"Maksud Anneth apa sih ngomong di media kayak gitu?" tanya Marcha sambil menatap wajah Deven dari layar ponselnya.
Deven yang sedang rebahan di sofa langsung menghela napas panjang "Dia merasa bersalah, Cha," jawabnya. "Dia cuma ngakuin kalau yang bikin pertunangan aku sama Shannon batal itu memang dia."
"Ya, tapi menurut kamu Anneth gak punya maksud tertentu?" tanya Marcha lagi sambil menyipitkan mata. "Maksudku... kenapa tiba-tiba banget ngomong soal pertunangan kalian?"
Deven langsung duduk tegak "Cha..." katanya sambil mengerutkan kening. "Kamu gak mikir aku bakal balikan sama Shannon khan?"
Marcha mengangkat sebelah alisnya "Aku gak mikir ke sana kalau kamu gak ngomong ke arah sana."
Deven langsung bengong "Loh?" katanya bingung. "Maksud kamu apa ngomong gitu?"
"Aku cuma nanya," jawab Marcha santai sambil menyeruput kopi. "Kok kamu defensif banget?"
"Aku gak defensif," bantah Deven cepat. "Aku cuma takut kamu salah paham."
Marcha tertawa kecil melihat wajah Deven yang mulai panik sendiri.
"Dev..." katanya geli. "Aku cuma heran kenapa Anneth tiba-tiba klarifikasi segitunya ke media."
"Aku udah bilang, mungkin dia emang ngerasa bersalah," kata Deven. "Dan lagi... aku sama Shannon gak mungkin balikan."
"Kenapa gak mungkin?" tanya Marcha iseng.
Deven langsung melotot "Cha!"
Marcha malah makin tertawa "Kamu lucu kalau panik."
"Aku serius ini," gerutu Deven. "Keluargaku gak akan bisa nerima Shannon karena hubungan keluarganya sama Anneth dan aku juga udah gak punya perasaan kayak dulu."
Marcha terdiam sebentar lalu mengangguk pelan "Ya... tapi Shannon itu cewek baik, Dev."
"Terus kenapa kalau dia cewek baik?" tanya Deven pasrah. "Jangan dorong-dorong aku ke Shannon dong. Ntar ujung-ujungnya kamu ngajak aku tengkar lagi."
Marcha langsung mengerutkan hidungnya kesal "Aku tuh dari tadi cuma nanya."
"Iya, iya..." kata Deven cepat sambil mengangkat kedua tangannya menyerah. "Aku cuma gak mau kamu mikir aneh-aneh."
"Aku gak mikir aneh-aneh kok."
"Bagus," kata Deven lega. "Karena sayangku cuma buat kamu."
Marcha tertawa pelan sambil menggelengkan kepala "Gombal."
"Tapi efektif khan?" tanya Deven nyengir.
"Sedikit."
"Nah berarti berhasil."
Marcha kembali tertawa sebelum akhirnya bersandar nyaman di kursinya "Kamu lagi apa sekarang?" tanyanya.
"Lagi gak ngapa-ngapain," jawab Deven santai. "Mungkin bentar lagi mau ke supermarket beli makanan. Isi kulkas habis."
Marcha langsung mengangguk pelan sambil tersenyum kecil "Rajin masak ternyata."
"Bukan aku," kata Deven cepat. "Gogo sama anak-anak sering numpang makan di apartku. Mereka main PS di sini."
"Kamu main juga?" tanya Marcha sambil menyipitkan mata curiga.
"Kadang," jawab Deven santai. "Yang sering main itu Gogo sama Iden. Kevin aja jarang."
"Ow..." Marcha tertawa kecil. "Pengacaraku juga nongkrong di apart kamu ternyata."
"Kamu bikin dia kerja rodi tau gak," kata Deven sambil tertawa. "Kevin sekarang udah jarang keliatan santai."
"Apaan aku kasih banyak kerjaan?" bantah Marcha. "Sekarang malah udah mulai aku kurangin beberapa bisnis."
Senyum Deven perlahan memudar "Kenapa?"
Marcha terlihat bingung "Apa yang kenapa?"
"Kenapa kamu kurangin bisnis?"
Marcha terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab pelan "Kalau kita nikah nanti... aku gak mau hidupku cuma bolak-balik Eropa, Amerika, Indonesia terus."
Deven langsung memperhatikan wajah Marcha serius.
"Aku juga gak mau terlalu sibuk sampai gak punya waktu buat nemenin kamu," lanjut Marcha sambil tersenyum kecil. "Makanya beberapa bisnis mulai aku lepas."
Beberapa detik Deven cuma diam lalu—
"Jadi kamu setuju nikah sama aku?"
Marcha langsung tertawa geli.
"Aku setuju dari dulu kali," katanya. "Cincinnya aja masih kamu simpan."
Wajah Deven langsung berubah cerah kayak anak kecil dikasih PS baru "Kita ketemu nanti," katanya cepat penuh semangat. "Aku bakal langsung pasangin cincin itu ke jari kamu. Gak boleh nolak."
Mata Marcha ikut berbinar "Ya, tunggu kita ketemu dulu."
"Serius ya?"
"Serius."
"Janji?"
"Dev..." Marcha tertawa. "Kamu kayak bocah TK minta validasi."
"Aku takut kamu berubah pikiran."
"Aku yang harus takut," balas Marcha cepat. "Kamu tiap hari dikelilingi mantan."
"HAH?" Deven langsung duduk tegak. "Aku tuh setia!"
Marcha ngakak melihat ekspresi panik Deven dan tepat saat itu terdengar ketukan di pintu kamar hotelnya.
Marcha menoleh sekilas "Eh Dev, aku harus meeting dulu," katanya sambil berdiri. "Nanti telepon lagi ya."
"Hm... okay," jawab Deven sambil tersenyum lembut. "Jangan lupa makan."
"Kamu juga."
"Dadah sayang."
"Dadah sayang."
Marcha mematikan panggilan itu dengan senyum kecil yang masih tersisa di wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanficBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
