Big Reward (Deven)

64 6 3
                                        

Deven menghela napas panjang sambil menatap layar ponselnya.
Marcha.
Nama itu lagi. Kadang Deven merasa pacarnya bukan manusia, tapi ujian hidup dalam bentuk wanita cantik berkacamata, ia tahu masalah mereka gak akan berhenti begitu saja. Bahkan kalau nanti menikah pun, pasti tetap ada ribut-ribut kecil, salah paham, debat receh, sampai drama "kamu berubah ya sekarang".
Tapi menyerah? Deven gak bisa. Setelah semua yang mereka lewati dari masa SMA sampai sekarang, rasanya terlalu sayang kalau hubungan itu dilepas begitu saja.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu membuat Deven menoleh, ia bangkit dari sofa hotel lalu membuka pintu kamarnya.
"Dokter Edward?" Deven terlihat kaget melihat pria paruh baya asal Inggris itu berdiri di depan pintunya.
"Dokter Deven." Edward tersenyum ramah. "Aku senang kamu belum pulang ke Indonesia. Aku ingin meminta bantuanmu."
Deven mengangguk kecil. "Ah ya, aku masih ada beberapa seminar sebelum balik ke Jakarta," jawab Deven. "Ada apa, Dok?"
Wajah Edward langsung berubah serius "Ada anggota keluarga penting pemerintahan Dubai yang sakit. Kondisinya cukup rumit dan rumah sakit kami ingin meminta pendapat beberapa profesor bedah dari luar negeri."
Alis Deven sedikit terangkat "Seberapa rumit?"
Edward cuma menghela napas "Rumit sampai semua dokter lokal saling lempar pasien."
Deven langsung paham "Oh... berarti levelnya 'siapa yang operasi dia yang disalahin kalau gagal' ya?"
Edward tertawa kecil. "Kurang lebih begitu."

Malam itu Deven ikut datang ke rumah sakit besar di Dubai. Ruangan meeting penuh dokter dari berbagai negara. Ada yang dari Amerika, Meksiko, Inggris, sampai dokter lokal Abu Dhabi sendiri. Di layar besar terpampang hasil CT scan dan laporan kesehatan pasien.
"Hm... kita harus operasi," ucap Deven pelan sambil memperhatikan hasil pemeriksaan.
"Ya, tapi ini operasi berisiko tinggi," sahut dokter Laxie dari Amerika. "Kalau ada kesalahan kecil saja—"
"Kalau tidak dioperasi, pasiennya juga bisa meninggal," potong dokter Atha dari Abu Dhabi sambil memijat pelipisnya frustasi. "Itu sebabnya selama ini aku belum berani ambil tindakan."
"Risikonya besar," sambung Luca dari Meksiko. "Tapi tetap harus dilakukan."
Ruangan langsung hening dan sejak saat itu, operasi tersebut jadi pembicaraan panas di kalangan dokter internasional bukan cuma karena pasiennya keluarga penting pemerintahan Dubai... tapi juga karena kalau berhasil, bayarannya bisa bikin rekening tersenyum sendiri.
Jujur saja, Deven sebenarnya tidak terlalu peduli soal uang ataupun popularitas, ia ikut operasi itu karena dialah orang pertama yang menyarankan tindakan operasi kalau sekarang mundur, malu juga. Masa profesor bedah ngomong operasi, terus pas disuruh ikut malah kabur, ntar dikira motivator kesehatan.
Operasi berlangsung berjam-jam. Tegang. Melelahkan dan nyaris bikin semua dokter lupa cara bernapas normal tapi akhirnya...Berhasil.
Pasien selamat.
Tim dokter langsung mendapat apresiasi besar dari pemerintah Arab, nama Deven ikut melambung. Media bahkan ramai memberitakan dokter asal Indonesia yang ikut menangani operasi penting tersebut.
Penghargaan datang dari mana-mana.
Pemerintah Arab.
Pemerintah Indonesia.
Rumah sakit tempatnya bekerja.
Belum lagi bonus dan bayaran yang jumlahnya bikin orang biasa bisa pensiun dini sambil ternak alpaca tapi anehnya...Semua itu gak terlalu bikin Deven senang yang ada di pikirannya tetap cuma satu orang.
Marcha.
"Aku mau cuti."
Dokter Louis yang sedang video call langsung melotot.
"Cuti lagi?" tanyanya tidak percaya. "Dev, tahun ini lo udah cuti banyak banget."
"Gue tau," jawab Deven sambil menyandarkan tubuh ke kursi hotel. "Tapi ini penting banget."
Louis menyipitkan mata curiga "Lo ada masalah apaan sih sampai cuti berkali-kali?"
Deven menghela napas panjang "Masalah masa depan gue, Wi."
"Ah..." Louis langsung nyengir. "Gue lihat berita tuh. Lo lagi ribet sama beberapa cewek ya?"
Deven langsung memijat keningnya "Kenapa hidup gue sekarang kayak sinetron azab..."
"Jadi bener mau nikah?" tanya Louis antusias.
"Ya... sama satu orang doang kali."
"Wah akhirnya!" Louis tepuk tangan sendiri. "Si dokter dingin akhirnya tumbang juga."
"Gue bukan kulkas dari dulu juga," gerutu Deven.
"Kalau gue tebak..." Louis mendekat ke kamera. "Lo nikah sama Anneth kan?"
"Hah?" Deven langsung melotot. "Ngaco. Bukan Anneth."
"Shannon?"
"Apalagi itu."
Louis bingung "Terus siapa?"
"Ya pokoknya ada," jawab Deven malas. "Lo setuju gak gue cuti?"
"Berapa lama?"
"Dua minggu."
"DUA MINGGU?!" Louis hampir menjatuhkan hpnya sendiri. "Lo mau honeymoon apa kabur dari negara?"
"Wi..." Deven menatap temannya memelas. "Kalau bukan masalah besar, gue gak mungkin minta cuti segitu lama."
Louis menghela napas "Masalah lo emang apa sih? Selama ini hidup lo lurus-lurus aja."
"Lo liat gue cuma di rumah sakit," balas Deven. "Ya jelas aja keliatannya hidup gue damai padahal di luar sana gue hampir putus tiap minggu."
Louis ngakak keras "Kasian juga hidup lo."
"Makanya, kasih gue cuti."
Louis berpikir beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk "Oke. Gue kasih cuti dua minggu."
Deven langsung tersenyum lega.
"Tapi ada syarat."
Senyum Deven langsung hilang "Nah mulai..."
"Kenalin calon istri lo ke gue sebelum nikah."
Deven bengong sebentar lalu tertawa kecil "Gue pikir syarat apaan."
"Gue serius."
"Ya iyalah gue kenalin," jawab Deven sambil tertawa. "Beberapa dokter di rumah sakit aja udah kenal sama cewek gue."
Louis langsung heboh "WAH GUE KETINGGALAN GOSIP."
"Makanya jangan kerja mulu."
"Lo ngomong gitu ke gue?!" Louis menunjuk layar tidak terima.
Deven ngakak "Pokoknya gue cuti ya?"
Louis menghela napas pasrah "What can I say... approved."
"Thanks bro."
Telepon ditutup dan tanpa pikir panjang lagi... Deven langsung memakai kesempatan cuti itu untuk pergi ke Paris karena ada satu wanita keras kepala yang harus ia temui langsung sebelum hubungan mereka benar-benar meledak lagi gara-gara salah paham receh yang dibesar-besarkan sendiri.

