Dave mengemudikan mobil dengan wajah kesal. Ia baru saja hendak memulai sesuatu yang menyenangkan sebelum ponselnya berbunyi nyaring dan nama tuan putri muncul disana.
Ia sebenarnya ingin mengabaikan, tapi Sherry sudah lebih dulu meraih ponselnya dan menekan tombol jawab.
Mau tidak mau ia harus melepaskan kesempatan emas yang jarang bisa ia dapatkan.
Dave mendengkus sementara Sherry yang duduk di sebelahnya mengulum senyum tertahan sejak mereka meninggalkan salah satu kediaman Dave.
Ia tahu Dave pasti sangat kesal, melihat ekspresi cemberut yang pria itu berikan di tambah cengkraman kuat pada kemudi membuat Sherry menghela napas. "Dave?"
"Hmm."
Sherry dengan cepat mencium pipi Dave membuat pria itu menoleh sebentar ke arahnya. "Masih marah?" Tanya Sherry lembut sambil menggenggam tangan Dave yang bebas.
"Untuk beberapa alasan, ya, aku masih marah, Ma Cherie."
Sherry tersenyum kecil. Apalagi saat melihat ekspresi cemberut yang Dave berikan membuatnya ingin tertawa namun memilih untuk menahan diri. "Bagaimana jika kita melanjutkannya nanti. Apa kau masih marah?"
Dave seketika merubah ekspresinya membuat Sherry seketika menyesal telah mengatakan kalimat itu tadi. "Aku akan semakin marah jika nanti kau hanya berbohong padaku, Ma Cherie," Dave memperingatkan sambil menggenggam tangan Sherry.
"Kalau begitu tersenyumlah," perintah Sherry sambil tersenyum kecil. Tangannya terulur menyentuh pipi kiri Dave. "Jangan menakuti anak-anak dengan ekspresi menyeramkan seperti ini."
Dave menurut. Ia balas tersenyum manis sambil mencium punggung tangan Sherry dengan sayang berkali-kali, persis seperti tingkah anak kecil yang terlihat menggemaskan.
"Kenapa Ale tiba-tiba ingin berkemah?" Tanya Sherry. Kepulangan mereka karena sang putri menelpon agar keduanya segera pulang untuk bersiap-siap pergi berkemah.
Dave berdecak jengkel. Meskipun Sherry sudah menjanjikan akan melanjutkan aktifitas mereka yang tertunda, tetap saja ia masih merasa kesal ketika membahas hal ini. "Tuan putri memang selalu tiba-tiba jika menginginkan sesuatu."
"Persis seperti dirimu, Dave," kekeh Sherry.
"Oh, apakah aku terlihat seperti itu?"
Sherry memiringkan kepalanya menatap Dave lalu tersenyum sinis. "Bagaimana menurutmu?"
Dave mengedikkan bahu dengan ekspresi tak peduli. Dia ingin menyangkal namun tidak bisa karena sang putri benar-benar persis seperti dirinya saat menginginkan sesuatu. Untuk sesaat, ia hanya bisa menghela napas panjang. "Baiklah, dia sepertiku."
"Well, dia memang seperti dirimu, Dave Jhonson," kekeh Sherry dengan nada geli.
Dave kembali mencium punggung tangan Sherry lalu menatap sang istri penuh cinta. Seulas senyum manis ia sunggingkan saat melihat tawa Sherry yang begitu menenangkan hati dan pikirannya.
Kadang Dave tidak menyangka dirinya bisa menjadi pria yang seperti ini, mencintai seseorang bahkan melebihi nyawanya sendiri. Dave sanggup kehilangan apapun, tapi tidak dengan Sherry Andrea Laura.
Bagi seorang Dave Jhonson, Sherry adalah segalanya.
Bersama wanita ini segalanya menjadi tepat. Sherry adalah dunia dan segala isinya.
"Memikirkan apa?" Tanya Sherry saat melihat Dave yang tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Aku sedang memikirkan seorang wanita."
"Siapa?"
"Istriku."
Sherry terkekeh. Ia lalu mengubah posisi duduk agar menghadap ke arah Dave. Sambil menopang dagu, Sherry menyentuh tangan Dave dengan ujung jarinya. "Berapa banyak istri yang Tuan Dave miliki?"
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY WITH ME#4
RomansaSERIES KE EMPAT DARI POSESIF-CRAZY ❤️LUCAS GEONANDES (MINE) ❤️JOSHUA ALEXANDER (I FOUND YOU) ❤️RAKA ABIMAYU (PROMISE) ❤️DAVE JHONSON (STAY WITH ME) UPDATE SETIAP TANGGAL 9, 19, 29 YA DEAR 🤗😘
