"Aku baru tahu kalau lukisan ini ternyata aku."
Deven berdiri di depan sebuah lukisan besar yang tergantung di kamar Marcha. Ia menyipitkan mata, memperhatikan setiap detail wajah pria di dalam lukisan itu. Marcha yang berdiri di sampingnya ikut menatap lukisan tersebut.
"Jelek ya?" tanyanya hati-hati.
"Bukan jelek." Deven menggeleng "Cuma..."
"Cuma apa?"
"Aku kelihatan lebih ganteng di situ."
Marcha langsung menoleh "Loh?"
"Iya. Pelukisnya terlalu baik hati."
Marcha memandangi lukisan itu beberapa detik, lalu beralih menatap wajah asli Deven "Hmm..."
"Apa?"
"Aku masih lebih suka yang asli."
Deven tersenyum kecil "Oh ya?"
"Iya." Marcha melangkah mendekat lalu memeluk pinggang Deven "Soalnya yang asli bisa dipeluk."
Deven langsung tertawa pelan. Ia menunduk dan mencium kening Marcha dengan gemas "Alasan yang masuk akal."
Marcha tersenyum puas "Kan?"
Deven menggeleng sambil tertawa "Kalau gitu, Nona Marcha yang suka peluk-peluk, kita pulang sekarang?"
"Ya." Marcha mengangguk "Oh iya, kamu udah bilang ke keluargamu kalau kita jadi ke Lombok?"
"Udah."
"Lalu?"
Deven terlihat sedikit ragu "Ehmmm..."
Marcha langsung curiga "Kenapa?"
"Mama minta kamu tinggal di rumah kami nanti."
Marcha berkedip "Di rumah kamu?"
"Iya."
"Sebentar."
Marcha mengangkat alis "Tinggal di rumah kamu berarti..." Ia menunjuk Deven "....sekamar sama kamu?"
Deven langsung tertawa sampai kepalanya mundur "Ya ampun." Apa sih yang ada di otak tunangannya ini? Ia mencubit ujung hidung Marcha pelan "Mikirnya jauh banget."
"Loh?"
"Mama mana mungkin ngizinin kita sekamar."
"Oalah."
"Kamu nanti tidur di kamar Kak Amel."
Marcha mengangguk-angguk "Ooooh... kirain."
"Kirain apa?"
"Gak jadi."
Marcha buru-buru menutup mulutnya.
Deven langsung menyipitkan mata "Nah kan."
"Nah kan apa?"
"Kamu kecewa."
"Aku enggak."
"jujur deh"
Marcha menyerah "Ya dikit."
Deven tertawa keras "Jujur juga akhirnya."
Marcha memukul lengan Deven pelan "Kamu nanya jebakan."
"Dan kamu masuk jebakannya."
Beberapa saat kemudian mereka keluar dari apartemen, masuk ke mobil, dan menuju bandara, begitu memasuki jet pribadi milik Marcha, Deven langsung memahami satu hal.
Ini bukan pesawat. Ini ruang tamu yang kebetulan bisa terbang, kursinya lebih mirip sofa mewah daripada kursi pesawat, ruangannya luas, nyaman dan bahkan ada aroma makanan yang membuat perutnya tiba-tiba lapar.
Deven duduk di samping Marcha sambil melihat sekeliling dengan kagum "Ada pramugari kan di sini?"
Marcha menoleh "Ada."
"Cuma pramugari?"
"Nggak."
Marcha mulai menghitung dengan jarinya "Ada pramugari, koki, bodyguard, pilot, co-pilot, beberapa asisten rumah tangga, sama asisten kantorku."
Deven langsung menoleh "Asisten kantor?"
"Iya."
"Deca?"
"Bukan." Marcha tertawa "Kalau Deca ikut keliling sama aku, siapa yang ngurus kantor Eropa?"
"Oh iya juga."
"Makanya."
Deven mengangguk pelan.
"Lalu yang ikut siapa aja?"
Marcha tersenyum lalu memanggil beberapa orang yang ada di kabin
"Kenalin. Ini Gideon, pilot." Pria tinggi berambut pirang itu mengangguk sopan "Ini Rowan, co-pilot."
"Hello, Sir."
"Ini Vladimir, kepala bodyguard." Vladimir memberi senyum tipis yang lebih mirip ancaman daripada senyuman.
Deven langsung duduk lebih tegak "Dia senyum atau lagi marah?"
Marcha tertawa "Itu memang wajah normal dia."
"Oke. Menyeramkan."
Vladimir terlihat tidak tersinggung sama sekali.
"Terus ini Philip dan Nick, koki." Kedua pria itu melambai ramah "Ini Erva dan Trina, asisten rumah tangga dan Penny, asisten kantorku" lalu Marcha tersenyum "Guys, this is my fiancé, Deven."
Semua orang langsung menyapa dengan ramah. Deven ikut tersenyum dan membalas sapaan mereka satu per satu, setelah semuanya kembali ke posisi masing-masing,
Deven mendekat ke telinga Marcha "Gak ada orang Indonesia?"
"Ada." Marcha menunjuk ke arah belakang.
"Trina orang Surabaya."
"Lalu?"
"Penny orang Jakarta."
"Oalah."
Marcha tertawa "Kenapa sih?"
"Gak kenapa-kenapa."
Deven mengangkat bahu "Cuma penasaran aja." lalu tiba-tiba Deven kembali teringat sesuatu "Eh, Cha."
"Hmm?"
"Mereka semua nanti tinggal di mana?"
"Hotel."
"Hotel mana?"
"Golden Palace."
Deven hampir tersedak udara "Golden Palace?"
"Iya."
"Kata Kak Amel itu salah satu hotel terbaik di Lombok."
Marcha terlihat santai sekali saat mengatakannya sebaliknya, Deven justru terdiam, di dalam kepalanya langsung muncul satu pertanyaan, di hotel bintang empat sementara waktu kecil dulu kalau dia ikut seminar, nginep di hotel yang sarapannya cuma roti dan telur rebus aja sudah senang setengah mati.
"Cha."
"Hmm?"
"Kamu sadar kan mereka itu staf?"
"Iya."
"Dan mereka nginep di hotel mewah."
"Iya."
"Kamu gak merasa ada yang aneh?"
Marcha menatapnya bingung "Aneh di mana?"
Deven membuka mulut lalu menutupnya lagi, menyerah "Oke. Lupakan."
Marcha tertawa.
"Kamu lucu."
"Bukan lucu."
"Apa?"
"Aku lagi belajar menerima kenyataan kalau standar hidup kita agak berbeda."
Marcha tertawa semakin keras, sebelum sempat melanjutkan percakapan
suara Gideon terdengar dari speaker kabin "Good afternoon, everyone. We are ready for takeoff."
Marcha dan Deven saling menatap lalu tersenyum.
Perjalanan pulang menuju Lombok akhirnya dimulai.
Sesampainya di Lombok, Deven baru sadar satu hal, ternyata rombongan orang-orang yang bekerja untuk Marcha itu sama sekali tidak bergantung pada Marcha, mereka turun dari jet pribadi dengan rapi, lalu menghilang ke arah masing-masing seperti pasukan rahasia yang sudah tahu tugasnya tanpa perlu diberi instruksi.
Deven sampai melirik ke belakang beberapa kali. "Ini orang-orang kerja sama CEO atau agen rahasia sih?" batinnya tapi sebelum sempat bertanya, perhatian Marcha sudah direbut oleh Mama dan Kak Amel.
"Pokoknya nanti kita ke restoran favorit Deven dulu, Cha. Kamu pasti suka," kata Amel antusias.
"Seafood ya, Kak?" tanya Marcha.
"Iya. Deven kan pecinta seafood, kata dia kamu juga suka?"
Marcha melirik Deven sambil tersenyum tipis "Iya, Kak. Suka."
"Nah, cocok. Berarti kalian berjodoh. Sama-sama suka seafood."
"Kalau cuma gara-gara seafood sih setengah penduduk Indonesia berjodoh, Kak," sahut Deven.
Amel langsung menjitak lengannya "Diam."
Marcha tertawa kecil.
"Ya udah, makan boleh," lanjut Deven. "Tapi habis itu pulang. Aku sama Marcha capek. Perjalanan belasan jam, Kak."
"Iya, iya..." Amel mencibir. "Dasar tukang tidur."
Deven menghela napas panjang. "Mama, lihat deh. Aku baru pulang malah dibully."
"Amel benar, Dek," sahut Mama santai. "Marcha baru pertama kali ke Lombok. Masa langsung diajak tidur?"
"Maksudnya istirahat, Ma. Isti-ra-hat."
Mama pura-pura tidak dengar lalu beliau menoleh ke Marcha "Capek, Cha?"
"Agak capek, Tante," jawab Marcha sopan.
Belum sempat kalimat itu selesai, Deven langsung menoleh "Tante?"
Marcha berkedip bingung "Tante?"
"Cha..." Deven menatap dramatis. "Kita sudah tunangan."
Mama yang awalnya santai langsung membelalak "Tunangan?!"
"Iya, Ma!" seru Amel semangat sambil meraih tangan Marcha. "Lihat cincinnya!"
Mata Mama langsung berbinar "Ya ampun..."
Beliau memegang tangan Marcha, memperhatikan cincin itu dari berbagai sudut seperti sedang memeriksa berlian di toko perhiasan "Bagus banget."
Amel ikut mengangguk "Selera lo lumayan juga ternyata."
"Terima kasih atas penghargaan yang sangat mengharukan ini," gumam Deven.
Mama langsung menoleh tajam.
"Kapan tunangannya? Kenapa Mama nggak dikasih tahu?"
Deven membuka mulut tapi bingung harus berkata apa
untung Marcha menyelamatkan "Waktu di Paris, Tante. Baru beberapa hari lalu."
Mama langsung tersenyum lebar. "Nah, kalau sudah tunangan jangan panggil Tante lagi."
Marcha terlihat sedikit gugup "Mama?"
"Wah, nah gitu dong."
Mama langsung senang bukan main dan Deven tersenyum puas.
"Cha, sekarang coba panggil Papa juga."
Marcha yang tadi mulai santai langsung membeku lagi, perlahan ia menoleh ke kursi depan. Papa Deven sedang menyetir dengan tenang, Deven tahu persis apa yang sedang dipikirkan tunangannya, takut dan jujur saja, melihat Marcha takut adalah pemandangan yang sangat langka. CEO yang bisa bikin satu ruang rapat diam mendadak gugup hanya karena bertemu calon mertua, lucu juga.
"Pa..." sapa Marcha pelan.
Papa Deven melirik dari kaca spion lalu tersenyum kecil. "Ya."
Cuma satu kata tapi cukup membuat bahu Marcha yang tadi tegang perlahan rileks.
Deven menyenggol lengannya "Tuh kan, aku udah bilang nggak bakal ada masalah."
"Kamu maksa banget nyuruh aku manggil Papa," bisik Marcha sambil tertawa kecil.
"Exposure therapy."
"Apa?"
"Terapi biar nggak takut."
Marcha memutar mata, Amelyang mendengar malah tertawa.
"Akhirnya ya, Dek. Setelah sekian lama, yang jadi adek iparku memang yang terbaik."
Deven langsung nyengir "Aku tahu dari semua mantanku, favorit Kak Amel cuma Marcha."
"Jelas, kalau kamu macam-macam sama dia, aku yang duluan hajar." Amel mengacungkan kepalan tangan.
Deven langsung mengangkat kedua tangan "Baik, Kak.... aku menyerah."
Mobil pun dipenuhi tawa.
Setelah makan di restoran favorit Deven, mereka akhirnya tiba di rumah keluarga Deven, rumah itu jauh lebih sederhana dibanding apartemen Marcha di Paris, tidak ada teknologi canggih, tidak ada lift pribadi, tidak ada jendela setinggi tiga lantai tapi ada sesuatu yang tidak dimiliki banyak tempat lain.
Kehangatan.
Setelah menunjukkan kamar untuk Marcha, Deven mengajaknya ke sebuah ruangan kecil di bagian belakang rumah, studio lamanya, begitu masuk, Marcha langsung melihat piano, gitar, mikrofon, komputer lama, serta berbagai foto yang tergantung di dinding.
"Ini tempat aku dulu bikin cover lagu," kata Deven.
Ia memandang ruangan itu sambil tersenyum, dulu ruangan ini menjadi saksi banyak malam panjang. Malam ketika ia merasa tertekan oleh popularitas, malam ketika ia bingung menentukan masa depan, malam ketika ia merasa sendirian dan sekarang... Ia berdiri di tempat yang sama tapi dengan hati yang jauh lebih tenang karena sekarang ada Marcha.
"Kreatif, sesuai ekspektasi," kata Marcha sambil mengamati ruangan lalu matanya berhenti di deretan foto "Hm."
Deven langsung curiga "kenapa?"
"Dulu kamu dekat sama Anneth, kan?"
"Iya."
"Kok nggak ada fotonya?"
Deven langsung tertawa "Aku buang."
Marcha menoleh "Buang?"
"Iya."
"Segitunya?"
"Mama nggak suka ada foto Anneth di ruangan mana pun di rumah ini."
Marcha tertawa "Jadi bukan kamu yang buang?"
"Oh tetap aku yang buang tapi atas perintah penguasa tertinggi rumah ini."
Marcha terkekeh "Lalu kalau bukan karena Mama?"
Deven berpikir sejenak "Mungkin beberapa tetap aku buang."
"Beberapa?"
"Soalnya di foto-foto itu nggak cuma ada Anneth. Ada teman-temanku juga."
Marcha mengangguk pelan lalu mendekat "Kamu masih punya perasaan sama Anneth?"
Deven langsung memegang pipinya "Nggak."
"Yakin?"
"Yakin."
"Yakin banget?"
"Cha."
"Iya?"
"Kamu lagi cari masalah ya?"
Marcha tertawa.
Deven menggeleng sambil tersenyum "Aku nggak nyimpan foto-foto itu karena masih cinta, aku nyimpan karena itu bagian dari masa lalu tapi perasaannya sudah nggak ada."
Marcha terdiam beberapa saat lalu memeluk pinggang Deven "Aku cuma mikir... Anneth tulus sama kamu."
Deven mengusap rambutnya pelan "Iya."
"Dan kamu pernah cinta sama dia."
"Iya."
"Nah itu."
"Tapi itu dulu."
Marcha mendongak "Memangnya bedanya apa?"
Deven langsung terdiam, pertanyaan yang sulit, sangat sulit "Apa ya..."
Marcha langsung tertawa "Tuh kan. Sok romantis tapi nggak bisa jelasin."
"Aku bisa."
"Coba."
Deven berpikir lama sampai Marcha mulai curiga.
"Loading?"
"Diam."
Marcha tertawa makin keras lalu akhirnya Deven berkata pelan
"Mungkin karena kamu bikin aku nyaman."
Marcha terdiam.
"Kamu bikin aku percaya."
"Percaya apa?"
"Kalau cinta yang benar-benar setia itu ada."
Marcha menatapnya, Deven tersenyum kecil
"Kita beda negara. Beda zona waktu. Sibuk masing-masing. Berantem berkali-kali."
"Tapi?"
"Tapi aku nggak pernah takut kehilangan kepercayaan sama kamu."
Mata Marcha perlahan melembut.
"Kesetiaan itu mahal, Cha."Deven menyentuh ujung hidungnya pelan "Dan aku beruntung dapat orang yang nilainya nggak bisa diukur sama apa pun."
Marcha tersenyum:"Wah."
"Hm?"
"Dokter Deven ternyata kalau romantis bahaya juga."
Deven langsung nyengir "Tentu."
"Pede banget."
"Ya iyalah."
Lalu tanpa peringatan, Marcha memeluknya erat dan untuk sesaat, di studio kecil yang penuh kenangan itu, masa lalu terasa begitu jauh karena yang ada sekarang hanya mereka berdua dan masa depan yang sedang mereka bangun bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
