Deven kembali ke rumah sakit, langkahnya cepat tapi pikirannya tidak pernah benar-benar sampai ke ruang kerjanya yang ia lihat terus bukan pasien, bukan berkas, bukan layar monitor tapi pipi Marcha yang memerah dengan bekas cakaran tipis itu
Dadanya panas, kepalanya berdenyut
Shanna, Shanna, Shanna
Ia tidak pernah menyangka perempuan itu bisa sejauh itu, menampar Marcha di depan orang banyak, berani menyentuhnya, Deven kira hidupnya sudah selesai dengan Shanna, sudah bersih, sudah rapi ternyata belum, Shanna bukan cuma mengganggunya tapi sekarang mengganggu Marcha, ia bahkan tidak tahu mana yang lebih melelahkan, Shanna atau Anneth
Anneth setidaknya tidak pernah sampai main tangan, drama iya, ribut iya, tapi tidak pernah menyakiti secara fisik
Shanna berbeda, Deven sadar ia seharusnya tidak meledak, tidak membiarkan emosi menguasai, tapi kali ini ia tidak bisa diam kalau tidak ditegur sekarang, besok bisa lebih parah
Pagi itu setelah menyelesaikan pekerjaannya, Deven langsung menelepon Shanna, begitu tersambung, suaranya langsung naik
"Lo nyari masalah sama gue aja, ngapain lo nampar cewek gue, kita selesai ya selesai, hubungan kita gak ada hubungannya sama Marcha, brengsek!"
Di seberang sana hening sesaat sebelum suara Shanna terdengar kecil
"Dev, gue minta maaf"
Deven tertawa sinis, bukan karena lucu tapi karena muak "Lo pikir kata maaf yang lo omongin berkali-kali itu bisa nyelesain semua masalah, lo ngomong maaf waktu lo ngusir Marcha, lo ngomong maaf lagi waktu lo nyakitin dia, sekarang lo ngomong maaf lagi, terus apa, lo maunya apa sih Shan?"
"Gue kemarin emosi, gue cuma kesel liat temen-temen pergi sama dia dan gak ngajak gue"
"Emosi bukan alasan buat nampar orang," potong Deven tajam, "sekali lagi gue liat lo nyakitin cewek gue, awas aja lo"
Tanpa menunggu jawaban, Deven menutup teleponnya, nafasnya masih berat, rahangnya mengeras, ia baru saja hendak keluar ketika ponselnya kembali berdering
Nama yang muncul membuat nadanya langsung berubah
Marcha
Deven menarik napas, suaranya melembut begitu mengangkat telepon
"Hallo"
"Kamu gak pulang?" suara Marcha terdengar tenang, sedikit serak tapi tetap stabil
"Ini mau pulang, kenapa?"
"Enggak, aku hari ini gak jadi ketemu klien, jadi aku di apartmu aja"
Deven langsung mengernyit "Kenapa gak jadi?"
Marcha tertawa kecil, terdengar ringan meski Deven tahu itu dipaksakan "Aku gak mungkin ketemu klien dengan muka kayak gini, Dev"
Kalimat itu membuat dada Deven kembali mengencang "Ya udah, aku pulang sekarang, kamu mau makan apa, aku beliin"
"Apa aja yang kamu pilih"
"Okay, tunggu ya, lima belas menit lagi aku sampai apart"
"Siap"
Telepon terputus, Deven langsung mengambil kunci mobilnya, langkahnya kali ini berbeda, masih ada sisa marah di dalam dirinya tapi lebih besar dari itu adalah keinginan untuk cepat sampai, melihat Marcha, memastikan ia baik-baik saja, ia berhenti sebentar membeli makanan, memilih yang ringan dan hangat, lalu bergegas menuju apartemennya, pikirannya masih berantakan tapi satu hal jelas, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti perempuan itu lagi
Saat Deven sampai di apart, suara bahasa inggris yang cepat langsung menyambutnya, seperti lagi presentasi penting padahal ekspresi Marcha terlalu ceria untuk sesuatu yang serius, Marcha duduk di depan laptop, tangannya bergerak kecil mengikuti ucapannya, begitu melihat Deven masuk ia melambaikan tangan dengan senyum lebar, Deven yang mendengar suara lelaki otomatis mendekat, langkahnya santai tapi sorot matanya berubah waspada
di layar ada pria bule tersenyum
"is that your boyfriend?"
Marcha tertawa kecil "yes, it's my bae, Dev this is my best friend Colby Dennien, Colby this is my boyfriend Deven Christiandi"
"hi Deven, nice to meet you, i didn't know Marcha's boyfriend is really handsome"
Deven tersenyum sopan lalu mencium kening Marcha tanpa ragu "hai"
Marcha menatapnya sebentar dengan mata hangat yang sengaja dipamerkan, lalu kembali ke layar
"Colby, i'll call you back"
"okay, have fun you two"
panggilan terputus, Deven berjalan ke meja makan
"siapa itu?"
"temen kuliah," jawab Marcha ringan sambil mengikutinya
Deven membuka bungkusan makanan, uap hangat naik pelan, Marcha memeluknya dari belakang, dagunya bertumpu di pundak Deven
"beli apa?"
"dim sum, kamu suka kan"
"suka, apapun yang kamu beli aku pasti suka," jawab Marcha manja
Deven nyengir tipis "jadi cuma temen kuliah kan, bukan mantan diam-diam"
Marcha tertawa "kamu cemburu ya"
"aku cuma tanya"
"dia cuma temen, aku gak pernah kepikiran jadiin dia pacar"
Deven menyusun dim sum ke piring "aku gak tau masa lalu kamu, wajar kalau aku penasaran"
"cowok memang banyak," kata Marcha santai
Deven langsung menoleh "nah kan"
"tapi yang serius gak ada, aku cuma main-main karena mereka juga main-main, yang serius cuma kamu, Dev"
tatapan Deven melembut meski rahangnya masih tegang
"bener?"
"aku gak pernah bohong sama kamu"
Deven mengangkat tangan lalu menyentuh pipi Marcha yang masih ada bekas luka "kalau soal ini kamu bohong"
Marcha menggenggam tangannya "aku cuma gak mau kamu ribut lagi sama Shanna"
"aku tadi telepon Shanna," suara Deven berubah lebih berat
Marcha langsung diam "kamu marahin dia?"
"aku cuma bilang jangan ganggu kamu lagi"
"aku udah bilang ini gak usah diperpanjang"
"aku gak memperpanjang, aku cuma gak bisa diam lihat wajah pacarku kayak gini"
Marcha menghela napas panjang "ini masalahku sama dia"
"bukan masalahku?" suara Deven naik sedikit, "kamu pacarku, kalau ada yang nyakitin kamu aku mana mungkin santai"
"kalau kamu ikut masuk, masalahnya makin rumit"
"jadi kamu marah karena aku bela kamu?"
"aku cuma merasa kamu terlalu ikut campur"
Deven tertawa pendek tanpa humo "fine, urus sendiri"
ia berdiri lalu masuk kamar
"Dev"
tidak ada jawaban dan Deven masuk ke kamar mandi, di bawah shower hangat, Deven memejamkan mata, ia merasa bersalah karena semua ini berawal dari dirinya, ia cuma ingin melindungi bukan menguasai, tapi kenapa selalu terasa salah... saat keluar kamar mandi, Marcha sudah duduk di tepi ranjang
"maaf tadi aku"
"aku capek, bisa nanti"
"kamu marah"
Deven berbaring membelakangi, Marcha ikut berbaring lalu memeluk pinggangnya dari belakang
"tadi kamu bilang laper"
"aku pengin deket sama kamu dulu"
Deven menghela napas lalu berbalik menghadapnya, tangannya kembali menyentuh pipi Marcha
"aku bukan mau ikut campur, tapi ini punyaku, aku gak mau lihat punyaku terluka"
Marcha menahan tangan itu dengan lembut "aku tau kamu sayang aku tapi biar aku yang selesaikan"
"kamu jadi kayak gini juga karena aku"
"aku gak nyalahin kamu"
Deven mendekat lalu mencium lembut bekas luka itu "aku gak akan biarin orang lain nyakitin kamu lagi"
Marcha tersenyum kecil lalu memeluknya erat "iya dokter galak, sekarang tidur, nanti bangun kamu temenin aku makan dim sum"
Deven mendengus pelan tapi tetap menarik Marcha ke dalam pelukannya, malam itu mereka tetap hangat, keras kepala, cemburu, dan sama-sama gengsi, tapi tetap saling memilih satu sama lain
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
Hayran KurguBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
