Dylan Bradley (Shanna)

89 7 2
                                        

"Aku udah sampai Jakarta. Kita bisa ketemu kan, Dev?" Shanna menempelkan ponsel ke telinganya, langkahnya melambat di trotoar yang masih basah sisa hujan.
"Bisa," jawab Deven. "Tapi aku lagi di rumah sakit, Non."
Shanna berhenti.
"Eh... bukannya kamu kemarin nggak shift malam?" tanyanya, dahi sedikit berkerut.
"Aku kan udah bilang," kata Deven ringan, seolah itu hal paling biasa di dunia "kemarin aku di rumah Marcha. Aku bikin dia tidur."
"Oh..." Satu kata pendek itu keluar begitu saja. Shanna sebenarnya sudah tahu rencana itu, tapi tetap saja—ia tak pernah benar-benar siap mendengarnya disebutkan dengan nada setenang itu.
Shanna sebenarnya tidak setuju Deven ke rumah Marcha, apalagi hanya untuk membantu insomnia yang tak kunjung sembuh.
Tapi ia juga tahu, berdebat soal Marcha hanya akan berujung keheningan yang panjang dan melelahkan dan Shanna tidak ingin bertengkar, buian hari ini lagipula, ia percaya pada Deven atau setidaknya... ia berusaha.
"Akhirnya Marcha tidur nyenyak banget," lanjut Deven, terdengar puas "Sampai telat datang ke acara bisnisnya. Aku dengar sendiri dari Ingvar."
"Hm... syukurlah kalau begitu," jawab Shanna pelan. Ia mencari nada yang terdengar tulus, meski dadanya terasa sedikit sesak.
Belum sempat Shanna menyusun kalimat lain
Deven kembali bicara, kali ini lebih bersemangat "Oh iya, aku juga akhirnya join. Jadi salah satu pemegang saham di bisnis kulinernya Marcha."
Shanna menutup mata sejenak. Ia tahu betul Deven selalu tertarik dengan dunia kuliner dan sejak Ingvar bercerita soal rencana Marcha membuka cabang di seluruh Indonesia, mata Deven memang berbinar dengan cara yang jarang Shanna lihat belakangan ini. Shanna ingin melarang. Ingin bertanya. Ingin mengatakan bahwa semua ini terasa terlalu dekat tapi ia tidak melakukannya. Ia tidak pernah pandai menghalangi sesuatu yang membuat Deven bahagia.
"Bagus, Dev," katanya akhirnya. Lalu, setelah jeda singkat, ia menambahkan, "Aku udah dekat rumah sakit. Nanti aku langsung ke kantormu, ya."
"Iya. Oke," jawab Deven.
"Kalau gitu... see you, sayang," kata Shanna, suaranya sedikit melembut.
"See you too."
Panggilan terputus. Shanna menurunkan ponselnya, menatap layar yang sudah gelap. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah lagi—membawa rasa percaya yang ia pertahankan dengan susah payah,meski ada bagian kecil dalam dirinya yang diam-diam gemetar.

Tak lama kemudian, Shanna sampai di rumah sakit.
Dengan masker dan topi ditarik rendah, ia berjalan cepat menuju kantor Deven. Ia tidak ingin menarik perhatian. Shanna tahu betul—satu foto saja sudah cukup untuk membuat Deven murka. Di dalam ruangan, Deven duduk di balik meja kerjanya. Keningnya berkerut, fokus pada layar laptop. Begitu mendongak dan melihat Shanna berdiri di ambang pintu, ekspresinya langsung berubah.
Shanna melepaskan topi dan maskernya. Deven menutup laptop, bangkit, lalu berjalan cepat menghampirinya tanpa berkata apa-apa, ia langsung memeluk Shanna erat.
"Kangen banget," ujar Shanna, suaranya penuh lega.
"Kangen juga," jawab Deven sambil mengecup keningnya.
Shanna mundur setengah langkah, menatap Deven.
"Kening doang?" tanyanya sambil mengangkat alis.
"Mau-nya?" balas Deven, tersenyum tipis.
"Harus dijelasin ya, sayang?" Shanna mendengus kecil.
Deven tertawa pelan, lalu mengecup bibir Shanna singkat namun Shanna justru melingkarkan lengannya ke leher Deven, memperdalam ciuman itu—lebih lama, lebih berani dari biasanya, saat mereka akhirnya berpisah, Deven tampak sedikit terkejut.
"Wow... kamu kenapa?" tanyanya.
"Aku kangen kamu," jawab Shanna jujur.
Deven hanya tersenyum, lalu kembali memeluknya, mencium keningnya lembut.
"Kamu mau makan?" tanyanya.
Shanna mengangguk cepat. "Mau. Aku laper banget."
"Mau makan di mana?"
"Kamu boleh keluar?" tanya Shanna hati-hati.
Deven berpikir sebentar "Sebenernya nggak boleh... tapi aku bisa izin bentar. Makan doang."
Shanna tersenyum lebar "Kalau gitu kita ke Pulau Dua aja. Deket kan?"
"Hm... boleh." Mata Deven berbinar. "Ada kepiting."
"Aku tahu," kata Shanna sambil tertawa.
"Ya udah, ayo."

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di restoran Pulau Dua. Restoran seafood itu mau tak mau jadi favorit Deven—dekat rumah sakit, dan makanannya sesuai seleranya. Shanna tahu betul itu. Karena itu pula ia mengajak Deven ke sini, namun langkah Shanna mendadak melambat.
"Eh... itu ada Marcha," katanya pelan.
Deven menoleh. Wajahnya langsung mengeras "Yang sama dia... Dylan Bradley, kan? Temen kamu."
"Iya," jawab Shanna. "Itu Dylan. Kita nyapa yuk."
Deven terdiam sebentar, ragu lalu ia mengangguk. "Ya udah. Ayo."
Mereka berjalan bergandengan tangan menuju meja Marcha dan Dylan. Keduanya terlihat begitu asyik mengobrol sampai tak sadar Deven dan Shanna sudah berdiri di samping mereka.
"Cha... Dy," sapa Shanna duluan.
Marcha dan Dylan menoleh.
"Hei, Shan!" sapa Dylan ramah.
Namun Shanna menangkap satu hal lain—tatapan Marcha yang sempat berhenti di tangan Shanna yang menggenggam tangan Deven.
Shanna spontan menggenggam tangan Deven lebih erat.
"Hai, Dev. Lo nggak datang ke ulang tahun gue kemarin?" tanya Dylan.
"Oh iya, gue lagi sibuk di rumah sakit," jawab Deven dengan senyum tipis. "Sorry."
"Hai, Shan... Dev," sapa Marcha akhirnya.
"Oh... lo nggak jaga bokap lo?" tanya Deven datar.
"Ada Ingvar," jawab Marcha singkat.
Dylan tersenyum, mencoba mencairkan suasana "Kalian mau gabung?"
"Boleh, kalau kalian nggak keberatan," jawab Deven cepat.
"Dev..." Shanna menekan tangan Deven pelan. Ia ingin berduaan. Mereka baru saja bertemu.
Marcha menyeringai kecil "Kalau kalian mau privasi, nggak apa-apa kok."
"Hm... iya," kata Shanna. "Aku baru ketemu Deven hari ini, Cha."
"Oke, gue ngerti," jawab Marcha tenang.
"Kalau gitu, nanti kita ngobrol lagi," kata Shanna sambil menarik tangan Deven menjauh.
Deven melambaikan tangan singkat sebelum mereka duduk di meja lain, tak jauh dari tempat Marcha dan Dylan. Shanna melirik ke arah mereka yang kembali tenggelam dalam obrolan.
"Kayaknya Marcha deket banget ya sama Dylan," ujar Shanna pelan "Apa mereka pacaran?"
Deven tidak menjawab, tatapannya masih tertuju ke meja itu, wajahnya tegang.
"Dev..." panggil Shanna.
Tak ada respons.
"Dev," ulang Shanna sambil menyentuh punggung tangan Deven.
Deven akhirnya menoleh "Ya, Non?"
"Kamu mau makan apa?" Shanna memilih topik aman.
Deven membuka menu dengan helaan napas berat. Mereka memesan makanan namun suasana tetap canggung.
"Gimana rumah sakit?" tanya Shanna mencoba lagi.
"Ya gitu," jawab Deven singkat.
"Surya sama Ricky nggak bikin kamu repot lagi kan?"
Deven menggeleng. Setelah itu, setiap usaha Shanna untuk mengobrol hanya dibalas anggukan atau jawaban pendek sementara mata Deven terus melirik ke arah Marcha dan Dylan. Minuman datang. Deven menyesap lemon tea dan memejamkan mata.
"Asem banget ya?" tanya Shanna.
Deven mengangguk sambil terkekeh kecil
"Aku minta gula ya."
"Jangan," kata Deven cepat. "Nggak baik kebanyakan gula. Ini aja nggak apa."
"Beneran?"
"Iya," Deven tersenyum tipis. "Nanti manisnya dari kamu aja."
Shanna tersenyum lega "Iya, iya... pacarku yang paling manis."
Mood Deven sedikit membaik.
Tak lama kemudian, Dylan menghampiri "Sorry ganggu. Gue sama Marcha mau pamit."
"Pamit?" ulang Deven.
"Iya," kata Marcha. "Gue mesti gantian jaga papi. Besok kemoterapi."
"Gue juga harus balik kerja," tambah Dylan.
"Oh," kata Shanna—lega.
"Oke, bye Shan, bye Dev," ujar Dylan.
"Bye," balas Shanna.
"Nanti kita ketemu di rumah sakit," kata Deven, menatap Marcha tajam.
Marcha mengangguk. "Iya."
Dylan menggenggam pundak Marcha saat mereka berjalan pergi. Shanna melihatnya. Ia menoleh ke Deven—dan Deven juga melihat hal yang sama, saat pintu restoran tertutup, makanan mereka datang. Deven tidak menyentuh makanannya.
"Dev," panggil Shanna.
Diam.
"Dev," ulang Shanna sambil menyentuh tangannya.
"Apa?" nada Deven terdengar dingin.
"Makan," kata Shanna pelan.
Deven menatap makanan di hadapannya, lalu menghela napas panjang, nafsu makannya jelas hilang dan meeeka makan dalam diam, akhirnya Shanna membuka suara, ragu.
"Eh... kamu anterin aku pulang atau gimana?"
"Aku izinnya cuma sebentar," jawab Deven dingin "Kamu mau aku anterin biar aku telat?"
"Aku cuma nanya," Shanna ikut kesal "Kalau nggak bisa, ya udah. Nggak usah kasar."
"Ya udah," kata Deven singkat.
Ia bangkit, mengambil kunci mobil, dan pergi begitu saja. Shanna terpaku di kursinya. Harus segitunya? Salahnya di mana sampai harus ditinggal seperti ini?

Aku Dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang