108

759 106 39
                                        

Untuk sesaat, Sherry tidak bisa memikirkan apapun di dalam benaknya. Ia ingin mendapatkan jawaban tapi terlalu takut memikirkan kemungkinan terburuk tentang bagaimana jika nanti dirinya kembali berpisah dengan Dave?

Tapi kematian Calian Asahavey selalu menjadi sesuatu yang membuat hatinya terusik.

Sherry mengenal pria itu dengan baik. Calian bukanlah pria yang akan menyerah semudah itu. Namun saat pria itu melepaskannya dengan mudah, Sherry tahu, pasti ada alasan di balik semua itu.

Perlahan ia berjalan mendekat ke arah ranjang di mana tubuh Dave terlelap dengan begitu nyenyak. Sherry beringsut naik dengan gerakan pelan karena takut mengusik tidur suaminya.

Ia belai wajah Dave dengan lembut sambil menghela napas pelan. "Apa yang harus ku lakukan, Dave?" Bisiknya dengan suara pelan. "Apa yang harus ku lakukan jika kebenarannya memang seperti yang pria itu katakan?"

Awalnya Sherry menduga Calian Asahavey membunuh dirinya sendiri karena tidak bisa memilikinya. Ya hanya itu yang bisa Sherry pikirkan tentang mengapa Calian mengambil jalan pintas itu untuk menyelesaikan semuanya. Tapi sekarang, ada alasan lain yang membuatnya merasakan perasaan tidak nyaman.

Benarkah Calian merelakan nyawanya sendiri untuk obat yang tubuhnya butuhkan?

Suara getar di ponselnya mengalihkan perhatian Sherry. Sebuah pesan masuk dari pria bernama Aaron yang tadi menghubunginya.

Aku masih menunggu, Nona. Jangan terlalu lama.

Perlahan Sherry menarik napas panjang. Ia menyimpan ponsel di saku lalu mencium kening Dave lama. "Maaf Dave. Tapi aku harus tahu kebenaran tentang kematian Calian. Tenang saja. Aku tidak akan mengikutinya. Aku hanya ingin tahu jawabannya."

Sherry dengan pelan bangkit dari ranjang. Ia menatap Dave lama sebelum berucap pelan. "Dave, jika seandainya aku menghilang lagi, kau pasti bisa menemukanku, bukan?"

Tanpa menunggu jawaban. Sherry melangkah keluar dari kamar. Ia berjalan cepat menuruni tangga sambil memperhatikan sekelilingnya yang tampak sepi.

Raut wajahnya tampak tegang dengan degup jantung yang berdebar kencang. Sherry gugup setengah mati. Semakin mendekati pintu keluar, debaran di dadanya semakin cepat.

Namun Sherry tidak bisa berbalik. Ia harus menemukan kebenarannya sekarang juga.

Sambil meyakinkan dirinya sendiri, Sherry berjalan keluar dari kediaman Lucas Geonandes. Dapat ia lihat tidak jauh darinya ada seorang pria yang tampak sedang menunggu sambil bersandar di pintu mobil.

Perlahan Sherry mendekat. Seolah menyadari kehadirannya, pria itu menoleh lalu memberikan senyuman manis.

"Tidak sia-sia aku menekan kesabaranku untuk menunggu kehadiranmu, Nona."

Alis Sherry terangkat naik mendengar kalimat itu terucap dengan nada datar meskipun senyum manis sudah pria itu sunggingkan. "Tuan Aaron?" Tanyanya memastikan.

Pria itu tersenyum lagi. Satu tangannya terulur ke arah Sherry. "Aaron Finley. Nona bisa memanggilku Aaron saja."

Sherry diam tak bergeming. Uluran tangan itu ia biarkan saja membuat Aaron tertawa kecil. Aneh. Pria di depannya ini sungguh aneh.

Padahal ia barusan bersikap kurang ajar. Tapi pria ini tampak tidak mempermasalahkannya sama sekali dan malah tertawa seolah-olah apa yang baru saja ia lakukan adalah hal yang lucu.

"Bisa kita langsung ke intinya saja?" Tanya Sherry tanpa niat berbasa-basi.

"Apa kita akan membahasnya di sini?" Aaron balik bertanya dengan nada meremehkan. "Bisakah kita berbincang di tempat lain sambil menikmati secangkir teh dan beberapa cemilan kering?"

STAY WITH ME#4Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang