"Kakek, Paman, aku datang menemui kalian," Sherry meletakkan seikat tulip biru di antara dua buah pigura dengan tangan bergetar. Ia sebisa mungkin berusaha menahan diri untuk tidak menangis.
Pada akhirnya, ia tetap terlambat datang. Adamson dan juga Lison sudah di makamkan di area pemakaman keluarga besar Yu.
Untuk beberapa saat, Sherry terpaku di tempatnya berdiri. Pikirannya kosong begitu saja. "Kakek," panggil Sherry dengan suara bergetar. "Apa kau tahu. Ini bukan pertama kalinya aku kehilangan orang yang berarti untukku. Tapi kenapa rasanya tetap sama. Menyakitkan," Sherry mengadu bagai anak kecil yang kehilangan arah. Berlutut di antara dua pusara sambil tertunduk dalam.
Kesepian menyelimuti tubuhnya, mengurung dengan rasa sesak luar biasa.
Maniknya beralih ke arah pigura Lison Yu. Sejauh yang Sherry ingat, paman keduanya ini bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain dan selalu memasang ekspresi sedingin es di kutub utara. Sherry bahkan bisa menghitung berapa kali Lison Yu tersenyum dalam sehari.
Meski begitu, pria ini selalu menjadi yang paling terdepan melindunginya.
Ingatan kecil itu meruntuhkan pertahanannya. Sherry menangis terisak. Air matanya turun tanpa bisa ia hentikan. Mengalir bersama rasa sakit yang menusuk-nusuk hatinya tanpa ampun. "Kenapa? Kenapa kalian juga meninggalkanku?"
Tidak ada jawaban tentu saja karena memang ia sendirian ditempat itu. Hanya terdengar hembusan angin yang bertiup memberikan rasa sejuk menusuk kulit.
Suara tangisnya terdengar memilukan. Menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Kepedihan itu nyata, terpampang jelas bagai film yang di putar, berulang.
Luka itu seperti menenggelamkannya ke jurang tanpa dasar. Ia mengabaikan sekitar. Bahkan saat langkah kaki mendekat, Sherry sama sekali tidak bergeming.
"Sherry?"
Panggilan itu terdengar lirih. Sherry menoleh, air mata membuat pandangannya mengabur. Butuh beberapa saat untuk dirinya bisa melihat dengan jelas siapa sosok yang berdiri tidak jauh darinya itu.
"Kukira kau tidak akan datang."
Sherry mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia lantas berdiri dan menatap lawan bicaranya nanar. "Mereka keluargaku."
"Tapi kau tidak datang pada acara pemakaman ayah mertuaku."
Dia adalah Qiao Lufeng, suami dari Jia Yu.
Pria bersetelan kemeja hitam dengan celana panjang berwarna sama itu berdiri diam sambil menatapnya penuh selidik dengan kedua tangan di selipkan di saku.
"Aku tidak akan menjelaskan sesuatu yang tidak ingin ku jelaskan," putus Sherry singkat. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah dua pusara yang masih baru. Tatapannya menerobos jauh ke dalam sana. Berharap dapat melihat langsung wajah kedua pria yang selalu menyayanginya dengan tulus untuk yang terakhir kalinya.
"Seperti biasa, kau selalu dingin dan tidak berperasaan."
"Seperti biasa, kau juga selalu suka menilai sesuatu terlalu cepat hanya karena kau tidak menyukainya, Lufeng," balas Sherry tak peduli. Sejak dirinya masuk ke kediaman Yu, ia memang tidak akrab dengan pria ini.
Qiao Lufeng selalu menatapnya penuh kebencian. Padahal Sherry sudah yakin bahwa dia tidak pernah sama sekali menyinggung pria ini sebelumnya. Entah datang dari mana aura permusuhan itu.
"Sherry, apa kau tahu pria seperti apa yang sudah kau nikahi itu?"
Sherry menghela napas lelah. Pertanyaan semacam ini tidak hanya sekali ia dengar. Ia hanya sedikit heran, kenapa orang-orang suka sekali mempertanyakan ini padanya? "Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Lufeng?" Tanya Sherry. "Katakan saja dan jangan berbelit-belit."
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY WITH ME#4
RomanceSERIES KE EMPAT DARI POSESIF-CRAZY ❤️LUCAS GEONANDES (MINE) ❤️JOSHUA ALEXANDER (I FOUND YOU) ❤️RAKA ABIMAYU (PROMISE) ❤️DAVE JHONSON (STAY WITH ME) UPDATE SETIAP TANGGAL 9, 19, 29 YA DEAR 🤗😘
