Sorry from me (Kevin)

67 7 1
                                        

"Jadi gitu ceritanya?"
Marcha merebahkan tubuhnya di sofa apartemen sambil menyelipkan ponsel di telinga. Di luar jendela, lampu kota New York masih ramai, tapi kepalanya justru makin penuh setelah mendengar penjelasan Kevin. Sementara itu di Jakarta, Kevin berdiri di balkon apartemennya sambil mengisap rokok dengan santai.
"Shannon lagi stres karena ada masalah, gak punya tempat curhat, terus gak sengaja ketemu Deven?" ulang Marcha pelan.
"Ya... kurang lebih begitu," jawab Kevin. "Deven bilang gitu."
Marcha diam beberapa detik.
Kevin langsung mendecak pelan "Cha, lo harus maafin Deven deh. Gue jadi gak enak sendiri bikin hubungan kalian makin berantakan."
"Hubungan gue sama Deven udah berantakan bahkan sebelum ada masalah Shannon," jawab Marcha jujur sambil memijat pelipisnya.
"Ya tapi tadi gue lihat sendiri kondisi dia," kata Kevin. "Asli, tuh orang kayak habis ditinggal hidup."
Marcha langsung mengernyit "Lebay."
"Serius." Kevin terkekeh kecil. "Mukanya pucet, mata panda, aura-aura manusia yang hidupnya tinggal cicilan dan masalah."
Marcha menahan senyum tipis "Tadi dia bahkan bilang mau keluar dari kerjaannya di rumah sakit."
Marcha langsung bangkit duduk "Hah?!"
Kevin sampai menjauhkan ponsel sedikit karena kaget dengar nada suara Marcha berubah drastis
"Kenapa?! Deven mau keluar dari rumah sakit?!" Marcha langsung panik. "Dia gak pernah cerita apa-apa sama gue!"
"Ya lo gak bisa ditelepon, gimana dia mau cerita?" jawab Kevin santai.
Marcha langsung terdiam.
Kevin melanjutkan dengan nada lebih serius "Tadi dia bilang stres, kayaknya hubungan kalian bikin dia kepikiran banget."
Marcha menggigit bibir bawahnya pelan
"Dia bahkan ngomong mau ngilang dari muka bumi."
"Hah?!" Marcha makin panik. "Vin, maksud lo apa?!"
Kevin buru-buru meluruskan posisi berdirinya karena hampir ketawa sendiri mendengar reaksi Marcha yang langsung mode siaga satu "Ya... mungkin dia cuma ngelantur karena capek," katanya sok bijak. "Tapi serius sih, gue ngerasa dia beda tadi."
"Deven gak pernah ngelantur," potong Marcha cepat. "Kalau dia ngomong mau pergi, ya dia bakal pergi."
Kevin langsung menahan tawanya dengan batuk palsu "Ahem."
"Tadi lo berapa lama di kantor dia?" tanya Marcha cepat.
"Mungkin sejam."
"Hari ini Sabtu," gumam Marcha sambil berpikir. "Dia harusnya off."
"Ya mana gue tau jadwal dokter," jawab Kevin. "Gue aja dulu mikir dokter tinggal nyolokin termometer terus selesai."
Marcha menghela napas pendek "Deven gak pernah tukeran shift sembarangan..."
Kevin langsung memanfaatkan momen itu "Ya pokoknya tadi dia keliatan capek banget," katanya dramatis. "Terus pas ada pasien gawat, mukanya kayak... hampa."
"Vin..."
"Kayak bunga layu kena AC."
"VIN!"
"Iya iya." Kevin ngakak kecil. "Mungkin dia cuma butuh liburan sih."
Marcha makin gelisah sekarang "Dia sekarang pasti udah di apartemen..." gumamnya pelan seperti bicara pada diri sendiri.
"Mungkin," jawab Kevin santai. "Tapi tadi dia bilang masih ada jadwal operasi pasien lagi."
Marcha langsung reflek menjelaskan "Kerja dokter itu bisa sampai tiga puluh enam jam, Vin. Kalau dia udah shift dari kemarin, berarti sekarang dia pasti udah pulang."
Kevin mendengarkan sambil manggut-manggut meski sebenarnya gak terlalu ngerti "Ya makanya," katanya asal. "Coba aja lo telepon sendiri."
Marcha langsung berdiri dari sofa "iya... iya, gue telepon dia sekarang."
Kevin senyum puas sendiri. Wah, ternyata nge-prank Marcha gampang juga. Tinggal bilang Deven capek sedikit, langsung mode pacar siaga nasional.
"Ya gue rasa lo memang harus telepon dia," kata Kevin sok serius. "Dia nungguin lo dari tadi."
Marcha menggigit bibirnya pelan, merasa sedikit bersalah "I know..." gumamnya lalu sebelum menutup telepon, Marcha kembali mengingat sesuatu "Oh ya," katanya cepat. "Masalah Shannon... menurutku kamu juga harus ketemu dia."
Kevin langsung menghela napas panjang "Cha..."
"Dia udah ngerasain kehilangan kamu sekarang," lanjut Marcha. "Dan jujur aja, aku gak pernah lihat Shannon seberantakan itu sebelumnya."
Kevin diam.
"Lo urus cowok lo aja," jawabnya akhirnya sambil tersenyum tipis. "Urusan gue sama Shannon biar gue pikirin sendiri."
"Gue ngomong sebagai teman kalian berdua." Marcha ikut tersenyum kecil. "Dulu lo yang bantuin gue sama Shannon baikan, gue juga pengen hubungan kalian balik kayak dulu."
Kevin menatap langit malam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil "Ya... gue tau."
"Udah ya," kata Marcha. "Gue mau telepon Deven dulu."
"Nah itu." Kevin nyengir. "Cepetan sana. Sebelum dokternya makin drama."
Marcha tertawa kecil akhirnya "Iya bawel. Bye."
"Bye, Nyonya Boss."
Telepon pun terputus. Kevin menghela napas lega sambil menyandarkan tubuh ke pagar balkon. Jujur saja, ia merasa bersalah pada Deven, dia terlalu cepat salah paham soal Deven dan Shanna padahal setelah mendengar cerita lengkapnya, Deven memang cuma menemani Shanna yang sedang hancur sendirian.
Kevin mengusap wajahnya pelan dan anehnya... setelah mendengar semua itu, yang justru terus terlintas di kepalanya malah wajah Shanna, perempuan itu pasti benar-benar sendirian sekarang.
Kevin
Shan, Deven bilang lo mau ketemu gue ya?
Non
akhirnya lo hubungi gue😢, iya... kita perlu ngomong Vin
Kevin
ya, nanti gue kabarin lagi ya. beberapa hari ini gue masih sibuk Shan
Non
ya, nanti kabarin ya Vin
Kevin menghela napas pelan setelah membaca balasan terakhir Shanna.
Ia menaruh ponselnya di meja, lalu kembali menatap laptop yang penuh dokumen kerja. Baru juga tangannya menyentuh mouse, ponselnya kembali berdering.
"Marcha?" gumamnya heran. "Ada apalagi ini manusia..."
Kevin langsung mengangkat teleponnya "Hallo Cha."
"Vin, lo bisa hubungi Deven gak?" suara Marcha terdengar cemas. "Kenapa gue telepon dia gak bisa ya?"
Kevin langsung bersandar di kursinya "Oh... mungkin dia tidur, Cha," jawabnya santai. "Kemarin dia keliatan capek banget."
"Ya gue tau..." Marcha menarik napas panjang. "Lo bantuin gue mastiin keadaan dia dong."
Kevin memijat pelipisnya pelan "Cha, Deven itu udah dewasa. Gak usah dicek tiap lima menit juga dia gak bakal berubah jadi anak ilang."
"Vin, please..." suara Marcha makin terdengar khawatir. "Gue takut Deven kenapa-napa."
Kevin melirik tumpukan kerjaannya di meja "Tapi gue lagi ada kerjaan, Cha. Gue gak bisa—"
Tut.
Kevin langsung menurunkan ponselnya perlahan "...lah?"
Teleponnya dimatiin. Kevin melotot kecil menatap layar. Marcha? Matiin telepon dia? Itu lebih langka daripada Deven nolak pasien.
Kevin langsung mencoba menelepon balik. Tidak bisa. Dicoba lagi. Tetap tidak bisa.
"Waduh..." gumam Kevin sambil mulai duduk tegak. "Ini bahaya."
Ia buru-buru mengirim chat.
Kevin
Cha, gw bukan gak mau bantuin lo nyari Deven tapi gw sibuk dan gw yakin Deven baik-baik aja. dia mungkin tidur...
Tidak dibaca sampai malam, sampai besok pagi, tetap tidak dibaca. Kevin mulai gelisah sendiri. Masalahnya bukan cuma soal Marcha marah tapi karena klien seperti Marcha itu susah dicari. Perempuan itu rela keluar uang sebanyak apapun asal kerjaannya beres. Dan buat pengacara seperti Kevin, klien model begitu adalah berkah dunia akhirat kalau sampai Marcha ngambek terus pindah pengacara...Kevin merasa hidupnya akan ikut pindah jalur.
"Gara-gara Deven gue bisa bangkrut," gumamnya frustrasi.
Akhirnya dengan sangat terpaksa, Kevin menelepon Deven pagi itu dan seperti dugaan Kevin, teleponnya langsung diangkat.
"Hallo Dev."
"Hey Vin," jawab Deven lesu. "Ada apa?"
Kevin langsung to the point "Lo dimana?"
"Hah?" Deven terdengar curiga. "Jangan bilang lo mau ketemu gue lagi."
"Bukan." Kevin cepat-cepat menyangkal. "Kemarin Marcha nyariin lo."
"Oh itu..." Deven menghela napas. "Gue udah teleponan kok sama dia."
Kevin langsung lega setengah mati "Syukurlah..." gumamnya pelan.
"Tapi," lanjut Deven datar, "dia sekarang marah sama kita semua."
Kevin langsung menegakkan badan "Hah?"
"Dia bilang gue sama lo sama-sama pembohong."
Kevin langsung protes "Eh gue gak bohongin dia!"
"Lo ngomong apa aja emang ke Marcha?" tanya Deven.
"Ya gue cerita apa yang lo omongin kemarin."
Deven langsung menghela napas panjang "Vin..." suaranya terdengar capek. "Gue gak bilang kalau gue mau keluar dari kerjaan gue sekarang juga."
"Lo bilang lo mau resign!"
"Itu rencana!" potong Deven cepat. "Rencana, Vin. Bukan gue besok langsung ngilang terus buka warung seblak."
Kevin langsung terdiam beberapa detik "Ya... gue cuma pengen Marcha telepon elo," katanya pelan membela diri.
"Tapi cara lo ngomong bikin dia panik."
"Gue liat lo emang stres!" Kevin mulai membela diri lagi. "Muka lo kayak pasien kurang tidur tiga generasi."
Deven terkekeh miris "Ya gue stres, tapi gak separah yang lo gambarin ke Marcha."
"Ya mana gue tau dia bakal panik gitu."
Terdengar helaan napas panjang dari Deven di seberang sana.
Kevin langsung memanfaatkan kesempatan "Dev..." katanya hati-hati. "Lo bantuin gue baikan sama Marcha dong."
Deven langsung ketawa pendek tak percaya "Vin... Marcha marah besar sama gue gara-gara elo." Ia menghela napas lagi. "Lo minta gue bantuin lo baikan sama dia tuh gimana konsepnya?"
Kevin meringis sendiri "Ide buruk sih nyuruh dia telepon lo kemarin."
"Ide buruk kalau lo ngomongnya ngawur."
"Ya gue gak sengaja ngawur..."
"Lo tuh pengacara, Vin." Deven terdengar pasrah. "Harusnya lo jago ngomong."
Kevin langsung nyengir sendiri "Kalau soal hukum iya kalau soal percintaan? Gue juga korban."
Deven akhirnya ketawa kecil.
"Serius deh," lanjut Kevin. "Gue cuma pengen lo baikan sama Marcha."
"Caranya yang bener," sahut Deven. "Marcha tadi ngomong sesuatu yang bikin gue sadar."
"Apa?"
"Kalau gue gak bisa terus-terusan cuma bilang maaf."
Kevin terdiam mendengarkan.
"Dia bilang permintaan maaf itu harus kelihatan lewat sikap," lanjut Deven pelan. "Dan jujur aja... dia benar."
Kevin bersandar sambil mendengarkan serius sekarang.
"Selama ini gue memang sering nganggep semuanya bakal selesai cuma karena gue minta maaf," kata Deven lirih. "Padahal dia capek."
"Tapi kalian LDR begini..." Kevin mengernyit bingung. "Lo mau nunjukin perubahan gimana?"
"Nah itu." Deven tertawa hambar. "Gue juga belum tau."
Beberapa detik hening.
"Tapi setidaknya sekarang gue ngerti kenapa dia marah sampai gak mau angkat telepon gue." suara Deven terdengar jauh lebih tenang dibanding kemarin. "Dan kalau gue gak berubah..." lanjutnya pelan, "gue bakal makin susah dapetin dia balik."

Aku Dan DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang