Suasana di ruangan itu terasa hening. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang saling beradu.
Bukan tanpa alasan kenapa suasana sepi ini tercipta. Salah satu penyebabnya adalah karena kehadiran Edward Black hari ini.
Ketidaktahuan Raka, Lucas dan juga Josh akan kejadian itu membuat ketiganya memasang ekspresi marah. Masih membekas dalam ingatan mereka bagaimana luka yang Edward Black torehkan pada gadis kesayangan mereka. Terlebih saat mereka tahu Dave kembali melepaskan pria itu untuk yang kedua kalinya.
Sungguh membuat frustasi.
"Suasananya hening sekali," komentar Abi tidak nyaman. Ia benci suasana seperti ini, membuatnya sesak.
Yuna yang duduk di samping Abi ikut mengangguk setuju. Ia juga sebenarnya membenci suasana tidak nyaman seperti ini. Yuna menoleh menatap Aresh yang duduk di sampingnya. Sejak sore tadi ia tahu pria itu sedang dalam keadaan tidak sehat. Dapat Yuna lihat wajah Aresh yang tampak sedikit pucat. Yuna menyenggol kaki Aresh membuat pria itu menoleh. "Kau baik-baik saja?" Tanyanya sambil berbisik.
Aresh mengulum senyum. "Kau mengkhawatirkanku?"
"Wajahmu tampak pucat," Yuna mengabaikan godaan yang tadi Aresh lontarkan. Sungguh, Aresh tampak seperti tidak baik-baik saja.
"Badanku terasa ringan," jawab Aresh sambil mengaduk-aduk makanannya tanpa minat. Tidak berselera sama sekali untuk menelan setiap makanan lezat yang tersaji di depannya.
Hera yang sejak tadi mengamati sang putra juga tampak tak berselera untuk makan. Hatinya mengatakan bahwa Aresh sedang sakit melihat betapa pucat wajah putranya. Hera ingin bertanya namun mengurungkan niat karena ia tahu jawaban seperti apa yang akan Aresh berikan.
"Kau baik-baik saja, Nak?" Tanya Rafael langsung. Ia tahu kegundahan istrinya dan cukup mengerti. Hanya saja dirinya tidak bisa diam saja. "Wajahmu tampak pucat."
Aresh menatap Rafael sebentar sebelum berucap dengan suara pelan. "Aku baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkanku."
Suasana hening tadi perlahan berubah dalam sekejap berganti suram. Setiap jawaban yang Aresh berikan selalu saja bisa memberikan dampak besar bagi keluarga Alexander.
"Apa kami tidak boleh mengkhawatirkan anak sendiri?" Tanya Hera dengan suara bergetar. Ia memberanikan diri menanyakan itu semua karena bagaimana pun ia ingin sekali mendapatkan maaf dari sang putra.
Aresh meletakkan sendok dengan keras membuat semua orang terdiam. "Aku sudah selesai," ucapnya yang langsung berdiri. Namun tiba-tiba pandangannya menjadi buram membuat Aresh dengan cepat memegang kursi yang Yuna duduki untuk menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Yuna debgan wajah cemas. "Akan ku antar ke kamar," putus Yuna cepat. Ia memapah tubuh Aresh yang tampak tak berdaya.
Baru selangkah berjalan, Aresh berhenti. Tanpa menoleh ia menarik napas dalam-dalam sebelum berkata. "Setiap orang tua pasti akan selalu mengkhawatirkan anak-anaknya. Tapi itu semua tidak berlaku untukku. Kenapa? Karena sejak kecil aku tidak pernah memiliki seseorang yang di namakan orang tua."
Semua yang mendengar kalimat penuh rasa sakit itu terdiam. Hera seperti biasa langsung menangis dan Rafael dengan cepat memeluk sang istri menenangkan.
Adelia yang melihat itu semua berkali-kali hanya bisa diam sambil memikirkan sedalam apa sebenarnya luka yang Hera dan Rafael torehkan pada putra mereka hingga membuat Aresh selalu membangun tembok pemisah sekokoh itu.
Satu persatu dari mereka semua meninggalkan ruang makan menyisakan Lucas, Raka, Josh, Dave dan juga Cheryl yang masih duduk diam di kursi.
Cheryl sendiri enggan beranjak karena ia tahu ada yang ingin pamannya bicarakan dengan dirinya. Dan saat ini ia hanya menunggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY WITH ME#4
Roman d'amourSERIES KE EMPAT DARI POSESIF-CRAZY ❤️LUCAS GEONANDES (MINE) ❤️JOSHUA ALEXANDER (I FOUND YOU) ❤️RAKA ABIMAYU (PROMISE) ❤️DAVE JHONSON (STAY WITH ME) UPDATE SETIAP TANGGAL 9, 19, 29 YA DEAR 🤗😘
