Cerita Marcha (Shanna)

65 3 0
                                        

Shanna langsung menangkap sosok Marcha dari kejauhan.

Sahabatnya itu duduk sendirian di sudut pub, ditemani beberapa botol Chivas yang sudah kosong.

Penampilannya berantakan.

Rambut yang biasanya selalu rapi kini terurai acak-acakan. Blazer kerjanya kusut. Riasan wajahnya memudar, menyisakan mata sembap dan pipi yang memerah karena alkohol.

Itu bukan Marcha yang ia kenal.

Shanna segera menghampiri.

"Hei, Cha."

Marcha mendongak pelan. Butuh beberapa detik sampai matanya berhasil fokus.

"Eh... lo, Shan."

Suara Marcha terdengar berat.

"Lo minum berapa botol?"

Marcha menatap gelas di depannya yang masih menyisakan sedikit cairan berwarna keemasan.

"I don't really know..." gumamnya pelan. "Mungkin dua botol... atau lebih. Gue udah gak inget."

Tangannya kembali mengangkat gelas.

Namun sebelum sempat meneguknya, Shanna langsung menarik pergelangan tangannya.

"Udah cukup."

Marcha menatapnya kosong.

"Lo patah hati, gue ngerti. Tapi ngerusak diri sendiri begini bukan jawaban."

Marcha memejamkan mata beberapa saat.

Saat membukanya lagi, matanya sudah dipenuhi air mata.

"Gue gak pernah sesakit ini, Shan."

Shanna hanya diam, membiarkannya bicara.

"Gue pikir... Deven bakal ngerti posisi gue."

Suara Marcha mulai bergetar.

"Dia pikir gue gak mau nikah sama dia."

Marcha tertawa kecil.

Tawa yang sama sekali tidak terdengar bahagia.

"Padahal... iya, awalnya gue memang sempat kepikiran buat nunda nikah karena kerjaan gue belum selesai. Terus bokap sakit... dan akhirnya alasan itu jadi makin kuat."

Air matanya jatuh satu per satu.

"Tapi bukan berarti gue gak mau nikah sama dia."

Marcha mengusap wajahnya kasar.

"Gue cuma butuh waktu."

Tangisnya akhirnya pecah.

"Sedikit waktu lagi..."

Shanna meraih tangan sahabatnya.

"Cha..."

"Tadi gue ketemu dia."

Suara Marcha semakin lirih.

"Dan cara dia ngeliat gue..."

Ia menggeleng pelan.

"Bahkan... dia hampir gak ngeliat gue sama sekali."

Tangisnya kembali pecah.

"Dia ngelakuin gue kayak orang asing."

Shanna menghela napas panjang.

"Cha... menurut lo 'sedikit waktu' itu berapa lama?"

Marcha terdiam.

"Kevin bilang... masalahnya bukan Deven disuruh nunggu. Masalahnya, lo gak pernah bisa kasih tahu dia harus nunggu sampai kapan."

Marcha menggigit bibir bawahnya.

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang