Bagaimana rasanya menikah lagi dengan pria yang sama padahal kau masih berstatus istrinya?
Konyol!
Meski begitu, apa kau menyukainya?
Ya. Aku menyukainya.
Bagi Sherry, tidak masalah menikah berapa kali, asalkan pria itu adalah Dave Jhonson.
Tidak masalah meski ia harus mengulang kembali mengenakan pakaian pernikahan dengan berat yang membuat lelah.
Namun yang pasti, ia bahagia.
Dave mengulang sumpahnya. Mengikrarkan kembali janji untuk melalui segala hal bersamanya.
Pria itu, dengan segala cinta yang ia miliki, menyerahkan seluruh hatinya di telapak tangan Sherry.
"Apa kau bahagia, Ma Cherie?" Tanya Dave sambil melingkarkan tangannya memeluk tubuh Sherry dari belakang.
Saat ini mereka berada di balkon kamar pengantin yang penuh dengan kelopak mawar merah yang berserakan di lantai dengan ratusan cahaya lilin sebagai penerangan. Menikmati hembusan angin malam, ditemani purnama yang bulat sempurna dan langit penuh bintang. Meninggalkan keramaian yang masih terdengar di luar sana.
Pernikahan keduanya di selenggarakan dengan begitu mewah. Meski yang datang hanya kerabat terdekat saja, itu sudah lebih dari cukup melengkapi kebahagiaan mereka berdua.
"Pertanyaan bodoh macam apa itu, Dave?" Sherry mengulum senyum. Sejak pagi, Dave tidak henti-hentinya bertanya hal yang sama. Apa ia bahagia? Bahkan sebelum mereka berciuman, Dave masih sempat menanyakan itu kepadanya. "Tanpa bertanya, kau pasti sudah tahu jawabannya dengan sangat jelas, Dave."
Dave menyandarkan dagu di pundak Sherry yang terbuka. Sesekali ia akan menenggelamkan wajah di leher sang istri. Mencium aroma wangi yang selalu membuatnya terpikat. Pelukannya semakin erat. "Aku selalu ingin mendengarnya dari bibirmu, Ma Cherie."
"Aku bahagia, Dave Jhonson," jawab Sherry. Ia lantas berbalik dan langsung bertemu tatap dengan manik sebiru lautan yang menenangkan dan juga menenggelamkannya hingga tak bisa berpaling.
"..."
"Terima kasih karena kau selalu memberikan kebahagiaan yang teramat besar untukku," Sherry mengecup kening Dave singkat.
Dave tersenyum tipis.
"Terima kasih telah memilihku di antara jutaan wanita yang mengejarmu," ciuman itu turun pada kedua mata Dave yang tertutup.
Selanjutnya ciuman itu turun ke hidung Dave yang mancung. "Terima kasih sudah membesarkan Azlen dan Ale seorang diri disaat aku tidak ada."
"Dan terima kasih karena telah mencintaiku sebesar ini, Dave," Sherry mencium bibir Dave lembut sembari menitikkan air mata. Ia tidak ingin menangis, tapi air mata itu keluar tanpa bisa ia tahan.
Kebahagiaan yang Dave berikan menciptakan haru yang luar biasa membuncah di dalam dadanya.
"Jangan menangis, Ma Cherie," Dave sedikit membungkuk, tatapannya teduh saat mengusap air mata yang mengalir di mata indah Sherry. "Ucapan terima kasih itu seharusnya di ucapkan olehku."
"..."
"Terima kasih sudah bersedia kembali padaku."
Dave dengan cepat menarik tubuh sang istri ke dalam pelukan yang memenangkan saat melihat air mata Sherry semakin deras mengalir.
Kali ini Dave tidak akan menyuruh wanita ini berhenti menangis. Ia tahu, air mata itu bukanlah air mata kepedihan, itu adalah air mata kebahagiaan.
"Ma Cherie. Apa aku boleh mengatakan sesuatu yang akan membuat tangismu semakin deras?"
Sherry tak menjawab. Namun cubitan kecil pada pinggang Dave sudah menjadi jawaban untuk pria yang kini terkekeh pelan sambil mengusap rambut dan punggungnya dengan lembut.
"Saat kau mengatakan terima kasih karena sudah membesarkan Azlen dan Ale membuat hatiku sakit tanpa bisa ku kendalikan."
Sherry terdiam. Meski begitu air matanya tetap tidak berhenti mengalir. "Kenapa?" Tanyanya parau.
"Kau tahu, Ma Cherie. Satu-satunya penyesalan dalam hidupku yang tidak bisa ku tebus meski aku rela menukarkan semua yang ku miliki saat ini adalah tidak ada di saat kau menggandung mereka berdua."
"Aku tidak ada di sampingmu saat kau berada dalam kondisi vegetatif. Aku juga tidak ada saat kau mengalami berbagai macam kesulitan hanya untuk mempertahankan mereka berdua," suara Dave bergetar. Ia memeluk tubuh Sherry erat, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu. Air matanya menggenang di pelupuk mata ketika Dave mengatakan sesuatu yang membuat dada Sherry berdenyut nyeri. "Dan aku tidak ada saat kau mengalami kejang bahkan perdarahan hebat hingga melahirkan mereka berdua sebelum waktunya."
"..."
"Maaf, Ma Cherie. Aku minta maaf."
Sherry terdiam saat menyadari bahwa Dave menangis. Bahu pria itu bergetar pelan. Pelukan erat di tubuhnya meyakinkan Sherry bahwa kenyataan itu memang terlalu menyakitkan untuk bisa Dave terima.
Dengan pelan, Sherry ikut mengelus punggung Dave, berusaha menenangkan meski tidak yakin berhasil. Setidaknya Sherry ingin Dave tahu, semua yang terjadi kini sudah berlalu.
Mereka bisa meninggalkan rasa sakit itu jauh ke belakang dan melangkah maju tanpa harus menoleh lagi.
Mereka bisa meniti kembali apa yang sempat hilang. Meski terdengar mustahil, selama mereka bersama, semuanya akan jauh lebih mudah.
"Dave?"
"Hmm."
"Kurasa hanya kita saja yang melewati malam pengantin dengan air mata."
Dave tersenyum tipis. Ia mengangkat wajah dan membiarkan tangan Sherry menghapus sisa-sisa air matanya. "Benar juga. Dan sepertinya hanya aku yang belum bisa mendapatkan malam pertama di hari pernikahan meski sudah menikah dua kali."
Alis Sherry terangkat naik. Air matanya bahkan berhenti mengalir, menyisakan ingus yang menyumbat hidung. Matanya tampak sembab karena menangis namun binar di kedua manik berbeda warna itu tampak menggemaskan di mata Dave. Sherry berkedip beberapa kali sebelum mengulas senyum tipis. "Tanpa malam pertama pun, aku sudah memberikan semuanya kepadamu."
Dave terkekeh senang. Tangannya memeluk pinggang Sherry posesif. "Karena kau milikku. Apa yang ada padamu, semuanya milikku."
"Berhenti membual, Tuan Jhonson. Caramu meminta jatah selalu sama setiap saat," Sherry mendengkus. Jika Dave sudah mengeluarkan kalimat rayuan seperti tadi, bisa Sherry pastikan akhirnya akan kemana.
"Karena cara itu cukup berguna meski aku memakainya berulang kali, Ma Cherie."
"Itu karena kau tidak pernah memberikanku pilihan untuk menolak," Sherry memutar kedua bola matanya.
Dave menarik pinggang Sherry agar lebih mendekat ke arahnya. Mengusap bibir Sherry lembut. Senyumannya lebar, maniknya menatap teduh. Dengan suara rendah Dave bergumam. "Apa saat ini Nyonya Jhonson ingin menolakku?"
"Apa aku bisa menolak?" Tanya Sherry pelan. Tangannya merangkul leher Dave.
"Tidak."
"Kalau begitu apa lagi yang Tuan Jhonson tunggu?"
Kalimat mengundang itu membuat senyum Dave merekah. Ia menggendong tubuh sang istri masuk ke dalam kamar. Meneriakkan desah panjang menembus malam panjang di temani cahaya lilin dan juga sinar rembulan.
***
BAGAIMANA EPILOGNYA 🤭 SUKA?
SEGINI DULU YA 🤭 CIYUBAIBAI🥰🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY WITH ME#4
RomanceSERIES KE EMPAT DARI POSESIF-CRAZY ❤️LUCAS GEONANDES (MINE) ❤️JOSHUA ALEXANDER (I FOUND YOU) ❤️RAKA ABIMAYU (PROMISE) ❤️DAVE JHONSON (STAY WITH ME) UPDATE SETIAP TANGGAL 9, 19, 29 YA DEAR 🤗😘
