Perawat gadungan (Deven)

76 10 6
                                        

Ding dong.
Bel pintu apartemen berbunyi. Deven yang setengah tewas setengah hidup di atas kasur langsung mengernyit, siapa sih siang bolong gini bel-bel apartemen orang? Ini apartemen, bukan warteg, ia terbatuk pelan, bangkit dengan langkah malas lalu membuka pintu.
Tiga wajah familiar langsung nongol.
"Ngapain kalian ke sini?" tanya Deven datar menatap Gogo, Friden, dan Kevin yang berdiri berjejer kayak mau foto buku tahunan.
"Marcha nelpon," kata Kevin sambil mengangkat plastik besar dari baunya saja Deven sudah tahu—makanan. "Maksa kita ke apartemen lo buat jagain lo."
"Katanya lo sakit," timpal Gogo. "Gue sama Friden khawatir jadi kita beliin obat."
"Gue udah punya obat," kata Deven sambil geser badan, memberi jalan mereka masuk. "Tapi thanks, Vin, gue emang belum makan."
"Harusnya lo bilang terima kasih sama kite juga dong, Pon," kata Gogo sambil langsung duduk di kursi makan. "Lo tau gak berapa lama perjalanan dari Bekasi ke sini?"
"Iya, iya. Thanks, Go," jawab Deven malas. "Marcha emang bener-bener nih cewek."
"Emang apa?" Kevin nyengir sambil membuka nasi kotak. "Emang cinta?"
"Eh, Vin," Friden nyelutuk, "orang sakit lo kasih nasi kotak? Bisa diceramahin Marcha lo, pct kesayangan dikasih makanan nggak bergizi."
"Enak aja nggak bergizi!" Kevin langsung tersinggung. "Nasi kotak ini mahal, guys, gue pesen dari keluarga gue, khusus buat orang sakit."
"Nasi kotak... buat orang sakit?" Gogo mengernyit. "Gue baru denger ada versi begitu."
"Iya. Lauknya mirip kayak di rumah sakit," jawab Kevin bangga.
"Wah," Friden ketawa. "Alamatnya nggak enak, Pon secara lo tiap hari makan kantin rumah sakit."
"Apaan sih lo, Den?" Kevin langsung mukul lengan Friden. "Ngomong muter-muter."
"Intinya," Gogo nyengir licik, "Marcha pasti marah liat pacarnya dikasih nasi kotak."
Gogo langsung angkat HP "Nih ya, gue telepon Marcha—"
Belum selesai ngomong, Deven langsung berdiri dan meraih tangan Gogo.
"Jangan macem-macem, Go," katanya serius. "Cha lagi tidur jarang dia istirahat, lo telepon cuma gara-gara nasi kotak, gue nggak suka."
Kevin dan Friden langsung ngakak.
"Kalau lo pikir cuma Marcha yang bucin sama Deven, lo salah," kata Kevin. "Ini satu lagi korban cinta."
"Terserah mau bilang apa," Deven duduk di depan nasi kotak. "Yang penting jangan gangguin Cha-Cha."
KLIK.
Deven menoleh. Gogo lagi senyum sambil megang HP.
"Gue kirim ke Marcha," kata Gogo polos.
"Apa?!" Deven langsung berdiri dan ngejar. "Hapus, Go!"
"Udah kekirim, Dev," jawab Gogo sambil lari kecil.
"Nggak lucu!" bentak Deven.
Belum sempat Gogo buka chat, HP-nya berdering.
"Marcha yang nelepon," kata Gogo dengan alis terangkat.
Semua langsung diam. Gogo angkat dan nyalain speaker.
"H-hallo..."
"KALIAN APA-APAAN NGASIH MAKAN DEVEN NASI KOTAK?" suara Marcha meledak dari speaker. "SIAPA YANG BELI?!"
"Ke... Kevin," jawab Gogo gemetar sambil menoleh ke arah Kevin.
"Go. Kasih teleponnya ke Kevin," perintah Marcha dingin.
Gogo mau ngasih tapi Deven keburu nyamber HP.
"Cha," kata Deven cepat. "Tadi kamu bilang mau tidur."
"KAMU JANGAN MAKAN NASI KOTAK ITU," kata Marcha. "Aku nyuruh Kevin beliin kamu makanan bergizi!"
"Nasi kotaknya bergizi, Cha, keluarga gue yang bikin," teriak Kevin dari belakang.
"Udah, jangan marah sama Kevin," Deven buru-buru. "Udah bagus dia bawain aku makanan, nasi kotak juga makanan—"
"Tapi kamu sakit!"
"Aku sakit, bukan kerasukan," jawab Deven santai. "Aku dokter, aku tau gizi dan lagi tadi kamu tadi bilang mau tidur, katanya nurut?"
"Aku tidur setelah tau Gogo, Kevin, sama Iden ke apartemen kamu," bela Marcha.
"Cha, mereka temenku," Deven melembut. "Jangan kamu suruh-suruh jagain aku, mereka khan juga kerja."
"Tapi—"
"Nggak ada tapi," potong Deven sambil nyengir. "Tapi thanks ya... udah kirim tiga perawat gadungan."
Marcha ketawa.
Kevin langsung nyolek bahu Deven. "Sialan. Kita dibilang perawat gadungan."
"VIN! Jangan dorong Deven! Dia lagi sakit!" bentak Marcha.
"Pelan juga, Cha!" Kevin membela diri.
"Makanya pulang!" kata Gogo. "Kalau nggak mau Deven kita siksa."
"Gue lagi usaha secepat mungkin pulang, Go," jawab Marcha.
"Udah, udah," Deven ketawa. "Nanti kita ngobrol lagi. Kamu tidur sana."
"Kamu makan, minum obat, terus tidur!" Marcha cerewet. "Go, Den, Vin—jagain boyfriend gue, awas aja besok belum sembuh!"
Ketiganya saling pandang.
"Tadi perawat gadungan," gumam Friden. "Sekarang dokter magic, Ini dua orang emang cocok,"
Semua tertawa.
"Ya udah," kata Deven. "Besok kita ngobrol lagi. Biar gue dijagain perawat rangkap dokter."
"Bye, Dep."
"Bye, Cha."
Telepon ditutup. Deven menghela napas—lalu tersenyum kecil, sambil duduk kembali di depan nasi kotak yang sekarang rasanya...
agak lebih manis dari biasanya.
"Iri banget gue sama lo, Pon," kata Friden sambil selonjoran. "Marcha segitunya sama elo. Joa aja kalau gue sakit cuma nengok doang, nggak pake nyuruh orang serumah buat ngerawat."
"Itu karena Klepon masih baru pacarannya, Den," sahut Gogo santai. "Lo sama Joa udah lama."
"Apaan baru?" Friden langsung duduk. "Waktu SMA dulu mereka pacaran, tau!"
"Iya, tapi sempat putus," Kevin nimbrung. "Yang putus nggak bisa dihitung dong."
"Btw," Gogo mencondongkan badan ke arah Deven, "lo sama Marcha serius kan, bro? Kapan nikah?"
Deven yang lagi asyik makan langsung tersedak. Uhuk!, ia menepuk dada, menatap Gogo dengan wajah kaget setengah mati.
"Pertunangan gue aja baru batal," kata Deven datar tapi pedas. "Lo pikir apa kata orang-orang kalau gue nikah sekarang sama Marcha, Go?"
"Ngapain peduli kata orang?" Friden mengangkat bahu. "Kalau cinta ya nikah."
"Lah," Deven balik nyerang. "Jangan ngomongin gue doang, lo sendiri sama Joa kapan, Den? Terus lo juga, Go?"
"Waktunya belum tepat," jawab Friden. "Masih ada beberapa masalah."
"Iya," Gogo ikut-ikutan. "Sama."
"Nah," kata Deven sambil melirik Kevin. "Yang nggak ada kabar justru si Kevin. Lo gimana, Vin? Shanna, kan?"
Kevin terdiam. Matanya sekilas menatap Deven—dan Deven langsung paham, itu topik sensitif.
"Ya... tapi Shannon kan mantan tunangan lo," kata Kevin ragu. "Gue—"
"Vin," potong Deven cepat. "Kalau lo tulus, jangan lihat gue. Shannon memang mantan gue, tapi dia cewek baik. Kita nggak bareng bukan karena ada masalah." Deven menatap Kevin serius. "Kalau lo suka, kejar. Kebahagiaan itu bukan ditungguin—dikejar dan diusahain. Nggak bakal ada yang ngejarin kebahagiaan lo selain diri lo sendiri."
Kevin tersenyum lebar, lalu menepuk pundak Deven. "Thanks, bro."
"Lo perlu bantuan kita nggak, Vin?" tanya Friden antusias.
"Wait," Gogo mengangkat tangan. "Kita? Yang lo maksud kita siapa, Den?"
"Go," Friden berkacak pinggang. "Sebagai sahabat yang baik, kita itu harus saling tolong-menolong apalagi kalau sahabat kita lagi kesusahan."
Kevin tertawa. "Gue tau niat kalian baik, tapi gue lebih milih ngejar Shanna sendiri kalau dibantuin kalian, yang ada dia ngira gue bercanda."
Deven nyengir sambil mengacungkan jempol. "Gue yakin Shanna bakal luluh sama ketulusan lo, Vin."
Kevin makin sumringah, ia berjalan ke ruang tamu dan menyalakan TV sementara Deven kembali fokus menghabiskan nasi kotaknya. Gogo dan Friden mulai ngobrol ngalor-ngidul soal musik—lagu baru yang Gogo rilis, penyanyi pendatang baru, chart hits Indonesia yang lagi rame. Deven cuma dengerin sambil sesekali mengangguk, musik bukan lagi dunianya tapi lagu-lagu sahabatnya tetap ia dengarkan.
Setelah makan, Deven bangkit, tubuhnya masih lemas, niatnya cuma satu: balik tidur namun langkahnya terhenti dari TV, terdengar acara gosip.
"Putus sama Betrand, tidak disetujui orang tua," baca presenter.
Kevin mengernyit. "Hah?"
"Betrand cowok baik kok," kata Gogo. "Gue pernah collab beberapa kali sama dia, kenapa nggak disetujuin, ya?"
"Mungkin ada hubungannya sama Klepon," celetuk Friden.
"Enak aja," Deven langsung mendengus. "Gue lagi, gue lagi, gue udah nggak ada urusan sama mantan—apalagi Anneth. Bodoh amat."
Ia berbalik dan masuk ke kamar, menutup pintu tapi...benarkah semua kehebohan di medsos dan TV soal Anneth itu tak ada hubungannya dengan Deven? atau justru...ada sesuatu yang belum benar-benar selesai?

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang