Susah sekali.
Ini akan sangat susah. Deven menatap hasil pemeriksaan laboratorium papinya Marcha untuk kesekian kali. Angka, grafik, dan istilah medis itu tak berubah—tetap kejam, tetap pasti. Sebagai dokter, ia tahu ini tugasnya. Sebagai manusia... ia berharap ini bukan dirinya yang harus menyampaikannya. Deven mengangkat pandangannya. Tatapannya bertemu dengan mata Marcha yang masih dipenuhi keterkejutan.
"Ya," kata Deven pelan, nyaris berbisik. "Papi lo terkena kanker sumsum tulang belakang."
Marcha menatapnya tanpa berkedip.
"Lo bohong, kan, Dev?" suaranya pecah. "Ini prank lo, ya?"
Deven mengigit bibir bawahnya, lalu menggeleng perlahan "Gue nggak bohong," katanya lirih. "I'm so sorry, Cha. Var... Tante."
Ruangan itu terasa menyempit.
"Terus..." suara Ingvar bergetar. "Berapa lama waktu yang papi gue punya?"
Deven menarik napas dalam-dalam "Gini, Var. Kanker papi lo masih di tahap awal," jelasnya hati-hati. "Masih ada harapan besar untuk sembuh."
"Papi gue nggak bisa ngomong," potong Marcha tajam. "Lo lihat sendiri."
"Papi lo bisa bicara, Cha," jawab Deven tenang. "Kesulitannya karena radang otak akibat infeksi jamur. Itu akan membaik seiring terapi. Kankernya belum menyebar ke otak—dan itu kabar baik."
"Terus... siaga yang lo maksud apa, Kak?" tanya Ingvar.
"Kemoterapi," jawab Deven. "Kalau kita mulai sedini mungkin, penyebaran sel kanker bisa dicegah."
"Tapi banyak orang mati meski sudah kemoterapi," Ingvar menggeleng. "Nggak ada jaminan papi gue bakal sembuh, kan?"
"Memang nggak ada jaminan," aku Deven jujur. "Tapi ini masih tahap awal. Peluang sembuhnya besar dan menunda hanya akan memperkecil peluang itu."
"Gimana, Mi?" Ingvar menoleh ke maminya.
Mami mereka hanya terisak, tak mampu menjawab. Deven mengerti. Kehilangan belum terjadi, tapi ketakutannya sudah terasa nyata. Pandangan Deven beralih ke Marcha. Tak ada air mata. Tak ada isak. Hanya wajah kaku—terlalu kaku.
"Kak Marcha?" suara Ingvar nyaris memohon. "Gimana, Kak?"
Marcha tak bergerak. Wajahnya membatu.
"Lo... lo periksa lagi papi gue," katanya akhirnya, suaranya dingin tapi bergetar. "Pasti ada yang salah."
"Cha," Deven mendekat sedikit. "Pemeriksaan ini pakai alat paling canggih. Nggak mungkin keliru."
"Kalau gitu analisa lo yang salah," bentak Marcha. "Papi gue masih bisa marah sama gue. Orang sekuat dia nggak mungkin kena kanker."
"Gue nggak salah, Cha," kata Deven lembut tapi tegas. "Ini tertulis jelas."
Marcha menghela napas panjang, lalu berdiri tiba-tiba.
"Cha—"
"Lo salah, Dev," potong Marcha. "Papi gue nggak mungkin kena kanker. Gue bakal charter pesawat. Gue bawa papi gue ke Singapura. Dan gue bakal buktiin kalau lo salah."
Deven tahu—ini penyangkalan. Tahap paling awal dari kehilangan.
"Silakan," kata Deven pelan. "Kalau mau, gue bisa rekomendasi dokter di sana. Dokter Eric atau Dokter Lewis—mereka bagus."
Marcha menatapnya tajam "Gue bisa ngurus papi gue sendiri tanpa ngelibatin elo."
Ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.
"Kak Marcha cuma shock, Kak Deven," ujar Ingvar pelan. "Dia bukan nggak percaya sama Kak Deven."
Deven mengangguk, tersenyum tipis "I know."
"Nanti gue diskusi dulu sama keluarga," kata Ingvar. "Biar diputusin bareng."
"Iya, Var," balas Deven. "Santai aja. Dan... I'm really sorry about your dad."
Ingvar tersenyum samar, menggenggam tangan maminya, lalu keluar. Deven memejamkan mata, mengusap dahinya, lalu menatap kembali laporan medis itu. Marcha terlihat sangat terpukul—meski tak satu pun air mata jatuh. Deven paham. Marcha selalu begitu. Kuat di luar, rapuh di dalam.
Pikirannya melayang ke masa lalu—saat retreat dulu. Marcha tak pernah menangis di depan orang. Ia memilih menyendiri, menangis di tempat yang tak seorang pun bisa melihat. dulu, Deven adalah satu-satunya yang bisa membaca tangis di wajah seorang bidadari. Sekarang? Ia yakin Marcha sedang mencari tempat untuk sendirian.
Deven meletakkan laporan itu perlahan, lalu melangkah keluar dari kantornya—membiarkan kesunyian mengurus sisanya.
Deven turun ke kantin rumah sakit dan membeli segelas kopi. Malam ini ia masih mendapat shift panjang—semalaman penuh. Artinya, ia tak akan pulang ke apartemennya. Saat ia baru saja melangkah pergi, ponselnya bergetar.
Shanna:
km ngapain? seharian gak ada kabar
Deven :
masih kerja. ini lagi istirahat... kenapa?
Shanna:
gak apa-apa. ak besok ketemu Anet, mau ngomongin collab
Nama Anneth membuat langkah Deven terhenti sejenak.Ia menatap layar ponselnya tanpa ekspresi. Haruskah hubungan dengan Anneth masih dibahas sekarang? Deven memang sesekali bertemu Anneth—sekadar bertemu. Mereka jarang mengobrol. Kalaupun iya, hanya basa-basi tak penting. Baginya, urusan menyanyi, album, atau single Anneth sudah lama tak lagi menarik. Kecuali kalau pembahasannya tentang Gogo atau Friden—tentang band. Itu lain cerita.
Saat ini, ada hal yang jauh lebih penting untuk dipikirkan daripada karier mantan. Tentang Shanna? Ia pacarnya. Tapi apakah Deven merasa terusik jika Shanna berkolaborasi dengan mantannya? Tidak juga. Deven selalu mendukung apa pun yang dilakukan Shanna—selama itu berdampak positif.
Deven:
okay. good luck, non 😘
Shanna :
makasih, sayang 😘
Deven memasukkan ponselnya ke saku jas dokter, lalu berjalan ke taman belakang rumah sakit. Tempat favoritnya saat istirahat—tenang, sepi, dan ada kolam ikan. Ia tersenyum melihat ikan-ikan itu berenang mendekat, berebut muncul ke permukaan, memonyongkan mulut seolah tahu ia datang membawa makanan.
"Atau gue aja yang kegeeran," gumamnya pelan.
Deven duduk di pinggir kolam, mengeluarkan butiran makanan ikan, lalu menaburkannya. Air kolam beriak, ikan-ikan bergerak lincah, penuh semangat. Hal-hal sederhana seperti ini—anehnya—adalah satu-satunya cara agar pikirannya tak kembali berlari ke satu nama. Marcha.
Wajah itu. Tatapan kosong itu. Deven menghela napas panjang, lalu mendongak menatap langit biru yang membentang luas dan saat ia menurunkan pandangan—Marcha ada di sana.
Duduk di bangku taman, tepat di hadapannya. Wajahnya tampak lelah, frustrasi, dan terpukul. Tapi tidak ada air mata. Tidak ada mata berkaca-kaca. Bahkan saat sendirian.She has become a very, very strong woman now, pikir Deven. Ia berdiri, lalu melangkah mendekat.
"Sendirian aja, Cha?" tanya Deven pelan.
Marcha mendongak "Lo bisa lihat sendiri kan gue sendirian," jawabnya singkat, dingin.
"Gue boleh duduk?" tanya Deven lagi.
"Gue nggak ngelarang."
Deven duduk di sampingnya, menjaga jarak tipis "I'm so sorry about your dad," ucapnya lembut.
"Even when you said that," kata Marcha lirih, "it doesn't make me feel better."
"I know," jawab Deven. "I'm really sorry. Tapi kalau lo butuh apa pun—apa aja—gue ada di sini."
Marcha tertawa kecil. Pahit "Bantuin gue satu hal," katanya, suaranya bergetar. "Bilang kalau semua yang lo omongin tadi itu bohong. Kalau penyakit bokap gue cuma salah diagnosa. Kalau lo ngibul—"
"Cha," potong Deven lembut tapi tegas. "Itu nyata. Gue nggak bisa bohong soal penyakit pasien. Apalagi ini papi lo."
Mata Marcha akhirnya memerah.Deven tahu—ini titiknya.
"Gue nggak mau balik ke sini," ucap Marcha cepat, seolah menahan sesuatu yang mau meledak. "Ngurus keluarga gue, bisnis keluarga, dan... ketemu elo. Gue udah bahagia di Paris. Dengan hidup gue, karier gue. Kenapa lo harus kasih gue kabar yang bikin gue harus stay di sini, Dev?"
Deven menatapnya dalam "Gue nggak bermaksud bikin lo terjebak di sini," katanya pelan. "Tapi lo nggak bisa lari dari keluarga lo, Cha. Apalagi sekarang—papi lo sakit."
Marcha memejamkan mata. Kedua tangannya menutup wajahnya dan pelan—terlalu pelan untuk hati Deven—Isakan itu terdengar. Air mata akhirnya jatuh, merembes di sela punggung tangan Marcha. Deven menatap bulir-bulir itu dengan dada yang terasa diremas. Sudah bertahun-tahun ia tak melihat Marcha menangis dan entah kenapa, rasa sakitnya masih sama—bahkan lebih perih. Bukankah cinta itu seharusnya sudah pudar?
Deven mendekat, merangkul pundak Marcha, menariknya ke dalam pelukan. Tangannya mengusap punggung Marcha perlahan, menenangkan.
"Tangguh itu bukan berarti nggak pernah nangis," bisiknya. "Gue tahu lo kuat, Cha. Tapi bahkan langit yang paling kelabu pun butuh hujan biar bisa cerah lagi." Ia memeluknya lebih erat. "Lo nggak sendiri. Gue ada di sini. Dan gue bakal selalu ada buat elo—apa pun yang terjadi."
Tangis Marcha pecah sepenuhnya di dadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
