Hardest Part (Deven)

72 4 0
                                        

"Apa?" ulang Marcha pelan.
Wajahnya langsung pucat, seolah ia salah dengar.
"Putus," kata Deven sekali lagi, suaranya tenang dan justru itu yang membuat Marcha semakin takut "Aku nggak bisa nunggu lagi, Cha."
Marcha menatapnya tidak percaya "Kenapa harus sejauh ini, Dev?" suaranya mulai bergetar. "Putus bukan solusi dari masalah kita."
Deven tertawa kecil "Menurut kamu ini soal terburu-buru?"
"Ya karena—"
"Bukan."
Deven memotong pelan "Aku bukan terburu-buru." Ia menatap Marcha lurus, tatapan yang membuat dada Marcha perlahan terasa sesak "Aku cuma sudah nggak bisa melihat masa depan kita lagi."
Marcha membeku, kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada kata putus itu sendiri.
"Kalau aku sudah nggak bisa melihat hari esok kita berdua, gimana kamu bisa bilang solusi kita bukan berpisah?"
"Dev..."
"Aku butuh komitmen, Cha." Suara Deven mulai melemah "Bukan janji."
Marcha menggeleng cepat "Kamu pikirin lagi baik-baik. Aku cuma mau jadi anak yang baik buat papi. Aku cuma mau nemenin papi selama dia masih ada..."
"Aku tahu." Deven mengangguk pelan dan itu justru membuat Marcha semakin hancur karena tidak ada kemarahan di sana, tidak ada bentakan, tidak ada emosi hanya seseorang yang sudah terlalu lelah "Aku ngerti alasan kamu."
"Kalau ngerti kenapa harus putus?"
Karena untuk pertama kalinya malam itu, air mata mulai menggenang di mata Marcha.
Deven menarik napas panjang "Aku ngerti alasan kamu, tapi aku juga ngerti diriku sendiri, aku nggak bisa punya hubungan tanpa arah."
"Hubungan tanpa arah?" ulang Marcha lirih.
"Iya." Deven tersenyum hambar "Kamu nggak bisa kasih tahu aku harus nunggu sampai kapan."
Marcha menunduk "Aku nggak tahu."
"Setahun?"
Marcha diam.
"Dua tahun?"
Tetap diam.
"Lima tahun?"
Marcha menggigit bibir bawahnya.
"Sepuluh tahun?"
Deven tertawa pelan lalu menggeleng "Nah. Itu masalahnya."
Marcha tidak bisa menjawab karena memang tidak ada jawaban dan mereka berdua sama-sama tahu itu.
"Aku anter kamu pulang setelah makan." Deven kembali menatap makanannya.
Seolah pembicaraan itu sudah selesai. Marcha menunduk melihat cincin di jari manisnya, jari yang beberapa bulan lalu bergetar saat menerima lamaran Deven.
"Cincin ini..."
Tangannya mulai bergerak hendak melepas cincin itu tapi suara Deven menghentikannya.
"Buang aja kalau nggak suka."
Marcha langsung mengangkat kepala "Apa?"
"Aku udah ngasih ke kamu." Suara Deven datar "Mau kamu pakai, simpan, atau buang... terserah."
Untuk pertama kalinya malam itu, hati Marcha benar-benar terasa retak karena Deven selalu menjaga cincin itu.... selalu bahkan saat mereka bertengkar hebat dan sekarang... Laki-laki itu bahkan tidak mau melihatnya lagi.
Sepanjang sisa makan malam, tidak ada lagi percakapan, mereka duduk berhadapan, dekat tapi terasa sangat jauh.
Sesekali Deven melirik Marcha dari jauh di dalam hatinya, ia masih berharap. Masih berharap Marcha berkata : "Aku pilih kamu." "Ayo kita nikah." "Aku akan cari jalan." Apa saja tapi kalimat itu tidak pernah datang dan semakin lama, harapan itu perlahan mati.
Di dalam mobil, suasana tidak jauh berbeda hanya suara mesin dan lampu jalan yang menemani mereka.
Sampai akhirnya Marcha berbicara "Kita masih bisa jadi teman kan, Dev?"
Deven memejamkan mata sesaat pertanyaan itu terasa seperti pisau terakhir.
"Teman?"
"Iya." Marcha menatapnya. "Hubungan kita berakhir... tapi bukan berarti kita harus jadi orang asing."
Deven tersenyum tipis "Nggak apa-apa berteman."
Marcha sedikit lega.
"Tapi..." Deven melanjutkan. "Sebaiknya kita jaga jarak."
Marcha langsung menoleh "Jaga jarak?"
Deven mengangguk. "Aku nggak mau terlalu dekat sama mantan."
Kata mantan membuat dada Marcha terasa diremas karena baru sekarang semuanya terdengar nyata, mereka benar-benar berakhir.
Lampu merah membuat mobil berhenti. Marcha menoleh.
"Kamu udah nggak cinta sama aku?"
Deven langsung memandangnya.. Lalu ia tertawa kecil, tawa yang terdengar patah "Harusnya aku yang tanya itu."
"Aku cinta sama kamu." Suara Marcha pecah "Aku nggak mau putus."
"Aku tahu."
"Kalau tahu kenapa kamu tetap begini?"
Deven menggeleng "Karena cinta doang nggak cukup."
Marcha menatapnya, tidak percaya "aku cuma mau kamu nunggu.Aku cuma minta waktu."
"Aku udah terlalu lama nunggu." Suara Deven akhirnya ikut bergetar untuk pertama kalinya malam itu. Deven menatap lampu merah di depan mereka lalu tersenyum pahit "Dan sekarang aku disuruh nunggu lagi."
Marcha tidak sanggup berkata apa-apa karena semua yang dikatakan Deven benar.
"Aku nggak mau menghabiskan hidupku untuk nunggu seseorang menikah sama aku." Suara Deven nyaris berbisik "Aku maunya hidup sama kamu bukan nunggu kamu."
Marcha menoleh ke arah jendela, dadanya terasa sesak.
"Putus ya putus." Deven kembali menatap jalan. "Nggak perlu kita debat lagi siapa yang cinta dan siapa yang nggak karena kita putus juga bukan karena nggak cinta."
Dan justru itulah yang paling menyakitkan.

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang