"Hei, Cha."
Shanna menjepit ponselnya di antara bahu dan telinga sambil berdiri di depan lemari pakaian. Tangannya sibuk memilah-milah dress yang akan dipakainya untuk bertemu keluarga Kevin besok bersama keluarganya sendiri.
"Lo sibuk, Shan?" tanya Marcha dari seberang telepon.
"Gak juga sih," jawab Shanna santai. "Kenapa?"
Saat itu matanya tertumbuk pada sebuah dress berwarna krem yang bahkan belum pernah ia pakai sama sekali. Lumayan juga...
"Gue mau ajak lo nongkrong."
Shanna langsung menghentikan aktivitasnya "Hah? Lo udah di Indo?" tanyanya kaget. "Kapan nyampenya?"
"Udah lumayan lama sebenarnya. Gue sama Deven nyampe Indo beberapa hari lalu, cuma gue baru balik Jakarta tiga hari yang lalu."
Shanna langsung menyeringai "Jadi sebelumnya ke mana? Jangan bilang... Lombok."
Di ujung sana terdengar tawa Marcha "Lo tau gue ke Lombok?"
"Please..." Shanna mendengus. "Tunangan lo orang Lombok. Kalau habis dari Paris terus gak ke Lombok, justru gue yang heran."
Marcha tertawa lagi "Yaudah, ketahuan."
"Wah..." Shanna bersandar ke lemari. "Berarti lo sama Deven serius banget dong?"
"Ehmmm..." Marcha berpikir sejenak. "Pretty much."
"Pretty much?" ulang Shanna geli. "Lo tunangan, Cha. Itu udah lewat dari pretty much."
"Kok jadi gue yang diinterogasi sih?" protes Marcha sambil tertawa.
"Karena seru."
"Yaudah, pokoknya gue butuh ngobrol sama lo." Nada suara Marcha berubah sedikit lebih serius "I need to talk to you, sissy. Kalau lo ada waktu."
Shanna langsung menangkap perubahan nada itu "Ini pasti tentang Deven, kan?"
Beberapa detik hening "Ya..." jawab Marcha pelan. "Tentang Deven."
"Nah kan."
"Tapi panjang ceritanya. Ketemu aja lebih enak."
"Oke."
"Tapi gue ngajak Aza, Nadine, sama Clarice juga. Lo gak apa-apa kan?"
Shanna tertawa kecil "Gue sih gak apa-apa. Yang masalah kan mereka kalau lo ajak gue."
"Shan..." suara Marcha terdengar pasrah. "Mereka gak ada masalah sama lo."
"Masa?"
"Iya."
"Yakin?"
"Yakin."
"100 persen?"
"Shannon!"
Shanna langsung tertawa puas "Oke, oke. Gue datang."
"Kalian cuma salah paham."
"Kalau menurut lo gitu ya udah."
Marcha mendesah. Kadang-kadang menghadapi dewan direksi perusahaan internasional terasa lebih gampang daripada menghadapi Shanna yang lagi iseng.
"Pokoknya gue kirim lokasi sama jamnya ya."
"Di mana?"
"Ada kafe baru. Anak-anak penasaran pengen coba."
"Kalau makanannya gak enak, gue pulang duluan."
"Lo bahkan belum nyobain."
"Preventif."
Marcha tertawa "Dasar."
"Yaudah, kirim aja lokasinya."
"Oke."
"See you."
"See you, Shan."
Telepon pun terputus. Shanna menurunkan ponselnya lalu kembali menatap dress yang tadi menarik perhatiannya, ia mengangkat dress itu ke depan tubuhnya sambil bercermin.
"Hmm..."
Lumayan, tidak terlalu terbuka, elegan, tidak berlebihan dan yang paling penting...Semoga Kevin suka. Pikiran itu membuat sudut bibirnya terangkat tipis.
Besok adalah pertemuan penting bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk hubungan mereka.
Ting!
Sebuah notifikasi masuk. Shanna langsung melirik layar ponselnya, ia sudah menduga itu pasti pesan dari Marcha yang mengirim lokasi kafe namun saat melihat nama pengirimnya, alisnya justru terangkat.
Agung. Manajernya.
Shanna mengerutkan kening, biasanya Agung tidak menghubunginya malam-malam kecuali ada sesuatu yang penting atau...sesuatu yang berpotensi bikin pusing, dengan perasaan sedikit waswas, Shanna membuka pesan itu.
Kafe baru yang direkomendasikan Marcha ternyata memang cocok banget buat nongkrong. Interiornya hangat, lampunya temaram, musiknya pelan, dan suasananya santai. Tempat yang bikin orang betah duduk berjam-jam tanpa sadar waktu berjalan. Shanna bahkan sampai lupa kalau tadinya dia datang cuma untuk menemani Marcha curhat.
Sekarang? Marcha yang awalnya datang dengan wajah kusut karena masalah keluarga, pernikahan, dan pertengkarannya dengan Deven, malah sudah tertawa sampai memegangi perut, bukan cuma Marcha. Shanna juga bahkan Nadine hampir keselek minum karena Clarice sedang menceritakan pengalaman gilanya saat ikut acara charity di luar pulau yang pesertanya dipenuhi stand-up comedian Indonesia.
"Gue sumpah trauma," kata Clarice sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kenapa?" tanya Azalea.
"Gue kira mereka bakal lucu cuma pas di atas panggung."
"Lah?"
"Ternyata pas makan siang, pas naik mobil, pas ngantri toilet, mereka juga lucu!"
Semua langsung tertawa.
"Gue sampe gak tau kapan mereka serius sama kapan mereka lagi nge-roasting gue."
"Itu namanya hidup dalam bahaya," kata Nadine.
"Gue nanya arah toilet doang. Dia jawab, 'mbak cari toilet atau cari jodoh?'"
Meledaklah tawa satu meja.
"Lo gak pernah nonton stand-up, Cha?" tanya Shanna.
Marcha yang masih memegang perut menggeleng "Boro-boro nonton stand-up. Gosip lo sama Kevin mau nikah aja gue kagak tau."
"Nah, balik lagi topiknya ke gue," keluh Shanna sambil mendecak.
"Ya lo belum cerita apa-apa."
"Karena memang belum ada yang bisa diceritain."
"Gimana maksudnya?"
"Ortu gue sama keluarga Kevin aja baru mau ketemu besok."
Marcha mengangguk "Berarti kayaknya bukan gue sama Deven duluan yang nikah." Kali ini tawa Marcha terdengar hambar "Gue sama Deven aja sekarang lagi tengkar."
"Oh iya..." gumam Clarice.
Azalea langsung menyenggol lengan Marcha "Tenang. Gak lama juga Deven minta maaf."
Marcha menghela napas "Tapi bener sih kata Shannon kemarin. Gue nyinggung ego dia sebagai cowok."
"Karena masalah dua pesta?" tanya Nadine.
Marcha mengangguk "Kesan yang keluar tuh kayak gue bilang dia gak mampu bayar dua pesta sekaligus. Padahal gue sama sekali gak mikir ke sana. Gue cuma pengen bantu."
"Deven pasti paham kok lo gak bermaksud begitu," kata Shanna.
Marcha melirik ponselnya yang masih diam membisu di atas meja, tidak ada pesan, tidak ada telepon, tidak ada notifikasi.
"Dia gak paham."
"Cha..."
"Ini udah setengah hari dia ngediemin gue."
Bibir Marcha mulai membentuk garis miring. Shanna sebenarnya yakin Deven sedang marah, tapi bukan berarti Deven tidak peduli hanya saja sebelum sempat mengatakan apa pun—
Ponselnya sendiri bergetar.
Kevin.
"Oh tuh," kata Clarice. "Calon suami menelepon."
"Diam lo."
Shanna mengangkat telepon "Halo, Vin."
"Hai. Kamu di mana?"
"Masih nongkrong sama anak-anak."
"Belum pulang?"
"Kita belum selesai."
"Oke. Aku mau ajak kamu lihat baju pengantin."
Shanna langsung melotot "Vin!"
Satu meja langsung menoleh.
"Apa?" tanya Kevin polos.
"Vin, keluarga kita aja belum ketemu."
"Lah terus?"
"Apa yang mau dilihat dari baju pengantin?"
"Eciiiieeeee!" Satu meja langsung kompak bersorak.
Shanna menutup wajahnya, Marcha bahkan sudah tertawa sampai hampir jatuh dari kursi.
"Wah," kata Marcha. "Gue sama Deven fix kloter terakhir."
Shanna langsung memukul bahunya pelan "Diam!"
Dari telepon terdengar suara Kevin tertawa "Bilangin Marcha jangan kebanyakan tengkar sama Klepon."
"Klepon?" ulang Clarice.
"Itu nama panggilan Deven sekarang?" tanya Nadine.
Marcha langsung menutup wajahnya malu.
"Kenapa Klepon?" tanya Azalea.
"Karena manis di luar, isi emosinya meledak-ledak," jawab Shanna.
Satu meja kembali pecah tertawa.
"Ngaco," protes Marcha.
Lalu tiba-tiba Kevin berkata "Eh, gimana kalau kita nikah bareng?"
Shanna langsung membeku "Hah?"
"Sama Marcha dan Deven."
Kali ini semua orang ikut diam lalu...
"HAHAHAHAHAHA!" Shanna tertawa paling keras "Lo gak waras."
"Aku serius."
"Vin, nikahan tuh bukan konser musik."
Marcha malah mengangkat alis.
"Eh..."
Shanna langsung menunjuk sahabatnya "Jangan ikutan."
"Gue serius."
"CHA!"
"Gimana kalau seru?"
"Seru apanya?!"
Kevin dan Marcha tertawa bersamaan sementara Shanna hanya bisa memegang kepalanya.
"Kenapa sih kalian kompak banget kalau lagi ngerjain gue?"
"Karena seru," jawab Marcha santai.
"Parah."
"Ya udah, ya udah." Kevin akhirnya mengalah "By the way, kamu pulang nanti dijemput?"
"Kamu gak sibuk?"
"Yang bikin aku sibuk itu temenmu yang satu itu."
Shanna melirik Marcha. Marcha balik menatap bingung.
"No, he wants to come here," kata Shanna.
"Kevin mau ke sini?" tanya Azalea.
"Ya."
"Suruh datang lah."
"Mana mau. Gak ada cowok lain."
"Tinggal ajak Deven," kata Clarice.
Seketika meja menjadi hening. Marcha pura-pura sibuk minum.
"Marcha, telepon Deven," kata Kevin dari seberang.
"Deven kerja," jawab Marcha cepat.
"Ya udah biar aku telepon."
Shanna melirik sahabatnya. Marcha tampak tenang tapi jari-jarinya tanpa sadar bermain dengan sedotan minumannya, jelas dia gugup.
Beberapa menit berlalu lalu...
Bzzzt.
Ponsel Marcha bergetar.
Secepat kilat Marcha langsung menyambar ponselnya "Deven."
Satu meja langsung menyeringai.
"Bentar ya, guys."
Marcha mengangkat telepon "Halo."
Beberapa detik kemudian ia melirik ke arah Shanna dan membentuk kata tanpa suara.
"Kevin."
Shanna langsung menutup mulutnya menahan tawa.
"Iya, aku masih sama anak-anak."
"Hmm."
"Iya."
"Oh."
"Gak apa-apa kok."
"Iya."
"Oke."
Senyumnya mulai muncul.
"Iya, aku tunggu."
"Oke, hati-hati."
Telepon ditutup. Marcha menatap semua orang, senyumnya sekarang sudah jauh lebih lebar.
"Deven sama Kevin jadi ke sini."
"Wah," kata Clarice. "Berhasil juga Kevin ngebujuk Klepon."
Marcha tertawa kecil "Katanya kerjaannya udah selesai."
"Hmm..." Nadine menyipitkan mata. "Atau mungkin ada yang pengen baikan."
Marcha berusaha terlihat santai tapi senyumnya gagal disembunyikan dan semua orang di meja itu tahu persis alasannya, taklama kemudian, pintu kafe terbuka.
Kevin masuk lebih dulu, di belakangnya ada Deven lalu...Gogo. Friden dan...
"Kak James?"
Semua orang langsung melongo. Shanna berkedip beberapa kali. Marcha bahkan sampai menoleh ke kanan dan kiri memastikan matanya tidak salah lihat.
"Sebentar..." kata Clarice "Kita lagi nongkrong atau rapat akbar?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
