Looking for Love (Deven)

94 8 12
                                        

Deven menghela napas pelan sambil melirik jam di pergelangan tangannya. Sebentar lagi namanya akan dipanggil. Sebentar lagi Paris.
Dua bulan. Hampir dua bulan penuh ia memberi Marcha ruang—waktu untuk berpikir, bernapas, dan jujur pada dirinya sendiri. Apakah perpisahan memang yang mereka inginkan?Karena itu Deven memilih diam. Ia tak pernah menghubungi Marcha. Ia sengaja tak menyapa saat Marcha menelepon Ingvar, bahkan ketika ia sendiri sedang memeriksa kondisi papi. Ia juga meminta Kevin dan Ingvar untuk tidak mengatakan apa pun—bahwa sebenarnya amarahnya sudah reda.
Bukan karena ia tak terluka. Ia tidak marah karena Marcha memikirkan dirinya. Namun ada satu rasa yang tertinggal—kesal karena Marcha tidak mencoba menyelesaikan masalah bersama, melainkan memilih pergi.
Deven paham. Pekerjaan Marcha di Paris memang menumpuk. Itu fakta. Ia bahkan tahu detailnya dari Kevin—yang belakangan rutin nongkrong bareng Deven, Gogo, dan Friden, tiap minggu, live music di sebuah kafe Jakarta tapi tetap saja, pekerjaan itu bisa ditunda.
Sebagian memang sudah tertunda sejak lama. Marcha pulang ke Paris secara mendadak bukan karena kerjaan melainkan karena Shanna karena dirinya dan di situlah letak kesalnya. Semua ini bisa diselesaikan baik-baik. Tanpa perpisahan. Tanpa jarak ribuan kilometer.
Tentang Shanna—Deven sudah memutus semuanya. Bersih. Seperti dulu ia memutus Anneth. Ironisnya, hidup seolah memutar ulang luka lama. Deja vu yang tak ia minta. Bullying di media sosial kembali datang bertubi-tubi, hanya karena ia salah memilih perempuan yang nyaris menjadi teman hidupnya. Meski sudah tak ada hubungan, Shanna masih mencoba segala cara untuk menemuinya. Lewat Gogo. Friden. Kevin. Clarice. Anastasia bahkan rekan kerjanya di rumah sakit.
Tak satu pun berhasil. Semua tahu apa yang terjadi dan semua sepakat: melindungi Deven. Di balik semuanya, Deven tetap berharap—
Shanna tidak tenggelam lebih dalam oleh egonya sendiri. Bahwa ia bisa kembali menjadi Shanna yang dulu ia kenal saat SMA kalau Anneth bisa bangkit, Shanna pun seharusnya bisa.
Pengumuman penerbangan terdengar. Nama Deven dipanggil. Ia berdiri, menatap tiket di tangannya. Kini ia tahu dengan pasti— Marcha adalah perempuan paling tepat untuk mengisi hidupnya dan jika semesta memberinya satu kesempatan lagi untuk menjaga Marcha dan cintanya... Demi nyawanya,ia tak akan pernah melepaskannya lagi.

Esok harinya...
Deven tiba di Paris dengan mata setengah buka, hati setengah nekat. Ia dijemput oleh teman Kevin—karena, tentu saja, hidup Deven belakangan ini selalu diatur Kevin seperti itinerary klien pengacara: rapi, kejam, dan tanpa pilihan. Hotel penuh. Plan B: numpang di rumah teman Kevin.
Kevin juga sudah baik hati tapi kejam: kalau Deven dan Marcha balikan → hotel sudah dipesan. kalau tidak → tiket pulang PP sudah siap. Romantis? Tidak. Efisien? Sangat. Beberapa jam kemudian, jet lag belum sepenuhnya reda, Deven sudah berdiri di gedung kantor Marcha.
Bukan kantor pribadinya—tapi gedungnya. Tetap saja, megah dan bikin minder.
Masalah dimulai di meja resepsionis. Sekretaris Marcha—wanita bernama Deca—menatap Deven dengan ekspresi yakin tapi salah.
"Vous êtes... Monsieur Dupont?"
Deven berkedip. Dupont? Wajah oppa Korea begini dibilang Dupont?
Deven sudah menjelaskan berkali-kali, dengan bahasa Inggris, bahasa tubuh, bahkan hampir pakai bahasa isyarat bahwa namanya Deven, bukan Dupont tapi Deca tetap keukeuh.
"Madame tidak mengenal Monsieur Dupont," katanya sopan, dingin, dan keras kepala.
Deven hampir menyerah. Berurusan dengan Deca rasanya lebih sulit daripada ngobrol sama Indah medok di panti asuhan Budi-Lestari—dan itu pencapaian tersendiri. Tiga jam.
TIGA. JAM. Jet lag + deg-degan + cinta lama = paket kombo penderitaan.
Akhirnya Deca mengangguk kecil "Madame akan menemui Anda."
Deven hanya mengangguk lemas. Tidak ada energi untuk protes. Ia berdiri, melipat tangan di dada, mencoba menenangkan diri sambil menatap lukisan-lukisan di ruang tunggu—lukisan Marcha. Kacau. Indah. Berani. Persis pemiliknya Lalu—
"De-Deven..."
Suara itu. Deven menoleh. Marcha berdiri tak jauh darinya. Sweater hitam, jas putih, celana hitam, heels merah—heels merah itu.
Cantik. Terlalu cantik untuk seseorang yang baru saja menghancurkan hidupnya dua bulan lalu.
"Bonjour, Cha," sapa Deven, senyumnya muncul begitu saja.
"L-lo ngapain ke sini, Dev?" tanya Marcha refleks, pakai bahasa Indonesia.
"I'm looking for my love," jawab Deven tanpa mikir.
Marcha membelalakkan mata. Mendengus. Deca di belakang mereka jelas menahan tawa.
"You can laugh. It's fine," kata Deven santai ke Deca.
"Jangan gila, ya, Dev," kata Marcha setengah kesal sambil menarik lengan Deven menjauh.
Sayangnya, itu kesalahan. Deven justru membalas—menarik Marcha dan memeluknya erat.
"I miss you," bisiknya "I really miss you, my Cha."
Marcha sempat kaku. Tangannya terangkat seolah ingin mendorong tapi ia tidak melakukannya. Ia juga tidak membalas pelukan itu. Beberapa detik terasa seperti menit. Deven merasa hangat. Tenang. Seolah dunia berhenti sebentar. Akhirnya Deven melepaskan pelukan Ia menahan wajah Marcha dengan kedua tangannya, menatapnya penuh harap.
"Gue minta maaf."
"Minta maaf kenapa?" Marcha bingung.
"Karena kata-kata gue di telepon terakhir kita."
Marcha menurunkan tangan Deven dari pipinya dengan gerakan tegas "Lo bilang kita nggak perlu minta maaf lagi. Jadi buat apa lo ke sini?"
Deven terdiam.
"Dev," lanjut Marcha dingin, "meskipun lo datang ke sini, masalah kita nggak selesai. Kerja gue di sini. Kerja lo di Indo."
"Jangan pakai alasan itu lagi," potong Deven. "Gue tahu lo balik karena Shanna. Gue dengar rekamannya."
"Itu masa lalu," jawab Marcha cepat. "Masalah kita lebih dari itu."
"Gue bisa cari cara."
"Misalnya?" tantang Marcha.
"Kita menikah."
Hening. Marcha menatapnya, lalu tertawa kecil—tidak bahagia.
"Menikah bukan solusi. Setelah itu apa? Gue di Paris, lo di Indo?"
"Gue bisa ke sini."
"Gue nggak mau lo ngalah."
"Gue bisa tinggal di mana pun lo mau."
"Dev..." Marcha menghela napas. "Ini bukan cuma soal jarak atau kerjaan. Ada keluarga gue, ada—"
"Stop," potong Deven lembut tapi tegas. "Ini bukan soal berapa banyak masalah, tapi mau berjuang atau nggak."
"Kita nggak perlu nyoba. Kita sudah tahu hasilnya," jawab Marcha pelan.
Deven menatapnya lama. "Jadi ini keputusan lo?"
Marcha diam.
Deven mengangguk kecil "Oke. Gue ngerti." Ia menarik napas dalam-dalam "Gue balik ke Indo besok malam."
"Besok?" Marcha terkejut. "Lo datang kapan?"
"Tujuh jam lalu," jawab Deven, suaranya bergetar tapi ia paksa stabil "Gue ke sini cuma buat jawaban lo."
Marcha ingin bicara, tapi Deven lebih dulu tersenyum tipis.
"Good luck with your career and your dreams," katanya tulus "Goodbye, Cha."
Deven menatap Marcha untuk terakhir kalinya—menyimpan wajah itu baik-baik di ingatannya lalu ia berbalik. Melangkah pergi. Ia tidak menyesal datang ke Paris. Jawaban menyakitkan tetap lebih baik daripada harapan palsu dan Deven memilih menerima itu...dengan hati yang hancur, tapi jujur

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang