Kevin duduk di sebelah Marcha. Bandara ramai, tapi di antara mereka ada keheningan yang berat. Marcha menatap lurus ke depan, pandangannya kosong. Wajahnya tenang, terlalu tenang—tanpa air mata, tanpa isak. Justru itu yang bikin Kevin makin khawatir.
"Deven benci sama gue," kata Marcha akhirnya. Suaranya pelan, berat, seperti ditarik dari dada "Dia bilang... nggak perlu ada maaf lagi di antara gue sama dia." Marcha menelan ludah "Deven kecewa berat. Karena gue ingkar janji."
Kevin menghela napas. "Cha... harusnya dari awal lo jujur. Jelasin alasan lo ninggalin Indo secepat dan sejujur-jujurnya ke Deven." Ia menatap Marcha serius "Bagaimanapun juga, Shanna yang berusaha balikan sama Deven tapi Deven nggak bakal balik ke dia. Lo tau itu. Jadi kenapa lo harus bohong?"
Marcha menoleh. Matanya redup.
"Karena gue nggak mau Deven dibully lagi," jawabnya pelan "Lo tau kan, Vin? Seberapa banyak hinaan yang dia terima gara-gara cewek" Marcha tersenyum kecil, pahit. "Dulu Anneth. Sekarang Shanna. Gue nggak mau jadi satu lagi alasan orang nyakitin dia. Cukup. Deven terlalu baik buat itu semua."
"Tapi Deven nggak tau maksud lo," kata Kevin lirih.
"Iya," Marcha mengangguk. "Dia nggak tau... karena dia lagi fokus ke gue yang ninggalin dia. Bukan ke dirinya sendiri." Marcha menarik napas dalam "Gue tau sifat Deven. Gue paham."
"Tapi dia nggak paham elo," balas Kevin cepat.
Marcha tersenyum tipis "Memahami seseorang itu nggak pernah mudah, Vin. Apalagi seseorang yang udah terlalu sering gagal soal cinta." Ia menatap lantai, suaranya melembut "Gue tau banget apa yang Deven rasain ke Anneth. Karena setelah Anneth pergi... yang ada di samping dia itu gue." Marcha menggeleng "Shanna nggak akan pernah paham kenapa Deven nggak bisa nerima dia lagi dan Deven juga nggak akan pernah tega bilang itu ke dia."
Kevin menatap Marcha lama. Ia tidak paham—bagaimana bisa ada perempuan sekuat ini yang rela melepas sesuatu yang bagi Kevin adalah hal paling langka dalam hidup: cinta yang saling, tidak semua orang diberi keberuntungan untuk dicintai balik oleh orang yang ia cintai. Marcha mendapatkannya dan justru memilih melepaskannya. Apakah itu adil? Tidak.
Pengumuman boarding terdengar menggema di udara.
Marcha menoleh ke Kevin.
"Thanks ya, Mr. Lawyer," katanya sambil tersenyum kecil. "Udah nyetirin gue ke bandara. You're really a good friend."
Kevin membalas senyum, meski matanya berat "Lo yakin nggak bakal nyesel, Cha?"
Marcha terdiam sejenak "Mungkin ini keputusan paling bodoh yang pernah gue ambil seumur hidup gue." Ia tertawa pelan "Tapi gue nggak akan nyesel." Matanya berkaca-kaca "Karena gue cinta sama Deven dan lo nggak akan pernah paham seberapa besar cinta gue ke dia."
Air mata akhirnya jatuh. Kevin mungkin nggak paham...tapi ia tau seperti apa bentuk cinta.
Marcha menunduk, mengetik sesuatu di ponselnya.
"Gue harus ngabarin Shanna. Gue boarding sekarang, biar dia bisa jumpa pers dan bersihin nama Deven." Ia menghela napas. "Udah."
"Lo yakin nggak mau telepon Deven satu kali lagi?" tanya Kevin hati-hati. "Terakhir... sebelum lo bener-bener nutup semuanya?"
Marcha menatap layar ponselnya lama lalu menekan nama Deven. Nada sambung. Satu. Dua. Tiga.
Marcha menurunkan ponselnya.
"Nggak diangkat," katanya pelan. "Dia... dia pasti kecewa banget sama gue." Senyumnya rapuh "Deven nggak pernah nggak ngangkat telepon gue sebelumnya."
Kevin menepuk bahu Marcha. "Sabar ya, Cha."
Marcha mengangguk "Gue mesti berangkat sekarang." Ia berdiri, menarik koper kecilnya "Dah, Vin. Soal kerjaan... kita masih bisa calling-calling lah."
Kevin ikut berdiri dan nyengir "Yes. Thanks, Bu Bos."
Marcha tertawa kecil "Tolong bantuin gue jagain papi, mami, sama Ingvar ya, Vin."
"Of course," jawab Kevin. "Have a safe flight, Cha."
Marcha mengangguk, melambaikan tangan, lalu berbalik berjalan menjauh, Sebelum benar-benar pergi, Kevin sempat melihatnya berhenti sebentar, mengusap sudut matanya.
Ada air yang jatuh...cepat, diam-diam dan Kevin tau satu hal pasti: Marcha mencintai Deven sampai sejauh ini.
Ponsel Kevin berdering. Ia melirik layar.
Shanna.
Kevin menghela napas pelan. Jujur, setelah melihat bagaimana Marcha berkorban sejauh itu, keinginannya buat berurusan dengan Shanna nyaris nol tapi tetap ia angkat.
"Hallo, Shan," sapanya datar.
"Marcha udah pergi?" tanya Shanna tanpa basa-basi.
"Udah," jawab Kevin singkat. "Dia udah berangkat."
"Okay," kata Shanna cepat. "Gue langsung jumpa pers sekarang."
Kevin diam. Tak ada ucapan good luck. Tak ada respons lain. Telepon terputus. Kevin menatap layar ponselnya sesaat, lalu mematikannya. Ia memasukkan ponsel ke saku jas, berbalik badan, dan melangkah pergi meninggalkan bandara. Kembali ke kantor. Kembali ke dunia yang dingin dan rapi dan untuk pertama kalinya, Kevin sadar—beberapa orang membersihkan nama dengan kata-kata,sementara yang lain membayar semuanya dengan kehilangan.
Beberapa hari kemudian.
Kevin duduk di balik meja kerjanya, menatap layar laptop dengan dahi berkerut. Di layar terpampang denah kantor baru—lebih luas, lebih rapi, dan... lebih bikin pusing. Membangun firma hukum sendiri ternyata nggak seseksi bayangan di kepala. Kontrak, renovasi, SDM, biaya. Semuanya datang barengan, kayak cicilan hidup.
Sudah lama Kevin ingin punya firma sendiri tapi keberanian itu baru muncul setelah Marcha—dengan caranya yang tenang tapi menusuk—bilang:
"Kalau lo nggak ambil risiko sekarang, kapan lagi?"
Kevin berhutang banyak pada Marcha. makanya, setiap kali Marcha butuh bantuan, Kevin selalu ada tanpa banyak tanya.
Ponselnya bergetar. Kevin melirik layar. Shanna. Beberapa hari terakhir, nama itu sering muncul kalau dulu, Kevin bisa senyum-senyum sendiri lihat nama Shanna. Sekarang? Biasa aja. Mau nelpon ya nelpon. Mau enggak ya silakan.
Belum sempat ia memutuskan, telepon kantor berbunyi.
"Ya, Ren," jawab Kevin.
"Pak Kevin, ini ada Bapak Deven Christiandi Putra," kata Irene dari seberang. "Beliau mau ketemu."
Kevin mengernyit. Deven? Ngapain dia nyari gue sampai ke kantor? tapi Deven temannya dan orang yang lagi kacau biasanya nyari dua hal: kopi atau teman ngobrol.
"Suruh masuk," kata Kevin akhirnya.
Beberapa menit kemudian, Deven berdiri di depan meja Kevin. Ia duduk, lalu menatap sekeliling ruangan yang masih setengah berantakan.
"Sorry ya, Dev," kata Kevin santai. "Berantakan. Mau pindah kantor."
"Pindah kantor?" Deven kaget. "Serius?"
"Ya," jawab Kevin. "Gue bikin firma hukum sendiri."
"Waow," Deven bersiul pelan. "That's very cool. Congrats, bro."
"Thanks," Kevin nyengir tipis. "Anyway... lo kenapa ke sini?"
Deven diam sebentar lalu mengangkat kepala "Gue mau nanya soal Marcha."
Kevin mengangguk pelan "Marcha udah balik ke Paris."
"Gue tau," kata Deven cepat. "Dan gue nggak bisa hubungi dia." Ia menelan ludah "Lo tau cara gue bisa kontak dia?"
Kevin menyandarkan punggung "Lo ada perlu apa nyari Marcha, Dev?"
"Gue..." Deven terdiam. Kelihatan bingung sama isi kepalanya sendiri.
Kevin menatapnya sebentar, lalu bertanya datar "Lo udah ngobrol sama Shanna?"
"Gue sama Shanna nggak ada masalah yang perlu diobrolin," jawab Deven cepat. "Selesai ya selesai."
Kevin mendengus kecil "Buat elo mungkin selesai." Ia menatap Deven lurus "Dia nungguin lo, Dev. Dia berharap lo hubungi dia dan ngobrol." Kevin berhenti sejenak, lalu melanjutkan "Kalau lo nggak ketemu dia dan nyelesain urusan kalian, semua pengorbanan Marcha buat lo... sia-sia."
Deven langsung menegakkan badan.
"Pengorbanan Marcha?" suaranya pelan. "Maksud lo apa, Vin?"
Kevin menghela napas. Ini bagian yang nggak enak. Ia menceritakan semuanya. Tentang alasan Marcha pergi. Tentang kebohongan yang ia pilih demi melindungi Deven. Tentang bandara. Tentang air mata yang jatuh diam-diam.
Deven menggeleng pelan. Ia pernah bersumpah—dalam hati—kalau apa pun yang terjadi, ia nggak akan pernah bikin Marcha menangis. Ternyata...bukan keadaan yang bikin Marcha menangis tapi dirinya. Kata-katanya. Sikapnya.
Deven menunduk, tangannya mengepal.
"Gue mesti nyusul dia ke Paris," katanya lirih. "Dan minta maaf."
"Terus?" Kevin menatapnya.
Deven menghela napas panjang. Seolah berat banget buat jujur.
"Gue bukan mau ikut campur," kata Kevin dingin tapi jujur "Tapi masalah lo sama Shanna belum selesai." Kevin mengangkat alis. "Dia gangguin gue tiap hari. Karena dia pikir... setelah lo balik ke Jakarta, dia masih punya kesempatan."
"Apalagi yang harus gue omongin ke dia?" tanya Deven lelah "Dia udah tau masalah kita karena keluarga. Bukan karena Marcha."
Kevin menatap Deven tanpa ekspresi "Tell her the truth."
"Which is?"
"That you're still in love with Marcha," kata Kevin datar "That will break her heart."
Deven menggeleng "Gue nggak mau nyakitin Shanna lagi."
"Dev," Kevin bersandar "Waktu lo jadian sama dia, sementara hati lo bukan buat dia... itu udah nyakitin dia." Ia menatap Deven tajam "Lo nggak bisa nyakitin dua cewek yang sama-sama cinta sama lo."
Deven terdiam "Gue udah nyakitin mereka berdua."
"Setidaknya setelah ini," kata Kevin, "lo bisa bikin bahagia salah satu." Kevin menambahkan pelan "Kita semua pengen bahagia. Tapi nggak mungkin lo membahagiakan semua orang."
Hening.
"Menurut lo," Deven akhirnya bicara, "gue harus ketemu Shanna?"
"Jelas," jawab Kevin tanpa ragu "Dia nungguin lo. Dia masih berharap... setelah Marcha pergi, dia bisa balik sama lo."
"Itu nggak mungkin," kata Deven lirih.
"Makanya," Kevin menatapnya dingin,
"lo harus hancurin harapannya sekarang. Bukan nanti."
Diam. Kevin tau—diam kadang lebih mudah tapi sering kali, diam justru pilihan paling salah.
Ponsel Deven bergetar. Kevin melirik layar. Shanna. Deven menatap Kevin sebentar lalu menarik napas dalam-dalam.
Ia mengangkat telepon itu dan untuk pertama kalinya, Deven siap menghadapi kenyataan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
