Hopeless (Deven)

56 6 1
                                        

Deven menyeruput kopinya perlahan, tapi sejak datang ke kafe itu matanya hampir tak pernah lepas dari Marcha. Sejak tadi ia hanya diam, saat datang bersama Gogo, Friden, James, dan Kevin, Deven memang sempat menyapa teman-teman Marcha dengan sopan. Setelah itu? Hening sementara Kevin, Gogo, dan Friden sudah bercanda ke sana kemari seperti pembawa acara reuni dadakan, Deven hanya duduk sambil sesekali menyesap kopi dan memandangi tunangannya.
Marcha yang sedari tadi berusaha mengabaikannya akhirnya menyerah "Kamu masih marah ya?" tanyanya pelan.
Deven menoleh sebentar lalu hanya memberi senyum tipis yang bahkan tidak sampai ke matanya.
"Aku gak mau tengkar di sini," kata Marcha.
"Aku juga gak ada niat tengkar di sini." Nada suara Deven tenang, terlalu tenang dan justru itu yang membuat Marcha semakin kesal.
"Ya jangan diem aja."
"Aku lagi gak mood buat bercanda."
Marcha mengembuskan napas keras "Kalau gitu harusnya gak usah ikut nongkrong."
"Awalnya memang gak mau ikut," jawab Deven datar. "Tapi aku udah janji sama Gogo dan Iden dari sebelum ini, gak enak kalau batal."
Marcha menatapnya tajam "Jadi kamu ke sini bukan karena aku?"
"Bukan."
Jawabannya terlalu cepat, terlalu dingin dan entah kenapa, itu jauh lebih menyakitkan daripada kalau Deven membentaknya. Marcha terdiam beberapa detik lalu ia berdiri begitu saja, semua orang langsung menoleh.
"Gaes, gue pulang dulu ya," katanya sambil memaksakan senyum. "Tiba-tiba agak pusing."
Shanna langsung mengernyit "Lo gak apa-apa, Cha?"
"Gak apa-apa kok. Mungkin kecapekan aja."
"Ya udah, pulang aja dulu," kata Clarice.
"Iya. Thanks ya semuanya." Marcha meraih tasnya "Oh ya, nanti makanan sama minuman hari ini gue transfer."
"Gampang itu mah," sahut Azalea.
Marcha mengangguk pelan lalu sebelum berbalik, ia melirik Deven, sekilas.... berharap lelaki itu menahannya atau sekadar berkata, aku anter pulang, apa saja tapi Deven tetap duduk, diam, tidak  bergerak, tidak juga menatapnya dan itu membuat dada Marcha terasa sesak akhirnya ia berbalik dan berjalan keluar.
Sendirian.
Pintu kafe tertutup.
Suasana meja langsung berubah canggung, semua orang menoleh ke arah Deven yang masih duduk tenang sambil memegang cangkir kopinya
"Lo gak nyusul Marcha?" tanya Gogo bingung.
"Dia gak ngajak gue."
"Ya karena dia lagi marah sama lo!" sahut Kevin.
"Gue juga lagi marah sama dia."
Shanna menggeleng tidak habis pikir "Kalian ini ya. Dibilang dewasa, dewasa tapi kalau berantem bisa persis anak TK rebutan ayunan."
"Lo sama Kevin juga gak jauh beda," balas Deven.
Kevin langsung menunjuk dirinya sendiri "Eh, gue gak ikut-ikut."
"Lo tiap minggu hampir putus sama Shannon."
"Itu namanya diskusi intens."
"Namanya ribut."
"Diskusi."
Ribut."
"Yaudah."
Semua orang langsung tertawa kecil kecuali Deven, tatapannya kembali jatuh ke arah pintu tempat Marcha pergi tadi sebenarnya ia bisa saja menyusul, ia tahu itu dan ia juga tahu, kalau ia menyusul sekarang, kemungkinan besar mereka akan baikan dalam lima menit.
Marcha akan minta maaf, ia juga mungkin akan minta maaf lalu selesai tapi kali ini ada sesuatu yang mengganjal terlalu dalam, ucapan Marcha tadi siang terus terngiang di kepalanya "Kamu keberatan biayain dua pesta sekaligus?" Mungkin Marcha tidak bermaksud merendahkannya. Mungkin tapi tetap saja kalimat itu menusuk harga dirinya, bukan karena uang, bukan karena ia tidak mampu.
Ia mampu.
Bahkan jauh lebih dari cukup yang menyakitkan adalah perasaan bahwa perempuan yang akan dinikahinya mengira semua keberatannya hanya soal uang padahal sejak awal yang ia perjuangkan adalah kesepakatan mereka, kesederhanaan  yang mereka impikan bersama bukan pesta, bukan kemewahan, bukan gengsi.
Deven menghela napas panjang lalu kembali ikut mendengarkan obrolan teman-temannya meski beberapa kali Gogo, Shanna, bahkan Clarice mencoba membujuknya menyusul Marcha.
"Tolong deh Pon," kata Clarice. "Ego lo diturunin dikit."
"Enggak."
"Kalau nanti makin besar gimana?"
"Ya nanti gue urusin."
"Dasar keras kepala."
"Thanks."
"Itu bukan pujian."
"Yaudah."
Akhirnya mereka menyerah, obrolan pun beralih ke topik lain sampai tiba-tiba—Ponsel Deven bergetar, ia langsung mengambilnya.
Refleks.
Karena sebagian dirinya berharap itu dari Marcha, sebuah pesan atau telepon, apa saja tapi bukan dan wajah Deven langsung berubah pucat. Semua orang yang melihatnya langsung terdiam.
"Ada apa?" tanya Kevin.
Deven membaca pesan itu sekali lagi, seolah berharap ia salah baca tapi tidak, jantungnya mendadak berdegup keras.
"Papi Marcha masuk rumah sakit."
Semua langsung membeku.
"Apa?!" seru beberapa orang bersamaan.
Deven sudah berdiri, kursinya hampir terjungkal ke belakang.
"Gue harus pergi."
Ia bahkan tidak sempat mengambil jaketnya dengan benar.
"Pon—"
"Gue harus ke rumah sakit sekarang."
Deven berlari keluar kafe, cepat, terlalu cepat sampai ia hampir menabrak pintu kaca, di belakangnya terdengar suara Gogo memanggil, mungkin mau mengingatkan sesuatu tapi Deven sudah tidak bisa berpikir yang ada di kepalanya hanya satu.
Marcha.
Marcha pasti sendirian. Marcha pasti ketakutan dan sebelum ia sempat memesan taksi—
"Gue anterin."
Deven menoleh.
Kevin berlari mengejarnya sambil mengangkat kunci mobil, nafas Kevin juga terengah.
"Lo gak bawa mobil, bego."
Untuk pertama kalinya malam itu, Deven hampir tersenyum "Thanks, Vin."
Kevin hanya mengangguk "Cepat masuk."
Dan beberapa detik kemudian, mobil Kevin melesat membelah jalanan malam Jakarta, menuju rumah sakit, menuju Marcha.

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang