Deven menatap mata Marcha.
Berkaca-kaca.
Namun tidak ada air mata yang jatuh.
Ia tahu tatapan itu.
Marcha terlalu kuat untuk menangis di depan orang lain.
Bahkan mungkin terlalu kuat untuk menangis di depan dirinya sendiri.
Deven sebenarnya ingin melihat Marcha menangis. Bukan karena ia ingin melihat perempuan yang dicintainya menderita, tetapi karena ia tahu selama ini Marcha terlalu sering menahan semuanya sendirian.
Namun kali ini Deven tidak ingin memaksanya.
Mungkin Marcha sudah terlalu lelah untuk terus berpura-pura baik-baik saja.
Mereka berdiri di bandara, beberapa langkah dari pintu keberangkatan.
Orang-orang berlalu-lalang di sekitar mereka.
Ada yang terburu-buru mengejar penerbangan.
Ada yang sibuk dengan koper.
Ada yang memeluk keluarganya sebelum berpisah.
Namun bagi Deven dan Marcha, suara-suara itu seperti semakin jauh.
Yang mereka dengar hanya napas masing-masing.
Tangan mereka masih saling menggenggam.
Erat.
Seolah melepaskan tangan itu adalah bagian paling sulit dari seluruh keberangkatan ini.
Deven menelan ludah.
Ia tahu waktunya sudah tiba.
"I have to go."
Marcha tidak langsung menjawab.
Tatapannya tetap tertuju pada Deven.
"Kamu bilang dua tahun."
Deven berusaha tersenyum.
Namun yang keluar hanya sebuah senyum tipis yang nyaris seperti seringai kecil.
"I know."
"Kamu tahu dua tahun itu lama?"
Deven terdiam.
"Cha..."
"Aku tahu kamu harus pergi."
Suara Marcha terdengar tenang.
Terlalu tenang.
"It's your decision. Your life. Aku nggak akan minta kamu batal."
Deven mengangguk pelan.
"Tapi aku tetap nggak suka."
Deven tersenyum kecil.
"Aku juga nggak suka."
Marcha menatapnya.
"Terus kenapa kamu masih bisa senyum?"
"Karena kalau aku ikut nangis, kita nggak akan pernah berangkat."
Marcha akhirnya tertawa kecil.
Tawa yang terdengar rapuh.
"Dasar."
Mama Deven yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut tersenyum.
"Dua tahun itu nggak lama, Cha."
Marcha mengangguk kecil, meskipun jelas sekali ia belum benar-benar percaya.
Mami Marcha kemudian tersenyum.
"Dua tahun. Pulang nanti kalian bicarakan lagi soal pernikahan."
Marcha langsung menoleh kepada mamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
Fiksi PenggemarBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
