112

607 93 34
                                        

HOLLA MINA 🤗 APA KABAR KALIAN SEMUA PARA READERS KESAYANGAN AUTHOR. GAK KERASA YA PUASA UDAH JALAN 9 HARI AJA DAN MAU MASUK HARI KE 10🤗🤗 GIMANA NIH PUASANYA? LANCAR? UDAH ADA YANG BOLONG?

HARI INI SATU PART DULU YA DEAR 🤗 KAPAN2 AUTHOR GANTI KARENA BULAN KEMARIN CUMA SAMPE TANGGAL 28 AJA. (Baik kan author 😎😋)

HAPPY READING 💕🥰🥰🥰
🌸🌸🌸

Sherry membuka mata perlahan dan langsung melihat wajah sang putra tepat di depan matanya. Untuk sebentar ia tidak bisa memikirkan apapun.

Apa ini mimpi karena ia terlalu merindukan kedua buah hatinya itu? Namun sapaan hangat Azlen membuat Sherry yakin bahwa ia tidak bermimpi sama sekali.

"Selamat pagi, Mom," sapa Azlen dengan senyum secerah matahari pagi. "Apa Mom merindukan Azlen?"

Sherry mengulas senyum manis. Ia beringsut duduk lalu memeluk tubuh sang putra. "Sangat," jawab Sherry dengan suara serak khas orang bangun tidur. Tidak lupa ia mencium kening dan pipi Azlen bergantian. "Kapan Azlen sampai?"

"Beberapa jam yang lalu."

"Kakek Christ yang mengantar?"

Azlen tersenyum lebar. Apakah ia harus menjawabnya dengan jujur bahwa ia dan juga Azalea sampai ke rumah dengan cara yang ekstrem?

Keduanya menoleh ketika mendengar suara pintu kamar yang terbuka dan Azalea masuk dengan wajah riang. "Selamat pagi, Mommy!" Sapanya sambil berlari mendekat. Tubuh kecil itu dengan lincah naik ke atas tempat tidur dan langsung memeluk tubuh sang ibu. "Ale merindukan Mommy."

Sherry terkekeh. Ia balas memeluk tubuh mungil sang putri sambil menciumi wajah Azalea yang sedang tertawa senang. "Mom lebih merindukan Ale."

"Mom, apa Mom tahu tadi kami pulang pakai apa?" Tanya Azalea antusias dengan mata berbinar.

"Pakai apa?" Tanya Sherry menanti. Melihat wajah Azalea membuatnya penasaran. Namun belum sempat sang putri menjawab, Azlen sudah lebih dulu menyela ucapan sang adik.

"Mom. Azlen lapar," keluh Azlen sembari memegang perutnya. "Azlen menunggu Mom bangun sejak tadi."

"Benarkah? Kalau begitu kalian turun dulu, Mom akan bersiap-siap dengan cepat," Sherry bergegas turun dari ranjang menuju ke kamar mandi meninggalkan kedua bocah yang saling memandang.

"Kenapa Azlen menghentikanku untuk mengatakan bagaimana kita pulang?"

Azlen seketika menghela napas panjang. Ia mengusap puncak kepala Azalea dengan sayang. "Mom akan mendapat serangan jantung kalau tahu kita pulang dengan cara terjun payung, Ale."

Ale seketika mengerjab kaget. "Benarkah?" Tanyanya tak percaya sambil menutup mulut. "Untung saja tadi Azlen menghentikanku. Ale tidak sanggup membayangkan apa yang baru saja Azlen katakan."

"Lain kali pikirkan dulu jika ingin mengatakan sesuatu, Ale," Azlen memberikan saran bijak sambil menyentil pelan kening Azalea. "Apakah yang ingin kita sampaikan itu baik untuk orang yang mendengarkannya atau tidak. Jangan mengutarakannya sesuka hati tanpa memikirkan perasaan orang lain."

Azalea mengangguk patuh. "Ale tidak akan mengulanginya lagi, Azlen," ucap Azalea. "Terimakasih sudah mengingatkan Ale."

"Ayo turun, Mom akan selesai sebentar lagi," ajak Azlen sambil menarik tangan adiknya untuk turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar menuju ruang makan.

"Azlen?"

"Hmm."

"Tadi Dad bertanya, apa Azlen sudah mempelajari cara menembak dari kakek Chris."

STAY WITH ME#4Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang