Comeback Friends (Shanna)

58 7 2
                                        

Kevin mengangguk pelan sementara itu, Shanna cuma diam... matanya fokus ke layar HP di tangannya, jempolnya nggak langsung bergerak... dia ragu, dia nggak tau ini keputusan terbaik atau bukan... tapi satu hal yang dia tau, dia capek ngerasa sendirian. Kehilangan itu... berisik banget mungkin dia nggak benar-benar kehilangan Marcha tapi minta maaf ke Marcha... mungkin itu satu-satunya pintu yang masih kebuka.
Shanna menarik napas panjang lalu akhirnya ngetik.
Shanna :
Cha, lo kapan ada waktu? Ngafe yuk.
Begitu pesan terkirim, Shanna langsung merem.
"Anjir... ini kayak kirim lamaran kerja," gumamnya pelan.
Kevin yang di sampingnya langsung nahan ketawa.
Beberapa detik... Sunyi. Beberapa detik lagi... Masih belum ada balasan, Shanna mulai gelisah, kakinya goyang-goyang sendiri.
Kevin akhirnya nepuk pundaknya. "Tenang aja. Gue yakin Marcha bales."
Dan... ting!
HP Shanna bunyi, dialangsung buka cepat.
Marcha :
ya Shan, sama Deven & Kevin khan? mau kapan?
Shanna langsung menoleh ke Kevin dengan ekspresi datar tapi tajam. "Kalian nggak kasih tau Marcha?"
Kevin langsung salah tingkah. "Ehm... kayaknya Deven lupa..."
"Lupa atau pura-pura lupa?" tanya Shanna curiga.
Kevin pura-pura batuk. "Batuk... komunikasi... batuk... kurang lancar..."
Shanna menggeleng pelan, lalu kembali ngetik.
Shanna :
mereka nggak ikut Cha, katanya sih sibuk
Nggak lama, balasan datang lagi.
Marcha :
oh, nanti coba aku tanya Deven... mau kapan Shan? dimana?
Shanna langsung jawab detail—hari, jam, tempat—semuanya, beberapa detik kemudian—
Marcha :
okay, see you Shan 👍
Shanna menatap layar HP-nya agak lama lalu pelan-pelan... dia senyum.
"Udah," katanya singkat tapi ekspresinya beda, ada lega, ada senang kayak baru lolos dari sesuatu yang dia takutin.
Kevin langsung nyengir lebar. "Gue harap semuanya berjalan lancar."
Shanna melirik dia. "Lo kayak doain gue mau ujian aja."
Kevin langsung jawab cepat, "Ujian kehidupan."
Shanna mendengus kecil. "Drama banget sih lo."
Kevin ketawa pelan. "So... sekarang kita kemana?"
Shanna langsung berdiri, ambil tasnya, lalu nyengir. "Surprise me."
Kevin ikut berdiri, senyumnya makin lebar. "Hati-hati lo. Bisa-bisa lo jatuh cinta sama gue."
Shanna langsung ketawa. "Tenang aja. Standar gue masih tinggi."
"Wah, ditolak sebelum nembak," gumam Kevin.
Mereka berdua akhirnya keluar dari rumah Shanna dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama... Langkah Shanna terasa sedikit lebih ringan, Kevin... jelas beda jauh sama Deven kalau Deven biasanya ngajak ke mall—nonton, jalan, makan—Kevin malah...bikin Shanna bengong di depan dapur.
"Lo nggak salah ngajak gue... masak, Vin?" tanya Shanna sambil ketawa, masih nggak percaya.
Kevin santai banget pakai apron, bahkan sempet benerin lipatan di dadanya kayak chef profesional dadakan. "Nggak lah. Emangnya lo jarang masak di rumah?"
Shanna langsung mendengus. "Enak aja. Gue kalau lagi nggak ada job bantuin mama gue masak, ya."
Kevin langsung nyengir. "Bagus berarti kita bisa tanding."
"HAH? Tanding?"
"Iya. Kita lihat siapa yang masakannya lebih enak."
Shanna langsung ketawa. "Anjir... jadi inget waktu SMA, pelajaran tata boga. Kita bikin brownies."
Kevin langsung angguk-angguk. "Iya, gue inget."
Shanna masih ketawa. "Gue masih inget brownies lo gosong di tengah tapi keras di pinggir."
Kevin langsung nyengir tipis. "Dan gue juga inget... lo nolak gue."
Shanna langsung berhenti ketawa. "Vin... jangan diangkat lagi dong bagian itu."
"Ya gue bukan mau lo inget yang jelek," kata Kevin santai. "Cuma sekarang kalau inget hari itu... lucu kan?"
Shanna menatap dia beberapa detik, lalu tiba-tiba ketawa lagi. "Iya sih... konyol banget kalau dipikir sekarang."
Kevin langsung pede. "Nah kan. Dulu gue culun. Sekarang beda."
Shanna melirik dia dari atas sampai bawah. "Hmm... masih sama aja sih."
"Eh!" Kevin protes. "Gantengan yang sekarang, ya. Upgrade. Versi premium."
Dia bahkan sempet ngedip satu mata.
Shanna langsung ketawa. "Gue nggak bisa debat sama kenarsisan elo."
"Udah, udah. Masak aja," kata Kevin sambil tepuk tangan kecil. "Buktikan skill lo."
Hari itu... nggak bisa dibilang kencan masih terlalu santai. Terlalu... "teman" tapi justru itu yang bikin Shanna nyaman, Kevin selalu ada, nggak cuma pas senang, tapi juga pas dia lagi jatuh-jatuhnya bahkan waktu hampir semua orang menjauh karena kesalahan yang dia buat...Kevin tetap di situ, nggak pergi dan itu... bikin hati Shanna hangat tapi... cukup nggak ya? Buat jadi pasangan hidup? Setelah hubungannya sama Deven gagal... Shanna jadi lebih hati-hati, Kevin itu pengacara, dunia dia abu-abu—di antara hitam dan putih sedangkan Shanna selalu ada di sisi putih dan dia nggak yakin bisa berdiri di abu-abu... apalagi sampai jatuh ke hitam meskipun... sejak kenal Anneth, sepupunya... dia sadar, bahkan dunia yang terlihat "putih" pun kadang nggak sebersih itu.
"Hei! Ngelamun aja lo!" suara Kevin bikin Shanna balik ke dunia nyata. "Itu bisa gosong, woi!"
"Baru juga gue masukin panci, Vin," kata Shanna santai.
"Ya tapi jangan bengong. Masak itu butuh konsentrasi, ini bukan lagi nonton sinetron," kata Kevin cerewet.
Shanna langsung melirik. "Lo tuh cerewet karena lo pengacara... atau emang dari lahir udah gitu?"
Kevin langsung balik tanya. "Menurut lo?"
Shanna ketawa. "Dari lahir."
"Ya udah sana, fokus masak. Awas ya lo kalah," kata Kevin.
Shanna langsung berhenti. "Lah? Kok gue yang diancem kalah? Harusnya kan awas gue menang?"
Kevin santai sambil motong bawang. "Gue pengen punya istri yang jago masak jadi lo nggak boleh kalah."
Shanna langsung nengok tajam. "Emang gue pernah bilang mau jadi istri lo?"
Kevin tanpa ragu jawab, "Belum. Tapi buat gue... lo calon."
Hening, Satu detik. Dua detik
Shanna cuma nyengir geli sambil geleng-geleng kepala. "PD banget ya."
"Percaya diri itu penting," kata Kevin santai.
Shanna akhirnya balik fokus ke masak tapi kali ini sambil senyum kecil yang susah dia sembunyikan.
Hasilnya... Shanna menang tapi... dia menyipitkan mata ke arah Kevin.
"Vin," katanya pelan.
"Hm?" Kevin pura-pura sibuk nyicip makanannya sendiri.
"Lo sengaja kalah ya?"
Kevin langsung menoleh cepat. "Hah? Nggak lah. Ini namanya strategi kuliner."
Shanna mengangkat alis. "Strategi apaan? Masukin garam satu toples?"
Kevin batuk kecil. "Sedikit berlebihan sih..."
Shanna menatap dia, lalu ketawa pelan. "Padahal tadi chef-nya udah bilang masakan lo enak."
Kevin cuma nyengir. "Ya... gue kan nggak mau ngalahin tamu."
"Gue tamu?" Shanna langsung ketawa. "Ini rumah siapa sih?"
"Detail kecil," kata Kevin santai.
Shanna menggeleng pelan, tapi senyumnya nggak hilang, kencan—atau apapun ini—berasa beda kalau sama Deven... semuanya terasa intense sedangkan kalau sama Kevin...ringan, hangat dan... sedikit bodoh tapi sangat menyenangkan.

Hari yang ditunggu akhirnya datang, hari Shanna ketemu berdua sama Marcha, seharian tadi, Shanna gelisah, bukan gelisah biasa, dia bahkan sempat latihan ngomong di depan kaca.
"Cha, gue minta maaf—"
"Cha, gue tuh—"
"Cha, kita—"
Ujung-ujungnya dia malah bilang ke kaca, "Yaelah, lebay banget sih lo."
Sekarang... dia duduk di café favorit mereka waktu SMA dulu, tempat yang penuh kenangan...Es krim favorit Marcha, tempat mereka dulu ketawa, curhat, nangis... bahkan ngerjain PR sambil panik. Shanna menatap keluar jendela.
Lalu... dia melihatnya, kaki jenjang turun dari mobil, sepatu heels putih dengan detail diamond yang bahkan dari jauh udah kelihatan mahal.
Shanna langsung tau, itu Marcha dan benar saja. Marcha muncul dengan jas biru tua cerah, dipadukan kaos hitam dan celana senada.
Elegan.
Cantik.
Terlalu... sempurna.
Cocok banget jadi istri dokter terbaik di Indonesia, pikir Shanna, sedikit muram.
Dari luar, Marcha melambaikan tangan dengan senyum lebar, masih sama, hangat, nggak berubah, Marcha lalu masuk dengan langkah cepat.
"Hei! Udah lama nunggu, Shan?" sapanya ceria.
"Enggak, baru aja," jawab Shanna cepat. "Lo dari mana?"
Marcha langsung duduk di depannya. "Dari kantor bokap gue. Biasa..."
Shanna sedikit mengernyit. "Lo yang urus kerjaan bokap lo sekarang?"
Belum sempat jawab, pelayan datang.
Marcha langsung pesan es krim favoritnya—tanpa lihat menu. Klasik begitu pelayan pergi, Shanna kembali nanya.
"Jadi... lo sekarang yang pegang semuanya, Cha?"
Marcha menggeleng kecil. "Gue lebih ke... bantu Ingvar buat deal-deal bisnis."
Dia berhenti sebentar, lalu nyengir kecil. "Technically sih... gue yang urus semuanya."
Shanna langsung melongo. "Santai banget lo ngomong 'semuanya'."
Marcha ketawa kecil.
"Bokap lo gimana?" tanya Shanna.
"Belum pulih sepenuhnya," jawab Marcha pelan. "Sebulan bisa dua kali kontrol ke rumah sakit. Jadi ya... gue sama Ingvar yang jalanin banyak hal sekarang."
"Oh..." Shanna mengangguk pelan.
"Lo jadi nggak balik Paris?" tanyanya lagi.
"Balik," kata Marcha cepat. "Perusahaan gue di sana juga butuh gue. Tapi mungkin sebulan lagi. Gue tunda dulu... gue belum yakin ninggalin Ingvar buat proyek gede bokap gue."
Shanna cuma mengangguk lalu Marcha langsung tersenyum lagi
"Trus lo gimana? Hari ini kosong? Bisa ngajak gue ketemu?"
Shanna ketawa kecil. "Ya, lagi rekaman sih. Masih single, tapi lagi garap album."
"Kevin bilang lo mau collab sama Gogo," kata Marcha santai.
Shanna langsung menghela napas panjang. "Itu pengacara lo ya... bocor banget mulutnya."
Marcha ketawa.
"Itu masih rencana. Belum tentu jadi," lanjut Shanna. "Manajemen gue masih ngobrol sama manajemennya Gogo."
"Oh, gue kira udah deal," kata Marcha.
Shanna menggeleng dan pas banget, es krim Marcha datang dan... seketika wajah Marcha berubah cerah banget kayak anak kecil dapet hadiah. Shanna diam sejenak, memperhatikan, senyuman itu...manis banget, Mungkin...itu juga salah satu alasan kenapa dia kalah dulu.
"Cha..." panggil Shanna pelan.
Marcha langsung mendongak dari es krimnya. "Ya, Shan?"
Shanna menarik napas sebentar "Hm... tentang kemarin... gue minta maaf ya."
Marcha tersenyum kecil. "Gue udah maafin, Shan. Wajar kok lo marah."
Dia berhenti sebentar, lalu menatap Shanna lebih lembut. "Gue juga minta maaf."
Shanna mengernyit. "Minta maaf? Buat apa?"
"Deven," jawab Marcha pelan. "Gue tau seharusnya gue nggak bareng dia... dan nyakitin lo tapi gue nggak bisa bohong sama perasaan gue sendiri."
Shanna terdiam, lalu tersenyum tipis. "Oh... Deven. Ya... gue paham. Itu gue yang egois."
Dia tertawa kecil, agak pahit. "Gue tau dari dulu dia cintanya ke lo... tapi gue tetep maksa."
Marcha menggeleng pelan. "Dia sayang sama lo, Shan."
"Sebagai sahabat?" potong Shanna cepat.
Marcha tersenyum lembut. "Mungkin."
Shanna nyengir kecil, mencoba santai.
Marcha lalu menggenggam tangan Shanna, hangat
"Gue harap lo bisa temenan lagi sama Deven," kata Marcha pelan. "Gue tau nggak gampang... tapi mungkin suatu hari nanti."
Shanna diam sebentar lalu nyengir kecil.
"Mungkin... suatu hari nanti," katanya.
Dia menunduk sedikit.
"Gue juga harap... Deven bisa maafin gue."
Dan untuk pertama kalinya sejak lama... Obrolan mereka nggak terasa canggung dan mungkin masih ada sisa-sisa luka tapi di antara itu...ada hangat yang pelan-pelan kembali.

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang