7

1.8K 285 76
                                        

Di sebuah ruangan yang luas. Terdapat sebuah meja bundar dengan delapan kursi mengitarinya. Sebuah kursi tampak spesial diantara kursi lainnya. Ada hiasan keemasan di bagian atasnya dan juga terdapat ukiran berbentuk ular di sana. Begitu berbeda dengan kursi yang lainnya. Lampu yang menghiasi di tengah ruangan juga tidak begitu terang. Lampu itu hanya menampilkan cahaya yang redup membuat suasana sedikit temaram. Bahkan tidak ada perabotan sama sekali kecuali meja dan kursi di ruangan itu.

Tak lama kemudian pintu terbuka. Tujuh orang masuk secara berurutan. Semuanya mengenakan topeng dan duduk di bangku yang telah tersedia.

Tidak ada suara sama sekali yang terdengar. Hening. Ketujuh pria itu hanya duduk diam tanpa berbicara sama sekali.

Suara langkah kaki terdengar bergema membuat ketujuh pria itu seketika berdiri. Seolah mereka memang sedang menunggu kedatangannya. Seorang pria yang mengenakan setelan jas hitam dan memakai topeng menutupi seluruh wajahnya masuk dengan langkah angkuh. Pria itu duduk di kursi yang paling istimewa dan memberikan isyarat tangan agar yang lain ikut duduk bersamanya.

"Terima kasih sudah menerima panggilanku. Aku terharu kalian semua akan bersedia untuk datang," ucap pria itu membuka pembicaraan. Ia menyapu pandang kepada tujuh pria yang telah di undang. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya yang tertutup di balik topeng.

"Tuan Zeus terlalu memuji. Kami pasti akan datang jika Tuan yang meminta," salah seorang dari mereka menjawab dengan nada sopan. Pria dengan topeng putih itu tersenyum tipis.

"Ku kira kalian akan lebih setia kepada Joker ketimbang diriku."

"Bagaimana kami bisa setia pada orang yang wajahnya saja tidak kami ketahui," salah satu dari mereka menjawab. "Orang kepercayaannya hanya Lucifer dan juga Azazel. Selain mereka berdua tidak ada lagi yang tahu identitasnya. Jadi tidak ada gunanya setia pada seseorang yang tidak mempercayai kita."

Zeus tertawa renyah. Hanya Azazel dan Lucifer yang tahu identitas asli Joker? Tidak juga. Ia sendiri tahu siapa Joker sebenarnya.

Mengejutkan? Tidak juga. Ia mengetahui identitas asli Joker berkat buku diary yang di tulis seorang wanita yang sudah mati. Awalnya ia sendiri tidak menyangka bahwa pria itu adalah Joker. Tapi mengingat kembali semua kebetulan yang ada membuat Zeus yakin bahwa pria itu memanglah pemilik Dreambox.

"Kalian semua pasti tahu ambisiku untuk memiliki tempat itu bukan?" tanya Zeus yang di angguki oleh semua yang hadir. "Bantu aku, maka aku akan memberikan balasan yang setimpal atas itu."

Sungguh tawaran yang menggiurkan. Terutama bagi manusia yang menginginkan lebih dari apa yang sudah ia miliki. Zeus memberikan umpan pada pengikutnya, dan mereka memakan umpan itu mentah-mentah.

"Tuan. Bagaimana jika kita mengajak Four untuk bergabung? Dia juga sepertinya memiliki pengaruh besar di dunia bawah," usul salah seorang dari mereka.

Zeus menyunggingkan senyum tipis. Four, ya? Nama itu terasa menggelikan di telinganya. Zeus tampak menimbang sebentar lalu kembali tersenyum lebar di balik topeng. "Bukan ide yang buruk. Kita memang harus memiliki pengikut kuat untuk menjatuhkan Joker. Akan kubicarakan nanti dengannya," ucapnya dengan nada mencemooh.

"Boleh saya mengusulkan sesuatu, Tuan?"

"Katakan."

"Bagaimana jika kita membuat Azazel dan Lucifer berpihak pada kita? Jika Joker kehilangan dua tangan kanannya, maka ia akan dengan mudah kita kalahkan."

Zeus mendengkus. "Itu bukan perkara yang mudah. Apa kalian lupa bagaimana setianya mereka berdua pada Joker?"

"Kita bisa mencari kelemahan keduanya."

STAY WITH ME#4Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang