Butuh waktu satu jam bagi Sherry dan juga Dave meminta maaf kepada putri mereka karena datang terlambat.
Dan juga keduanya butuh beberapa cemilan malam dan juga janji keluar bersama agar si kecil mau keluar dari kamar untuk makan malam bersama.
Dave menghela napas. Azalea seperti istrinya jika sedang merajuk, tapi putrinya ini memiliki lebih banyak kesulitan jika ingin membujuknya.
Mungkin sifat alami seorang wanita memang seperti itu.
"Azlen!! Lihat ada bintang jatuh!" Azalea berlari riang menghampiri Azlen yang sedang duduk di ayunan sembari memainkan sebuah rubik di tangannya
Setelah selesai makan malam, Azalea langsung menyeret semuanya untuk duduk di taman belakang yang sudah di persiapkan untuk berkemah. Tidak lupa juga ada api unggun yang menemani mereka malam ini.
Azlen sendiri sempat bertanya kepada adiknya kenapa mereka tidak makan di luar saja seperti orang berkemah pada umumnya. Dan tahu apa jawaban Azalea.
"Tidak harus makan di luar jika ingin berkemah, Azlen. Kita bisa makan disini, dan menikmati langit malam di luar."
Azlen tidak membantah karena itu semua percuma. Adiknya sama seperti kebanyakan wanita di luar sana. Selalu benar. "Jangan berlari, Tuan Putri," Azlen memperingati sang adik tanpa melihat. "Kau bisa terjatuh dan terluka."
"Lihat ke langit, Azlen!" Perintah Azalea tak peduli dengan peringatan sang kakak. Dia dengan sangat antusias menunjuk ke langit dengan wajah berbinar senang. "Ada bintang jatuh!"
Azlen menurut. Ia meletakkan rubik di tangannya ke samping lalu mendongak menatap langit malam yang penuh taburan bintang. "Hanya bintang jatuh, Tuan Putri. Tidak ada yang menarik," sahut Azlen datar. Dan memang tidak ada yang menarik dari sebuah bintang jatuh.
"Ada!" Sanggah Azalea gemas. Azlen selalu datar jika sesuatu tidak menarik minatnya. Entah berasal dari sama sikap menyebalkan ini. "Apa Azlen tidak tahu jika bintang jatuh harus membuat permohonan dan akan terkabulkan?!"
Azlen menggeleng datar sebagai jawaban. Satu alisnya terangkat naik menatap sang adik bingung. "Teori dari mana itu?"
"Ck!!" Azalea cemberut sambil bersedekap. Azlen sungguh pria yang membosankan. Ia dengan cepat berlari menghampiri sang ayah yang sedang berbaring di pangkuan ibunya. "Dad! Mom! Tadi ada bintang jatuh!"
"Dad sudah melihatnya, Tuan Putri," jawab Dave dengan mata terpejam. Ia tampak menikmati elusan tangan Sherry di kepalanya.
"Lalu apa Dad sudah membuat permohonan?" Tanya Azalea antusias lalu beralih menatap sang ibu. "Apa Mom sudah membuat permintaan?"
Sherry tersenyum kecil lalu mengangguk.
"Apa yang Mom minta?" Tanya Azalea sambil ikut berbaring di lengan sang ayah di ikuti oleh Azlen.
"Mom minta, semoga Azlen dan Ale selalu bahagia dalam keadaan apapun. Tumbuh dengan baik. Menjadi anak yang baik hati dan tidak sombong.
"Tidak ada lagi?" Tanya Azalea polos. "Bagaimana dengan Dad. Apa yang Dad minta?"
Dave membuka mata lalu tersenyum hangat. "Dad meminta, apapun keinginan ibu kalian semuanya terwujud."
Azalea merengut. "Dad, jadilah diri sendiri dan sebutkan permohonanmu."
Dave terkekeh. Ia menoleh ke arah sang putri yang juga sedang menatapnya. "Memang itu yang selalu Dad pinta, Tuan Putri. Dan permintaan Dad selalu tentang ibu kalian."
"Kau tidak mau menanyai keinginanku, Ale?" Tanya Azlen yang ikut tertawa mendengar jawaban sang ayah.
"Untuk apa?" Tanya Azalea masam. "Bukankah tadi Azlen bilang tidak ada yang menarik dari sebuah bintang jatuh."
"Memang tidak ada. Tapi jika permohonan, aku juga punya permohonan yang ingin terkabulkan."
"Apa yang Azlen mau?" Tanya Azalea antusias. Ia menopang kepala di atas dada sang ayah. Maniknya menyorot sang kakak penuh ingin tahu, jarang sekali Azlen tertarik dengan hal semacam ini dan itu sangat langka.
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY WITH ME#4
RomanceSERIES KE EMPAT DARI POSESIF-CRAZY ❤️LUCAS GEONANDES (MINE) ❤️JOSHUA ALEXANDER (I FOUND YOU) ❤️RAKA ABIMAYU (PROMISE) ❤️DAVE JHONSON (STAY WITH ME) UPDATE SETIAP TANGGAL 9, 19, 29 YA DEAR 🤗😘
