70

1.1K 189 106
                                        

"Apa dia tidak lelah tertidur seperti itu?" Gumam Josh pelan pada diri sendiri sambil menatap lurus ke arah tubuh Dave yang terbaring tak sadarkan diri lebih dari satu bulan yang lalu. "Kau bahkan bukan putri tidur, Dave."

Saat di beritahu oleh Brian mengenai apa yang menimpa sahabatnya. Ia beserta Lucas dan juga Raka langsung bergegas terbang ke Jepang untuk memastikan keadaan Dave.

Tidak ada luka parah di tubuh pria itu, hanya saja keinginannya untuk segera sadar teramat tipis. Dave jatuh ke dalam keadaan tidur panjang tanpa niat untuk membuka mata.

"Apa kita perlu meninjunya agar dia bangun?" Tanya Raka. Ia merindukan kekonyolan sahabatnya. Namun di satu sisi ia ingin menyalahkan Dave atas semua yang terjadi.

"Dia memang melakukan kesalahan, Rak. Tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyalahkan apa yang sudah ia lakukan," ucap Lucas bijak. Sudah satu bulan berlalu dan Raka masih tetap saja menyimpan marah untuk menyalahkan Dave. Lucas mengerti kemarahan itu. Tapi saat ini ia hanya berharap Dave segera bangun dari tidur panjangnya yang tampak mengerikan. "Saat ini dia paling membutuhkan keberadaan kita di sisinya."

"Lucas benar, Rak. Aku bahkan sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi yang akan dia berikan ketika membuka mata dan tidak ada Sherry di sisinya."

Raka mendengkus. Ada rasa penyesalan di hatinya. Seandainya saja, saat dia tahu masalah yang menimpa rumah tangga Dave dan langsung terbang ke Jepang mungkin semuanya tidak akan menjadi tak terkendali seperti ini. Namun semua yang terjadi tidak dapat di ulang kembali.

Terlebih mereka kehilangan Sherry. Wanita itu tidak bisa di temukan walaupun mereka telah mengerahkan seluruh kekuatan.

Sherry menghilang bagai di telan bumi.

"Aku hanya berharap dia masih hidup dan hanya berada di suatu tempat yang tidak bisa kita temukan," itulah harapan yang selalu Raka ucapkan sejak tahu Sherry menghilang. Bukan hanya dirinya, semua yang mengenal wanita itu mengharapkan hal yang sama.

Selama Sherry masih hidup, itu sudah lebih dari cukup.

Josh menghela napas panjang. Memikirkan kembali bagaimana semua terjadi satu bulan terakhir membuatnya lelah luar biasa.

Mencari keberadaan Sherry sama sulitnya dengan mencari keberadaan Arell dulu. Yang membuat semuanya terlihat berbeda adalah mereka tidak tahu apakah wanita itu masih hidup atau tidak.

Josh tidak menyangkal kegundahan yang tengah di tutupi kedua sahabatnya. Mereka sama-sama menutupi rasa takut akan kemungkinan bahwa Sherry sebenarnya sudah mati. Josh melangkah mendekat ke arah tempat tidur Dave lalu duduk sambil menyentuh tangan Dave pelan. "Aku benar-benar berharap kau segera bangun, Dave. Jika kami tidak bisa menemukan keberadaan istrimu, aku berharap kau satu-satunya orang yang bisa menemukannya."

Memang hanya itu satu-satunya harapan mereka. Mereka berharap walaupun saat ini Sherry masih menghilang, setidaknya nanti Dave bisa kembali menemukannya.
***

Manik biru itu perlahan terbuka. Silau dari cahaya lampu di atas sana membuatnya mengernyit lalu kembali memejamkan mata.

Butuh beberapa detik sebelum ia kembali membuka mata dan terbiasa dengan cahaya yang masuk ke retina-nya.

Dave melihat sekeliling yang tampak asing namun mengetahui bahwa dirinya sekarang berada di rumah sakit. Terbiasa terluka membuatnya hafal akan bau-bau tempat itu.

Dave mencoba menggerakkan tangannya untuk melepaskan selang oksigen lalu perlahan duduk. Tubuhnya merasa sakit yang tidak nyaman namun tidak ada bekas luka yang tertinggal di tubuhnya.

Pintu ruangan terbuka. Suara terkejut di sertai isak tangis membuat Dave menoleh dan melihat Mikayla sedang berusaha menahan tangis sambil menutup mulut kuat.

STAY WITH ME#4Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang