Tidak terganti (Marcha)

66 6 0
                                        

Marcha membuka buku yang sedari tadi berada di pangkuannya. Halamannya terus berganti. Satu. Dua. Tiga tapi tak satu kata pun benar-benar masuk ke kepalanya, tatapannya memang tertuju pada buku itu namun pikirannya melayang entah ke mana.
Ke rumah sakit. Ke Deven.Ke malam saat mereka mengakhiri hubungan yang sudah mereka perjuangkan selama bertahun-tahun.
"Cha..." Suara papinya terdengar pelan.
Marcha tidak bereaksi.
"Marcha."
"Hah?" Marcha langsung tersentak. "Iya, Pi?"
Berto tersenyum tipis "Kamu kenapa? Papi manggil kamu dari tadi, kok malah ngelamun."
Marcha buru-buru menutup bukunya "Enggak kok, Pi."
Berto memperhatikannya beberapa saat "Kamu lagi ada masalah sama Deven?"
Jantung Marcha seolah berhenti berdetak sesaat, ia menggigit pelan bibir bawahnya, berusaha menahan air mata yang hampir lolos "Bukan masalah besar, Pi," jawabnya pelan.
Ia memilih berbohong, bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu tapi karena ia tahu, papinya sedang sakit, ia tidak ingin menambah beban pikiran lelaki itu.
Berto mengangguk pelan "Papi perhatiin beberapa hari ini Deven datang pas kamu gak ada."
Marcha menatap papinya
"Yang nemenin papi waktu dokter visit selalu Ingvar."
Marcha memaksakan senyum kecil "Kan memang tugas Ingvar sebagai anak laki-laki, Pi."
Berto mengangguk pelan, tetapi tatapannya masih penuh selidik "Jadi... kamu sama Deven baik-baik aja?"
Marcha hanya tersenyum tipis, senyum yang bahkan tidak berhasil menyentuh matanya. Keheningan memenuhi ruangan beberapa saat lalu Berto mengembuskan napas panjang.
"Denger ya, Cha."
Marcha menoleh.
"Kalau suatu hari Deven memperlakukan kamu dengan buruk... atau bikin kamu sedih..." Berto menggenggam tangan putrinya "...kamu gak usah merasa dunia kamu selesai."
Marcha hanya diam.
"Masih banyak laki-laki baik yang pasti mau sama kamu." Berto tersenyum bangga "Kamu cantik, Pintar, Mandiri dan..." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan "Kalau menurut papi, sebenarnya Deven itu terlalu ngotot mau cepat nikah karena harta kamu."
Marcha langsung mengangkat kepala, refleks ia ingin membantah, ingin mengatakan kalau papinya salah, sangat salah kalau Deven bukan laki-laki seperti itu, kalau Deven justru berkali-kali memilih hidup sederhana, kalau Deven rela mengalah berkali-kali demi hubungan mereka, kalau Deven... bahkan memilih melepaskannya ketika ia tidak bisa memberikan kepastian bukan bertahan demi uang, bukan bertahan demi status tapi semua kata itu berhenti di tenggorokannya.
Ia hanya menunduk.
Papinya sedang sakit. Ia tidak sanggup membuat lelaki itu kembali berpikir keras.
"Ya, Pi," jawab Marcha lirih.
Hanya itu, tidak ada bantahan, tidak ada penjelasan padahal jauh di dalam hatinya, ia tahu persis kalau memang Deven menginginkan hartanya... Lelaki itu tidak akan pernah meminta putus. Deven pasti akan memilih menunggu.
Sebulan.
Setahun.
Atau selama apa pun.
Namun yang diinginkan Deven sejak awal bukanlah uang melainkan kepastian, Komitmen... Sesuatu yang saat itu tidak mampu diberikan Marcha dan justru karena itulah... Marcha semakin merindukannya.

Hari itu dimulai seperti hari-hari sebelumnya. Marcha duduk di samping tempat tidur papinya sambil membaca sebuah buku, sesekali ia mengangkat kepala, memastikan kondisi William baik-baik saja, lalu kembali menatap halaman yang sejak tadi tidak benar-benar ia baca.
Tiba-tiba...
"Ahh...!"
Berto meringis keras sambil memegang dadanya.
"Pi!" Marcha langsung berdiri"Papi!" Buku di tangannya jatuh begitu saja ke lantai "Suster! Dokter!"
Marcha berlari keluar kamar, memanggil tenaga medis yang berjaga dan dalam hitungan detik beberapa dokter dan perawat berdatangan, pintu kamar langsung ditutup.
Marcha hanya bisa berdiri di luar sambil mengepalkan kedua tangannya. Refleks ia berharap... Deven yang keluar dari balik pintu itu namun ia teringat, jam kerja Deven sudah selesai.... dengan tangan gemetar, Marcha segera menghubungi Ingvar yang masih berada di kantor dan maminya di rumah.
Tak lama kemudian mereka datang namun ruang rawat masih tertutup rapat, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu apa yang sedang terjadi di dalam.
Sekitar dua puluh menit kemudian langkah kaki tergesa terdengar di lorong rumah sakit. Marcha spontan menoleh, Deven...Masih mengenakan pakaian santainya, rambutnya sedikit berantakan, napasnya belum sepenuhnya teratur, sepertinya ia datang terburu-buru begitu menerima telepon dari rumah sakit.
Di belakangnya menyusul Surya dan Ricky.
Entah kenapa, hanya melihat Deven datang saja sudah membuat dada Marcha terasa sedikit lega meski... Di saat yang sama ia juga bingung, Bagaimana mereka harus bersikap sekarang? Haruskah ia menyapa? Haruskah ia berpura-pura biasa? Atau cukup diam?
Namun kebingungan itu ternyata tidak perlu berlangsung lama karena Deven bahkan tidak memberinya kesempatan, ia hanya mengangguk sopan sekilas lalu langsung masuk ke ruang perawatan bersama kedua rekannya.
Tidak sepatah kata pun.
Tidak satu tatapan pun.
Seolah Marcha hanyalah keluarga pasien, tidak lebih, entah kenapa... Sikap itu justru jauh lebih menyakitkan daripada pertengkaran mereka.
Tak lama kemudian Deven keluar dari ruang perawatan.
Maminya langsung menghampiri "Tolong papi kamu ya, Dev."
Deven mengangguk sopan "Deven akan berusaha semaksimal mungkin menolong Om Berto, Tante."
Mata Mami langsung membulat "Om... Tante?"
Marcha memejamkan mata pelan. Ia tahu, kini semua orang akhirnya mengerti. Hubungan mereka benar-benar telah berakhir setelah Deven kembali masuk ke ruang perawatan, Mami menarik Marcha duduk di kursi lorong.
"Apa maksud Deven tadi, Cha?" Maminya menatapnya bingung "'Om'... 'Tante'?, Kalian kan sudah tunangan."
Marcha menarik napas panjang, ia merasa tidak ada lagi gunanya menyembunyikan semuanya.
"Marcha sama Deven... putus, Mi."
"Putus?" Maminya langsung menatapnya tidak percaya "Kok bisa?"
"Dari tunangan... jadi putus?"
Marcha menundukkan kepala lalu perlahan menceritakan semuanya.
Tentang permintaan papinya.
Tentang penundaan pernikahan.
Tentang Deven yang akhirnya memilih pergi.
Maminya mendengarkan sampai selesai "Hmm..." Beliau menghela napas panjang. "Mami paham kenapa kamu mengambil keputusan itu."
Marcha mengangkat wajah.
"Tapi..." Maminya menggenggam tangan putrinya "...Mami juga paham kenapa Deven memilih pergi."
Marcha terdiam.
"Cha...Selama ini papi kamu banyak meminta macam-macam dari Deven dan anak itu selalu mengiyakan, mau tinggal di Indonesia, mau tinggal serumah, mau pesta sederhana dan hampir semuanya dia ikuti."
Mata Marcha mulai memanas.
"Kalau sekarang dia masih diminta menunggu tanpa tahu sampai kapan..." Maminya menggeleng pelan "Itu terlalu berat bahkan buat laki-laki yang sangat mencintaimu."
Marcha menggigit bibirnya karena ia tahu... Semua itu benar.
"Tapi ini keinginan Papi..." suara Marcha lirih.
"Ya." Maminya mengangguk "Tapi kamu sendiri? Kamu memang siap menikah?"
Pertanyaan itu membuat Marcha terdiam cukup lama lalu ia tersenyum tipis. Sedih
"Enggak." Jawabannya nyaris seperti bisikan "Pekerjaanku terlalu banyak, Mi, Aku masih harus bolak-balik Indonesia, Eropa, Amerika, Aku gak mau menikah cuma buat hidup berjauhan sama suamiku."
Maminya mengusap punggung tangannya "Kalau begitu...Pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?"
Marcha tersenyum kecil "Pulang ke rumah yang sama, Makan malam bareng, Bangun pagi bareng, Sesederhana itu kayak Papi sama Mami."
Maminya tersenyum pahit "Kamu lihat kami dari luar tapi kamu gak pernah tahu apa yang kami lalui."
Marcha menatap maminya.
"Tidak ada pernikahan yang sempurna, Cha, setiap pasangan membuat aturan mereka sendiri."
"Lalu..."
"Mami mau tanya satu hal. Deven pernah keberatan dengan pekerjaanmu?"
Marcha menggeleng "Enggak, dia selalu mendukung."
"Kalau begitu..." Maminya tersenyum lembut. "Mungkin yang kamu takutkan hanya ada di pikiranmu karena selama ini Deven selalu memilih berjalan bersamamu."
Marcha menunduk. Dadanya semakin sesak, ia baru sadar... mungkin selama ini Deven memang tidak pernah memintanya berubah justru dirinya sendiri yang terus merasa belum cukup siap, belum sempat Marcha menjawab... Pintu ruang perawatan terbuka.
Deven keluar bersama Surya dan Ricky, Marcha, Ingvar, dan Maminya langsung menghampiri.
"Gimana keadaan Om Berto, Dev?" tanya Mami.
"Keadaan Om sudah stabil."Nada suara Deven tetap profesional "Tapi rasa sakit seperti tadi akan terus berulang, sel kankernya mulai menyebar."
Marcha menatapnya "Tapi kemarin kamu bilang gak operasi juga gak apa."
"Bisa." Jawaban Deven singkat "Tapi Om akan terus mengalami nyeri seperti ini."
Ingvar langsung menatap Deven "Jadi... harus operasi?"
"Iya kalau kalian tidak ingin Om terus merasa kesakitan."
Keheningan menyelimuti mereka lalu Marcha menarik napas panjang
"Operasi aja." Suara itu terdengar pelan "Aku gak sanggup lihat Papi kesakitan terus."
Deven mengangguk "Baik, nanti aku atur jadwal operasi dan tim dokternya."
Marcha memberanikan diri menatapnya "Yang operasi... kamu kan?"
"Iya." Jawaban itu kembali singkat.
Sebelum Marcha sempat mengatakan apa pun lagi, ponselnya berdering dan nama Deca muncul di layar.
"Maaf, sebentar."
Ia menjauh untuk menerima telepon.
Percakapan itu hanya berlangsung beberapa menit namun ketika ia kembali... lorong rumah sakit sudah jauh lebih sepi. Deven. Surya. Ricky, semuanya sudah pergi.
"Loh..." Marcha menoleh ke Ingvar "Deven?"
"Udah pulang." Ingvar menjawab pelan "Kak Deven bilang nanti urusan operasi langsung hubungi Dokter Louis, dia gak perlu dihubungi lagi."
Marcha membeku "Dia bilang begitu?"
"Iya, hari ini kan dia lagi libur... dia datang ke rumah sakit cuma karena dengar Papi kambuh."
Entah kenapa...kalimat itu justru membuat hati Marcha semakin sakit.
Dulu... Deven selalu menunggunya selesai, mengajaknya makan. Menggodanya. Sekarang... Bahkan pergi pun tanpa pamit. Marcha tersenyum tipis. Pahit. Mungkin beginilah rasanya menjadi orang asing bagi seseorang yang dulu paling mengenal kita.
"Hei, Kak." Ingvar menepuk pelan bahunya "Yang penting sekarang operasi Papi dulu."
Marcha mengangguk "Iya. Itu yang paling penting."
"Kak..." Ingvar menatapnya hati-hati "Kakak masih sedih karena Kak Deven?"
Marcha memaksakan senyum "Enggak, gue sama Deven sekarang cuma teman, buat apa sedih?"
"Yakin?"
Marcha mengangguk pelan "Gue lebih sedih lihat Papi sakit, soal patah hati..." Ia menarik napas dalam "...lama-lama juga sembuh."
Ingvar tidak menjawab karena ia tahu. Kadang orang yang tersenyum paling tenang...Justru sedang paling hancur.

Mereka masuk kembali ke ruang perawatan, Berto membuka mata pelan saat melihat putrinya datang.
"Cha..."
Marcha langsung menggenggam tangannya "Iya, Pi."
Berto menatapnya lama "Lalu akhirnya... Kamu putus sama Deven karena Papi?"
Marcha tersenyum kecil.
Bohong untuk kedua kalinya "Bukan karena Papi, ini keputusan aku sama Deven."
Berto mengangguk pelan "Lupakan dia, dia bukan laki-laki yang tepat, dia cuma mengincar uang kamu."
Marcha tidak membantah bukan karena ia setuju justru karena ia tahu... Papinya salah kalau Deven menginginkan hartanya... laki-laki itu tidak akan pernah pergi, ia akan bertahan apa pun yang terjadi yang diinginkan Deven sejak awal hanyalah satu.
Kepastian dan kini...Setelah kehilangan Deven...Marcha baru menyadari satu hal. Standarnya dalam memilih pasangan ternyata bukan jabatan bukan kekayaan, bukan status melainkan kehangatan hati dan kehangatan itu... Pergi bersama Deven.

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang