113

559 95 49
                                        

"Sharon?"

Panggilan dengan nada ragu itu membuat Sherry yang sedang asyik memilih buah-buah segar menoleh dan melihat seseorang yang ia kenal berdiri tidak jauh darinya.

"Ternyata aku tidak salah lihat. Ini benar-benar kau!"

Sherry mengulas senyum tipis. "Apa kabar, Kristen?"

Kristen tersenyum lebar. Ia memeluk Sherry yang terdiam dengan alis terangkat naik. Sikap ramah ini terasa asing baginya.

Mereka tidak sedekat itu untuk berinteraksi seperti ini.

Kristen melepaskan pelukannya lalu tersenyum cerah. "Kabarku baik-baik saja. udah lama sekali kita tidak bertemu, Sharon."

Sebenarnya Sherry bingung hendak menjawab apa. Seperti pemikirannya tadi, mereka bukan teman baik untuk berinteraksi akrab seperti ini. Terlebih apa yang harus ia jawab untuk pernyataan Kristen tadi.

"Kau sendirian?" Tanya Kristen sambil melihat sekelilingnya.

"Tidak, aku bersama keluarga kecilku."

"Ah ya, Sharon. Kau mungkin tidak tahu, tapi aku sudah menikah sekarang," Kristen memberikan informasi dengan ekspresi bangga. Ia memperlihatkan jari manisnya yang tersemat sebuah cincin berlian ukuran besar.

"Dengan Alan?" Tanya Sherry ikut memperhatikan cincin yang terpasang di sana.

Kristen mendengkus, ia mengibaskan rambut panjangnya dengan gaya sombong. "Aku sudah pernah memberitahumu dulu. Alan tidak bisa di jadikan suami, Sharon. Pria miskin seperti itu mana mampu membelikanku berlian seperti ini."

Sherry terdiam. Setelah semua pengorbanan dan cinta yang Sherry tahu saat Alan mengejar Kristen ternyata tidak cukup berarti untuk wanita yang hanya melihat sesuatu dari segi harta. Untuk sebentar Sherry merasa iba pada pria itu. Alan pria yang baik sejauh yang ia ingat. Apapun akan Alan lakukan selama bisa membahagiakan Kristen.

Tapi ternyata itu semua tidak cukup untuk seorang Kristen Barbara.

"Ada pria kaya yang melamarku," terang Kristen. "Kami berkenalan di salah satu kafe. Dan tidak membutuhkan waktu lama dia langsung melamarku menjadi istrinya."

Sherry mengulas senyum tipis. Kisah Kristen hampir mirip dengannya. Yang membuat kisah mereka sedikit berbeda adalah alasan mereka menikah. "Sudah menikah berapa lama?"

"Dua tahun," jawab Kristen. "Tapi baik dia maupun aku belum berencana memiliki anak. Aku sebenarnya senang. Karena tubuh dan kecantikanku tidak akan rusak setelah melahirkan dan juga merawat seorang anak."

Pemikiran macam apa itu? Tapi kembali lagi, itu bukan urusannya. Sherry tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain, terlebih rumah tangga Kristen.

"Kau sudah memiliki anak, Sharon?" Tanya Kristen sambil memperhatikan Sherry dari atas hingga bawah. Penampilan wanita ini seperti biasa, cantik dan tidak terlalu mewah. Meskipun Kristen tahu barang-barang yang melekat di tubuh wanita di depannya ini tidak murah karena sejauh yang ia tahu Sherry menikah dengan seorang pria kaya.

Sherry mengangguk sebagai jawaban. "Dua."

Kristen terkejut sambil memasang ekspresi tak percaya. "Dua?! Tapi penampilanmu masih seperti dulu, Sharon. Bagaimana kau merawatnya?" Tanya Kristen antusias. "Pasti perawatan yang sangat mahal bukan?" Sindirnya.

Sherry tidak menjawab. Ia hanya tersenyum saja sambil memikirkan cara untuk segera pergi dari sini. Ia tidak terlalu suka berbicara dengan Kristen. Wanita ini bisa bersikap baik dan jahat dalam waktu bersamaan.

"Suami tuamu itu tampaknya sangat menyayangimu, Sharon. Lihat dirimu. Kau memiliki semua yang wanita di luar sana inginkan."

Lihat, kan?

STAY WITH ME#4Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang