Deven sudah memikirkan momen ini... sejak kencannya dengan Marcha di museum wayang. Sejak saat itu, satu hal jadi jelas di kepalanya—dia nggak mau lagi kehilangan Marcha, bukan karena jarak, bukan karena waktu. Mereka mungkin tetap akan terpisah oleh kota, negara, bahkan benua...tapi kali ini, dengan status yang berbeda dengan ikatan yang jelas, dengan kepastian. Marcha akan jadi miliknya dan tidak ada lagi yang bisa memisahkan mereka—dalam arti yang sebenarnya.
Sekarang...
di depan semua lilin dan suasana yang terlalu indah untuk jadi nyata—Deven menunggu. Dadanya berdebar kencang.
Marcha diam, matanya berkaca-kaca, tatapannya bergantian antara cincin... dan Deven seolah dia sedang memastikan ini bukan mimpi. Deven menelan ludah untuk pertama kalinya malam ini—dia gugup.
"Dev..." suara Marcha pelan, sedikit bergetar.
Deven langsung menatapnya penuh harap.
"Kalau kita menikah..." lanjut Marcha, "kita tetap akan berpisah."
Deven terdiam.
"Aku tetap harus ke Eropa, ke Amerika... urus bisnis aku," kata Marcha jujur.
Hening sebentar lalu Deven tersenyum kecil.
"Tapi kamu udah jadi istriku," katanya pelan.
Marcha mengernyit sedikit, Deven menatapnya lebih dalam.
"Kamu tau... perpisahan yang aku maksud bukan soal jarak dan waktu."
Marcha terdiam dan perlahan... dia mengerti bahwa yang Deven takutkan bukan jarak tapi kehilangan, kehilangan perasaan, kehilangan satu sama lain.
"Cha..." suara Deven melembut "I just wanna spend the rest of my life with the woman I love the most." Deven menarik napas "And that woman... is you."
Marcha menahan air matanya.
"So... be my wife?"
Senyum pelan muncul di wajah Marcha, air mata akhirnya jatuh juga
Marcha mengangguk kecil. "Yes, I do..." suaranya lembut, tapi penuh keyakinan "I want to spend the rest of my life with you too, Dev."
Seketika wajah Deven berubah cerah, dia tersenyum lebar—lega, bahagia, hampir nggak percaya, dia segera mengambil cincin itu...dan dengan hati-hati menyematkannya di jari manis Marcha.
Pas.
Seolah memang sudah ditakdirkan di sana. Marcha menatap cincin itu, batu aquamarine, biru jernih seperti air laut yang tenang dikelilingi berlian kecil yang berkilau halus... cantik, tenang tapi kuat.
"Suka?" tanya Deven pelan.
Marcha tersenyum, masih menatap cincin itu. "Ini pasti mahal..."
Deven terkekeh kecil. "Aquamarine itu batu bulan Maret. Sama kayak kamu." Dia menatap Marcha hangat. "Pemberani. Setia. Bertanggung jawab."
Marcha mengangkat wajahnya.
"Dan aku cari cincin ini... sampai ketemu yang paling tepat," lanjut Deven. "Sama kayak aku... yang bakal ke mana pun buat dapetin kamu."
Marcha tertawa kecil di antara haru "Thanks ya, Dev... atas semua cinta kamu."
Dia menggenggam tangan Deven...lalu mencium punggung tangannya dengan lembut. Deven langsung berdiri—dan memeluk Marcha erat masih dengan sedikit gemetar.
"Thanks ya, Cha... udah nerima aku," bisiknya di telinga Marcha, pelukannya menghangatkan "Aku bakal berusaha... bikin kamu sebahagia mungkin."
Marcha memejamkan mata, membalas pelukan itu dan untuk pertama kalinya—bukan cuma hatinya yang penuh tapi juga masa depannya, Marcha perlahan melepaskan pelukan Deven.
"Dev... ada satu hal yang perlu kamu tau sebelum kamu yakin mau nikah sama aku," katanya pelan.
Deven masih tersenyum. "Well... kalau masalah tinggal sama keluarga kamu, aku nggak keberatan, Cha."
"Bu-bukan itu..." suara Marcha sedikit bergetar.
Senyum Deven langsung memudar, wajah Marcha... pucat, seketika ucapan Kevin beberapa waktu lalu terlintas di kepalanya—Marcha lagi murung, lagi mikirin sesuatu. Ada apa? Deven mengangkat tangannya, memegang pipi Marcha dengan lembut.
"Ada apa, Cha?"
Marcha menarik napas pelan.
"Beberapa waktu lalu... papi datang ke kamar aku. Dia ngomong soal kita," katanya pelan. "Kalau kita beneran serius... dan mau menikah... papi punya syarat lagi."
Deven mengernyit, syarat lagi? Perasaan nggak enak langsung muncul.
"Syarat apa?" tanyanya hati-hati.
Marcha menatapnya ragu. "Kamu jangan marah ya, Dev... aku sendiri sebenarnya nggak setuju, tapi..."
"Cha, syaratnya apa?" potong Deven, mulai tegang.
Marcha menelan ludah. "Saham perusahaan keluarga... papi bakal kasih ke kamu 15%."
Deven langsung diam.
"Saham?" ulangnya pelan, bingung.
"Iya... kamu tau kan bisnis keluarga aku—hotel, properti, dan lain-lain," jelas Marcha. "Kamu bakal dapet 15% dari saham papi."
"Kenapa?" tanya Deven. "Kenapa papi kamu kasih ke aku?"
Marcha menghela napas "Itu saham punya papi. Dia mikir... kalau nanti dia nggak ada, saham itu tetap ada di lingkaran keluarga." dia menatap Deven. "Dan... bukan cuma kamu. Istri Ingvar nanti juga bakal dapet 15%."
