Marcha nggak nyangka... Dia bisa ketawa segitu lepasnya lagi bareng Shanna, rasanya kayak balik ke masa SMA—masa di mana mereka bisa bahas apa aja, dari hal penting sampai hal yang... nggak penting sama sekali tapi tetap diperdebatkan.
Shanna masih sama, cara mikirnya, cara liat sesuatu... beda dari orang lain dan entah kenapa, itu selalu nyambung sama Marcha yang tadinya dia takut bakal canggung... ternyata nol besar, nggak ada kikuk, nggak ada awkward, yang ada malah... terlalu nyaman.
Setelah makan dan ngobrol panjang—yang harusnya satu jam jadi tiga jam—mereka lanjut ke Plaza Senayan karena ya...nggak afdol kalau ketemu sahabat lama tapi nggak belanja, buat Marcha...nggak ada yang bisa ganti posisi Shanna di hatinya bahkan selera fashion mereka aja masih sinkron kalau yang satu bilang "jelek," yang satu langsung, "iya anjir, jelek banget." kalau satu bilang "ini lucu," yang satu langsung, "ambil dua."
"Iya, bentar lagi lo ulang tahun kan, Cha?" tanya Shanna sambil ngangkat dress ke arah tubuhnya, ngaca.
"Iya," jawab Marcha santai.
"Gak ada party?" tanya Shanna.
Marcha langsung ketawa. "Umur berapa gue bikin party, Shan? Sweet seventeen ulang-ulang?"
"Ya siapa tau lo bikin 'CEO party' gitu. Isinya orang-orang pake jas, tapi rebutan mic karaoke," kata Shanna.
Marcha langsung ketawa makin kenceng. "Bayangin bokap gue nyanyi dangdut... gue diusir dari keluarga."
Shanna ngakak. "Worth it sih."
"Enggak lah," kata Marcha sambil geleng-geleng. "Gue ada rencana sama Deven."
Shanna langsung nyengir. "Ouw... ternyata kencan."
Marcha ikut senyum, tapi agak ragu. "Eh Shan... gue kalau cerita soal Deven gini... lo nggak apa-apa kan?"
Shanna langsung santai. "Nggak apa, Cha. Kita anggap aja nostalgia masa SMA."
Marcha masih kelihatan mikir. "Ya tapi dulu kan lo belum sama Deven... sama belum ada kejadian kemarin juga..."
Shanna nyengir kecil. "Gue ngerti kok. Tenang aja, gue udah nggak apa-apa."
Dia bahu-bahuin santai. "Udah hampir setahun juga kan sejak gagal tunangan gue sama Deven. Masa gue masih nangis tiap malam? Capek, Cha."
Marcha ketawa kecil, lega. "Move on ya berarti?"
Shanna langsung nyengir licik. "Hmm... ada yang nungguin gue dari SMA."
Marcha langsung ngakak. "Wah, beruntung banget itu pengacara gue dapet cewek kayak lo."
"Bisa aja lo," kata Shanna sambil ketawa. "Eh, tapi serius... ulang tahun lo nanti sama Deven ngapain?"
"Dinner," jawab Marcha santai, tapi senyumnya keliatan beda. "Dia udah siapin tempat."
"Dinner doang?" Shanna langsung nyipit.
"Candle light dinner," kata Marcha.
Shanna langsung drama. "Ih romantis banget, iri banget gue."
Marcha ketawa. "Eh tapi bukan di restoran."
"Lah terus?"
"Di apartemen Deven, dia yang masak."
Shanna langsung berhenti jalan. "Bentar."
Marcha ikut berhenti. "Kenapa?"
"Ini cowok-cowok sekarang kenapa sih pada hobi masak?" tanya Shanna serius.
Marcha bingung. "Maksud lo?"
"Minggu lalu Kevin ngajak gue jalan, gue pikir bakalan mau diajak makan fancy... ternyata gue diajak LES MASAK."
Marcha langsung ngakak. "Kevin?!"
"Iya! Dan dia serius banget, Cha. Gue salah potong bawang aja dia kayak hakim sidang."
Marcha sambil ketawa pegang perut. "Gue baru tau Kevin bisa masak."
"Bisa... tapi juga bisa bikin trauma," kata Shanna.
Mereka berdua ketawa bareng.
Lalu Shanna tiba-tiba melirik. "Eh Cha... gue mau nanya deh."
"Hm?"
"Lo sama Kevin sekarang deket banget ya? Dulu kan nggak segitunya."
Marcha mikir sebentar, lalu jawab santai. "Gue deket karena dia pengacara gue, Shan. Dia bantuin gue urus banyak hal—legal, bisnis... ribet lah pokoknya, dia pinter."
Shanna langsung nyengir. "Oh, gue tau dia pinter."
Marcha melirik. "Nada lo kenapa aneh gitu?"
"Enggak kok," kata Shanna cepat sambil senyum lebar yang mencurigakan.
Dan setelah itu...obrolan mereka ngalir lagi dari satu topik ke topik lain, dari serius ke receh, dari bisnis ke gosip sampai ketawa mereka nggak berhenti bahkan... Marcha sampai lupa ngabarin Deven sangking asyiknya ngobrol dan shopping sama Shanna kalau Deven tau mungkin dia bakal kalah saing sama diskon 70%
Akhirnya tiba... Hari ulang tahun Marcha.
Marcha berdiri di depan cermin, mengenakan gaun ungu-pink dari koleksi terbarunya sendiri. Elegan. Anggun dan... sedikit bikin deg-degan, dia memiringkan kepala, memperhatikan dirinya sendiri.
"Deven bakal suka nggak ya..." gumamnya pelan.
Sudah dua hari mereka nggak ketemu padahal sama-sama di Indonesia dan itu cukup buat Deven... sedikit merajuk, Marcha menghela napas pelan.
"Jangan sampai dia ngambek beneran deh..."
Tok tok tok.
"Ya?" sahut Marcha.
"Non, ada Mas Deven di bawah," kata pembantu dari balik pintu.
Marcha langsung menoleh cepat. "Hah? Bukannya aku yang ke sana?"
"Iya non... tapi dia sudah di ruang tamu."
Marcha menutup mata sebentar "Ya ampun, ini orang... Iya mbak, bilangin lima menit lagi aku turun ya."
"Iya non."
Begitu pintu tertutup, Marcha langsung buru-buru ambil lipstick.
"Dateng duluan lagi... niat banget sih."
Dia memoleskan lipstick merah, lalu menatap cermin sekali lagi.
"Okay... semoga dia nggak pingsan."
⸻
Marcha turun dari tangga dan langsung melihat...Deven lagi duduk santai di sofa, ketawa bareng papinya, mereka kelihatan akrab banget. Marcha berhenti sebentar di tangga dan di saat itu...Deven menoleh.
Tatapan mereka bertemu dan...Deven langsung diam serasa waktu di dunia sedang pause, matanya mengikuti setiap langkah Marcha turun, pelan, nggak berkedip.
"Cha..." suara Deven pelan.
Marcha berhenti di depannya. "Ya, Dev?"
Deven membuka mulut lalu menutup lagi.
"Mau ngomong apa sih?" alis Marcha naik.
"Happy birthday," kata Deven akhirnya... tapi matanya masih nggak lepas dari Marcha.
Marcha ketawa kecil. "Makasih, Dev."
Deven mendekat, menggenggam tangannya. "Ayo, kita pergi."
Marcha menoleh ke arah papinya. "Pi, Marcha pergi dulu ya."
"Om, saya juga pamit," kata Deven sopan.
"Hati-hati ya, jangan pulang malam-malam," kata papi.
"Tenang om," kata Deven santai. "Saya juga pengen tidur."
Marcha melirik. "Oh gitu? Gue kira mau begadang romantis."
"Boleh juga," bisik Deven.
Marcha langsung nyengir.
⸻
Apartemen Deven
Begitu pintu dibuka—Marcha langsung berhenti.
"Dev..."
Seluruh ruangan dipenuhi lilin, bukan cuma meja makan tapi... seluruh ruangan, di meja, kelopak mawar merah tersusun membentuk hati dan di tengahnya tertulis: bon anniversaire mon cher
Marcha menatap itu... lalu menatap Deven, senyumnya nggak bisa ditahan.
"Gak perlu pake bahasa Prancis juga kali," katanya nyengir.
"Hari ini spesial," kata Deven pelan. "Semuanya harus spesial."
Marcha menatap dia lebih lembut. "Kamu aja udah spesial."
Deven langsung menarik pinggang Marcha mendekat sampai jarak mereka cuma beberapa cm.
"Aku cuma mau kamu bahagia," bisik Deven.
Lalu—dia mencium Marcha.
Marcha langsung melingkarkan tangan di lehernya... membalas.
Hangat.
Lembut.
dan... bikin lupa dunia.
Di antara cahaya lilin... segala sesuatu terasa sempurna sampai akhirnya Deven melepaskan ciuman itu perlahan.
"Kita... lakukan sesuatu dulu sebelum makan," katanya sambil senyum.
Marcha masih agak terengah. "Ap-apa?"
Deven cuma nyengir, dia ambil HP.
Klik.
Musik mulai mengalun, lagu lama dan lagu yang sangat familiar.
"Ini..." kata Marcha pelan.
"Please dance with me," kata Deven.
Marcha menatapnya, mata Deven berbinar dan dia... nggak bisa nolak.
"Gak apa-apa," kata Marcha pelan. "Aku cuma mau sama kamu... nikmatin semua ini. Aku bahagia."
Mereka mulai berdansa, pelan dan Marcha menyandarkan kepalanya di dada Deven.
"Tau nggak... lagu ini yang aku rasain waktu lihat kamu di tangga tadi," kata Deven.
Marcha mengangkat wajah. "Wonderful tonight?"
Deven tersenyum. "You're wonderful tonight."
Marcha ketawa kecil, dia menatap Deven... lama.
"Kamu bikin ulang tahun aku... lebih indah dari semua pesta yang pernah aku punya," katanya pelan. "Nanti kalau kamu ulang tahun... aku harus ngapain ya biar bisa ngalahin ini?"
Deven tersenyum. "Aku nggak mau apa-apa."
Marcha mengernyit. "Serius?"
"Aku cuma mau kamu ada di samping aku," kata Deven. "Lihat kamu, denger kamu ketawa... itu udah cukup."
Marcha tersenyum hangat. "Aku bakal ada" dia mendekat sedikit. "I love you, my King."
Deven tertawa pelan. "I love you too, my Queen."
Dan dia mencium Marcha lagi, kali ini... lebih lembut.
Setelah lagu selesai... Mereka duduk di meja makan. Steak dan aromanya... luar biasa. Marcha langsung mencicipi.
Matanya langsung membesar. "Dev... ini... ini enak banget."
"Of course," kata Deven pede.
"Kamu belajar ya?" tanya Marcha.
"Gue tanya Ingvar," jawab Deven santai. "Biar nggak salah rasa."
Marcha ketawa kecil. "Kamu tuh... aku sampai nggak bisa ngomong. Perfect banget sih."
Deven nyengir lalu...dia mengambil sesuatu dari sakunya, sebuah kotak kecil.
"Ini... hadiah ulang tahun."
Marcha kaget. "Masih ada?"
"Harus ada," kata Deven santai.
"Boleh aku buka?"
"Aku nunggu dari tadi."
Marcha membuka kotak itu dan... dia membeku.
Cincin.
Marcha langsung menatap Deven—yang tiba-tiba sudah berdiri lalu...berlutut di depannya.
"Dev..." suara Marcha hampir hilang.
Deven menggenggam tangannya lembut.
"Aku tau ini ulang tahun kamu," katanya pelan. "Harusnya cuma tentang kamu." dia menarik napas. "Tapi... aku mikir. Ulang tahun itu berulang... tapi hidup nggak."
Marcha menatap dia, matanya mulai berkaca-kaca.
"Sejak kamu balik ke Indonesia... aku tau aku nggak akan bisa menjauh dari kamu," lanjut Deven. "Kamu satu-satunya orang yang bikin aku ngerasain bahagia... lebih dari yang pernah aku bayangin." dia tersenyum. "Jadi, Cha..."
Marcha menahan napas.
"Kalau kamu izinin... aku mau habisin masa depan aku sama kamu."
Deven membuka cincin itu.
"Marcha Sharapova Rusli..." dia menatap langsung ke mata Marcha. "Will you marry me?"
Marcha terdiam, jantungnya berdegup kencang, Ini... benar-benar terjadi di hari ulang tahunnya dan dia... sama sekali nggak menyangka, matanya menatap Deven—yang masih berlutut...menunggu jawabannya...
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanfictionBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
