Sakit.
Itu hal pertama yang Deven sadari ketika kesadarannya perlahan kembali.
Bukan sakit yang tajam di satu bagian tubuh.
Tapi sakit yang terasa di mana-mana.
Seolah seluruh tubuhnya baru saja dilempar, dipukul, lalu ditindih sesuatu yang sangat berat.
Deven mencoba menarik napas.
Dan langsung menyesalinya.
Dadanya terasa nyeri.
Ia mengerang pelan.
"Dev?"
Suara seseorang terdengar samar.
Deven mengernyit.
Kelopak matanya terasa berat ketika ia mencoba membukanya.
Cahaya yang masuk langsung menusuk matanya.
Ia kembali memejamkan mata.
"Jangan langsung dibuka," terdengar suara lain. "Pelan-pelan."
Deven mengenal suara itu.
"Verry?"
"Yeah. Welcome back."
Deven akhirnya membuka matanya sedikit demi sedikit.
Yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit tenda.
Kain putih kusam.
Sebagian terkena noda lumpur.
Bau obat-obatan, tanah basah, dan sesuatu yang terbakar memenuhi udara.
Di sebelahnya, Verry sedang duduk sambil memegang botol infus.
Imelda berdiri di sisi lain.
Wajah keduanya terlihat jauh lebih lelah daripada yang Deven ingat.
"Lo udah sadar?" tanya Imelda.
Deven mencoba mengangguk.
Namun kepalanya langsung terasa berat.
"Jangan banyak gerak dulu."
Deven menatap sekeliling.
"Gue..."
Suaranya serak.
Ia menelan ludah.
"Tenda kita?"
Verry terdiam sebentar.
"Yang lama udah nggak ada."
Alis Deven berkerut.
Ingatan itu datang perlahan.
Hujan.
Suara orang-orang berteriak.
Tanah.
Lumpur.
Semuanya bergerak.
Terlalu cepat.
Deven langsung mencoba bangun.
"Eh, eh, eh!"
Imelda buru-buru menahan bahunya.
"Lo mau ke mana?"
"Yang lain mana?"
"Dev, santai."
"Dimas mana?"
Pertanyaan itu membuat ruangan kecil di dalam tenda mendadak hening.
Deven menatap Verry.
Lalu Imelda.
Tidak ada yang langsung menjawab.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
