Deven menghela napas pelan saat matanya terbuka. Kepala masih agak berat, tapi tidak seburuk semalam. Tangannya meraba meja kecil di samping tempat tidur, lalu mengambil termometer, ia menempelkan alat itu, menunggu beberapa detik dengan mata setengah terpejam.
Turun.
Demamnya sudah turun. Syukurlah. Meski begitu, ia tetap harus minum obat.Deven melirik meja di sebelah ranjang. Ada segelas air penuh, rapi, dan beberapa butir obat tergeletak manis di sampingnya, ia mengernyit. Siapa yang naruh? tanpa banyak mikir, Deven langsung menelan obat itu dan menghabiskan airnya sampai tetes terakhir. Setelah itu ia bangkit, berjalan pelan ke ruang tamu.
Pemandangan yang ia temui bikin sudut bibirnya naik.
Gogo dan Friden masih ada di apartemennya, tidur di sofa seperti korban kelelahan. Gogo melintang dengan satu kaki menjuntai ke lantai, sementara Friden memeluk bantal sofa seolah itu guling kesayangannya, pantes... dua sahabatnya ini jelas tidak pulang semalam, mereka nungguin Deven sampai malam, sampai ketiduran dan salah satu dari mereka—atau dua-duanya—pasti dalang di balik obat dan segelas air itu. Deven sudah bisa nebak tanpa perlu mikir lama.
Marcha.
Seolah menjawab pikirannya, ponsel Gogo tiba-tiba bergetar di meja. Deven melirik layarnya dan hampir tertawa.
Nama kontaknya: Nyonya Klepon.
Chat masuk bertubi-tubi.
Nyonya Klepon:
Go, Deven gimana?
Lo kabarin gue ya...
Dia udah minum obat atau belum?
Suhu badannya gimana? Masih tinggi atau udah turun?
Kalau belum turun... gue minta tolong anterin Deven ke dokter ya.
Deven tersenyum kecil, Oke. Sekarang ia paham kenapa Gogo dan Friden nurut banget sama Marcha. Diteror sehalus tapi seintens ini, siapa yang kuat? Ia membuka ponselnya sendiri.
Ada satu chat dari Marcha.
My Cha:
kalau bangun telepon ya 🤗
Deven nyengir. Tanpa ragu, ia langsung menelepon. Video call, baru nada sambung pertama, layar langsung hidup.
"Hei," sapa Deven lembut.
Di layar, Marcha terlihat memakai jaket kulit dengan mantel tebal. Latar belakangnya putih—jalanan bersalju. Napasnya sedikit berembun.
"Kamu udah bangun?" tanya Marcha cepat.
"Baru bangun. Terus lihat kamu ngechat Gogo rame banget," jawab Deven.
"Upss..." Marcha nyengir. "Gogo mana?"
Deven mengarahkan kamera ke sofa. Gogo dan Friden masih mendengkur, sama sekali nggak sadar sedang dipamerkan.
"Kamu nyiksa mereka, tau, Cha. Disuruh nemenin aku," kata Deven.
"Aku nggak maksa, Dev," bela Marcha cepat. "Aku suruh mereka gantian. Aku cuma minta update minimal sehari sekali... atau dua kali dan mereka juga mau kok jagain kamu."
Marcha berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Gogo bilang kamu sama dia dan Friden udah kayak kakak-adik jadi wajar dong kalau saudara saling jaga."
Deven terkekeh pelan "Aku tau mereka pasti jagain aku tapi gara-gara kamu, mereka jadi nungguin aku sampai lebih dari sehari dan nggak pulang rumah."
Marcha cuma nyengir, nggak merasa bersalah sama sekali."Aku khawatir sama kamu, sekarang gimana? masih pusing?"
"Udah mendingan, suhunya juga udah turun."
"Bagus." Nada Marcha langsung lega. "Berarti besok kamu mulai kerja?"
"Kayaknya iya dan besok bakal sibuk," jawab Deven. "Kamu lagi jalan ke mana, Cha?"
Marcha baru mau menjawab—
Ting!
Bel pintu apartemen tiba-tiba berbunyi.
Deven mengerutkan kening. Marcha juga langsung berhenti jalan di layar.
"Siapa tuh?" tanya Marcha curiga.
Deven menoleh ke arah pintu, lalu kembali ke layar. "Entah. Tamu misterius di pagi hari."
Ia berdiri pelan, berjalan ke arah pintu—sementara video call masih menyala
"Sebentar ya, ada bel pintu," kata Deven pelan.
"Eh, Pon... lo udah bangun?" suara Gogo terdengar serak. Ia mengusap matanya, setengah sadar.
"Iya," Deven mengangguk. "Go... tolong ya, ajak Marcha ngomong bentar." ia ragu sepersekian detik sebelum melanjutkan, "Ada bel di pintu."
Gogo langsung paham. Ia mengambil ponsel Deven dan menyapa Marcha di layar, sementara Deven berdiri dan melangkah ke arah pintu. Sejak batalnya pertunangannya dengan Shanna jadi konsumsi media, hidup Deven tak pernah benar-benar tenang. Terlebih setelah konferensi pers Shanna kemarin—ditambah rumor baru yang menyeret nama Anneth, Betrand, dan dirinya. Semua seperti lingkaran yang sengaja ditarik untuk menjeratnya lagi.
Deven menatap layar doorbell dan jantungnya langsung jatuh.
"Anneth..." gumamnya kaget.
"Anneth yang di depan pintu, Dev?" suara Marcha terdengar dari ponsel.
Deven menoleh ke belakang. Friden sudah bangun. Gogo berdiri canggung, menunggu isyarat. Deven memberi kode cepat.
Gogo berlari kecil dan mengembalikan ponsel itu ke tangannya.
"Iya, Cha," jawab Deven pelan.
"Ngapain Anneth ke apartemen kamu?" Nada Marcha terdengar bingung—dan sedikit waspada.
"Gue nggak tau," jawab Deven jujur. Ia memang benar-benar tidak tahu.
Bel pintu berbunyi lagi. Lebih lama. Lebih mendesak.
"Cha... nanti aku telepon lagi ya," kata Deven, jelas kebingungan.
Marcha diam beberapa detik lalu suaranya turun. "Tadi aku baru telepon Kevin. Anneth lagi ada masalah sama Betrand." ia menarik napas. "Masa dia nyari kamu habis ngebuang cowok lain?"
"Aku juga nggak tau mau Anneth apa," kata Deven. "Tapi aku nggak bakal tau kalau aku nggak tanya."
Ia menatap layar, wajah Marcha yang tadi terlihat cerah, kini muram.
"Trust me... please," ucap Deven pelan, nyaris memohon.
Marcha menelan ludah. "I trust you," katanya lirih.
Deven tersenyum kecil, walau dadanya sesak. "Ya udah. Nanti aku telepon lagi."
"Iya," jawab Marcha singkat. "Bye."
"Bye."
Panggilan terputus. Deven menyalakan speaker interkom, sengaja—agar Gogo dan Friden bisa mendengar.
"Lo mau apa, Neth?" tanyanya dingin.
Percakapan berubah cepat. Suara Anneth meninggi. Nada Deven ikut mengeras. Hingga akhirnya—
"Cewek lo siapa?" tanya Anneth.
"Emang gue perlu kasih tau lo siapa cewek gue?" balas Deven tajam. "Apa urusannya sama elo?"
"Marcha, kan? Shannon bilang Marcha selalu gangguin elo."
"Gangguin?" Deven tertawa pendek, pahit. "Marcha nggak pernah gangguin gue. Justru kalian yang selalu gangguin gue."
"Gue nggak pernah gangguin lo!"
"Terus apa yang lo lakuin sekarang?"
"Aku cuma mau ngomong."
"Gue nggak punya apa pun buat dibahas sama lo. Hubungan kita udah berakhir bertahun-tahun lalu."
"Aku tau dulu aku salah. Aku udah minta maaf. Apa kita nggak bisa berteman... kayak dulu, sebelum—"
"Kalau Shanna aja nggak bisa diterima keluarga gue, apalagi elo."
"Dev, nggak selalu apa yang keluarga lo anggap baik itu bener buat lo. Lo harus lihat juga kalau gue—"
"Keluarga gue nggak akan pernah ngkhianatin gue," potong Deven. "Nggak kayak apa yang dulu lo lakuin."
"Dev... gue sama Mackie dulu itu cuma—"
"Gimmick. Gue tau," suara Deven bergetar. "Tapi lo tetep ninggalin gue pas gue paling butuh lo, lo ninggalin gue, Neth dan lo ngefitnah gue."
"Aku minta maaf."
"Lo pikir kata maaf bisa nyembuhin luka?"
Anneth terdiam.
"Please. Pergi sekarang," kata Deven lirih tapi tegas. "We can be friends... but I hope we're not that close."
"Dev..."
Deven mematikan interkom. Ia berbalik. Gogo dan Friden menatapnya tanpa kata.
"Dia mau balikan sama lo," ujar Gogo, tak percaya.
"Setelah semua kekacauan dulu," Friden menggeleng. "Itu bodoh."
"Anneth punya alasan," kata Deven pelan.
"Maksud lo?" tanya Friden.
"Coba pikir," Deven menatap lantai. "Nggak ada angin, nggak ada hujan. Dia putus sama Betrand, terus tiba-tiba datang minta balikan. Kalian nggak ngerasa aneh? Kayak skenario."
"Salah satu gimmick manajemen?" tebak Gogo.
"Bukan pertama kalinya."
"Tapi dulu gue pikir Anneth terpaksa," kata Friden ragu.
"Gue juga yakin dia terpaksa," sahut Deven. "Dia tau keluarga gue benci Shanna karena diadan dia tetep datang. Itu bukan harapan—itu tekanan."
"Tekanan... atau dia juga mau balikan sama lo?" tanya Friden hati-hati.
Deven terdiam.
Bel pintu berbunyi lagi. Deven menoleh ke layar doorbell.
Kevin.
Kenapa lagi? Masalah Shanna? Apa nggak capek hidup gue diributin terus?
Ia membuka pintu.
"Ngapain lo ke sini, Vin?"
Kevin melirik kanan-kiri. "Masuk dulu, Dev."
Begitu pintu tertutup, Kevin langsung bicara, "Gue ke sini karena Marcha tapi tadi gue lihat Anneth di depan pintu lo."
"Dia bikin drama," lanjut Kevin. "Ada wartawan gadungan di dekat dia. Nguping."
"Anneth sepupunya Shanna?" Gogo membelalak.
"Besok jadi headline," kata Deven datar.
"Tapi masalahnya Marcha," Kevin menatap Deven. "Dia bakal dituduh perusak hubungan lo sama Shanna."
Deven terdiam mengingat setiap kalimat yang tadi ia ucapkan.
"Apa pun yang lo bilang," lanjut Kevin, "cara lo bicara jelas. Semua orang bakal nebak cewek lo itu Marcha."
Dada Deven sesak. "Gue harus telepon Marcha."
Ia meraih ponselnya. Tidak aktif.
Berita keesokan harinya meledak, Deven sudah biasa dibully tapi Marcha?, i nggak bisa melindunginya bahkan nama baiknya pun gagal ia jaga.
Cowok macam apa gue ini?
Deven menatap layar ponsel yang tetap gelap, ia tak bisa menghubungi Marcha sama sekali. Apa Marcha marah? Atau... kecewa?
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanficBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