Deven terdiam.
"Kamu sama Ingvar?" tanyanya.
"Aku sama Ingvar masing-masing 20%," jawab Marcha.
Deven mengangguk pelan. "Jadi total... kalian berempat pegang 70%?"
"Iya."
"Terus... om sama tante kamu?"
"Mereka dapet 30%," jawab Marcha. "Masing-masing 15%."
Deven menghembuskan napas panjang "Berarti... sama kayak aku nanti."
Marcha diam.
"Cha..." Deven menggeleng pelan. "Apa kata om sama tante kamu nanti kalau aku dapet 15%? Ini perusahaan keluarga mereka juga."
"Itu hak papi aku, Dev," kata Marcha, mulai terdengar tegas. "Saham itu punya papi. Terserah dia mau kasih ke siapa." dia menghela napas "Aku tau mereka bakal protes. Tapi jujur aja... mereka juga nggak pernah benar-benar kerja di perusahaan."
Deven mengusap wajahnya.
"Aku juga nggak mungkin kerja di perusahaan keluarga kamu, Cha," katanya. "Bukan karena nggak mau... tapi aku sudah punya pekerjaan."
"Aku juga udah bilang itu ke papi," jawab Marcha. "Dan dia bilang... kamu nggak perlu kerja. Kamu cuma pegang saham."
Deven tertawa kecil, tapi hambar. "Jadi aku dapet uang... tanpa kerja... dan malah lebih banyak dari mereka?"
Marcha menunduk.
"Cha... itu pasti bakal jadi masalah," lanjut Deven pelan. "Aku bisa berantem sama om dan tante kamu."
Marcha menatapnya.
"Jadi... kamu nggak mau nikah sama aku?" tanyanya lirih.
Deven langsung menggeleng. "Bukan gitu."
Dia mendekat sedikit "Aku mau nikah sama kamu tapi soal saham ini... apa nggak lebih baik kamu aja yang pegang semuanya?"
Marcha mulai terlihat kesal"Dev, ini syarat dari papi aku."
"Aku bukan protes..." kata Deven, berusaha menjelaskan. "Cuma... ini terlalu besar. Aku—"
Belum selesai dia bicara—Marcha berdiri, pelan lalu... melepas cincin di jarinya dan meletakkannya di tangan Deven. Deven langsung membeku.
"Cha... ini maksudnya apa?"
Marcha menatapnya "Aku tau syarat-syarat dari papi aku ini berat. Mulai dari kamu harus tinggal di rumah aku setelah nikah... sampai soal saham ini." dia menarik napas. "Jadi... mungkin kamu perlu pikirin lagi. Apa kamu benar-benar mau nikah sama aku?"
"Cha, ini cuma soal saham. Nggak ada hubungannya sama pernikahan kita," kata Deven cepat. "Masa kamu sampai balikin cincin ini?"
"Dev..." suara Marcha melembut, tapi tegas "Saham itu bagian dari syarat." dia menatap Deven dalam "Di sini bukan aku yang nggak mau nikah sama kamu tapi kalau kamu keberatan dengan syarat dari papi aku... apa kamu yakin bisa jalanin semuanya?"
Deven terdiam.
"Aku tanya kamu tadi, kamu mau jadi istri aku," katanya pelan.
Marcha mengangguk. "Aku mau." dia menatap Deven. "Tapi... kamu mau jadi suami aku?"
"Aku mau, Cha," jawab Deven tanpa ragu.
Marcha tersenyum tipis. "Tapi pikirin lagi, Dev, aku nggak mau maksa kamu."
Dia memalingkan wajahnya lalu melangkah pergi namun belum sempat jauh—Deven langsung memeluknya dari belakang.
"Aku minta maaf..." bisiknya. "Soal saham tadi, tolong jangan nyerah sama aku... jangan tinggalin aku."
Marcha terdiam beberapa detik lalu...dia menghela napas dan perlahan berbalik, ada senyum kecil... yang hampir nggak bisa dia tahan.
"Dev..." katanya.
"Hm?"
"Aku nggak nyerah. Aku juga nggak mau ninggalin kamu." dia menunjuk ke arah dalam "Aku cuma mau ke WC. Udah nggak tahan."
Deven langsung bengong. "...Oh."
Marcha hampir ketawa.
"Tapi cincin ini?" tanya Deven, masih bingung.
"Aku mau kamu pikir dulu," kata Marcha lembut. "Aku nggak mau kamu terpaksa."
"Kamu pakai aja, Cha, kamu udah terima tadi."
Marcha menggeleng. "Kalau aku pakai di rumah, papi pasti tanya."
"Ya bilang aja kita udah tunangan," kata Deven cepat.
"Dev..." Marcha menatapnya lembut. "Aku sudah terima kamu, aku cuma minta kamu mikir lagi, aku nggak mau hubungan kita jadi... berat sebelah." dia tersenyum tipis. "Aku nggak mau jadi orang yang egois."
Deven masih ingin bicara. "Tapi—"
"Udah ya," potong Marcha lembut. "Ini keputusanku." dia mundur selangkah. "Beneran... aku ke WC dulu."
Dan kali ini... dia benar-benar pergi.
Deven berdiri diam menatap cincin di tangannya. Tadi...cincin itu ada di jari Marcha sekarang... kembali ke tangannya, ada rasa kecewa tapi dia tau... ini bukan sepenuhnya salah Marcha karena dia sendiri tadi...yang ragu masalah saham ini—bisa bikin dia berhadapan dengan keluarga Marcha dan dia nggak mau itu tapi...dia juga nggak pernah nyangka... kalau hal itu bisa membuat jarak... antara dia dan Marcha.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
