97

863 137 120
                                        

"Katakan padaku, Ma Cherie," Dave menatap sang istri lekat. "Seandainya yang datang saat itu bukan aku. Apa kau akan melakukannya?"

Sherry balas menatap Dave lama. Keheningan langsung tercipta karena tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak atau berbicara.

Hanya manik keduanya yang saling menumbuk dalam.

Jauh di dalam hati Sherry, ia pernah memikirkan pertanyaan ini. Seandainya saja waktu itu bukan Dave yang datang. Akankah dirinya melemparkan diri ke dalam pelukan pria lain?

Tapi ia memang tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menjawab pertanyaan itu. Karena jawaban dari pertanyaan itu selalu berada di hatinya yang paling dalam.

Sherry menghela napas pelan, tatapannya masih terkunci ke arah manik sebening lautan di hadapannya. "Memangnya ada orang lain yang akan datang ke kamar itu selain dirimu, Dave?" Tanya Sherry.

Dave tidak menjawab. Sejak tadi ia mencoba mencari sendiri jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan. Lewat manik Sherry, ia tidak menemukan sedikitpun ketakutan di sana. Bahkan keraguan tak terlihat sama sekali. Dan ketika Sherry menjawab pertanyaannya dengan sebuah tanya membuat Dave mengulas senyum tipis. "Mungkin tidak."

"Kau sudah mendapatkan jawabannya, bukan?" Tanya Sherry sambil tersenyum kecil. Meskipun ia kehilangan ingatannya, tapi Dave masih mengingat siapa dirinya bukan?

Mengingat kebersamaan mereka yang tidak terlalu lama, tapi sedikit banyak Sherry tahu pria seperti apa Dave Johnson. "Aku mungkin melupakanmu Dave. Tapi kau masih mengingatku. Kau mencintaiku dan meskipun aku tidak tahu siapa dirimu, kau pasti sudah meletakkan banyak sekali orang untuk menjagaku dari kejauhan, bukan?"

Tepat sasaran.

"Aku yakin, pertemuan kita di bandara bukan hanya sebuah kebetulan. Kau memperlihatkan dirimu di hadapanku pasti bukan semata-mata ingin aku melihatmu," ujar Sherry. "Dan aku juga yakin, pertemuan kita selanjutnya setelah itu bukan juga sebuah kebetulan. Aku cukup mengenalmu, Dave."

Dave mengulas senyum manis. "Istriku sangat cerdas," puji Dave tulus. Awalnya Dave mengira Sherry akan kesulitan menjawab pertanyaannya. Tapi setelah mendengar jawaban Sherry membuat Dave senang. Dave menoel ujung hidung Sherry pelan lalu tersenyum hangat. "Lain kali jangan pernah mencoba untuk melupakanku, Ma Cherie."

Sherry balas tersenyum. Ia ikut menoel ujung hidung Dave dengan ujung jari. "Kau mungkin tidak tahu, Dave. Meskipun aku tidak mengingatmu, tapi saat pertama kali kita bertemu di bandara waktu itu. Ada perasaan sesak dan juga rindu yang menyelimuti hatiku saat Azlen memelukku dan kau memanggilku dengan sebutan 'Ma Cherie'."

"..."

"Pelukan hangat Azlen memberikan rasa nyaman dan juga sakit yang tidak bisa ku jelaskan. Dan juga panggilan itu, terdengar begitu asing di telingaku. Namun entah mengapa memberikan efek luar biasa di dalam hatiku," ucap Sherry pelan.

Dave hanya diam mendengarkan sambil menggenggam kedua tangan Sherry erat.

"Aku pernah merasa heran. Hati dan pikiran ini sama-sama milikku. Tapi kenapa mereka selalu bertindak berlawanan. Tapi setelah aku mengingatmu. Aku menemukan jawaban itu. Pikiranku mungkin melupakan semua hal tentangmu. Tapi hatiku masih selalu mengingat siapa dirimu dan menyimpan semua kenangan kita."

Dave dengan cepat menarik tubuh Sherry ke dalam pelukan. Ada rasa haru menyelimuti hatinya dalam sekejap. Ia tahu itu. Kenangan tidak akan mudah untuk di lupakan meskipun otak tidak lagi mengingatnya.

Tidak ada kata yang terucap di antara keduanya. Hanya hening yang tercipta untuk beberapa saat.

Sherry melepaskan pelukan mereka ketika tangannya tanpa sengaja menyentuh bekas luka di perut Dave. Sherry menundukkan wajah. Hatinya berdenyut sakit saat melihat luka yang baru Dave ukir di tubuhnya. Sherry menyentuh pelan luka yang terbalut perban itu dengan manik berkaca-kaca. "Dave?"

STAY WITH ME#4Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang