126

452 76 35
                                        

Moses berkedip beberapa kali sambil menunjuk dirinya sendiri dengan wajah bingung. "Aku?" Tanyanya tak yakin. Apa ia salah dengar tadi?

Sherry tidak mungkin mengajaknya untuk tinggal bersama bukan?

Namun saat melihat anggukan kecil dari keponakannya membuat Moses tertegun. "Kenapa?"

"Apanya yang kenapa?"

"Kenapa kau juga mengajakku untuk tinggal bersama?"

"Karena kau satu-satunya Pamanku yang tersisa dan aku tidak mau kau mati. Apa itu sudah bisa menjadi alasan yang tepat untukmu?"

Moses menatap tak enak pada pria yang kini bersandar sambil memejamkan mata. Karena bagaimanapun Dave Jhonson pasti tidak menyukai ide barusan. Namun belum sempat ia mengatakan sesuatu, Sherry sudah lebih dulu menyela dan tidak ingin di bantah.

"Bersiaplah. Kita akan pergi besok pagi."

Kalimat singkat itu membuat Moses menyerah. Mereka akan membicarakannya lagi nanti di saat kepala semua orang sudah dingin. Ia menggandeng tangan kecil Nathan untuk berlalu dari tempat ini karena sepertinya kedua orang di depannya ini membutuhkan ruang untuk berbicara.

Jangan kira Moses tidak menyadari apa yang terjadi antara keduanya. Ia seorang pengamat yang baik dan cukup peka akan hal-hal seperti itu.

"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?"

Pertanyaan itu membuat Dave membuka mata dan langsung bertemu tatap dengan manik indah milik sang istri. "Lakukan apapun yang kau inginkan, Ma Cherie."

"Kau tidak marah aku mengajak Nathan dan juga Moses untuk tinggal bersama kita tanpa meminta pendapatmu lebih dulu?"

"Kenapa aku harus marah?" Tanya Dave kalem. "Dan lagi, jika aku keberatan apa kau akan mengurungkan niatmu mengajak mereka?"

"Tidak."

"Dan kau sudah mendapatkan jawabannya, Ma Cherie."

Percakapan keduanya entah kenapa seperti hambar dan datar. Hal itu yang membuat Sherry memutuskan untuk pergi saja. Ia berjalan melewati Dave dan langsung terhenti saat pria itu berucap datar.

"Sikapmu berubah, Ma Cherie."

Berubah? Apa itu yang Dave rasakan saat ini?Entahlah, Sherry sendiri tidak yakin apa dia memang berubah atau itu hanya pemikiran Dave saja.

"Kau menghindariku," cecar Dave lagi.

Sherry berbalik. "Aku tidak,-"

"Ya, kau melakukannya, Ma Cherie," Dave berjalan mendekat. Sebenarnya ia sungguh frustasi dengan keadaan mereka saat ini. Perubahan sikap Sherry benar-benar dapat ia rasakan bahkan sampai ke tulangnya. Menusuk dan sangat menyakitkan."Apa kau takut padaku?"

Alis Sherry terangkat naik. "Kenapa aku harus takut padamu, Dave?"

"Entahlah. Hanya kau yang bisa menjawabnya. Perubahan sikapmu itu nyata, Ma Cherie. Kau menghindariku. Kau bahkan tidak tahan berdekatan denganku dan memilih pergi dengan berbagai macam alasan. Kau benar-benar berubah setelah kau membuka matamu setelah kejadian hari itu," jeda sejenak. Dave menarik napas frustasi. Ia benar-benar menahan dirinya saat ini untuk tidak bertindak keterlaluan yang akan membuat hubungan mereka berdua semakin renggang. "Yang bisa kupikirkan hanya satu. Kau takut padaku."

"..."

Dave terpaku dengan ekspresi terluka. "Kau benar-benar takut padaku, Ma Cherie?"

"Aku tidak punya alasan untuk takut padamu."

STAY WITH ME#4Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang