Marcha lagi-lagi merasa darahnya naik sampai ke ubun-ubun.
Kesal, bukan kesal biasa—ini level super kesel, sejak kapan sih papi punya syarat aneh untuk laki-laki yang mau menikah dengannya? Dan syaratnya itu... benar-benar di luar nalar, tinggal di rumah keluarga Marcha.
Serius? Apa ini audisi menantu atau rekrut penghuni kos keluarga? Marcha menghela napas panjang, berusaha menahan emosi.
"Pi, Marcha sama Deven sudah ngobrol... kita rencananya mau tinggal di rumah sendiri," kata Marcha, berusaha tetap sopan meski nada suaranya mulai kaku.
Papi menatapnya tenang, seolah pembicaraan ini hal biasa "Papi cuma minta syarat itu," katanya santai. "Apa kamu gak mau, Deven?"
Marcha langsung menoleh ke Deven, Deven menelan ludah kecil.
"Hm... bukan Deven gak mau, om," katanya hati-hati. "Cuma Deven sudah beli tanah dan—"
"Kan masih tanah," potong papi cepat. "Belum bangunan, bisa dijual lagi atau kamu bangun jadi tempat bisnis."
Deven terdiam, ia menatap Marcha sebentar, lalu kembali ke arah papi. Marcha langsung tahu, ini bahaya... mereka jelas perlu ngobrol dulu karena bahkan Marcha sendiri baru tahu ada aturan absurd seperti ini.
"Gimana, Deven?" tanya papi lagi.
"Marcha sama Deven bahas dulu hal ini, nanti Marcha ngomong lagi sama papi," potong Marcha cepat sebelum Deven sempat menjawab macam-macam.
Papi mengangkat alis "Papi tanya Deven, bukan kamu, Cha."
Marcha langsung manyun.
"Jadi gimana, Deven?" lanjut papi.
Deven menggaruk pelan belakang lehernya "Hm... mungkin Deven bahas dulu sama Marcha, om," katanya akhirnya. "Tapi... kalau om memang maunya begitu, Deven gak keberatan."
"Dev—" Marcha langsung menggoyang-goyangkan lengan Deven.
Ekspresinya jelas: Kamu serius?? Dalam hati Marcha sudah hampir teriak, Deven ini gimana sih?! Marcha memang lama gak tinggal di Indonesia, tapi bukan berarti dia gak tahu situasi rumah ini, tinggal di sini setelah menikah? Privasi mereka tamat, belum lagi semua drama keluarga. No....Big no!!!
Deven hanya tersenyum kecil lalu menepuk lembut punggung tangan Marcha. Ia menggelengkan kepala pelan, seolah berkata: Nanti kita bahas.
"Jadi kalian mau diskusi dulu?" tanya papi.
"Iya, om," jawab Deven.
"Okay."
Papi mengangguk, lalu tiba-tiba teringat sesuatu "Oh iya, Deven... mengenai pertunangan kamu yang batal."
Marcha langsung menghela napas pelan, Nah. Mulai lagi....
"Om harap mantan tunangan kamu gak ganggu Marcha lagi," lanjut papi. "Kalau sampai terjadi, om gak setuju kalian menikah."
"Pi, itu bukan salah Deven," protes Marcha cepat. "Shanna marah sama Marcha karena—"
"Om tenang aja," potong Deven sambil nyengir tipis. "Dia gak akan ganggu Marcha lagi, Deven janji." Ia menoleh sekilas ke arah Marcha "Kemarin itu salah Deven juga... sampai bikin Marcha luka."
Papi mengangguk puas "Bagus, Om pegang janji kamu." lalu papi mencondongkan badan sedikit "Dan satu hal lagi."
Deven langsung siaga. "Iya, om?"
"Berita di media. Om mau kamu bereskan itu," kata papi tegas. "Om gak mau nama Marcha dan calon menantu om diomongin yang jelek-jelek."
Marcha langsung mendecak pelan. "Marcha gak peduli orang mau ngomong apa, Pi."
"Papi peduli," jawab papi dingin. "Itu nama baik keluarga." Ia menatap Deven lurus "Kamu ngerti, Deven?"
Deven mengangguk cepat. "Iya, om. Deven ngerti... Deven akan urus."
"Bagus." Papi akhirnya tersenyum puas "Ayo, kita lanjut makan."
Tapi satu orang di meja itu sama sekali tidak puas...Marcha, ia menatap piringnya dengan ekspresi kesal, di kepalanya cuma ada satu pikiran: Papi jelas lagi menekan Deven dan yang lebih bikin Marcha ingin menjambak rambut sendiri—Kenapa Deven malah mengiyakan semuanya?!Masalah rumah, masalah media, sekarang mungkin sebentar lagi... masalah baru dengan Shannon, Deven tiba-tiba meraih punggung tangan Marcha lagi.
Ia menatapnya lembut, lalu berbisik pelan, "Everything's gonna be alright. Trust me."
Marcha menatapnya datar.... Alright?, bagian mana yang alright coba? Semua yang barusan dikatakan papi... bertolak belakang dengan apa yang Marcha inginkan.
"Makan dulu, Cha," kata Deven lembut.
"Aku gak lapar," jawab Marcha ketus.
Ia langsung menaruh sendok dan garpunya cukup keras di meja... suara ting kecil terdengar, Marcha berdiri dari kursinya, ia menatap tajam ke arah papi, tidak berkata apa-apa lalu berbalik... dan berjalan pergi menuju kamar meninggalkan Deven yang hanya bisa menghela napas kecil
Marcha masuk ke kamarnya dengan langkah agak keras, lalu menjatuhkan dirinya di tepi tempat tidur, ia memandang sekeliling kamar, semuanya masih sama seperti dulu, tempat tidur yang sama, lemari yang sama bahkan tirai jendelanya pun tidak beruba hanya satu yang berbeda, perasaannya... Marcha menghela napas panjang sambil menunduk, memikirkan apa yang baru saja terjadi di meja makan. Papi menekan Deven dan Deven... diam saja bahkan lebih parah—Deven mengiyakan hampir semuanya. Marcha menggigit bibirnya pelan yang paling membuatnya kesal adalah... Ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Deven tadi. Padahal seharusnya mereka menghadapi semuanya bersama.
Marcha memejamkan mata sebentar lalu ia menoleh... Tatapannya jatuh pada sebuah boneka Doraemon di sudut tempat tidur, boneka yang diberikan Deven dulu... Marcha menatapnya lama, lalu mendesah kecil.
"Lo juga gak bisa bantu gue di situasi kayak tadi kan, Devemon?" gumam Marcha pada boneka itu.
Tentu saja bonekanya tidak menjawab, Marcha malah nyengir sendiri, ia tiba-tiba teringat betapa sering ia dan Deven membuat candaan garing tentang nama itu.
Devemon, nama panggilan paling absurd banget, Marcha mengambil boneka itu lalu memeluknya.
"Apa sih yang harus gue lakuin sekarang?" gumamnya pelan "Ini gak adil buat Deven..."
Namun sebelum ia sempat melanjutkan monolognya—Tok tok tok, ada ketukan di pintu...Marcha langsung menoleh.
"Siapa?"
"Ini Deven."
Marcha menatap pintu beberapa detik... Jujur saja... dia belum yakin ingin bicara sekarang kalau mereka bicara sekarang, kemungkinan besar akan berdebat tapi kalau tidak bicara... nanti juga tetap berdebat
Marcha menghela napas.
"Masuk, Dev."
Pintu kamar terbuka, Deven masuk perlahan, lalu menutup pintu di belakangnya, ia berjalan mendekat dan duduk di samping Marcha dan matanya langsung tertuju pada boneka yang sedang dipeluk Marcha.
Deven tersenyum.
"Enak banget ya Devemon," katanya santai. "Setiap ada masalah... kamu yang dipeluk sama Marcha."
Marcha langsung cemberut. "Ya setidaknya Devenmon gak ngomong sembarangan di depan papi tadi."
Deven tertawa kecil. "Kamu marah karena aku setuju sama papi kamu?"
Marcha menggeleng "Aku bukan marah karena kamu setuju," katanya pelan tapi tegas "Aku marah karena kamu gak diskusi dulu sama aku... dan langsung mutusin semuanya sendiri."
Deven mengernyit sedikit "Diskusi yang mana?"
"Semua," jawab Marcha cepat. "Semua yang tadi papi bilang."
Deven terdiam sebentar lalu ia menatap Marcha dengan lembut.
"Aku bukan gak mau diskusi sama kamu," katanya pelan. "Tapi tadi kalau kamu yang terus ngomong... kamu pasti bakal tengkar sama papi kamu, kan?"
Marcha terdiam, ia ingin membantah tapi... Deven benar, kalau Deven tidak memotong pembicaraan tadi, kemungkinan besar dia sudah bertengkar dengan papinya di meja makan.
Deven lalu memegang pundak Marcha dengan lembut.
"Cha... kamu tahu papi kamu pernah sakit," katanya hati-hati. "Sekarang memang sudah membaik... tapi kita tetap harus jaga kondisi beliau tetap stabil." Ia menatap Marcha dalam-dalam "Dan salah satu caranya... jangan sampai beliau marah atau stres." Deven tersenyum kecil "Kamu gak mau kan papi kamu sakit lagi seperti kemarin?"
Marcha menghela napas
"Ya tentu aja aku gak mau," katanya pelan. "Tapi Dev... kalau kamu tinggal di rumahku setelah kita menikah..."
Ia menunduk.
"Aku bukan gak mau... tapi aku cuma pengin hidup sama kamu, berdua sama anak-anak kita nanti."
Deven tersenyum lembut "Cha... soal itu kita bicarakan pelan-pelan nanti, ya?" Ia mengangkat alis sedikit "Aku tadi juga bilang kan, mau diskusi dulu sama kamu."
Marcha menatapnya lagi. "Dev... kamu gak kepikiran apa kata orang nanti?" katanya "Aku gak mau ada orang yang nge-bully kamu lagi... atau ngomong yang aneh-aneh."
Deven tertawa pelan "Cha." Ia memegang tangan Marcha. "Aku cuma mau kamu, orang mau ngomong apa... aku gak peduli. "Ia mengangkat bahu santai "Mereka bukan aku bukan kamu dan jelas bukan kita." Deven menekan lembut tangan Marcha "Mereka gak tahu apa yang kita lalui karena kita yang menjalani ini... ya kita hadapi bareng."
Marcha tiba-tiba memeluk Deven
"Kamu kenapa sih baik banget?" gumamnya di dada Deven "Padahal papiku tadi kayak gitu sama kamu."
Deven menyandarkan pipinya di kening Marcha "Kalau kita menikah nanti," katanya lembut, "keluargamu juga keluargaku, aku juga gak mau lihat papi kamu sakit... apalagi gara-gara masalah kita."
Marcha memeluknya lebih erat, di dalam dadanya ada rasa hangat yang sulit dijelaskan, Ia bersyukur sekali waktu itu menyusul Deven ke bandara... dan memberi lelaki ini kesempatan kedua kalau tidak... Mungkin ia tidak akan pernah merasakan cinta seperti ini, cinta yang membuat hatinya terasa hangat.
Deven lalu mencium lembut kening Marcha.
"Ayo kita balik ke ruang makan," katanya "Kamu lapar kan?"
Marcha langsung mendongak lalu tersenyum lebar. "Kamu yang lapar kan?"
Deven tertawa kecil, ia mengelus pipi Marcha "Aku gak mau kamu kelaparan." lalu ia mengecup bibir Marcha singkat.
Marcha terkekeh "Ya udah... ayo balik."
Deven tiba-tiba menahan langkahnya "Wait."
Marcha mengerjap.
"Kamu harus minta maaf sama papi kamu dulu."
Marcha langsung menghela napas dramatis "Duh... kamu ini."
"Cha," kata Deven sabar. "Papi kamu ada riwayat sakit." Ia menatap Marcha serius tapi lembut "Kamu harus lebih sabar sama beliau."
Marcha mengangkat kedua tangan menyerah "Baiklah... dokter cinta-ku."
Deven tertawa lalu mereka berdua lalu berjalan keluar kamar menuju ruang makan, di sana papi, mami dan Ingvar sudah duduk, hampir mulai makan.
Marcha dan Deven kembali duduk, Deven menggenggam tangan Marcha di bawah meja.
"Ayo," bisiknya.
Marcha menarik napas panjang lalu menatap papinya.
"Pi... tadi Marcha minta maaf ya," katanya pelan "Sikap Marcha tadi kurang sopan."
Papi terlihat sedikit kaget lalu wajahnya perlahan melembut, ia mengangguk sambil tersenyum.
"Iya... gak apa-apa, Cha."
Lalu papi menatap Deven dan tersenyum lagi, hal yang jarang sekali dilakukan papi kepada teman laki-laki Marcha.
"Ayo makan," kata papi dengan nada lebih ceria "Nanti keburu makanannya dingin."
Marcha tersenyum kecil dan malam itu... makan malam akhirnya berjalan damai, tenan, hangat hanya saja malam itu Deven pulang sendirian ke apartemennya karena Marcha sudah balik di rumahnya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
