Marcha menatap hamparan laut yang membentang luas di hadapannya. Ombak-ombak kecil berkejaran menuju bibir pantai, sementara cahaya matahari sore perlahan mulai meredup, mewarnai langit dengan gradasi jingga keemasan yang menenangkan, angin laut berembus lembut dan di belakangnya, Deven berdiri memeluknya erat, seolah tidak mau memberi kesempatan sedikit pun bagi udara dingin untuk menyentuh Marcha atau mungkin... Tidak mau memberi kesempatan apa pun untuk menjauhkan Marcha darinya.
Deven menyandarkan dagunya di bahu Marcha lalu mencium pipinya pelan.
"Hmm... cantik banget ya pemandangannya," gumam Marcha.
"Atau yang cantik kamu?" tanya Deven santai.
Marcha langsung menoleh "Gombal."
"Aku serius."
"Enggak percaya."
"Ya udah, aku tarik lagi."
Marcha tertawa kecil sambil menggelengkan kepala "Memangnya kamu sering ke sini?"
"Sering dulu," jawab Deven. "Tapi sejak pindah ke Jakarta udah jarang."
Deven menunjuk ke arah garis pantai yang membentang panjang "Dulu Papa sama Mama sering ke sini. Bisa dibilang ini tempat kencan favorit mereka."
Marcha tersenyum "Pantes romantis."
"Romantis dari mana?"
"Tempatnya."
"Kirain aku."
"Kamu mah..." Marcha sengaja menggantung kalimatnya.
"Aku kenapa?"
"Ya lumayan."
"LU-MA-YAN?" Deven langsung pura-pura tersinggung "Aku yang bela-belain terbang lintas negara buat ngelamar kamu cuma dapat nilai lumayan?"
Marcha tertawa "Ya udah, romantis deh."
"Nah, gitu dong."
Deven kembali memeluknya erat.
Marcha memandang laut di depannya"Aku udah lama pengen kayak gini," katanya pelan.
"Kayak gimana?"
"Duduk santai di pantai. Nggak mikirin kerjaan. Nggak buka laptop. Nggak lihat laporan."
Deven mengangguk "Tapi?"
"Tapi selalu aja gagal. Selalu ada kerjaan yang lebih penting."
"Kamu harus punya waktu buat menikmati hidup, Cha."
Marcha tersenyum tipis "Iya. Aku tahu."
"Lalu?"
"Sekarang aku lagi belajar."
Deven tersenyum "Bagus."
Marcha menyandarkan tubuhnya sedikit lebih dalam ke pelukan Deven dan Deven tanpa sadar langsung mengencangkan pelukannya, seolah refleks, seolah tubuhnya tahu kalau wanita ini perlu diyakinkan bahwa ia tidak sendirian dan Marcha bisa merasakan itu, bukan hanya pelukan tapi juga ketenangan yang selalu Deven berikan.
Besok mereka akan terbang ke Jakarta. Mama, Papa, dan Kak Amel juga ikut. Mereka semua akan naik jet pribadi milik Marcha dan entah kenapa...Semakin dekat hari itu datang, semakin gelisah hati Marcha, dua hari terakhir di Lombok terasa hangat.
Keluarga Deven menerimanya dengan baik.
Mereka tertawa bersama.
Makan bersama.
Bahkan Mama Deven berkali-kali memanggilnya hanya untuk menanyakan hal-hal sepele, hal-hal yang tidak pernah Marcha sadari bisa terasa begitu menyenangkan, kehangatan keluarga, sesuatu yang selama ini jarang ia rasakan namun Jakarta berbeda, Jakarta berarti kedua keluarga akan bertemu, Jakarta berarti kenyataan dan Marcha tidak tahu apa yang menunggu mereka di sana, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama...Marcha merasa takut, ia ingin memegang Deven lebih erat, ingin memastikan pria itu tetap ada di sisinya apa pun yang terjadi tapi ada bagian kecil dalam dirinya yang takut.
Takut jika ia menggenggam terlalu erat...Suatu hari nanti Deven justru akan terlepas maka Marcha hanya diam, membiarkan dirinya berada dalam pelukan itu, menyimpan semua kegelisahannya sendiri
Keesokan harinya... Marcha duduk di samping Deven sambil menatap dua keluarga yang kini berada dalam satu ruangan, keluarganya dan keluarga Deven. Suasana yang selama beberapa minggu terakhir terus menghantui pikirannya akhirnya benar-benar terjadi. Pertemuan keluarga, pertemuan yang menentukan langkah mereka selanjutnya.
Awalnya Marcha mengira hanya dirinya yang gugup ternyata tidak, tangan Deven yang menggenggam tangannya terasa dingin luar biasa, seperti es batu yang baru keluar dari freezer.
Marcha meliriknya pelan,Deven langsung pura-pura tersenyum santai padahal rahangnya terlihat tegang. Marcha hampir tertawa. Dokter Deven ternyata bisa gugup juga.
Akhirnya Papi Marcha membuka pembicaraan "Jadi..." katanya sambil menatap keluarga Deven. "Kita langsung membahas pernikahan mereka saja?"
"Ya, Pi," jawab Marcha cepat sebelum siapa pun sempat mengubah topik.
Papi mengangguk pelan "Ada satu hal yang ingin Papi sampaikan."
Semua orang langsung memperhatikan.
"Papi nggak mau ada sponsor."
Marcha mengernyit "Sponsor?"
Papi menatap Deven "Papi tahu Deven cukup dikenal sebagai penyanyi. Papi juga yakin kalau mau, pasti gampang dapat sponsor untuk gedung, dekorasi, EO, dan macam-macam."
Deven hanya mengangguk sopan.
"Tapi Papi nggak mau ada sponsor dalam pernikahan kalian."
"Kenapa, Pi?" tanya Marcha bingung.
"Karena nanti orang ngomong."
"Orang ngomong apa?"
Papi menghela napas.
"Cha, kamu itu masuk daftar miliarder dunia. Kalau menikah masih pakai sponsor, nanti orang mikir keluarga kita nggak mampu."
Marcha langsung menatap langit-langit "Ya ampun... tapi, Pi—"
"Nggak apa-apa, Cha," potong Deven sambil menepuk punggung tangannya. "Aku juga sebenarnya lebih suka nggak pakai sponsor."
Marcha menoleh "Serius?"
"Iya."
"Padahal bisa hemat."
"Ini pernikahan kita, bukan acara promosi produk."
Beberapa orang tertawa kecil.
"Aku juga nggak mau pernikahan kita terlalu heboh di media," lanjut Deven.
"Nah, bagus," kata Papi puas.
"Tapi..." lanjut Papi lagi.
Marcha langsung punya firasat buruk.
"Tapi Papi tetap mau pernikahan yang mewah dan megah."
Marcha dan Deven saling pandang lalu sama-sama menghela napas, tentu saja, tidak mungkin semudah itu.
"Pi..." kata Marcha sabar. "Aku sama Deven justru sudah sepakat mau pesta yang sederhana."
"Sederhana?" ulang Mami dengan ekspresi kaget.
"Iya." Marcha mengangguk mantap "Daripada uangnya habis buat pesta satu malam, lebih baik dipakai buat hal lain."
"Contohnya?" tanya Papi.
"Honeymoon."
Jawaban itu membuat Deven langsung batuk. Mama Deven tertawa sedangkan Papi terlihat seperti sedang menimbang antara kesal atau pasrah.
"Masa uang sebanyak itu dipakai buat jalan-jalan?" protes Papi.
"Loh, justru karena banyak makanya sayang kalau habis buat satu malam doang."
"Cha..."
"Papi juga nggak datang ke pesta orang buat lihat bunga meja, kan?"
Mami langsung menahan tawa.
"Kalau kami nggak setuju?" tanya Mami.
Marcha langsung bersandar ke kursinya "Mi..." Nada suaranya sudah seperti orang yang siap bernegosiasi dengan dewan direksi "Marcha dan Deven sudah mengikuti semua syarat Papi dan Mami."
Papi langsung berdeham "Ya..."
"Masa urusan pesta aja nggak boleh ikut maunya kami?"
Ruangan mendadak hening. Deven sampai melirik Marcha dengan kagum. CEO mode aktif. Untungnya, setelah beberapa saat, Papi dan Mami hanya saling berpandangan dan tidak membantah lagi.
Marcha langsung mengembuskan napas lega. Selamat. Krisis pertama lewat lalu Mama Deven angkat bicara.
"Kalau pesta sederhananya jadi, rencananya di mana?"
"Jakarta," jawab Deven.
"Sebentar." Kini giliran Papa Deven yang berbicara "Deven itu orang Lombok."
Deven langsung menutup mata, ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Keluarga Papa banyak di Lombok."
"Nah, keluarga kami juga banyak di Jakarta," sahut Papi.
"Betul."
"Jadi nggak masalah datang ke Jakarta."
"Masalahnya keluarga kami banyak sekali."
Marcha langsung merasa pusing, belum menikah saja sudah seperti rapat pembagian wilayah sebelum perdebatan berkembang lebih jauh, Marcha mengangkat tangan.
"Ya udah." Semua orang menoleh "Kita buat dua pesta."
"DUA?" seru Deven spontan.
Marcha menoleh santai "Dua."
"Cha..."
"Jakarta dan Lombok."
Deven menatapnya seolah ingin bertanya apakah wanita itu baru saja mengumumkan proyek pembangunan bandara baru.
Marcha menggenggam tangannya di bawah meja "Tenang."
"Ini nggak tenang."
"Uang bukan masalah."
Deven langsung diam, sulit membantah kalimat itu ketika yang mengatakannya adalah Marcha.
Papi mengangkat alis "Dua pesta sederhana?"
"Ya."
Papa dan Mama Deven saling berpandangan
"Kamu yakin?" tanya Mama lembut. "Mama nggak mau merepotkan kalian."
Marcha tersenyum "Nggak repot, Ma."
Ia sengaja menekankan kata Ma. Senyum Mama langsung melebar.
"Yang penting semua senang."
Mama langsung mengangguk puas "Kalau begitu Mama setuju."
"Papa juga."
Deven hanya bisa memijat pelipis "Kenapa aku merasa pendapatku nggak terlalu penting di sini?"
"Kamu pengantin pria," kata Amel santai.
"Nah?"
"Tugasmu datang tepat waktu."
Semua langsung tertawa, termasuk Deven yang akhirnya menyerah
di tengah suasana yang mulai cair, Ingvar ikut menyela "Jadi sebenarnya kapan nikahnya?"
Marcha berpikir sejenak "Kita maunya akhir tahun ini."
"Kalau venue-nya dapat," tambah Deven.
"Kalau nggak dapat?"
"Ya cari lagi."
"Kalau tetap nggak dapat?"
"Var..."
"Ya?"
"Diam."
Semua kembali tertawa namun di tengah tawa itu, Papi kembali menatap Marcha, kali ini lebih lembut.
"Kalian benar-benar serius?"
Pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang sudah berkali-kali ditanyakan. Seolah masih berharap putrinya berubah pikiran.
Marcha tersenyum "Serius, Pi." Ia melirik Deven lalu menggenggam tangannya lebih erat "Kalau nggak serius, kami nggak mungkin sampai sejauh ini."
Untuk pertama kalinya malam itu, Papi tidak membantah, ia hanya mengangguk pelan.
Mami lalu tersenyum kepada keluarga Deven "Maaf ya. Papi memang terlalu protektif kalau urusan Marcha."
Mama Deven langsung tertawa "Saya paham sekali."
"Paham?"
"Saya juga pernah menikahkan anak perempuan." Mama menunjuk Amel "Waktu itu yang panik bukan saya."
Semua menoleh ke Papa Deven.
Papa langsung menggeleng cepat "Saya nggak panik."
"Senewen."
"eng..."
"Senewen."
Ruangan langsung pecah oleh tawa dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai, Marcha merasa benar-benar lega, semua ketakutan yang selama ini memenuhi kepalanya perlahan menghilang, mungkin memang masih akan ada banyak tantangan tapi setidaknya...Malam ini membuktikan satu hal, dua keluarga itu mungkin berbeda tapi mereka sama-sama menginginkan kebahagiaan untuk Deven dan Marcha dan itu sudah lebih dari cukup.
Setelah makan malam selesai, keluarga Deven pulang lebih dulu ke apartemen tempat mereka menginap. Marcha ikut mengantar bersama Deven sementara beberapa jam kemudian, Deven harus kembali ke rumah sakit untuk menjalani jadwal kerjanya dan di sela waktu singkat sebelum Deven berangkat bekerja, ada sesuatu yang ingin Marcha bicarakan berdua dengannya Deven dan Marcha mampir di sebuah kafe 24 jam yang berada tak jauh dari rumah sakit tempat Deven bekerja.
Mereka duduk berhadapan sambil membahas pertemuan kedua keluarga yang baru saja selesai beberapa jam lalu.
"2 pesta, Cha. Aku pikir kita udah sepakat cuma bikin 1 pesta aja," kata Deven sambil menatap Marcha.
"Ya mau gimana, Dev? Kamu lihat sendiri kan tadi suasananya tegang banget," jawab Marcha. "Aku takut keluarga kita malah tengkar."
"Ya, tapi tetap aja 2 pesta."
Marcha menghela napas "Dev, uang bukan hal yang terpenting di sini. Kebahagiaan orang tua kita yang paling penting."
"Kebahagiaan orang tua kita?" Deven mengangkat alis. "Yang nikah itu kita, Cha."
"Kamu keberatan buat biayain 2 pesta sekaligus?" Kalimat itu keluar begitu saja.
Deven langsung menatap Marcha "Apa?"
"Maksudku..." Marcha mengernyit. "Kamu komplain soal sesuatu yang sebenarnya sepele. Ini cuma uang."
Deven melebarkan matanya "Aku bisa biayain 2 pesta, Cha. Bahkan kalau kamu mau 4, 5, sampai 10 pesta pun aku bisa."
"Terus masalahnya apa?"
"Masalahnya bukan uang!"
Suara Deven meninggi.
Beberapa orang di meja sebelah langsung melirik ke arah mereka.
"Aku mempermasalahkan komitmen kita di awal!"
"Dev, komitmen itu bisa berubah kalau situasinya berubah!"
"Tapi bukan berarti kamu langsung mutusin semuanya sendiri!"
Marcha ikut kesal "Aku mutusin sendiri? Tadi aku cuma berusaha menyelamatkan situasi!"
"Kita bahkan belum mencoba ngobrol baik-baik!"
"Karena aku gak mau orang tua kita debat cuma gara-gara pesta nikah!"
"Dan aku gak suka keputusan besar diambil dalam lima detik karena panik!"
Marcha meletakkan cangkirnya sedikit lebih keras dari seharusnya "Udah. Aku gak mau ribut cuma karena masalah pesta."
"Bagus."
"Kalau kamu keberatan soal pesta di Lombok, aku yang bayar nanti."
Brak!, tangan Deven menghantam meja, tidak sampai menjatuhkan apa pun, tapi cukup membuat suasana di sekitar mereka mendadak sunyi.
Marcha terdiam.
Deven berdiri dari kursinya "Aku udah bilang ini bukan masalah uang."
Nada suaranya rendah tapi justru itu yang membuatnya terdengar jauh lebih marah
"Dev—"
"Aku harus ke rumah sakit."
"Jangan pergi gitu aja."
"Aku udah telat."
Lalu Deven berbalik dan berjalan keluar dari kafe. Marcha menatap punggungnya dengan kesal sekaligus bingung, kenapa pembicaraan mereka bisa berakhir seperti ini? Padahal beberapa jam yang lalu mereka masih duduk bersama kedua keluarga sambil membahas pernikahan. Marcha buru-buru mengambil dompetnya, meletakkan beberapa lembar uang di atas meja, lalu berlari mengejar Deven.
"Dev!"
Tidak ada respons.
"Deven!"
Marcha mempercepat langkah dan berhasil menarik lengan Deven. Pria itu berhenti tapi tidak menoleh.
"Apa itu tadi?" tanya Marcha. "Gebrak meja? Bentak aku?"
"Kamu yang mulai duluan."
Marcha langsung melotot "Aku yang mulai duluan?"
"Iya."
"Yang ngeluh soal 2 pesta dari tadi siapa?"
"Aku lagi ngomongin masalah kita."
"Dan aku ngomongin solusi."
"Cara kamu ngomong bikin seolah-olah aku gak mampu."
Marcha menghela napas keras "Aku gak bermaksud begitu."
"Tapi itu yang aku dengar."
"Ya karena kamu salah nangkep maksudku."
"Atau mungkin kamu yang salah ngomong."
Marcha terdiam sesaat, ia ingin membantah tapi sebagian dirinya tahu Deven tidak sepenuhnya salah namun egonya juga belum turun.
"Aku cuma pengen semuanya berjalan baik."
"Aku juga."
"Makanya aku bilang 2 pesta."
"Dan aku bilang kita bisa diskusi lagi."
Marcha mengusap wajahnya frustrasi "Kenapa sih kamu keras kepala banget?"
Deven akhirnya menoleh "Kamu ngomong aku keras kepala?"
"Iya."
Deven tertawa pendek, tawa yang sama sekali tidak terdengar lucu "Okay."
"Dev..."
"Aku gak mau bahas ini lagi."
"Tapi—"
"Aku capek, Cha."
Kalimat itu membuat Marcha terdiam bukan karena nadanya keras, justru karena nadanya terdengar lelah.
Deven menghela napas panjang "Aku harus kerja."
"Masih marah?"
Deven menatapnya beberapa detik, lama lalu mengangguk "Masih."
Jawaban jujur itu justru membuat dada Marcha terasa sesak.
Biasanya Deven akan mengalah.
Biasanya Deven akan bercanda.
Biasanya Deven akan memeluknya lalu bilang semuanya baik-baik saja tapi kali ini tidak.
"Kita ngobrol lagi nanti?" tanya Marcha pelan.
"Nanti aja."
"Kamu janji?"
Deven diam beberapa saat "Aku gak mau ngomong sesuatu saat aku masih emosi."
Marcha menggigit bibir bawahnya "Okay."
Deven mengangguk singkat lalu berbalik dan berjalan menuju pintu masuk rumah sakit, kali ini Marcha tidak mengejarnya, ia hanya berdiri di trotoar sambil memandangi punggung Deven yang semakin menjauh. Biasanya ia akan merasa lebih tenang setelah bicara dengan Deven tapi malam ini justru sebaliknya. Masalah mereka belum selesai, tidak ada pelukan, tidak ada candaan, tidak ada kata maaf yang benar-benar diterima yang tersisa hanya percakapan yang menggantung dan perasaan tidak nyaman di dada keduanya dan untuk pertama kalinya setelah mereka memutuskan menikah, Marcha benar-benar takut, bukan takut pada keluarganya, bukan takut pada pesta pernikahan melainkan takut karena ia baru menyadari bahwa bahkan hubungan yang penuh cinta pun tetap bisa terluka oleh satu percakapan yang salah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
