa pun, call gue."
Marcha tersenyum tulus "Thanks, Dy. You're my best friend."
Dylan nyengir "Dirawat di rumah sakit mana?"
Marcha menyebutkan nama rumah sakit.
Dylan mengangguk "Itu tempat Deven praktek, kan?"
"Iya," jawab Marcha. "Dokternya Deven."
"Dia dokter yang luar biasa," kata Dylan serius. "Papi gue dulu juga ditangani dia."
Marcha tersenyum kecil. Entah kenapa... ia senang mendengarnya.
"Gue boleh jenguk bokap lo?" tanya Dylan. "Lo kapan ke rumah sakit?"
Marcha mengangguk pelan "Iya. Nanti gue kabarin."
Dan di dalam hatinya, Marcha cuma bisa bergumam: Kayaknya hidup gue emang lagi seneng banget muterin nama Deven.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanficBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