Ketika sampai di apartemen Marcha, Deven langsung sadar satu hal penting. Marcha gak ada. Deven menghela napas panjang sambil berdiri di depan pintu apartemen yang kosong.
"Ya ampun... tuh cewek kalau nikah sama kerjaannya aja mungkin udah punya tiga anak sekarang," gumamnya pelan.
Ia bahkan gak terlalu kaget. Marcha memang workaholic tingkat dewa. Kalau disuruh milih liburan atau meeting, kemungkinan besar dia bakal nanya:
"Meetingnya dimana? Kalau view-nya bagus aku pertimbangkan."
Deven sudah mau menghubungi Marcha lewat chat tapi kemudian ia berhenti kalau dipikir-pikir...Ada satu tempat yang paling mungkin didatangi Marcha saat lagi galau, capek, atau sekadar kangen sama dia.
Montparnasse Tower.
Dan ternyata tebakan random Deven benar, dari kejauhan ia melihat seorang wanita memakai mantel hitam berdiri bersandar di dekat pagar pembatas, memandangi Eiffel Tower dan lautan lampu kota Paris malam itu.
Rambut panjangnya tertiup angin pelan dan entah kenapa...Di mata Deven, pemandangan Paris kalah cantik dibanding perempuan itu.
Ia berjalan perlahan tanpa suara mendekati Marcha lalu—Deven memeluk tubuh wanita itu dari belakang, tubuh Marcha langsung menegang.
"Kangen aku?" bisik Deven dekat telinganya.
Marcha membeku beberapa detik lalu perlahan menoleh "De... Deven?"
Suara Marcha sampai terdengar terbata, ia langsung membalikkan badan dengan mata melebar tidak percaya.
Deven nyengir lebar "Kejutan."
Marcha menatap wajah Deven lama, tangannya perlahan naik menyentuh pipi lelaki itu. Deven menunggu Marcha ngomong sesuatu...tapi detik berikutnya—CUBIT.
"AUUUUUUH!"
Deven langsung memegang pipinya sendiri "Apaan sih, Cha?! Sakit tau!"
Marcha malah ketawa sampai bahunya bergetar "Wah... ini beneran bukan mimpi."
Deven melotot tidak terima "Ya kalau mau mastiin mimpi tuh cubit pipi sendiri dong, kenapa pipiku yang jadi korban?"
"Soalnya kalau kamu yang teriak sakit berarti emang nyata," jawab Marcha santai sambil ketawa.
Deven geleng-geleng kepala "Aku juga belum yakin ini bukan mimpi."
Ia mendekat sambil memegang kedua pipi Marcha "Nah sekarang gantian aku cubit."
Marcha langsung menyipitkan mata "Berani kamu?"
Deven nyengir, bukannya mencubit, ia malah mengusap pipi Marcha pelan lalu tanpa aba-aba...Deven mencium bibirnya. Marcha sempat kaget sebentar sebelum akhirnya membalas ciuman itu sambil melingkarkan tangan di leher Deven.
Angin malam Paris terasa dingin tapi pelukan mereka hangat banget, beberapa detik kemudian Deven menjauh pelan sambil tersenyum puas.
"Nah," katanya santai. "Ini lebih efektif buat mastiin mimpi atau enggak."
Marcha langsung ketawa sambil menutup wajahnya malu "Dokter kok modus banget sih."
"Dokter juga manusia."
"Manusia genit."
"Genit khusus kamu."
Marcha makin gak bisa nahan senyum.
Deven menatap wajah wanita itu lama dan akhirnya bertanya lagi dengan suara lebih pelan.
"Pertanyaanku tadi belum dijawab."
Marcha mengernyit bingung "Pertanyaan apa?"
"Kamu kangen aku?"
Marcha gak menjawab dengan kata-kata, ia langsung melangkah maju dan memeluk Deven erat "Itu gak perlu ditanya."
Senyum Deven langsung melebar, ia membalas pelukan Marcha sambil memejamkan mata sejenak.
Akhirnya setelah semua ribut-ribut, salah paham, drama, dan ancaman putus tiap minggu...Akhirnya dia bisa meluk wanita ini lagi.
"Aku udah disini," bisik Deven lembut. "Dan aku gak bakal lepasin kamu lagi."
Marcha perlahan mendongak. Deven melepaskan salah satu tangannya dari pelukan lalu mengambil sesuatu dari saku coat-nya, cincin.... Marcha langsung diam.
Tatapannya berpindah dari cincin itu ke mata Deven "Keluargamu... udah setuju sama syarat papi?" tanyanya pelan.
Deven tersenyum kecil "Kalau aku belum bisa bikin keluargaku setuju," katanya lembut, "aku gak mungkin punya nyali buat datang kesini dan minta kamu balik lagi ke aku."
Mata Marcha perlahan melembut "Tapi masalah kita masih banyak, Dev..."
"Aku tau."
Deven menggenggam tangan Marcha pelan "Kita keras kepala."
Marcha langsung mengangguk cepat "Banget."
"Kita gampang salah paham."
"Iya."
"Kita kalau tengkar sama-sama nyebelin."
Marcha menahan tawa "Yang itu kamu sih."
"Eh kamu juga."
Mereka sama-sama ketawa kecil lalu Deven kembali serius.
"Tapi setiap hubungan pasti punya masalah, Cha."
Ia menatap mata Marcha dalam-dalam.
"Aku gak takut sama masalah kita karena aku tau... aku sama kamu sama-sama masih mau berjuang."
Marcha diam mendengarkan.
"Asal masih ada cinta," lanjut Deven pelan, "aku rasa gak ada masalah yang cukup besar buat bikin aku ninggalin kamu."
Angin malam meniup rambut Marcha perlahan dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...Marcha merasa hati Deven benar-benar sampai kepadanya.
"Kamu mau kan," tanya Deven lirih, "jadi orang yang pegang tangan aku buat ngelewatin semua hal gila di hidup ini... sampai kita tua nanti?"
Mata Marcha mulai berkaca-kaca, pelan-pelan ia mengulurkan tangan kirinya.
"Aku mau," jawabnya sambil tersenyum kecil. "Aku mau ngelewatin semuanya sama kamu."
Napas Deven langsung terasa lega, seolah beban berbulan-bulan itu runtuh begitu saja, ia segera menyematkan cincin itu ke jari Marcha dengan tangan sedikit gemetar karena gugup dan senang bercampur jadi satu.
"Jangan dilepas lagi ya," katanya sambil nyengir. "Aku gak nerima retur."
Marcha langsung tertawa, tawa yang benar-benar Deven rindukan, tawa yang beberapa bulan terakhir hilang karena mereka terlalu sibuk bertengkar.
Marcha langsung memeluk Deven lagi erat dan Deven membalas pelukan itu sambil tersenyum lebar kalau dulu hubungan mereka sering on-off kayak lampu kosan anak kuliah... sekarang Deven maunya satu. On terus, gak ada mati lampu lagi.

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang