Suasana sore ini tidak sehangat biasanya. Bahkan matahari tampak malu-malu mengintip dari balik awan, atau lebih tepatnya enggan muncul karena cahayanya begitu kontras dengan warna merah pekat yang menghiasi rerumputan hijau di bawah sana.
Terasa dingin dan juga menyakitkan.
Bau darah yang kental tercium karena terbawa angin. Mayat manusia tergeletak tanpa nyawa dengan kondisi yang beraneka ragam. Berserakan seperti sampah yang tidak berguna.
Sepasang manik biru menatap tajam ke arah manusia yang masih berdiri tegak di antara tumpukan mayat, pria yang masih menyandera istrinya dengan sebuah belati yang mengarah tepat ke leher. "Apa masih ada lagi?" Tanya Dave datar. Seluruh tubuhnya hampir bermandikan darah. Tatapannya sarat akan kebencian mendalam. Ingin sekali ia mencabik-cabik tubuh sialan di depannya jika saja Sherry tidak berada di dalam kondisi seperti ini.
Qiao Lufeng hanya menatap nanar sekitarnya. Ia tidak menyangka akan menyaksikan adegan pembunuhan paling brutal tepat di depan matanya. Selama ini ia bukanlah pria naif yang akan ketakutan jika melihat darah. Ia juga pernah membunuh dengan kedua tangannya sendiri. Tapi hari ini berbeda, bahkan dua ratus lebih orang yang dia bawa tidak berkutik sama sekali di depan lima iblis berwujud manusia.
Mereka bagai monster yang tidak memiliki rasa takut sedikitpun. Melenyapkan nyawa seolah sedang bermain-main. Seringai keji menghiasi wajah mereka saat menghabisi nyawa seseorang. Bahkan meski wajah ternoda oleh darah, mereka bahkan masih bisa menyunggingkan senyum tipis.
Mengerikan.
"Kalian benar-benar iblis!" maki Qiao Lufeng dengan suara tercekat. Ia masih di landa panik namun sebisa mungkin bertahan menyembunyikannya. Ia tidak boleh terlihat lemah, karena bagaimanapun caranya ia harus mendapatkan kembali sang istri.
"Kau benar-benar tidak tahu caranya menyerah, ya," sahut Dave dingin. Pisau di tangannya berlumuran darah segar yang bahkan masih menetes. Meskipun tubuhnya tampak kacau, namun parasnya yang tampan tidak bisa tertutup bahkan oleh genangan darah sekalipun.
"Apa permintaanku begitu sulit?" Tanya Qiao Lufeng tak habis pikir. "Padahal kita bisa mencapai kesepakatan tanpa harus membunuh jika kau mengembalikan Jia padaku."
Kebisuan di antara mereka membuat Qiao Lufeng seketika menahan napas saat sebuah kemungkinan terburuk tiba-tiba singgah dalam benaknya.
Tentang alasan kenapa Dave Jhonson bertahan sampai saat ini untuk tidak menyerahkan Jia meskipun Sherry dalam keadaan mengancam seperti ini.
Mungkinkah?
Tangannya yang menggenggam pisau menguat. Wajahnya berubah pucat pasi saat pikiran buruk itu tidak mau menghilang dalam benaknya. "Dave Jhonson, tolong katakan padaku bahwa Jia-ku masih hidup," pintanya penuh harap.
Dave menyeringai keji. Senyumnya menawan meskipun wajahnya terkena noda oleh banyaknya manusia yang baru saja mati di tangannya. "Kau pikir kenapa aku bersikeras menolak melepaskan Jia Yu padahal saat ini istriku berada dalam bahaya, Qiao Lufeng?" Dave balik bertanya, seolah apa yang baru saja ditanyakan oleh Qiao Lufeng adalah hal yang konyol sembari mengambil ancang-ancang untuk melempar pisau ke arah Qiao Lufeng jika pria itu berani mengambil tindakan menyakiti Sherry.
Kalimat itu menghancurkan perasaan Qiao Lufeng dalam sekejap. Seolah ada batu besar yang menghantam kepalanya dan itu benar-benar menyakitkan.
Ternyata benar! Ia selalu tahu Dave Jhonson begitu menyayangi Sherry. Pria berparas tampan namun berhati iblis ini bukanlah pria yang akan meletakkan istrinya sendiri ke dalam bahaya. Dan kini Qiao Lufeng mengetahui satu hal, Dave Jhonson hanya tidak punya pilihan lain karena apa yang ia minta bahkan sudah tidak ada lagi di dunia ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY WITH ME#4
RomantikSERIES KE EMPAT DARI POSESIF-CRAZY ❤️LUCAS GEONANDES (MINE) ❤️JOSHUA ALEXANDER (I FOUND YOU) ❤️RAKA ABIMAYU (PROMISE) ❤️DAVE JHONSON (STAY WITH ME) UPDATE SETIAP TANGGAL 9, 19, 29 YA DEAR 🤗😘
