Kevin baru aja keluar dari kantor bokapnya Marcha ketika ponselnya bergetar. Nama Gogo muncul di layar. Kevin mendesah pelan. Nih anak gak kapok-kapok juga ngajak balikan nge-band, pikirnya. Bukan apa-apa. Kerjaannya lagi hype banget.
Bos besar kayak Marcha aja udah bikin Kevin pusing tujuh keliling, jangankan latihan... napas aja kadang kejar-kejaran sama deadline tapi Kevin juga gak mau dicap sombong sama Gogo dan geng band lama.
Telepon diangkat.
"Hallo, Go."
"Di mana lo, bro?" tanya Gogo tanpa basa-basi.
"Di kantor bokapnya Marcha," jawab Kevin santai. "Kenapa?"
"Ngapain lo ke kantor bokapnya Marcha?" suara Gogo terdengar bingung setengah curiga.
"Marcha klien gue, Go," Kevin menekankan. "Gue kerja. Ker-ja. Bukan numpang ngopi."
"Oh..." Gogo terdengar agak kecewa. "Kirain—ya udah deh. Eh, Vin, gue boleh minta tolong gak?"
Kevin langsung waspada. "Tergantung. Kalau manggung, latihan, atau reuni band, jawabannya udah otomatis: gak bisa."
"Bukan itu," kata Gogo cepat. "Gue minta tolong lo jemput Shanna"
"Jemput Shann@?" Kevin berhenti jalan. "Hah? Kok ke gue? Deven ke mana? Dia kan cowoknya."
"Deven minta tolong gue," jelas Gogo. "Dia baru pulang dari rumah sakit. Badannya pegel semua katanya, kayak abis diaduk-aduk semen."
Kevin mendengus. "Terus?"
"Terus gue juga gak bisa," lanjut Gogo enteng. "Lagi proses rekaman anak idol baru. Ribet, Vin. Satu salah dikit bisa nangis satu studio."
"Deven gak boleh gitu dong," kata Kevin ketus. "Masa nyuruh cowok lain jemput ceweknya."
"Biasanya juga dia gak pernah gini," bela Gogo. "Ini mungkin karena capek banget."
"Capek ya capek," sahut Kevin. "Tetep aja aneh."
"Jadi lo bisa jemput Shanna gak?" tanya Gogo hati-hati. "Kalau gak bisa, nanti gue bilang ke dia."
Kevin menghela napas panjang. "Shanna di mana sekarang?"
"Di rumah. Dia harus ke Senayan buat manggung."
Kevin diam sebentar, lalu menyerah. "Oke. Gue jemput."
"Serius?" suara Gogo langsung cerah. "Makasih banget, Vin. Deven harus traktir lo nih."
"Gak usah traktir," kata Kevin. "Yang penting dia bisa jaga ceweknya aja udah prestasi."
Gogo terkekeh. "Iya, iya. Nanti gue sampein ke dia. Thanks ya, Vin."
Telepon ditutup. Kevin menatap ponselnya sebentar lalu menggeleng pelan. Kerjaan numpuk, band bubar, eh sekarang jadi driver dadakan, batinnya. Hidup gue makin ke sini makin mirip side quest.
Beberapa menit kemudian, Kevin akhirnya sampai di depan rumah Shanna.
Dari dalam mobil, Kevin langsung melihat Shanna berdiri di teras dengan kening berkerut, mondar-mandir kecil sambil sesekali melirik jam di tangannya—ekspresi orang yang udah siap ngamuk tapi masih ditahan. Kevin menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Lo nunggu apa, Shan?" serunya. "Nunggu hujan badai, gempa susulan, apa kiamat sekalian? Ayo masuk."
Shanna menoleh, sedikit kaget. "Kata Deven, yang jemput gue Gogo."
"Gogo sibuk," jawab Kevin santai. "Dia nitipin elo ke gue. Anggap aja gue versi hemat buat Gogo."
Shanna mendengus kecil, lalu membuka pintu mobil dan masuk "Sorry ya... jadi ngerepotin."
Kevin menyalakan mesin. "Santai. Gue udah biasa direpotin perasaan sendiri."
Mobil mulai melaju.
"Gue ngerasa kayak cowok lo deh," lanjut Kevin. "Ke pesta pergi sama gue, kerja gue yang anterin. Jangan-jangan nanti pulang, gue juga yang jemput. Lengkap sudah paket pacar cadangan."
"Jangan sampe omongan lo kedengeran sama Deven," kata Shanna cepat.
"Justru gue pengen dia denger," sahut Kevin. "Biar dia tau, ceweknya jangan diperlakukan kayak paket COD."
Shanna menoleh. "Lo keberatan jemput gue?"
"Enggak," jawab Kevin jujur. "Malah seneng. Siapa tau di jalan elo mikir ulang, terus bilang, 'Vin, kayaknya gue salah pilih cowok.'"
"Vin!" Shanna memukul ringan lengan Kevin.
Kevin tertawa kecil. "Tenang. Gue gak akan ngerebut. Gue cuma berharap suatu hari elo nyerah sendiri... setelah sadar lo nyia-nyiain ketulusan gue demi Deven yang hobi nyia-nyiain elo."
Nada Kevin memang santai, tapi kata-katanya menusuk.
"Gue cinta sama Deven, dan lo tau itu," kata Shanna pelan.
"Iya, gue tau," Kevin mengangguk. "Tapi cinta sepihak itu kayak nelpon orang yang gak pernah angkat. Mau lo bertahan sampe kapan?"
"Gue bakal nikah sama Deven," jawab Shanna mantap.
Kevin melirik sekilas. "Shan... nikah gak otomatis bikin cinta jadi dua arah. Lo yakin bisa hidup lama sama perasaan sendirian?"
"Deven cinta sama gue."
"Iya," Kevin menghela napas. "Dia cinta. Tapi sejak Marcha dateng, perhatiannya lebih sering ke Marcha."
"Bokap Marcha sakit," bantah Shanna. "Deven perhatian karena itu. Perhatian gak selalu berarti cinta."
"Lo boleh bohongin gue, logika, atau dunia," kata Kevin tenang. "Tapi hati lo sendiri gak bisa elo bohongin. Lo tau Deven masih sayang—bahkan cinta—sama Marcha."
Shanna terdiam. Pandangan matanya lurus ke depan, bibirnya mengatup rapat. Kevin tau. Diamnya Shanna bukan karena gak ngerti, tapi karena terlalu ngerti.
"Marcha gak cinta sama Deven," kata Shanna akhirnya.
"Lo tau dari mana?" tanya Kevin.
"Marcha gak bakal nusuk gue dari belakang," jawab Shanna yakin. "Gue tau dia."
Kevin mengangguk pelan. "Mungkin lo bisa percaya sama Marcha tapi perasaan itu bukan barang yang bisa dikontrol. Apalagi kalau Deven yang mulai perhatian duluan."
Shanna menoleh. "Lo tau semua ini dari mana sih?"
"Marcha cerita," jawab Kevin. "Gue dari kantornya tadi. Dan satu hal... dia lagi berusaha keras banget buat ngejauh dari Deven sekarang."
"Apa yang dia ceritain?" tanya Shanna pelan.
Kevin menggeleng. "Gue gak mau bikin lo nangis pas mau manggung." Ia menarik napas. "Gue cuma mau elo tau... lo lagi bertahan sama cowok yang salah dan cinta sepihak itu gak pernah punya ending bahagia, Shan."
"Aku yakin Deven cinta sama aku," kata Shanna lirih.
Kevin tersenyum miris. "If he really loves you, he'll make you his priority—kayak yang gue lakuin ke elo sekarang."
Shanna tak menjawab. Ia hanya menatap jalanan di depan, lampu-lampu kota Senayan mulai terlihat menyala satu per satu. Mobil berhenti. Kevin turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Shanna. Sejenak mereka terdiam—di antara suara klakson, lampu kota, dan perasaan yang sama-sama belum selesai.
Shanna baru saja turun dari mobil ketika sebuah suara memanggil namanya.
"Shanna."
Shanna menoleh, Anneth berdiri tak jauh dari sana, bersama maminya.
"Eh!" Shanna langsung nyengir. "Hai, Tante. Hai, Neth."
Anneth melirik ke arah mobil, lalu ke Kevin.
"Kirain tadi Deven yang anterin. Ternyata elo, Vin." Ia menyeringai. "Udah dikontrak resmi ya sama Shannon jadi sopir pribadi?"
"Neth!" Shanna menegur pelan, nyubit kecil lengan Anneth.
"Bercanda, Vin. Bercanda," kata Anneth cepat.
Kevin cuma tersenyum tipis, lalu pandangannya bergeser ke mami Anneth. Ia pernah dengar cerita dari Deven tentang sosok yang jadi alasan Anneth dan Deven berpisah, dari luar, perempuan itu terlihat seperti ibu pada umumnya—rapi, tenang, wajahnya lembut. Sekilas mirip mama Deven, mami Shanna, bahkan mami Marcha tapi Kevin tau... penampilan seringkali cuma kulit luar.
"Oh iya, Mi," kata Anneth ceria. "Belum kenal kan? Ini Kevin, temennya Anneth sama Shanna."
"Halo, Tante," sapa Kevin sopan.
Mami Anneth menatapnya sejenak, lalu matanya menyipit tipis "Oh... kamu pengacara itu ya? Kevin Kahuni?"
Kevin agak terkejut. "Tante tau saya?"
"Tentu," jawab mami Anneth sambil tersenyum. "Ada teman tante yang pernah jadi klien kamu."
"Oh..." Kevin mengangguk. "Iya, Tan."
Tiba-tiba mami Anneth menoleh ke Anneth "Daripada sama Betrand, mending kamu sama Kevin aja, Neth." Nada bicaranya ringan, tapi tegas. "Gak perlu pusing mikirin job kosong atau masa depan."
Anneth tertawa kecil, sementara Kevin cuma nyengir kaku. Lah, gue mendadak jadi paket solusi hidup?, Dalam hati Kevin mendengus, Pantes aja Deven dan keluarganya gak sreg sama mami Anneth.
"Mi!" Anneth berseru. "Tipe Anneth bukan yang kayak Kevin."
Kevin langsung nyeletuk, "Tenang. Tipe gue juga bukan yang kayak elo."
"Berisik," balas Anneth.
Shanna cepat-cepat merangkul lengan Anneth "Udah, udah. Ayo masuk backstage sebelum kalian bikin konser sendiri di parkiran."
Kevin tau, Shanna sengaja narik Anneth biar situasi gak makin panas.
"Ntar lo gue jemput atau enggak, Shan?" tanya Kevin.
"Gak usah," jawab Shanna. "Ntar Deven yang jemput."
Kevin melirik ragu. "Yakin Deven bisa?"
"Bisa. Besok dia off," kata Shanna sambil nyengir.
"Oke." Kevin mengangguk, lalu menoleh ke mami Anneth. "Permisi ya, Tan."
Mami Anneth tersenyum dan mengangguk namun baru beberapa langkah, tiba-tiba kakinya terpeleset.
"Tan—!"
Dengan refleks, Kevin langsung menahan tubuh mami Anneth sebelum jatuh, tubuhnya selamat tapi tas dan barang-barang yang dibawa mami Anneth berhamburan ke lantai.
"Mi!" Anneth dan Shanna langsung berlari menghampiri.
Mereka bertiga jongkok, membantu mengumpulkan barang-barang yang berserakan. Wajah mami Anneth terlihat pucat.
"Shanna..." suaranya agak gemetar. "Kamu orang Manado ya?"
Shanna mengerutkan kening. "Iya, Tan. Tante tau dari mana?"
"Enggak," mami Anneth tersenyum aneh. "Cuma... asal nebak."
Ia melirik Anneth. "Tante sama Anneth juga dari Manado."
"Oh iya," Shanna tertawa kecil. "Anneth pernah cerita. Kita serumpun."
"Iya..." mami Anneth mengangguk pelan. Senyumnya tetap ada, tapi wajahnya justru makin pucat.
Saat Shanna mengambil dompet mami Anneth, dompet itu terbuka tanpa sengaja. Kevin dan Shanna sama-sama melihatnya, sebuah foto lama, beberapa orang berdiri saling berpelukan, wajahnya masih sangat muda.
Shanna mengerutkan kening "Waow, Tante. Masih simpen foto jadul begini."
"Oh itu..." mami Anneth buru-buru mengambil dompetnya. "Foto tante sama saudara-saudara tante."
Ia tersenyum, tapi raut wajahnya tak lagi setenang tadi. Shanna tampak biasa saja, entah dia tak menyadari perubahan wajah mami Anneth—atau memilih tak peduli tapi Kevin menyadarinya dan ada satu hal lain yang mengganggunya, foto itu... terasa familiar seperti pernah ia lihat sebelumnya. Entah di mana. Entah kapan. Kevin jarang punya perasaan "pernah melihat" yang sekuat ini dan justru itulah yang membuat dadanya terasa sedikit tidak nyaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Dan Dia
FanficBertahun-tahun telah berlalu sejak masa SMA yang berakhir dengan luka-bukan hanya bagi satu orang, tapi bagi mereka semua. Waktu mengubah banyak hal. Deven kini dikenal sebagai dokter spesialis ternama. Marcha menjelma menjadi pengusaha perempuan pa...
