127

464 69 15
                                        

Sebenarnya Moses tidak berniat sama sekali untuk meninggalkan China dan tinggal bersama Sherry dan juga Dave Jhonson. Karena bagaimana pun bisnis yang di bangun oleh kakek dan juga ayahnya kini beralih di bawah telapak tangannya.

Tapi Sherry benar-benar tidak bisa di bantah. Moses tahu apa yang Sherry lakukan saat ini untuk kebaikannya sendiri. Wanita itu hanya tidak mau merasakan sakitnya kehilangan lagi.

Karena itulah Moses memilih untuk menuruti kehendak satu-satunya keponakan yang ia miliki.

Untuk urusan pekerjaan yang ia tinggalkan di China, Moses di bantu oleh para bawahan kepercayaan sang ayah dan juga sedikit bantuan dari Dave Jhonson.

Moses menatap hamparan putih di balik kaca jendela tanpa minat. Di depannya Dave Jhonson duduk bertopang dagu dengan mata terpejam.

Di bangku seberang, Joshua Alexander sedang tidur bersandar di pundak Aleyna Melya Greyson.

Tidak jauh dari mereka, ada Circle dan Mikayla, tangan kanan kepercayaan Dave Jhonson yang sibuk bermain catur.

Sementara Sherry dan Nathan sedang beristirahat di salah satu kabin pesawat.

Suasana cukup hening membuat Moses memilih untuk ikut memejamkan mata. Banyak hal yang sebenarnya mengusik pikiran pria itu hanya saja Moses memilih untuk memikirkan semuanya nanti.

Karena sekarang, hati dan pikirannya benar-benar lelah luar biasa.

Rentetan kejadian yang menimpa keluarga besarnya memberikan dampak yang cukup kuat pada hidupnya yang selalu santai tanpa beban.

"Checkmate!"

Seruan riang itu membuat Moses membuka mata. Dapat ia lihat Mikayla tengah tersenyum lebar penuh kemenangan karena berhasil mengalahkan Circle.

Moses menghela napas panjang. Tingkat kebahagiaan seseorang memang selalu berbeda jenisnya. Lihatlah gadis itu, hanya dengan memenangkan satu pertandingan sudah bisa membuatnya tertawa secantik itu.

Lagi, Moses menghela napas panjang.

"Berhentilah menghela napas seperti itu, Moses Yu."

Moses mendengkus. Maniknya menyorot lurus ke arah Dave yang masih memejamkan mata dengan posisi tubuh yang sama. "Aku bosan."

"Ada banyak parasut di pesawat ini. Pilihlah yang kau mau dan pergi terjun ke bawah sana jika kau bosan berada disini."

Apa katanya tadi?! Parasut?! Apa pria ini menyuruhnya untuk bunuh diri? "Aku tahu kau pria yang kejam, Dave. Tapi tidak menyangka akan ikut merasakannya."

Dave mengulas senyum tipis, hampir tidak terlihat lalu membuka mata. "Hanya itu satu-satunya yang bisa membunuh kebosananmu, Moses."

"Itu tidak hanya membunuh kebosananku tapi juga bisa membunuh diriku! Dan lagi, kenapa kau membenciku?" Tanya Moses langsung. Tiap kata yang Dave Jhonson ucapkan sarat akan kebencian yang terarah padanya. Moses tidak mengerti, ia bahkan merasa tidak pernah menyinggung pria di depannya ini. Lalu kenapa Dave tampak memusuhinya?

"Matamu yang sebelah mana melihat aku membencimu?"

"Kedua mataku."

"Hanya perasaanmu saja."

"Apa aku melakukan kesalahan?"

"Tidak."

"Lalu kenapa?" Tanya Moses tidak sabaran. "Apa karena aku memilih untuk ikut tinggal bersama kalian?"

Dave menghela napas. "Aku sungguh tidak keberatan kalian ikut tinggal bersama kami," jawab Dave jujur. Dan ia bersungguh-sungguh mengatakan itu. "Kau tahu aku begitu mencintai istriku itu. Apapun yang dia inginkan akan ku lakukan selama itu masuk akal dan bisa ku terima dengan akal sehat. Menampung kalian berdua adalah keinginan istriku dan aku tidak keberatan dengan itu."

STAY WITH ME#4Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang