Collab bareng (Shanna)

92 10 20
                                        

"Jadi... Papi Marcha masuk rumah sakit?" suara Shanna terdengar kaget di seberang telepon. "Kamu yang nangani?"
"Iya," jawab Deven. "Dokter Louis yang minta aku langsung pegang kasusnya."
Shanna terdiam sejenak. Ia bisa membayangkan kondisi itu—dan satu nama yang ikut kembali ke hidup mereka.
"Berarti Marcha bakal pulang dari Paris?" tanyanya pelan.
"Kata mamanya, besok dia sampai di Indo," jawab Deven. Ada nada senang yang tak bisa ia sembunyikan.
"Oh." Shanna menelan ludah.
Wajar. Papi Marcha sakit, tentu saja Marcha pulang. Tapi... Deven? Shanna tahu betul, sejak dulu Deven selalu berharap bisa bertemu Marcha lagi. Dan kini, harapan itu berdiri tepat di depan mata. Ia ingin percaya pada Deven. Benar-benar ingin tapi Marcha bukan sekadar mantan. Marcha punya tempat istimewa—tempat yang, sampai sekarang, seolah belum pernah sepenuhnya ditinggalkan Deven.
Setiap kali nama itu disebut, Deven selalu bercerita tentang kebahagiaan masa lalu mereka. Tentang betapa bahagianya ia dulu bersama Marcha. Seolah-olah Shanna tak pernah benar-benar bisa menyamai itu. Padahal, Shanna tahu perasaannya pada Deven tidak kalah besar.
"Ngomong-ngomong," suara Deven memecah lamunannya, "kamu nggak mau jenguk Papi Marcha?"
"Nanti aja. Aku ajak anak-anak yang lain dulu," jawab Shanna cepat.
"Okay," kata Deven. "Di kamar VVIP satu, ya."
"Iya." Shanna lalu mengernyit. "Loh, kamu nggak ikut jenguk?"
"Aku bakal ketemu beliau tiap hari," jawab Deven santai. "Aku dokternya."
"Oh." Shanna ragu sejenak. "Terus... aku nggak kamu jemput?"
"Kamu bisa bareng anak-anak, kan?" kata Deven. "Aku mau tidur. Dari kemarin capek, kerjaan numpuk."
Alasan yang sama. Capek. Kerja. Tidur. Selalu itu. Karier Deven seolah jadi dinding yang makin lama makin tinggi di antara mereka.
"Ya udah," kata Shanna akhirnya. "Nanti kabarin kalau udah bangun."
"Okay," jawab Deven singkat. "Dah."
"Dah."
Telepon terputus. Shanna menatap layar ponselnya lama, lalu menghela napas.
She needs to do something.
Marcha kembali. Dan Shanna tidak bisa membiarkan Deven perlahan menjauh begitu saja. Apa pun caranya namun, untuk sekarang, ia harus melakukan hal yang wajar—menjenguk Papi Marcha. Shanna menelepon Clarice dan Anastasia. Ternyata mereka sudah tahu kabar itu—langsung dari Marcha. Mereka sepakat menjenguk bersama, tapi Clarice mengusulkan datang setelah Marcha tiba di Indonesia.
Bagi Shanna, itu bukan masalah. Ia juga ingin bertemu Marcha lalu Shanna menelepon Gogo.
"Gue ajak Kevin, ya," kata Gogo santai.
"Kevin?" Shanna spontan mencari alasan. "Tapi Kevin kan nggak terlalu dekat sama Marcha."
"Lo lupa?" sahut Gogo. "Kevin itu pengacaranya Marcha."
"Oh... iya, tapi—"
"Lo nggak mau ketemu Kevin?" potong Gogo. "Kenapa?"
"Bukan gitu, Go. Gue cuma..." Shanna menggantung kalimatnya.
"Kevin tahu, loh, kalau lo ngehindarin dia," kata Gogo datar. "Emangnya lo ada masalah apa sih sama Kevin?"
"Nggak. Gue nggak ada masalah apa-apa," jawab Shanna—bohong.
"Kalau gitu, nggak apa-apa kan gue ajak Kevin?" lanjut Gogo. "Kalau lo takut soal masa SMA... ngapain? Itu udah lama banget. Dan setahu gue, dia cukup sportif soal hubungan lo sama Deven."
Shanna terdiam.
Ia baru bertemu Kevin sekali, itu pun singkat. Dan dari tatapan Kevin saat itu, Shanna sama sekali tidak melihat sesuatu yang sportif yang ia lihat justru dingin. Penuh jarak. Seperti menyimpan sesuatu.
"Ya udah," kata Shanna akhirnya. "Gue nggak masalah. Terserah lo, Go."
"Oke. Jadi besok kita jenguk, ya?"
"Iya." Shanna mengangguk, meski Gogo tak bisa melihatnya. "Mungkin Deven juga bisa ikut besok."
Shanna tahu—besok ada Marcha dan Deven pasti akan ada.
"Okay. Sampai besok," kata Gogo.
"Sampai besok."
Telepon ditutup. Shanna kembali terdiam. Bukan hanya Marcha yang kembali ke hidupnya. Kevin juga dan entah kenapa, Kevin terasa seperti masalah lain yang belum selesai. Tatapan Kevin kemarin masih terbayang—palsu, dingin, menyimpan dendam. Tak ada kehangatan seperti dulu.
Mungkin itu hanya perasaannya saja. Mungkin Deven tak merasakannya karena Deven tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tentang bagaimana Shanna meninggalkan Kevin, tentang kata-kata kejam yang ia ucapkan sebelum menghilang begitu saja dari hidup Kevin.
Meninggalkan Kevin... seperti Marcha meninggalkan Deven. Bedanya, Shanna tahu—caranya jauh lebih menyakitkan.
Belum sempat Shanna nge-chat Deven, ponselnya keburu berdering.
Nomor panti asuhan.
"Halo," sapa Shanna ramah, nada suaranya otomatis berubah lebih sopan.
"Selamat pagi, Mbak Shanna," suara di seberang terdengar panik—dengan aksen Jawa Timur yang medok khas. "Mbak Shanna bisa ke sini nggih?"
"Itu... kenapa, Ndah?" tanya Shanna langsung waspada.
"Ini, Mbak... Om Ridwan—anaknya Om Gerry, yang punya panti—lagi ngomongin soal penjualan panti dan—" suara Indah mulai gemetar.
"Dijual?" Shanna refleks meninggi. "Maksudnya dijual bangunannya?"
"Iya, Mbak! Makane aku bingung kudu piye!" bahasa Jawanya langsung keluar tanpa rem.
Shanna menghela napas. "Oke, dengerin ya. Gue bentar lagi selesai rekaman. Habis itu gue langsung ke panti."
"Makasih, Mbak Shanna. Soale... nek ora ono mbak Shannon, aku tenan bingung kudu piye," suara Indah nyaris mau nangis.
"Ndah..." Shanna menahan tawa. "Pakai bahasa Indonesia dong. Gue nggak ngerti Jawa."
"Eh, sorry Mbak. Biasane aku ngomong Jawa terus sama Pak Budi sama Bu Lestari."
"Iya, nggak apa-apa. Tapi otak gue belum update ke versi Jawa," kata Shanna sambil tertawa kecil. "Satu jam lagi gue sampai."
"Okay Mbak. Tak enteni, yo—eh, maksudnya... aku tunggu."
Telepon ditutup.
Shanna masih senyum-senyum sendiri. Sebagai orang Manado yang lama tinggal di Jakarta, mendengar orang ngomong Jawa itu rasanya... lucu. Aneh tapi bikin gemas apalagi Deven. Kadang-kadang sok nyeletuk pakai bahasa Jawa ke Indah, terus Shanna bengong. Ujung-ujungnya Deven yang harus jadi kamus berjalan.
Shanna menoleh ke dalam studio. James Adams dan Dul Jaelani masih asyik berdiskusi soal lagunya. Lagu yang mereka yakini—dan Shanna juga—bakal meledak di pasaran. Nadanya lembut, liriknya dalam. Dan Shanna yakin, lagu ini bakal masuk jajaran chart atas. Beberapa lagunya sebelumnya saja sudah cukup bikin industri panas, apalagi kali ini—bersaing tipis dengan Anneth, mantan Deven. Setelah beberapa kali take, akhirnya selesai.
"Gue cabut dulu, Kak," kata Shanna sambil membereskan barang. "Ada masalah di panti."
"Masalah apa?" tanya Dul perhatian.
"Pemilik gedung mau jual panti," jawab Shanna. "Pengurusnya lagi ke Makassar, jadi yang jaga panik semua."
"Oh, iya sih. Urusan panti penting," kata James sambil mengangguk.
"Thanks ya, Kak Dul, Kak James," Shanna nyengir. "Gue duluan."
"Sama-sama. Besok lanjut lagi, ya," kata Dul. "Masih ada empat lagu belum take."
"Iya, siap. Tenang aja," jawab Shanna santai.
"Eh, bentar," James tiba-tiba nyeletuk. "Katanya lo mau duet sama Anneth? Jadi?"
"Jadi, Kak," jawab Shanna. "Gue sama Anneth udah deal. Tinggal manajemen aja."
"Deven gimana?" tanya James iseng.
"Maksudnya?"
"Lo duet sama mantannya. Deven aman?"
Shanna tertawa kecil. "Aman, Kak. Dia malah dukung."
"Oalah," James manggut-manggut. "Gue kira bakal ribet."
"Deven sama Anneth udah temenan kok. Anneth juga udah punya pacar," jawab Shanna.
"Oh iya... Betrand," sahut James.
"Iya. Dia nggak bakal ganggu hubungan gue sama Deven," kata Shanna yakin.
"Baguslah. Kalau kalian seneng, gue ikut seneng," kata James tulus.
Shanna tersenyum. "Oke, gue cabut dulu. Nanti keburu panti keburu dijual sama gedung-gedungnya."
Dul dan James tertawa kecil sambil mengangguk. Di luar studio, Shanna langsung nge-chat Deven.
Shanna:
yang, aku ke panti ya... ada urusan penting. jadi ntar gak usah jemput di studio
Deven :
iya, okay non 😘
Shanna nyengir sendiri sebelum naik taksi online menuju Bogor. Mahal? Iya, tapi urusan panti itu bukan urusan yang bisa ditunda. Sesampainya di panti, Shanna sudah siap mental—membayangkan akan berhadapan langsung dengan Ridwan, pemilik gedung. Nyatanya... Begitu masuk kantor admin, Shanna justru berhadapan dengan seseorang yang duduk santai, kaki disilang, berkas bertumpuk di meja.
Kevin Kahuni.
"Lo ngapain di sini, Vin?" Shanna spontan bertanya, campur aduk antara kaget dan bingung.
Kevin mengangkat kepala, menatap Shanna dari ujung kaki sampai kepala, lalu nyengir sambil menopang dagunya.
"Oh..." katanya santai. "Jadi elo toh yang katanya sama si medok ini—" ia melirik Indah sekilas, "—orangnya pinter... dan katanya juga agak menakutkan?"
Shanna mendengus "Menakutkan apaan? Gue dateng niat baik, tahu."
Kevin tersenyum makin lebar "Tenang. Gue juga."

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang