Marcha menatap layar laptopnya lama-lama, seolah angka dan grafik di sana bisa menjawab semua yang ada di kepalanya. Ia menyesap kopi yang sudah hampir dingin, lalu bersandar pelan ke bantal di belakangnya, ini sudah satu bulan ia di Indonesia dan masih ada satu bulan lagi sebelum ia kembali... satu bulan untuk bersama Deven. Satu bulan untuk bersama keluarga dan satu bulan untuk pura-pura semuanya baik-baik saja.
Tanpa sepengetahuan Deven, hampir setiap hari papi dan maminya menanyakan hal yang sama: kapan nikah? Seperti yang sudah ia duga, mereka tidak ingin Marcha pergi lagi ke Eropa atau Amerika atau ke mana pun yang jauh dari rumah dan tentu saja—topik cucu selalu muncul di akhir pembicaraan, seperti bonus yang tak bisa dihindari.
Marcha menghela napas panjang, ia memang ingin menikah, ingin punya anak terutama kalau itu dengan Deven tapi mereka baru saja balikan. Lima bulan? Enam? Tujuh? Bahkan Marcha sendiri sudah tidak yakin yang jelas semuanya terasa cepat sekaligus rapuh.
Hubungan mereka romantis—itu tidak bisa dipungkiri, semua kencan mereka selalu terasa seperti adegan film apalagi kencan terakhir di Museum Wayang... siapa lagi cowok yang bisa dan mau mengajak kencan ke pertunjukan yang bercerita tentang cinta, kesetiaan, dan pengorbanan?
Marcha tersenyum kecil, ia bahkan tidak bisa membayangkan lelaki lain yang cukup romantis untuk mengajak perempuan menonton kisah Ramayana sambil serius menjelaskan arti kesetiaan Rama pada Sita meskipun ceritanya sudah ratusan tahun, pesannya tetap terasa hidup tapi di sisi lain, mereka bukan pasangan yang sibuk merayakan anniversary tiap bulan, jadwal ketemu saja sudah seperti rebutan tiket konser jadi mereka sepakat tidak perlu mengingat tanggal balikan, itu aneh tapi justru itu yang membuat hubungan mereka terasa... milik mereka sendiri.
Tok.
Tok.
Marcha menoleh ke pintu.
"Iya, masuk," katanya sambil menutup laptop sedikit.
Pintu terbuka pelan, dan Marcha langsung berdiri begitu melihat siapa yang masuk.
"Papi?"
Papi masuk dengan kursi rodanya, wajahnya terlihat sedikit lelah tapi tetap berusaha tersenyum
"Pi, kenapa ke kamar Marcha? Chat aja, nanti Marcha yang ke kamar papi," kata Marcha cepat sambil berjalan mendekat.
"Papi takut kamu sudah tidur," jawab papi pelan.
Marcha tertawa kecil. "Marcha nggak mungkin tidur, pi.... sebentar lagi ada meeting."
"Meeting jam satu pagi?" alis papi terangkat.
"Di New York sekarang jam satu siang," jawab Marcha santai.
Papi menghela napas panjang. "Kamu kerja terlalu keras, Cha... jam tidur kamu kacau."
Marcha mengangkat cangkir kopinya sedikit. "Makanya ini penyelamat hidup."
Papi menggeleng pelan. "Selesai meeting langsung tidur... orang lain boleh nggak peduli kesehatan kamu tapi papi peduli."
Marcha tersenyum tipis. "Iya, Marcha tahu jadi papi ke sini ada apa?"
Papi terdiam sebentar lalu menatapnya lebih serius "Papi mau ngomong soal Deven."
Marcha langsung menutup laptop sepenuhnya. "Kalau soal pernikahan... kita masih bahas pelan-pelan, pi."
"Bukan itu," kata papi pelan. "Soal bisnis keluarga."
Marcha langsung menghela napas lagi. Rasanya baru saja ia selesai memikirkan itu—dan sekarang topiknya benar-benar datang.
"Papi harap Deven tetap terlibat," lanjut papi.
"Pi... kita sudah pernah bahas ini," kata Marcha hati-hati. "Deven itu dokter. Jadwal dia aja sudah gila sibuk. Marcha nggak mungkin maksa dia masuk ke bisnis keluarga."
"Dia akan jadi menantu papi," jawab papi tegas. "Dan sebagai menantu, dia harus terlibat."
Marcha menatap papi tidak percaya. "Pi..."
"Cha, papi bukan minta dia kerja di dalam perusahaan," lanjut papi. "Papi cuma mau nama Deven ada di saham perusahaan beberapa persen saja dan dia hadir di rapat bulanan sama tahunan."
Marcha terdiam.
"Saham?" ulangnya pelan. "Pi, om dan tante pasti nggak setuju. Deven malah bisa dimusuhi."
"Kenapa dimusuhi? Wajar kalau papi kasih saham ke suami kamu."
Marcha menatap lantai, ia tidak tahu harus mulai dari mana... membawa Deven masuk ke dunia bisnis keluarganya sama saja menyeretnya ke medan perang yang bahkan Marcha sendiri kadang tidak kuat menghadapinya.
"Papi pingin kamu yang atur itu," lanjut papi.
Marcha langsung mengangkat wajah. "Kenapa Marcha? Bukannya yang nanti nerusin perusahaan itu Ingvar?"
"Ingvar masih terlalu polos," jawab papi. "Dia butuh kamu."
Marcha tertawa kecil—tapi bukan karena lucu. "Bisnis itu insting, pi. Marcha nggak bisa terus-terusan ngajarin Ingvar... kerjaan Marcha sendiri juga sudah segunung."
"Tapi ini bisnis keluarga," kata papi pelan. "Dan kamu juga punya saham di sana."
Marcha diam.
"Papi sudah rencanakan semuanya, kan?" tanyanya pelan. "Papi mau Marcha ikut ngurus perusahaan juga?"
"Kamu pintar Cha dan bisnis kamu sampai ke luar negeri," jawab papi. "Sayang kalau kamu nggak ikut."
"Bisnis keluarga... Marcha nggak tertarik," kata Marcha jujur.
Papi menatapnya lama. "Mau tertarik atau nggak, kamu tetap punya saham dan itu juga berlaku buat Deven."
"Deven itu orang luar, pi," kata Marcha pelan.
"Sekarang iya tapi kalau dia menikah sama kamu, dia keluarga."
Marcha menggigit bibir. Ia bahkan belum bicara apa-apa ke Deven soal ini.
"Deven bahkan nggak tahu," katanya akhirnya. "Marcha juga belum bilang. Marcha cuma nggak mau dia ikut terlalu dalam. Marcha nggak mau dia ribut sama om atau tante."
"Dia cuma pemilik saham."
"Saham itu uang, pi."
Papi terdiam sebentar, lalu berkata pelan, "Papi cuma mau melindungi apa yang papi punya."
Marcha menatapnya. "Papi mau kasih Deven berapa persen?"
"Lima belas persen."
Marcha langsung berdiri. "Lima belas? Itu banyak banget, pi! Itu bahkan lebih besar dari saham om dan tante."
"Itu dari saham papi," jawab papi tenang. "Papi punya tiga puluh lima persen. Papi kasih lima belas ke Deven."
Marcha memijat pelipisnya, rasanya kepalanya mulai berat.
"Kalau Ingvar nanti menikah?" tanyanya pelan.
"Pembagiannya sudah papi pikirkan," jawab papi. "Kamu sama Ingvar masing-masing dua puluh persen, menantu papi masing-masing lima belas persen."
Marcha menatap papi lama, seolah mencoba memastikan ini bukan mimpi tengah malam.
"Papi sudah bilang ini ke Ingvar?"
"Dia bilang terserah papi sama kamu."
Marcha langsung tertawa kecil—kali ini benar-benar pahit. Adiknya bahkan belum mengerti beban yang akan datang tapi sudah menyerahkan semuanya.
"Papi cuma mau kamu bahagia," kata papi pelan. "Dan Deven harus jadi bagian dari keluarga ini sepenuhnya."
Marcha menatapnya lama lalu suaranya mengecil "Marcha ngomong dulu sama Deven, ya."
Papi mengangguk. "Ya sudah. Papi balik dulu."
Marcha langsung mendorong kursi roda papi pelan menuju kamar sebelah. Lorong terasa sunyi, hanya suara roda yang pelan sekali.
Sampai di depan kamar, Marcha berhenti.
"Papi istirahat ya. Marcha harus siap-siap meeting."
"Habis meeting langsung tidur," kata papi.
"Iya, janji," jawab Marcha sambil tersenyum kecil.
Papi hampir masuk, lalu tiba-tiba berhenti. "Cha."
Marcha menoleh.
"Besok kalau ada waktu... bantuin papi bimbing Ingvar, ya."
Marcha terdiam sebentar lalu tersenyum—senyum yang hangat tapi lelah.
"Iya, pi."
Marcha keluar dari kamar papi pelan-pelan, lalu langsung menghela napas panjang begitu pintunya tertutup di belakangnya.
"Oke... bagus," gumamnya pelan. "Jam satu pagi, belum tidur, tapi sudah dapat bonus drama saham keluarga."
Ia berjalan pelan menyusuri lorong menuju kamarnya sambil menatap lantai, kepalanya masih penuh, apa yang harus ia lakukan soal saham Deven? Marcha tahu itu uang. Bukan uang kecil. Tapi di balik angka itu ada konflik, ada politik keluarga, ada om dan tante yang pasti langsung pasang wajah diplomatis tapi menusuk dari belakang apalagi kalau Deven benar-benar dapat 15% sedangkan om dan tante masing-masing cuma 5%.
Marcha langsung meringis sendiri "Ya bagus, Cha... nikah belum tapi calon suami sudah jadi musuh keluarga duluan... prestasi luar biasa."
Ia berhenti sebentar di depan pintu kamarnya, lalu menyandarkan kepala ke daun pintu, ia tahu perusahaan itu memang milik papi karena papi yang membangun semuanya dari nol jadi sebenarnya papi bebas saja mau kasih saham ke siapa pun tapi begitu namanya bisnis keluarga, logika langsung hilang yang ada cuma perasaan, ego, dan drama panjang yang bahkan Netflix pun bisa kalah.
Dan Deven? Deven cuma menantu, Marcha bahkan tidak bisa membayangkan apa yang harus mereka hadapi nanti kalau benar-benar menikah. Rapat keluarga. Tatapan sinis. Om yang tiba-tiba terlalu ramah. Tante yang terlalu sering senyum tapi nadanya selalu seperti sindiran halus.
Marcha langsung menggeleng pelan "Cha, stop. Otak lo terlalu rajin bikin film sendiri."
Ia membuka pintu kamar dan masuk lagi, lalu langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur sebentar—hanya sebentar—sambil menatap langit-langit tapi anehnya, yang paling membuatnya tidak tenang bukan saham. Bukan om. Bukan tante. Deven sendiri bahkan belum pernah benar-benar bicara soal menikah... Iya, mereka sering bicara soal masa depan, tentang tinggal di mana, tentang kerjaan, tentang hidup yang lebih stabil tapi masa depan belum tentu berarti pernikahan dan jujur saja... Marcha juga tidak yakin mau menikah sekarang, apalagi saat papi masih sibuk memastikan dia "kembali sepenuhnya" ke keluarga.
Marcha menutup mata sebentar, lalu langsung duduk lagi "Udah. Jangan mikir aneh-aneh, meeting dulu.... drama nanti saja."
Ia menarik laptopnya kembali ke pangkuan, membuka file presentasi, lalu mencoba fokus tanpa ia sadari, di tempat lain—seseorang justru sedang memikirkan hal yang sama tapi jauh lebih serius.
Pernikahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
