Shanna tahu sejak awal—Kevin belum datang atau lebih tepatnya: mungkin tidak akan datang. Kevin tidak ingin bertemu dengannya. Itu sudah jelas, dari pertemuan terakhir mereka. Dari kalimat-kalimat yang tidak diucapkan tapi terasa seperti palu tapi ini rumah Kevin dan tanpa Kevin, Shanna bahkan tidak tahu ke mana anak-anak panti ini akan tinggal.
Dan sekarang... Kevin tidak datang karena dirinya, rasa bersalah itu tidak punya alamat entah harus ditujukan pada siapa. Kepalanya tertunduk. Pikirannya buntu.
Menelepon Kevin? Jarinya sudah berkali-kali hampir menyentuh layar namun selalu ada bisikan kecil di dadanya—pelan, tapi tegas: jangan.
Akhirnya Shanna menyerah.
"Sebentar, gue telepon Kevin," kata Marcha santai, nyaris tanpa emosi "Kemarin dia janjian sama gue kalau datang."
Shanna langsung menoleh. Janjian? Sama Marcha? Sejak kapan mereka sedekat itu? Tidak mungkin cuma karena kerjaan... kan? Telepon Marcha diangkat cepat, sangat cepat, tak sampai semenit, Marcha sudah menutupnya lagi.
"Kevin ada kerjaan," katanya datar sambil menatap Gogo "Dia tetap datang. Telat." Lalu, seolah urusan itu sudah selesai dan tidak layak dibahas lagi, Marcha menambahkan "So... apa yang bisa gue bantu di sini?"
"Kita bisa mulai bagi-bagi hadiah," sahut Deven cepat, terlalu cepat "Gue udah beli banyak dari sumbangan orang-orang."
"That's a great idea. Let's do it," kata Dylan ringan.
Semua bergerak mengikuti Dylan ke meja panjang dengan karung-karung hadiah. Mereka dibagi jadi tiga kelompok. Shanna satu kelompok dengan Deven, Marcha, dan Dylan. Monique dengan Clarice, Gogo, dan Rey. Sementara Friden bersama Anastasia, Sandrina, dan Indah—pengurus panti.
Menurut Shanna, acara ini seharusnya menyenangkan. Benar-benar menyenangkan. Kalau saja Deven tidak terus-terusan menatap ke arah Marcha dan Dylan, yang asyik membicarakan dunia bisnis dan fashion—dunia yang tidak dimengerti Shanna, dan jelas bukan dunianya Deven. Shanna tahu. Dunia Marcha sudah jauh. Pekerjaannya adalah hidupnya.
"Ya, gue tau itu langkah bodoh dari Arthur," kata Dylan sambil tertawa kecil "Maksud gue... mana mungkin majalah sampah dia bisa ngelawan majalah fashion elo?"
Marcha terkekeh singkat "Apalagi dia ngomong di pers seolah koleksi musim panas istrinya bakal saingan sama M.S.R." Ia mengangkat bahu. "It's a lame joke."
"Hei, Cha." Suara Deven menyela. Terlalu keras. Terlalu sengaja "Lo bisa gak desain gaun buat Shannon di hari tunangan kita?"
Shanna terperanjat. Ia menoleh cepat ke Deven. Ia sudah punya gaun. Sudah dipesan dari desainer terkenal.
"Ehmm..." Marcha melirik Shanna sekilas, lalu kembali cuek "Lo bisa lihat katalog di website gue. Nanti gue kasih diskon, Shan."
"Gue mau elo yang desain," potong Deven "Bukan yang di katalog. Sesuai kemauan Shanna. Bisa?"
Nada suaranya lebih terdengar menekan daripada meminta. Marcha menarik napas panjang. Wajahnya tetap tenang, tapi ada garis tipis kesabaran yang ditarik terlalu jauh. Shanna tahu—Deven sudah keterlaluan. Untungnya, suara pintu yang terbuka mendadak memotong segalanya.
Shanna menoleh. Kevin berdiri di ambang pintu. Jas dan kemejanya rapi—kalau saja rambutnya tidak basah, dan air menetes dari ujung lengan bajunya.
"Di luar hujan," katanya singkat.
Shanna menoleh ke jendela. Benar. Hujan turun deras, seakan sengaja menenggelamkan waktu. Ia refleks hendak berlari menghampiri Kevin—tapi Marcha lebih dulu melangkah.
"Lo mandi dulu, Kev. Keramas," katanya praktis "Habis itu hair dryer. Jangan sok kuat, ntar masuk angin lagi."
Itu persis kalimat yang ingin Shanna ucapkan. Sejak kapan Marcha se-perhatian itu pada Kevin?
"Okay, Cha. Thanks," kata Kevin sambil nyengir tipis.
Lalu ia melangkah masuk, mendekati Shanna, Dylan, dan Deven—karena posisi mereka memang paling dekat dengan pintu dan di detik itu,
udara berubah.
"Hei, bro." Kevin menyapa Dylan dan Deven sambil mengangguk singkat.
Shanna berdiri di sana. Mungkin—bodohnya—ia berharap Kevin akan menoleh. Tersenyum. Atau sekadar menyapanya dengan basa-basi paling dangkal tapi tidak. Kevin bahkan tidak melirik. Ia memalingkan wajah, lalu melangkah masuk ke arah pintu ruang makan. Dada Shanna mengencang.
"Kamu ada masalah sama Kevin?" tanya Deven pelan, menatapnya.
Shanna hanya tersenyum masam, mengangkat bahu. Apa yang harus ia katakan? Bahwa ia dan Kevin bertengkar karena ia menerima lamaran Deven? Bahwa Kevin pergi karena hatinya tidak sanggup tinggal? Tidak mungkin.
Shanna memilih diam.
Percakapan Deven dan Marcha soal gaun tunangan ikut terputus ketika ponsel Marcha berdering. Marcha mengangkatnya, lalu menjauh—cukup jauh. Terlalu lama. Ia tidak kembali. Bahkan saat hadiah sudah habis dibagikan. Bahkan saat Kevin sudah selesai mandi.
"Marcha ke mana?" tanya Kevin, matanya mencari-cari.
"Lagi telepon di luar," jawab Deven.
"Okay, thanks."
Dan lagi-lagi—Kevin melewati Shanna begitu saja. Keluar ke teras. Menyusul Marcha. Mereka tidak kembali. Entah Marcha masih menelepon, atau kini mereka mengobrol berdua.
"Kita udah harus mulai nyanyi ini," kata Gogo "Lo panggil Kevin deh, Pon."
"Iya," Deven mendengus "Lama banget Kevin sama Marcha di luar. Ngapain sih?"
"Eh, aku ikut," kata Shanna cepat, memeluk lengan Deven.
"Aku cuma manggil doang, Non."
"Ya aku ikut," Shanna menatapnya "Boleh, kan?"
Deven hanya tersenyum tipis. Tidak menolak. Tidak juga mengiyakan. Begitu keluar, Shanna langsung melihat mereka Marcha dan Kevin berdiri berhadapan. Terlalu dekat untuk sekadar formal.
"Jadi izinnya udah keluar, tapi dua bulan lagi baru boleh bangun?" tanya Marcha "Gak bisa dipercepat? Bulan depan gue balik ke Paris."
"Ya, itu yang lagi gue usahain—"
"Hei." Deven menyela "Kita nungguin."
Marcha dan Kevin menoleh bersamaan.
"Oh—sorry," kata Kevin "Kita lagi ngomongin kerjaan."
"Gue tau," jawab Deven, senyum profesionalnya muncul "Tapi ini acara sosial. Kita fokus ini dulu, ya. Urusan kerjaan ada waktu dan tempatnya juga, Bu Boss."
"Iya, Dok. Sorry," Marcha nyengir.
Mereka berjalan kembali. Sepanjang jalan, Shanna terus melirik ke arah Kevin. Kevin masih berbicara dengan Marcha. Diselingi tawa kecil. Shanna tahu Marcha menyenangkan. Konyol. Pintar. Hidup tapi Kevin tidak perlu sesenang itu, kan?
"Mbak, iki wes mari panganan'e, mangan sek ta?" Indah bertanya pada Shanna.
"Eh... bahasa Indonesia, Ndah," Shanna tersenyum kaku.
"Oh—maaf, Mbak—"
"Kene mangan sek ae," potong Marcha santai "Siapno wes."
"Hei," Shanna menoleh.
"Indah ngomong apa, Cha?"
"Makanannya udah siap. Kita makan dulu?" Deven dan Marcha menjawab bersamaan.
Mereka saling pandang lalu tertawa.
"Okay, Bu Boss. Isok boso Jowo dadakan," canda Deven.
"Jaremu, Dok. Koe ngerti aku iso ngomong Jowo," balas Marcha.
"Wah, mbak'e mbek mas'e iso ngomong Jowo. Sontoloyo," Indah tertawa sambil mengacungkan jempol.
Mereka tertawa lebih keras. Shanna hanya diam. Mereka nyambung tanpa usaha. Satu frekuensi. Satu dunia. Shanna tahu—Marcha adalah orang yang bisa membuat Deven tertawa seperti itu. Lepas. Tanpa beban dan di detik itu, Shanna sadar sesuatu yang pahit:
Sekalipun ia menikah dengan Deven, ia tetap kalah...dalam urusan perasaan. Marcha dan Deven memang satu vibes.Satu server.
"Yowes, yok mangan," kata Deven dengan mata berbinar—menatap Marcha.
Shanna melirik Kevin. Kevin tersenyum kecil melihat Deven dan Marcha.Lalu, sadar sedang diperhatikan—ia melirik Shanna. Shanna tersenyum. Kevin memutar bola matanya.
Mereka makan bersama. Marcha duduk dengan Monique dan sejak itu, pandangan Shanna tidak pernah benar-benar lepas dari Marcha. Ia harus bicara. Shanna berdiri, lalu duduk di sebelah Marcha.
"Hei, Cha."
"Hei, Shan."
"Hm... gue mau ngomong berdua. Bisa?"
Marcha tampak bingung, tapi tetap tersenyum "Okay." Ia menoleh ke Monique. "Bentar ya, Mon."
Mereka keluar ke halaman belakang.
"Cha," Shanna menahan napas "Lo sejak kapan deket banget sama Kevin?"
Marcha berhenti "Eh—tunggu. Maksud lo, gue deket sama Kevin?"
"Iya. Lo sama dia keliatan... bukan kayak sekadar temen."
Marcha tertawa kecil "Shan, Kevin itu pengacara gue. Ya jelas gue deket. Kita ngomongin kerjaan."
Shanna diam. Ia ingin percaya. Tapi hatinya ragu.
"Jadi... lo gak suka Kevin?" tanya Shanna.
Marcha mengernyit "Enggak lah. Dia pengacara gue. Tapi—kenapa lo nanya? Lo gak mungkin suka sama Kevin, kan?"
"Enggak," jawab Shanna cepat "Gue sama Deven." Kebohongan itu terasa pahit di lidahnya "Hm..." Shanna menelan ludah "Cha, gue boleh minta tolong gak?"
"Minta tolong?" Marcha tersenyum "Gaun tunangan lo?"
"Bukan."
Shanna menggeleng "Ini... tentang Kevin."
Marcha menatapnya. Bingung. Waspada dan Shanna sendiri tidak benar-benar tahu apa yang ia inginkan yang ia tahu hanya satu:Sejak Kevin pergi dan menjauh,ada lubang di dadanya. Lubang yang ia kira kecil. Tak penting.Tapi ternyata—perlahan menggerogoti segalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
