Kevin tahu—ucapannya barusan bikin Shanna nggak nyaman dan untuk pertama kalinya, Kevin benar-benar mengakui satu hal: alasan kariernya bukan alasan utama Shanna menjauh.
Tak lama kemudianKevin dan Shanna sudah duduk berhadapan di salah satu restoran favorit Shanna—Le Bistro. Sebentar. Le Bistro? Sejak kapan Shanna suka makanan Prancis?
Dulu waktu SMA, Shanna paling anti diajak makan makanan ala Prancis atau Italia. Katanya ribet, porsinya kayak "makanan bayi kurang gizi", dan namanya susah dibaca.
Sekarang? Berubahnya kebangetan. Kayak orang biasa yang tiba-tiba jadi Ultraman. Sayangnya nggak ada Ultrawoman.
Kevin menutup buku menu, mengernyit "Sejak kapan lo suka makanan Prancis?"
"Sejak Deven suka," jawab Shanna santai. "Dia bilang pengin buka resto Prancis di Jakarta."
Kevin mendesah panjang. "Sok visioner banget si Deven. Tapi lo harus ya ngikutin semua kesukaan dia?"
"Ya iya," jawab Shanna. "Gue harus support mimpi Deven."
Kevin menoleh pelan "Kalau mimpi Deven nyemplung ke got, lo ikut nyemplung juga?"
"Apaan sih, Vin. Sarkastik banget," protes Shanna.
"Gue cuma pengin lo mikir pake logika, Shan," kata Kevin. "Nggak semua hal harus lo ikutin. Dulu lo cinta mati sama nasi padang, sekarang berubah jadi croissant. Kayak nggak punya KTP selera."
"Lo ini ngajak makan apa ngajak ribut?" Shanna menatap tajam. "Kalau ngajak ribut, kita pulang aja."
Kevin langsung angkat tangan "Waduh, jangan. Gue bercanda. Demi kentang goreng Prancis—eh, pommes frites."
"Bercanda lo nyakitin," gumam Shanna.
"Iya, maaf," Kevin menghela napas. "Gue cuma ngerasa lo terlalu ngikutin Deven."
"Itu pilihan gue," kata Shanna tegas.
"Ya udah," Kevin mengangguk. "Hak asasi lo. Sekarang... lo mau pesen apa?"
Shanna menyebutkan pesanannya. Kevin asal menunjuk menu—tanpa ngerti juga apa isinya. Mereka mengobrol ringan. Kevin sengaja nggak nyebut nama Deven lagi. Dia tahu, topik itu sekarang ranjau darat. Arah obrolan berbelok ke satu nama lain.
"Jadi sekarang lo pengacaranya Marcha?" tanya Shanna kaget.
Kevin mengangguk, wajahnya malah terlihat bangga "Iya."
"Kenapa? Maksud gue... Marcha bikin kasus kriminal gitu?" Shanna bingung.
Kevin tertawa kecil. "Enggak. Gue pengacara yang ngenalin dia ke notaris. Notarisnya kenalan gue. Dan ya... tiap pebisnis butuh pengacara buat kontrak biar hidupnya legal dan nggak drama."
"Emang Marcha punya bisnis sebanyak itu sampe perlu lo?" tanya Shanna.
"Banyak," jawab Kevin singkat. "Gue nggak tau detailnya, tapi banyak banget. Dan gue yakin, di Indonesia dia masuk top ten cewek muda paling kaya."
"Lebih kaya dari bokapnya?" Shanna mengangkat alis.
"Jelas," kata Kevin. "Dan lucunya, sebagian besar duitnya dia sumbang ke badan amal. WHO, UNICEF, dan kawan-kawannya. Makanya dia sering diundang jadi pembicara internasional."
"Keren banget," gumam Shanna.
"Keren sih," Kevin mengangguk. "Tapi kelakuannya sekarang... agak beda."
"Lo lebay. Gue nggak berubah, Vin," sanggah Shanna. "Emangnya Marcha berubah kayak gimana?"
"Dulu dia tulus," kata Kevin. "Sekarang... ya, masih tulus ke kerjaan. Tapi soal cowok?" Kevin terkekeh. "Dia mainin hati."
"Maksud lo?"
"Marcha nggak percaya cinta," jelas Kevin. "Menurut dia, cowok-cowok itu dateng karena duit atau tubuh. Jadi sebelum dimanfaatin, mending dia yang manfaatin."
"Segitunya?" Shanna menggeleng.
"Lo nggak baca berita Hollywood?" Kevin nyengir.
"Gue kerja, Vin. Bukan netizen full time."
"Intinya," lanjut Kevin, "cowok-cowok itu dipake buat naikin pamor. Masuk majalah fashion dia. Dibayar, tapi murah—karena niatnya juga murahan. Pacarnya paling awet sebulan."
"Parah," desah Shanna.
"Parah tapi nyata," Kevin mengangguk. "Dia sampe dijuluki men's collection di Hollywood."
"Terus sekarang?"
"Sekarang jomblo," kata Kevin. "Katanya kapok. Ada satu mantan yang gangguin sampe sekarang."
Kevin tertawa kecil mengingat curhatan Marcha.
"Kok lo ketawa?" tanya Shanna heran.
"Gue kebayang aja," kata Kevin. "Cowok-cowok itu mimpi mau dapetin hati Marcha. Mendekat aja nggak lolos seleksi."
"Lo deket banget ya sama dia?" tanya Shanna.
"Lumayan. Urusan kerja sering, terus kepo dikit," Kevin nyengir.
"Dia nanya soal hidup lo juga dong?" Shanna menyelidik.
"Kadang."
"Terus... masa iya lo nggak punya cewek?"
"Ada," jawab Kevin santai. "Dan lo kenal."
"Siapa?"
"Daneliya."
"Daneliya Tuleshova?" Shanna nyaris teriak.
Kevin mengangguk "Dekat. Masih. Tapi nggak pernah lanjut."
"Kenapa?"
Kevin menatap Shanna lama karena bodohnya, hatinya masih nyangkut di sini di orang yang duduk di depannya.
"Gue ngerasa nggak cocok aja," jawab Kevin akhirnya. "Bahasa, budaya... ribet."
Shanna mengangguk sambil menyeruput jus jeruknya. Kevin ikut menyesap cappuccino.
"Terus," Shanna melirik, "kenapa lo nggak jalan sama Marcha?"
Kevin langsung tersedak "HAH?!" Ia tertawa keras "Shan... lo liat dong. Gue bersaing sama cowok-cowok yang deketin Marcha? Parker aja mental, apalagi gue."
"Marcha nggak pernah luluh?"
"Cuma satu," kata Kevin pelan. "Deven." Ia tersenyum miris "Abis itu? Nggak ada lagi. Cowok Hollywood itu fake semua, dan Marcha tau banget."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
