Insist (Kevin)

52 4 0
                                        

Kevin duduk di ruang keluarga rumah orang tuanya dengan Shanna di sampingnya, tangan mereka saling menggenggam erat atau lebih tepatnya, Kevin yang menggenggam tangan Shanna erat-erat karena ia bisa merasakan telapak tangan wanita itu mulai dingin.
Nervous dan Kevin sama sekali tidak menyalahkannya. Bagaimanapun juga, ini pertama kalinya Shanna bertemu keluarganya dan begitu datang...Kevin langsung mengumumkan kalau ia ingin menikah, kalau Kevin jadi Shanna, mungkin dia juga ingin kabur lewat jendela.
"Kamu yakin mau menikah sekarang, Vin?" tanya papa Kevin sambil menatap putranya.
Kevin mengangguk mantap "Yakin, Pa."
Mama Kevin menghela napas pelan "Berapa lama kalian pacaran?"
Kevin dan Shanna saling melirik lalu saling diam lalu saling melirik lagi.
"Hampir satu bulan," jawab Kevin akhirnya.
Mama Kevin langsung memijat pelipisnya "Satu bulan?"
Kevin nyengir kecil "Kurang dikit sih."
"Itu bukan sesuatu yang perlu dibanggakan," sahut mamanya.
Shanna langsung menunduk menahan tawa.
"Kalian bahkan belum genap satu bulan pacaran sudah bicara soal menikah," lanjut mama Kevin. "Menikah itu bukan main-main, Vin."
"Kevin tahu, Ma," jawab Kevin serius. "Dan Kevin gak pernah main-main soal Shannon."
Nada suaranya membuat Shanna menoleh.
Kevin melanjutkan "Memang kami baru pacaran tapi Kevin kenal Shannon sudah sejak SMA."
Papa Kevin bersandar di kursinya "Sebenarnya Papa gak masalah kalau kamu mau menikah," katanya pelan.
Tapi...Kalimat itu menggantung, tatapan papa Kevin beralih ke arah Shanna, Kevin langsung tahu apa yang sedang dipikirkan ayahnya.
Media.
Berita.
Skandal.
Gosip.
Drama yang selama berbulan-bulan memenuhi internet. Nama Shanna, Anneth, Marcha, Deven, Kevin, bahkan Betrand terus diseret ke mana-mana dan sayangnya, keluarga Kevin mengenal Marcha jauh lebih dulu. Mereka tahu siapa Marcha sebenarnya, mereka tahu wanita itu bukan seperti yang diberitakan tapi mereka tidak tahu kalau sekarang Marcha dan Shanna justru berteman baik, yang mereka tahu hanya satu hal, Shanna pernah terlibat dalam semua kekacauan itu.
"Pa," kata Kevin pelan.
Papa Kevin menoleh.
"Jangan percaya semua yang ditulis media."
Ruangan mendadak hening.
"Mereka gak selalu benar."
Mama dan papa Kevin saling pandang.
Kevin menggenggam tangan Shanna sedikit lebih erat "Kevin serius," katanya lagi.
Kali ini suaranya lebih tegas.
Papa Kevin memperhatikan tangan mereka yang saling menggenggam lalu menghela napas panjang.
"Kalau begitu," katanya akhirnya, "Papa dan Mama ingin bertemu dulu dengan orang tua Shanna."
Mata Kevin langsung berbinar tapi belum sempat ia bicara, Shanna diam-diam menekan tangannya. Kevin menoleh. Shanna menggeleng pelan, matanya sedikit berkaca-kaca, seolah meminta Kevin untuk tidak memaksa lagi.
Kevin menarik napas dalam lalu mengangguk kecil "Baik, Pa."
Suasana akhirnya sedikit mencair.
Papa Kevin tersenyum tipis "Papa rasa kalian gak buru-buru balik ke apartemen, kan?"
Kevin mengangkat alis "Hah?"
"Kita makan malam bareng."
Kevin langsung menoleh ke arah Shanna.
Shanna membalas tatapannya lalu tersenyum kecil "Kamu pernah bilang masakan mama kamu paling enak di dunia."
Kevin langsung salah tingkah "Aku pernah ngomong gitu?"
"Pernah."
"Aku lebay waktu itu."
Mama Kevin langsung melotot "Kevin."
"Eh, maksudnya memang paling enak."
Shanna langsung tertawa "Aku mau buktiin," katanya.
Mama Kevin yang sejak tadi terlihat tegang akhirnya ikut tersenyum "Nah, itu baru benar."

Makan malam berlangsung jauh lebih baik daripada yang Kevin bayangkan. Awalnya ia mengira suasananya akan seperti sidang skripsi, ternyata  lebih mirip wawancara kerja, walaupun sebenarnya sama-sama menegangkan untungnya, Shanna bisa menjawab semua pertanyaan dengan tenang bahkan beberapa kali berhasil membuat mama Kevin tertawa yang membuat Kevin semakin kagum adalah bagaimana Shanna tetap sopan meskipun jelas sedang gugup.
Pelan-pelan, kedua orang tuanya mulai terlihat lebih nyaman.
Mama Kevin mulai bertanya tentang pekerjaan Shanna. Papa Kevin mulai bercerita tentang masa kecil Kevin yang memalukan dan  Kevin hampir mati malu ketika foto dirinya waktu SD dibawa keluar.
"Ma!" protes Kevin.
"Kamu lucu kok waktu kecil."
"Itu bukan lucu. Itu rambut mangkok."
"Itu tren."
"Itu kejahatan."
Shanna sampai tertawa sambil hampir tersedak minuman.
Melihat itu, Kevin akhirnya merasa sedikit lega setidaknya malam ini tidak berakhir dengan bencana, saat suasana sedang ramai, Kevin diam-diam berdiri dari meja makan.
"Aku ke toilet bentar."
"Gak ada yang nanya," sahut papa Kevin.
Kevin langsung melotot "Pa..."
Shanna menahan tawanya.
Kevin akhirnya keluar menuju teras rumah sambil membawa ponselnya, ia mengembuskan napas panjang.... sebenarnya ada satu hal yang masih mengganjal. Ia harus membuat kedua orang tuanya benar-benar percaya pada Shanna dan untuk itu...Ia butuh bantuan seseorang atau lebih tepatnya dua orang.
Kevin menatap layar ponselnya. Nama Deven muncul di daftar kontak.
Kevin menggaruk kepalanya. Setelah semua kekacauan yang pernah terjadi...Ia bahkan tidak yakin Marcha mau membantunya tapi saat ini, tidak ada orang yang lebih mengenal Shanna selain mereka berdua.
"Ya udah lah."
Kevin menarik napas panjang.
"Semoga Deven belum tidur."
Lalu ia menekan tombol panggil.
Di saat yang sama, ribuan kilometer jauhnya di Paris, ponsel Deven mulai berdering.
"Halo," sapa Kevin begitu panggilannya tersambung.
"Vin?" suara Deven terdengar di seberang sana. "Apa-apaan lo nelpon gue malam-malam begini?"
"Sorry, Dev. Tapi gue butuh bantuan Marcha."
Deven langsung menghela napas panjang "Lo mau minta tolong Marcha, ya telepon Marcha. Ngapain malah nelpon gue?"
"Karena gue gak yakin dia mau bantu kalau gue yang ngomong langsung," jawab Kevin jujur. "Makanya gue minta tolong lo dulu."
"Hadeh..."
Deven menggeleng sambil melirik Marcha yang sedang duduk di sampingnya "Gue speaker ya. Lo ngomong aja. Gue sama Marcha dengerin."
"Ada apa?" tanya Marcha bingung.
"Kevin mau minta tolong sama kamu."
"Minta tolong apa?"
Kevin menarik napas "Ini soal Shannon."
Marcha langsung mengernyit "Kenapa Shannon?"
"Gue mau nikah sama dia."
"Hah?" Suara Marcha dan Deven hampir bertabrakan.
"Bukannya kalian baru pacaran?" tanya Marcha. "Lo yakin gak salah langkah, Vin?"
"Ada cerita panjang kenapa gue harus nikah sekarang," jawab Kevin cepat. "Yang penting sekarang bisa bantu gue dulu gak?"
"Bantu gimana?" tanya Deven.
"Menikah itu urusan kalian berdua, Vin. Kenapa malah nyeret Marcha?"
Kevin memijat pelipisnya "Karena ini ada hubungannya sama masa lalu Shannon, Anneth, kalian berdua, media, gosip, dan segala kekacauan itu."
Ruangan mendadak hening.
"Masalah itu kan udah selesai," kata Deven akhirnya. "Ngapain dibongkar lagi?"
"Karena media gak tahu kalau masalah itu udah selesai."
Kevin bersandar lesu "Keluarga gue baca berita. Mereka lihat Shannon pernah nampar Marcha, pernah bikin nama Marcha jelek. Sekarang mereka mikir Shannon itu cewek jahat."
"Well..." Deven berdeham. "Kalau soal nampar Marcha sih memang jahat."
"DEV!" protes Marcha spontan.
"Apa? Fakta."
"Masalahnya udah selesai."
"Iya, tapi tetap aja dia nampar kamu."
"Masih telepon sama gue, ya, kalian?" sela Kevin datar.
"Sorry."
"Maaf."
Deven dan Marcha menjawab bersamaan.
Kevin sampai tertawa kecil "Kompak amat."
"Terus?" tanya Marcha.
"Gue pengen nunjukkin ke keluarga gue kalau kalian sama Shannon baik-baik aja. Kalau kalian masih temenan."
Deven langsung menyandarkan kepala ke sofa "Vin, jujur aja ya..."
"Apa?"
"Cara lo ini agak maksa."
Kevin membuka mulut ingin membantah, tapi tiba-tiba matanya menangkap sosok yang berdiri di ambang pintu.
Shannon.
"Oh, sial."
"Hah?" tanya Deven.
"Shannon datang."
"Siapa yang datang?" tanya Shannon sambil melangkah masuk.
Kevin langsung salah tingkah "Eh..."
"Hai, Shan."
Suara Marcha dan Deven terdengar bersamaan dari speaker.
Shannon berhenti melangkah "Eh?"  Matanya langsung membesar "Deven? Marcha?"
"Gue pikir kalian lagi jalan-jalan romantis di Paris, bukan nongkrong di speaker telepon."
Marcha tertawa "Kita memang lagi di Paris."
"Oh, masih di Paris?" tanya Shannon. "Kapan pulangnya?"
"Lusa."
"Wah, cepat banget."
Shannon langsung menoleh ke Kevin "Gue pikir Deven dapat cuti dua minggu penuh."
"Memang dua minggu," jawab Marcha. "Tapi habis ini kita mau ke Lombok."
Shannon berkedip.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu matanya melebar.
"Tunggu..." Ia menunjuk speaker telepon "Kalian mau nikah?!"
Marcha tertawa "Iya."
"YA AMPUN!" Shannon sampai melonjak kegirangan "Finally!"
Deven langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan "Kenapa semua orang lebih semangat dari kita sih?"
"Karena kalian lama banget!" jawab Shannon tanpa dosa.
Marcha tertawa semakin keras "Tapi kayaknya lo duluan deh yang nikah sama Kevin."
Kali ini giliran Shannon yang membeku. Perlahan ia menoleh ke Kevin "Kamu kasih tahu mereka?"
Kevin hanya mengangkat bahu dengan senyum bersalah.
Marcha terkekeh melihat ekspresinya "Kevin yang cerita."
Shannon memejamkan mata beberapa detik seolah sedang menghitung kesabaran "Kevin..."
"Aku cuma sedikit cerita."
"Sedikit?"
"Sedikit banget."
"Yang sampai mereka tahu kita mau nikah?"
"Definisi sedikit tiap orang beda-beda."
Deven sampai tertawa "Kasihan lo, Vin."
"Diam lo."
Semua tertawa.
"Kalian butuh bantuan?" tanya Marcha.
Shannon langsung menggeleng "Eh, nanti aja, Cha."
Ia menatap Kevin "Kita ngobrol dulu."
"Oke," kata Marcha. "Nanti ketemu di Indonesia ya."
"Iya. Kita tunggu kalian pulang."
"Bye, Shan."
"Bye, Vin."
Sambungan telepon pun berakhir. Shannon menyerahkan ponsel itu kembali kepada Kevin lalu menatapnya tanpa berkedip. Kevin langsung merasa situasi tidak aman.
"Maksud kamu apa?" tanya Shannon.
"Aku cuma minta bantuan Marcha."
"Buat urusan kita?"
"Sedikit."
"Kevin."
"Oke, banyak."
Shannon menghela napas panjang "Kamu gak bisa jaga muka aku sedikit aja?"
Kevin langsung terdiam.
"Dulu aku nampar Marcha. Aku bikin hidup dia susah. Aku bikin nama dia jelek di depan banyak orang." Suara Shannon melemah "Dan sekarang kamu minta dia bantu urusan pribadi kita?"
"Marcha gak masalah kok," jawab Kevin pelan.
"Aku tahu." Shannon tersenyum tipis "Aku tahu Marcha gak akan keberatan."
"Terus?"
"Yang masalah itu aku."
Kevin mengernyit "Aku gak mau orang tua kamu berubah pikiran soal aku karena bantuan Marcha atau Deven." Shannon menatapnya lurus "Aku mau mereka menerima aku karena mereka kenal aku."
Suasana mendadak lebih tenang.
"Aku mau mereka suka sama Shannon yang sekarang." Ia tersenyum kecil "Bukan karena ada orang lain yang menjamin aku."
Kevin terdiam beberapa saat laluperlahan mengangguk "Aku paham."
Shannon menghela napas lega "Aku tahu kamu cuma berusaha supaya hubungan kita lancar."
"Aku cuma gak mau kehilangan kamu."
Kalimat itu keluar begitu saja, membuat Shannon langsung melembut. Ia melangkah mendekat dan memegang kedua tangan Kevin.
"Kamu gak akan kehilangan aku cuma karena orang tua kamu belum yakin."
Kevin menatapnya "Yakin?"
"Yakin." Shannon tersenyum.
"Kita hadapi sama-sama. Pelan-pelan."
Kevin akhirnya ikut tersenyum "Maaf ya. Tadi aku telepon mereka tanpa bilang dulu."
"Gak apa-apa." Shannon lalu memeluknya erat "Aku gak marah."
"Kamu yakin?"
"Masih sedikit."
Kevin meringis. Shannon tertawa.
"Tapi aku ngerti kok niat kamu baik."
Kevin membalas pelukannya sambil menghela napas lega "Lain kali kita diskusi dulu?"
"Deal."
"Deal."
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Kevin merasa sedikit lebih tenang karena ternyata menghadapi keluarga jauh lebih mudah dibanding menghadapi Shannon yang sedang kesal.

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang