Agree (Deven)

61 9 7
                                        

Deven menatap layar ponselnya lama. Nama "Mama" sudah muncul di sana sejak beberapa menit lalu tapi ibu jarinya belum juga menekan tombol panggil.
Dia tau maksud Marcha. Marcha bukan sedang menolak lamaran itu, bukan juga mencoba menjauh... Marcha hanya ingin semuanya jelas, Dewasa dan jujur termasuk pada keluarga masing-masing. Sebenarnya, Deven memang sempat berpikir akan memberitahu keluarganya  setelah semuanya selesai. Setelah Marcha resmi menerima lamarannya dengan begitu...keluarganya tidak punya banyak pilihan selain menerima tapi sekarang...setelah semua syarat dari papi Marcha muncul—Deven mulai ragu. Apa keluarganya akan setuju? Tentang tinggal bersama keluarga Marcha setelah menikah, tentang saham perusahaan, tentang segala hal yang mungkin terdengar... terlalu besar. Deven menatap kotak cincin di atas meja, cincin itu beberapa malam lalu masih berada di jari Marcha sekarang kembali lagi ke tangannya dan entah kenapa...itu terasa menyakitkan.
Dia menghembuskan napas panjang. Cepat atau lambat...dia memang harus bicara dengan keluarganya jadi akhirnya Deven menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Lalu—
"Hallo, ma."
"Hallo dek," suara mamanya langsung terdengar hangat. "Nggak biasa telepon pagi begini. Kamu nggak kerja?"
"Enggak, ma. Hari ini off."
"Ohh..." mamanya terdengar santai. "Lagi off malah nggak pergi kencan sama Marcha?"
Deven tersenyum kecil. Akhir-akhir ini mamanya memang selalu menanyakan Marcha sebagian besar karena kakaknya. Kakaknya dan Marcha ternyata cukup dekat, bahkan setelah kakaknya kembali ke Lombok. Kadang Deven sampai heran—Marcha lebih tau kegiatan kakaknya dibanding dirinya sendiri.
"Marcha baru aja pulang, ma," jawab Deven pelan.
"Loh?" suara mamanya langsung berubah curiga. "Dia nginep di apart kamu?"
Deven refleks melihat jam, masih pagi pantas saja mamanya berpikir begitu.
"Iya..." jawab Deven pelan. "Tapi kemarin dia cuma—"
"Kamu ini," potong mamanya cepat. "Itu anak perempuan jangan sering kamu ajak nginep di apart kamu."
Deven langsung memijat pelipis.
"Kalau sampai hamil gimana?!"
"Ma..." Deven langsung menahan malu sendiri. "Adek tau cara menghormati perempuan." Dia menghela napas kecil. "Adek nggak akan macam-macam sebelum nikah sama Marcha."
"Bagus kalau masih punya otak," gumam mamanya.
Deven hampir tertawa kecil masih sempat-sempatnya disindir.
"Oh iya ma..." Deven kembali serius. "Papa ada?"
"Iya, lagi sarapan sama mama," jawab mamanya. "Kakak kamu juga di sini. Gabriel lagi tugas dinas di Kalimantan, jadi sekalian pulang."
Deven terdiam sebentar. Lengkap. Semua lagi kumpul mungkin... ini memang waktunya.
"Ma..." suara Deven berubah lebih pelan. "Bisa speaker HP-nya?"
"Hm?"
"Adek mau ngomong hal penting sama kalian."
Suasana di ujung telepon langsung berubah.
"Tentang apa?" tanya mamanya mulai penasaran.
Deven menarik napas panjang "Marcha."
Dan seperti biasa—mamanya langsung salah paham.
"Kamu udah ngelamar Marcha ya?!" suara mamanya langsung naik penuh semangat. "Mama tau kamu nggak bakal bikin mama kecewa!"
Deven memejamkan mata sebentar "Ma..." katanya pelan sambil menahan pusing. "Tolong speaker dulu."
Dia belum menjawab apa-apa tapi mamanya sudah hampir mau pesan catering.
Terdengngar suara mamanya memanggil dari jauh.
"Pa! Kak! Deven mau ngomong!"
Tidak terdengar suara papanya menjawab, mungkin masih fokus makan atau pura-pura nggak dengar. Beberapa detik kemudian terdengar suara gesekan kursi dan langkah kaki samar lalu—
"Udah mama speaker," kata mamanya.
Dan tiba-tiba...Deven yang tadi berani menelepon—malah jadi gugup sendiri.
"Ada apa, dek?" tanya papa akhirnya.
Suara beliau terdengar tenang seperti biasa, tapi justru itu yang membuat Deven makin gugup. Deven menarik napas panjang sebelum bicara.
"Pa... ma... kak... adek mau ngomong soal hubungan adek sama Marcha."
Di ujung sana langsung hening beberapa detik lalu—
"Kalian nggak putus khan?!" tanya Amel cepat.
"Enggak, kak," jawab Deven buru-buru.
"Nah khan!" suara mama langsung penuh kemenangan. "Mama bilang juga apa? Adek pasti ngelamar Marcha!"
Amel langsung tertawa kecil "Bener itu, dek?"
Deven memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya mengangguk kecil meskipun mereka tidak bisa melihat "Iya... adek udah ngelamar Marcha."
"YA AMPUN!" mama langsung heboh sendiri. "Papa tuh liat, anak kita akhirnya normal juga!"
"Ma..." gumam Deven malu.
"Terus?" tanya Amel penasaran. "Jangan-jangan ditolak?"
"Ya nggak lah!" Deven langsung protes. "Adek nggak ditolak, tapi..."
Kalimatnya menggantung, senyum di wajahnya perlahan hilang.
"Tapi apa?" tanya mama pelan.
Deven menghela napas panjang "Keluarga Marcha punya syarat kalau adek nikah sama dia."
Suasana langsung berubah serius.
"Marcha sebenarnya udah nerima lamaran adek," lanjut Deven pelan. "Tapi dia balikin cincin itu dulu karena dia mau adek tanya keluarga dulu... apa papa, mama, sama kakak setuju atau enggak."
"Adek sendiri setuju?" tanya mama.
"Setuju," jawab Deven cepat. "Tapi Marcha bilang sebelum keluarga adek setuju, dia nggak akan terima lamarannya secara resmi."
"Syaratnya apa?" tanya papa akhirnya.
Dan Deven pun mulai menjelaskan semuanya, tentang tinggal di rumah keluarga Marcha setelah menikah, tentang saham perusahaan keluarga, tentang pembagian aset, tentang semua hal yang bahkan sampai sekarang masih membuat kepalanya pusing sendiri. Awalnya semua diam mendengarkan sampai akhirnya—
"Papa nggak setuju."
Suara papanya terdengar tegas. Deven langsung terdiam.
"Itu syarat apa?" lanjut papa. "Kamu bukannya nggak mampu beli rumah sendiri. Kamu juga bukan laki-laki yang nggak punya pekerjaan atau masa depan."
"Pa—"
"Kalau kamu tinggal di rumah keluarga istrimu dan terima saham keluarga mereka," potong papa, "orang-orang bakal mikir apa tentang kamu?"
Deven menggenggam ponselnya lebih erat.
"Mereka bakal mikir kamu nikah karena harta."
"Pa..." suara Deven melemah. "Adek cinta sama Marcha. Adek nggak peduli sama omongan orang."
"Kamu nggak peduli," balas papa cepat, "tapi papa peduli." Nada suaranya mulai meninggi "Ini bukan cuma soal kamu, dek. Ini soal keluarga kita. Soal harga diri."
Deven menunduk, dadanya mulai terasa sesak.
"Kamu nggak mikirin harga diri kamu sendiri?" lanjut papa. "Nikah itu bukan cuma soal cinta. Ada banyak hal yang harus dipikirkan."
"Pa..." Deven mulai kehilangan arah bicara. "Adek bahagia sama Marcha."
"Cewek banyak."
Kalimat itu langsung membuat Deven memejamkan mata.
"Kamu nggak harus nikah sama dia buat bahagia."
"Pa..." suara Deven mulai bergetar. "Selama ini adek udah beberapa kali pacaran." Dia tertawa kecil, pahit "Tapi jujur... adek nggak pernah ngerasa sebahagia ini selain waktu sama Marcha."
Sunyi.
"Apa papa nggak mau liat adek bahagia?"
Papanya terdiam beberapa saat dan itu justru terasa lebih menyakitkan.
"Dek, ini bukan—"
"Udah-udah," mama langsung memotong cepat sebelum suasana makin panas. "Kalian jangan tengkar." Mama menghela napas pelan "Jujur aja... mama juga bingung sama syarat dari papi Marcha."
Deven menunduk lemah.
"Tapi..." lanjut mama lebih lembut, "kalau itu bikin adek bahagia, mama nggak apa-apa."
"Ma..." papa langsung terdengar tidak puas.
"Kakak juga setuju," sambung Amel cepat. "Kalau kamu bahagia dan kamu sendiri nggak keberatan sama syarat itu."
"Kak, ini soal harga diri," kata papa. "Kamu ngerti nggak sih?"
"Pa," balas Amel lembut tapi tegas, "ini kehidupan adek. Biar dia sendiri yang milih mau hidup sama siapa." lalu Amel tiba-tiba tertawa kecil "Lagipula nanti papa sama mama tinggalnya di Lombok, bukan serumah sama keluarga Marcha."
"Bukan itu masalahnya," gerutu papa.
"Tapi serius deh..." Amel kembali ke Deven. "Kalau kamu tinggal di rumah Marcha, berarti Marcha pindah ke Indonesia?"
"Iya," jawab Deven pelan. "Dia bakal bolak-balik Eropa sama Amerika buat kerjaan, tapi dia janji bakal atur waktunya."
"Nah itu," papa langsung menyahut. "Pernikahan kayak begitu apa iya bisa bertahan?"
Deven menutup matanya pelan.
"Papa nggak setuju," lanjut beliau tegas. "Kalau mau nikah, Marcha tinggal sama kamu. Dan soal saham perusahaan itu, kamu nggak usah ikut campur."
"Pa..."
"Kamu nikah mau cari pasangan atau cari masalah?"
Kalimat itu menghantam Deven telak.
"Pa..." panggil Deven lirih.
"Itu keputusan final papa," kata beliau dingin. "Papa nggak mau bahas ini lagi."
Lalu terdengar suara kursi bergeser.
"Pa? Papa?"
"Papa kamu udah pergi," kata mama pelan.
Dan anehnya... Deven merasa dadanya langsung kosong.
"Tapi ma..." gumamnya lemah.
"Nanti mama coba ngomong pelan-pelan sama papa," kata mama menenangkan. "Kamu jangan terlalu dipikirin dulu."
Deven diam, kepalanya mulai terasa berat... dia harus ngomong apa ke Marcha nanti? Apa Marcha bakal sedih? Apa Marcha bakal merasa bersalah?
"Kamu sama Marcha baik-baik aja khan?" tanya mama tiba-tiba.
Deven terdiam beberapa detik "...iya."
"Jangan lepasin perempuan yang kamu cintai dan bikin kamu bahagia, dek," kata mama lembut.
Dan entah kenapa... kalimat sederhana itu hampir membuat Deven menangis. Setidaknya...masih ada yang mendukungnya.
"Iya ma," jawab Deven lirih. "Mama tenang aja."
"Ya udah kalau gitu mama siap-siap ke klinik dulu," kata mama. "Kakak sama papa kamu juga mau ke apotek."
"Iya... makasih ya ma, kak... udah dukung adek."
"Asal kamu bahagia," jawab Amel hangat.
"Iya dek, bye."
Telepon pun terputus dan kamar Deven langsung kembali sunyi. Deven menurunkan ponselnya perlahan lalu menutup sebelah matanya dengan tangan sambil mengusap wajahnya pelan tadi dia pikir...yang bakal paling menolak itu mama karena mamanya paling cerewet, paling banyak komentar ternyata  malah papa. Papanya yang biasanya diam, yang biasanya selalu bilang, "terserah kamu aja." Kenapa justru sekarang beliau jadi orang yang paling keras menolak? Deven baru saja mau merebahkan tubuhnya lagi ketika notifikasi masuk. Nama di layar membuat dahinya langsung berkerut.
Anneth
Dev, bisa kita ketemu? urgent.
Deven menatap chat itu lama lalu menghela napas kasar.
"Ini cewek nggak ada kapoknya apa ya..." gumamnya pelan.
Kepalanya sudah cukup penuh. Masalah Marcha. Masalah keluarganya. Masalah pernikahan. Dia benar-benar nggak punya tenaga buat menghadapi drama Anneth, media, gimmick, atau apapun itu lagi. Bodoh amat kalau Anneth mau jungkir balik sekalian dan jujur saja...bahkan untuk ngobrol sama Marcha sekarang pun Deven belum siap, dia tau Marcha pasti bakal nanya hasil pembicaraan dengan keluarganya dan Deven tau persis wajah Marcha bakal seperti apa saat mendengar papanya tidak setuju. Marcha pasti menyalahkan diri sendiri padahal  Deven nggak mau itu. Akhirnya Deven mensilent ponselnya lalu memasukkannya ke laci di samping tempat tidur bersama kotak cincin pertunangannya dengan Marcha.
Klik.
Laci itu terkunci. Deven merebahkan tubuhnya perlahan di kasur menatap langit-langit kamar tanpa fokus. Dia pernah janji pada Marcha... kalau dia nggak akan menghindarinya tapi sekarang—justru itu yang paling ingin dia lakukan.
Menghilang dari semua orang.

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang